Extra Part 2
4 tahun kemudian
Pagi ini, langit begitu cerah. Kicauan burung di luar juga sahut menyahut ikut menyambut hari ini adalah hari bahