11. Fraternity☕
♥Happy-Reading♥
-Beloved brother-
.
.
.
Rama mendapati dirinya terbangun di ruang tengah sebuah rumah megah yang sangat kental di ingatannya. Rama tahu dirinya tengah bermimpi, sebab demi langit dan bumi, ia telah bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di tempat laksana neraka jahim tersebut.
Terdengar kegaduhan dari balkon lantai dua. Seorang pria berumur awal 40-an dengan muka masam menuruni tangga, garis-garis ketampanan masih terlukis jelas di wajahnya. Bila saja tidak ada insiden "itu", Rama tentu akan yakin dari mana kerupawanan wajahnya diturunkan. Di samping pria itu seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun dengan paras menggemaskan berjalan tertatih, menyelaraskan langkah lebar sang pria yang menyeretnya secara paksa.
Duh, aku memang sudah tampan sedari orok!
Rama membantin dengan bangga menyadari anak kecil mungil tersebut adalah manifestasi dirinya di masa lalu. Namun, saat mata mereka bertemu mendadak perasaan sesak memenuhi hatinya. Seolah tersedot dalam sorot mata yang penuh kerikuhan dan kepayahan itu.
"Jangan!" Rama berlari, berusaha menahan sang pria yang dengan murka mengacungkan cemeti pada si Rama kecil. Sayang serat kuat nan elastis tersebut telah lebih dulu mencemuk, menciptakan baret kemerahan di kulitnya yang bersih terawat akibat lisis pembuluh darah kapiler di dalam sana.
Rama mengerang, seolah ikut merasakan perihnya cambukan kuat tersebut. Rama kecil pun tersedu, cairan merah pekat berbau khas besi mengalir deras begitu logam pengait di sisi cemeti turut menghantam dahinya. Lagi-lagi Rama ikut merasakan nyeri. Sungguh, pria terkutuk yang tidak akan sudi ia temui sampai mati itu berhasil membangkitkan emosinya, bahkan dalam mimpi.
"RAMA!"
Rama berbalik. Seorang wanita cantik berambut hitam legam menghambur ke arah mereka dengan penuh kekhawatiran. Rama tertegun, menilik sosok yang amat dirindukannya itu dengan saksama. Kali ini, Rama dengan bangga memaklumatkan kepada dunia bahwa parasnya yang menawan diwariskan dari wanita yang dipanggilnya ibu tersebut.
"Apa yang kamu lakukan pada anak kita?!" Wanita itu mendekap Rama kecil sambil menatap tajam pada sang pria.
"Anak kita?! Bahkan setelah semua bukti itu kau masih berani menyebutnya anak kita?!"
Wanita cantik tersebut bergeming. Matanya berkaca, memandang sang pria dengan sendu.
"Minggir! Dia bukan anakku! Akan kuhabisi anak pembawa sial ini!" Sang pria kembali mengacungkan cemeti. Wanita di hadapannya sigap melindungi Rama kecil yang gemetaran, mengorbankan punggungnya sebagai sasaran tali pecut tersebut.
Pria tersebut terperangah, badannya membungkuk ingin meraih wanitanya yang berlutut sambil meringis tertahan, namun sang wanita lebih dulu berbalik dengan berurai air mata.
"Dia anakku! Aku melahirkannya dengan darah dan nyawa, jangan coba-coba menyakitinya!"
Rama merasakan jutaan jarum menusuk jantungnya serempak mendengar pembelaan dari sang ibu. Haru dan pilu berbaur memenuhi hatinya. Rama tidak menyesal telah menuruti segala perkataan ibunya selama dua belas tahun mereka bersama dahulu.
Sang pria bungkam, melemparkan tali cambuknya ke sembarang arah yang kemudian membentur vas bunga hingga keramik antik tersebut terurai menjadi serpihan porselen abstrak di lantai.
"Kau istriku, selamanya. Aku bisa memaafkan segala kesalahanmu di masa lalu. Tapi anak itu, singkirkan dia dari hadapanku." Pria tersebut berbalik. "Jika tidak, aku yang akan melenyapkannya dengan caraku sendiri," sambungnya kemudian berlalu.
"Ibu ... Rama takut ...." Rama kecil berujar lirih.
Sang ibu mendekap erat putranya. "Jangan takut, Sayang. Ada ibu di sini. Besok kita ke rumah kakeksampai ayah tenang."
"Maafkan Rama karena sudah lahir, Bu. Maafkan Rama sudah buat ibu sedih dan susah." Rama kecil terisak sambil menghapus jejak air mata di wajah ibunya.
"Jangan berkata begitu, Sayang. Rama tidak salah, ibu senang sekali punya anak yang tampan, baik, dan pintar seperti Rama."
"Ibu tidak menganggap Rama pembawa sial?"
"Tentu tidak, Sayang. Rama artinya pembawa kebahagiaan. Suatu saat nanti, Rama yang akan membawa kebahagiaan pada keluarga ini."
Rama kecil terdiam beberapa saat. "Tapi ayah bilang Rama bukan anak ayah. Kakak juga bilang Rama bukan adik kakak lagi. Kenapa bisa begitu, Bu? Kalau Rama bukan anak ayah, bukan adiknya kakak juga, jadi Rama ini siapa?"
Ibu Rama mengggigit bibir, menahan air matanya agar tidak jatuh lagi kemudian mengelus puncak kepala anak bungsunya. "Rama sayang, dengar ibu baik-baik. Rama adalah anak ibu dan akan terus menjadi anak ibu, sampai kapanpun itu."
Rama kecil mengangguk lalu memeluk erat ibunya yang langsung dibalas dengan rengkuhan tak kalah erat oleh sang ibu.
Adapun Rama yang masih menjadi penonton dalam mimpinya sesekali mengusap air mata. Rama melihat ibunya mengobati luka-lukanya, menghiburnya, dan menemaminya sampai terlelap.
"Ibu ...." panggil Rama sayup-sayup.
Seolah mendengar panggilan tersebut, ibunya menoleh. Pandangan mereka menyatu. Rama menatap nanar mata teduh nan menenangkan yang sudah lama tidak dilihatnya itu.
Sang ibu merentangkan kedua tangannya, menyambut Rama. "Kamu sudah besar, Sayang."
"Ibu! Aku rindu! Aku rindu sekali, Bu!"
"Ibu lebih rindu, Sayang." Ibu Rama mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi Rama dan menatapnya dalam-dalam. "Rama, anak ibu tersayang. Boleh ibu minta satu hal?"
Rama mengangguk lambat. "Tentu, Bu! Apapun akan Rama berikan untuk Ibu."
Sang ibu tersenyum, membelai rambut Rama yang kini lebih tinggi darinya penuh kasih. "Berjanjilah pada ibu untuk selalu hidup bahagia. Dengan begitu, ibu akan merasa lebih tenang di sini."
Rama tersedu. Tidak kuasa menahan air mata, ia pun menangis sejadi-jadinya dalam dekapan sang ibu.
"Aku berjanji, Bu. Aku berjanji akan selalu hidup bahagia untukmu."
⚛️⚛⚛️⚛️️⚛️
Bahasa Latin--bahasa "mati" nan mematikan. Disebut bahasa "mati" karena tidak lagi diterapkan dalam percakapan sehari-hari. Disebut pula mematikan sebab artikulasinya yang kadang terlampau rumit untuk dirapalkan--setidaknya untuk sebagian besar mahasiswa farmasi.
"Solana ... solanum ... arght!" Cassy merengut kesal pada list nama ilmiah di buku catatannya. Terdampar di jurusan farmasi adalah wujud dari siksa dunia bagi Cassy. Bila saja bukan karena permintaan terakhir mendiang kakeknya, Cassy sudah akan angkat kaki sedari dulu.
"Solanum tuber ... tuber ...."
"Tuberkulosis!" Erva melemparkan bantuan yang membuat ekspresi Cassy berubah seperti orang yang baru saja mendapat zonk setelah menolak seratus juta.
Rama tergelak, mengalihkan perhatian dari game Iruna Online yang dimainkannya sedari tadi. Rama sama sekali tidak tertarik menghapal nama latin tumbuhan yang menjadi bahan kuis untuk kelas Fitokimia besok. Baginya, mengeja rangkaian konsonan dan vokal yang disusun secara tidak manusiawi itu sama saja dengan mendzolimi diri sendiri, perbuatan yang tidak dibenarkan dalam agama dan kemanusiaan.
Ditambah, fonem berbelit tersebut juga bisa mengganggu fungsi korespondensi lidah--yang untungnya meski secara teknis merupakan otot, tidak pernah mengalami keseleo secara harfiah. Pertolongan pertama macam apa yang bisa diberikan untuk lidah yang terserang pegal linu? Diolesi counterpain krim atau ditempeli patch koyo cabe? Mengerikan!
Lagipula, ini Indonesia. Bukan Olympus ataupun Atlantis. Untuk apa repot-repot mengadopsi aksen dari negara yang identik dengan mitologinya itu bila kita punya lebih dari enam ratus bahasa daerah warisan leluhur ditambah satu bahasa nasional pemersatu bangsa? Orang tidak nasionalis mana lagi yang dengan mudahnya termakan propaganda literal dunia barat tersebut?
Rama tersadar dari serangkaian pembenaran yang telah disusunnya sedemikian rupa saat Edward, Rean, dan Chelia masuk ke ruangan dan ikut bergabung. Mereka bertiga tampak muram, terutama Chelia.
Sejak masalah "sepatu" kemarin Chelia memang terlihat tidak tenang. Rama tahu Chelia sebenarnya mengetahui sesuatu dan menunggunya bertanya, namun gadis itu memilih bungkam. Berhubung Rama terlalu tahu diri, Rama pikir itu karena Chelia menjaga perasaaannya.
"Kalian kenapa?" tanya Naya pada Edward yang mengatur napasnya. Rean pun mengambil posisi bersandar di kursi dengan kepala mendongak dan mata terpejam.
"Kamu nggak berniat mengkudeta posisiku sebagai ciptaan terkeren di bumi ini, kan?" Rama menyenggol lengan Rean antipati. Bagi Rama, pose Rean itu sangat instagramable, si selebgram itu pun bertekad akan meniru pose tersebut untuk postingannya di masa yang akan datang.
Rean membuka sebelah matanya. "Kudeta?"
"Itu, gayamu!"
Rean menghembuskan napas di udara, yang juga terlihat keren di mata Rama. "Sorry Rama, aku nggak paham dan tidak berniat berdebat."
"Kamu kenapa, Brother? Nggak biasanya kamu yang fit a long day jadi lemah, letih, lesu, dan lunglai begini!"
"Rama! Jangan kumat dulu! Rean itu capek habis angkat aquades 30 liter ke lab kimia!" tegur Edward.
"Gila! 30 liter ke lantai empat? Yang benar saja?!"
"Ya. That damn kak Aldo yang minta, kalau nggak laporan kita nggak mau di-acc!"
"Kita?"
"Aku, Rean, dan Chelia." Edward melirik Rean dan Chelia bergantian.
Baik Rama, Cassy, Erva, maupun Naya terperangah dan menatap Chelia bersamaan. "Chelly juga?!"
"Maaf ...," desah Chelia. "Sebenarnya itu hukuman untukku, tapi Rean dan Edward yang menggantikan."
"Tidak usah tidak enakan begitu, itu memang bukan kerjaan perempuan." Rean menepuk punggung Chelia dan mendelik pada Edward.
"Ah, aku nggak bermaksud menyinggung kamu, Chelly. Sumpah!" Edward menyatukan kedua sisi tangannya.
"Tunggu! Ini ada apa, sih?!" sela Cassy.
"Kak Aldo mau ajak Chelly ke bazar nanti malam--"
"Nggak bisa!"
"Dengar dulu!" Edward berdecak pada Rama yang langsung menggebrak meja. "Chelly menolak, makanya Kak Aldo marah dan menghukumnya untuk bawa tiga jirigen aquadest 30 liter itu ke laboratorium. Aku bantu bawa satu, Rean dua."
"Enak banget main asal suruh! Bahan dan alat itu kan tanggungjawab laboran sama asisten!" Cassy merutuk.
Rama berusaha menahan emosi, ini bukan kali pertama ia mendapati ketidakprofesionalan asisten dalam praktikum. Ronaldo Setya atau Aldo itu adalah senior satu tingkat di atas mereka yang pernah menyatakan persaannya pada Chelia namun bertepuk sebelah tangan. Menurut gosip yang tersebar, Aldo sengaja mendaftar sebagai asisten untuk melampiaskan dendam atas perasannya yang tak terbalaskan.
"Aku kan bisa bantu, kalian kenapa nggak bilang!"
"Kamu yang jarang olahraga mau angkat berat? Yang pegal siapa, yang repot siapa. Bisa-bisa aku sama Edward nggak tidur lagi karena kamu merepek terus."
"Aku bisa sewa kuli!"
"Ribet lagi urusannya!"
Rama meringis. "Bikin emosi saja tuh Ronaldowati. Kenapa nggak langsung kamu hajar saja sih?!"
"Lusa dia sidang hasil."
"Mau dia gelar sidang BPUPKI yang ke-3 juga bodoh amat!"
Rean memejam erat. Kalau menuruti keinginan, sudah akan ia habisi senior yang dibencinya itu. Rean sudah lama menyimpan rasa pada Chelia, namun tidak pandai menunjukkan secara terang-terangan. Tapi bagaimanapun juga, yang memulai kekerasan fisik duluan selalu dianggap bersalah. Padahal serangan emosional terkadang jauh lebih menyakitkan.
Deringan dari ponsel Rean menjeda perbincangan mereka.
"Dari Rumy." Rean menunjukkan profil Rumy--ketua angkatan mereka yang tertera di layar panggilannya.
"Dih, foto profilnya nggak banget!" komentar Cassy.
"Mirip kakeknya Maruko-chan nggak sih?" timpal Rama.
Rean memberi death glare pada Cassy dan Rama. Duo kritikus itu kontan mendesis dan membuat peace sign dengan ibu jari dan telunjuk.
"Aku angkat dulu." Rean menggeser ikon answer call kemudian bertukar salam dan bertutur panjang lebar, meski yang lain hanya mendengar gumamam tidak jelas.
"Kenapa, Rean?" tegur Chelia begitu Rean memutuskan sambungan teleponnya dengan air muka tegang.
"Kak Aldo, laptopnya meledak."
"Hah?! Kok bisa?!" seru kesemuanya hampir bersamaan.
"Sepertinya overheat. Kemungkinan besar karena konslet dalam sirkuit baterainya. Sewaktu mengumpulkan laporan tadi, aku perhatikan laptopnya memang terus tersambung dengan stop kontak."
"Huh, rasakan itu!" Cassy mengepalkan tangannya dengan gemas.
"Tapi tidak ada yang luka, kan?" tanya Chelia khawatir.
Rean menahan napas sembari mengangguk. "Tidak ada. Kelasnya dalam keadaan kosong saat itu. Tapi ...."
"Tapi?"
"Semua revisi skripsi serta data penelitiannya ada di dalam sana, belum sempat di-backup."
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Rama terbangun karena sebuah sikutan tak bersahabat di lengan kirinya, bukan dari si half blood prince--Edward atau cucu dari cucu cicit cucunya Henri Louis Le Chatelier alias Rean si ahli kimia. Pelaku penyikutan itu adalah Rumy, ketua angkatannya yang sebelas-dua belas dengan Saitama karena kepalanya yang bokis, botak kismin.
Rama dan Rumy mengulang praktikum di semester tiga sehingga hari itu diberi kebijakan untuk tidak menghadiri jadwal asistensi untuk praktikum Fitokimia. Rumy tahun lalu tengah berjuang melawan bakteri Sallmonella typhi yang menggerogoti ususnya karena kebanyakan makan sisa sampel praktikum mikrobiologi yang terkontaminasi. Selain ketua angkatan, sebagai mahasiswa yang tinggal indekos, ia juga merupakan pelopor dari GAM alias Gerakan Anti Mubazir.
Adapun Rama memilih mengundurkan diri dari praktikum setelah beradu jotos dengan seorang asisten sampai senior tersebut dibawa ke ruang perawatan poliklinik. Seorang asisten cowok bersama teman-teman centilnya di praktikum tersebut memfitnah Cassy dan menghina Erva.
Rama anti memukul cewek sehingga memberikan bonus dua pukulan kepada asisten itu sebagai ganti untuk kedua temannya yang biang gosip. Meski terluka dan harus mengulang, Rama cukup puas. Sebab ketiga asisten tersebut telah kehilangan kepercayaan lagi di mata dosen.
"Rama!"
Sebuah seruan membuat Rama menoleh. Dari jendela yang terbuka Rama bisa melihat Erva melambai-lambai dengan wajah pucat pasi, seperti baru keluar dari lemari beku. Rama langsung menghampirinya, mengabaikan protes dari Rumy yang ditinggal bersih-bersih sendirian.
"Kenapa, Va? Kamu sakit?"
Erva menggeleng.
"Lagi nahan boker?"
Erva menggeleng lagi.
"Terus kenapa ekspresimu kecut begitu, Sweety?"
Erva menautkan jemarinya. Dari gelagatnya tersebut, Rama yakin Erva pasti sudah berbuat kerusakan di muka bumi ini lagi.
"Kamu memecahkan alat lagi?" tebak Rama. Erva adalah sepupu jauh dari Spongebob, sepupu dari sepupunya spongebob yang dapat merusak barang dengan sekali sentuh itu. Beberapa hari yang lalu Erva sukses menghancurkan beberapa tabung reaksi dan labu Erlenmeyer di laboratorium kimia.
"Bu-bukan!"
"Jangan bilang kamu merusak instrumen?!"
Rama mulai serius. Sama seperti dirinya dan Rumy, Erva juga mengulang praktikum di laboratorium Kimia Analisis, tempat di mana terdapat beberapa instrumen dan perangkat analisis senilai ratusan juta rupiah. Akan membutuhkan pelelangan organ tubuh untuk ganti rugi, sebab Rama masih terlalu jaim untuk merengek pada "seseorang" yang dengan mudah dapat melakukan pengadaan alat itu lagi, ataupun meminta uang pada kakeknya--meski ia yakin orang tua penuh semangat yang mengiriminya uang setiap minggu tanpa diminta itu akan mengabulkan permintaannya.
Gelengan Erva untuk yang kesekian kali membuat Rama bernapas lega. "Jadi kenapa?"
"Itu ... Chelly error praktikum Fitokimia."
"Chelly? Chelia? Chelia-nya kita? Jangan bercanda, Erva!"
"Nggak! Aku diberi tahu Cassy, katanya Chelly tidak diluluskan respon lisan di empat percobaan yang dipegang kak Aldo, laporannya juga diberi nilai di bawah standar."
Rama mengepalkan tangan kuat-kuat. Tidak lulus respon? Yang benar saja! Chelia memiliki nilai yang selalu sempurna dan menguasai semua materi, bahkan untuk nama senyawa serumit nama Osas si Uvuvwevwevwe atau seabstrak nama Kwazawazawazaquikkwalakwaza *?* zabolaza.
Laporan di bawah standar? Rama bahkan sering kali melewati dua-tiga halaman saat menyalin laporan Chelia lantaran isinya kelewat lengkap. Aldo jelas hanya mencari-cari alasan untuk membuat Chelia tidak memenuhi persyaratan ikut final dan error praktikum.
Rama bergegas menapaki undakan tangga menuju lantai 5, disusul Erva di belakangnya.
"Rama! Kamu mau kemana?"
"Laboratorium Fitokimia, mau kuhajar Aldo sialan itu sampai masuk rumah sakit sekalian!"
Erva terkesiap. "Jangan, Rama! Kata Cassy, Naya bilang kalau Rean berpesan ke Edward untuk mengingatkan kita semua untuk berhati-hati."
Rama menggeram, namun menyadari kebenaran dari peringatan Erva yang sedikit pleonasme, ia menarik kembali langkahnya.
Rama merogoh saku, mengeluarkan ponsel dan menunggu panggilan teleponnya tersambung.
"Rama?" panggil suara diseberang ragu-ragu.
"Hm."
"Ada apa? Tumben kamu menelpon duluan."
"Mau lihat aksiku lagi, tidak?"
"Aksi apa--oh,Tuhan! Jangan lagi Rama, aku banyak kerjaan sekarang!"
"Laboratorium Fitokimia lantai 5, aku tunggu."
Panggilan terputus.
⚛️⚛⚛️⚛️️⚛️
Cassy bersembunyi di belakang Edward takut-takut. Cassy pikir semua kegilaan Aldo sudah berakhir dengan nasib tragis yang menghancurkan laptopnya tempo hari hingga sidang hasilnya ditunda. Kenyataannya, asisten itu justru semakin menggila.
Aldo melempar laporan yang penuh dengan coretan pantulannya ke arah Chelia. Rean sigap memasang badan kemudian menyerahkan laporan yang kusut dan tersobek itu pada Chelia. "Nggak apa-apa, nanti kubantu menulis ulang," tuturnya mengabaikan tatapan dongkol dari Aldo.
"Kampret! Yang suruh kamu ambil laporan itu siapa, hah?!"
Rean memutar tubuh menghadap Aldo, "Tidak ada. Inisiatif saya sendiri, Kak" jawabnya tegas.
Aldo meniup poni panjang di dahinya dan bertepuk tangan sedang asisten lain di belakangnya mulai kasak-kusuk. Sebelumnya terjadi perdebatan antar-asisten atas sikap Aldo yang di luar batas itu, namun Aldo begitu keras kepala dan tidak segan berlaku kasar, apalagi asisten yang lain itu berada di angkatan yang sama dengannya.
"Kalian lihat sendiri?" Aldo melayangkan pandangan ke seluruh praktikan. "Satu contoh ketidakprofesionalan dalam praktikum! Mau berlagak sebagai pahlawan kamu?!" Aldo menunjuk Rean yang berdiri melindungi Chelia.
Rean mendengus dan menepis telunjuk Aldo dengan tenang. "Mengatasnamakan amanah untuk kepentingan pribadi. Siapa yang tidak profesional di sini?"
Aldo merungus, ia maju mendorong bahu Rean, namun nihil. Rean tidak goyah sama sekali. Dengan mudah ia menahan tangan Aldo, memelintir, kemudian mendorongnya kembali.
Dua asisten cowok lain bersegera menangkap dan mencekal Aldo yang ingin menyerang lagi. "Hentikan! Dia bukan tandingan kita," bisik salah satu di antaranya yang membuat Aldo semakin gusar.
Suasana kelas menjadi riuh. Chelia menggenggam tangan Rean, mencegahnya maju duluan. Chelia tidak ingin kejadian yang menimpa Rama dulu terulang kembali. Meski Aldo jelas salah, bila Rean memukul duluan, Rean akan kena getahnya juga.
"Kami akan menghadap dengan dosen penanggungjawab praktikum. Saya dan Chelia tidak keberatan mengulang tahun depan serta melepas jabatan kami sebagai asisten kelas 1 bila terbukti bersalah. Tapi bila tidak, sebagai sesama asisten, saya rasa aturannya sudah kita pahami bersama." Rean angkat bicara, menatap satu per satu asisten senior untuk angkatannya di kelas itu.
Para asisten tersebut mulai kebingungan, di satu sisi mereka segan dan ingin membela Aldo sebagai teman satu angkatan, namun disisi lain reputasinya sebagai asisten juga dipertaruhkan.
Rean membungkukkan badan dan menarik tangan Chelia menuju pintu keluar. Aldo yang tak bisa menahan diri lepas dari cekalan dua temannya dan mengejar Rean sambil melayangkan tinjunya. Menyadari itu Rean segera mendorong Chelia agar menjauh kemudian memutar tubuh bagian atasnya seraya memperkuat kuda-kuda.
Rean sudah siap menangkis dan melawan balik ketika tiba-tiba seseorang menghalau di depannya dan menjadi sasaran tinju Aldo. Pukulan Aldo terbilang cukup keras, terbukti dari besarnya gaya yang diterima Rean saat tubuh itu terdorong ke arahnya, beruntung pertahanannya cukup kuat sehingga mereka berdua tidak harus menubruk lemari asam.
"RAMA!"
Chelia yang juga meneriakkan nama Rama terkejut begitu mendengar seruan lain dengan frekuensi lebih keras di ambang pintu. Untuk sesaat seluruh penghuni kelas dikejutkan oleh sosok dengan suara berat yang berdiri di sana.
"Pa-pak Arya?!" Naya terbata.
Rean yang menahan bahu Rama bisa melihat seringaian diiringi darah yang merembes keluar dari sudut bibir cowok itu. Chelia menghambur ke arah mereka disusul Arya dengan panik.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arya dengan suara bergetar begitu Rama terduduk dibantu Rean dan Chelia. Hatinya bergemuruh saat melihat Rama terbatuk dan meludahkan darah dari dinding pipihnya yang terkoyak.
Rama yang masih menunduk tersenyum kecil, ia lalu menengadah, menatap Arya sambil mendesis. "Uuuh ... berdarah."
Arya tergemap kemudian bangkit menuju Aldo yang jatuh tersungkur. Arya menatap Aldo dengan berang, menarik kerah jas laboratorium asisten tersebut dan memaksanya berdiri.
"Bedebah! Apa yang kau lakukan pada adikku?!"
☕☕☕
TBC
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top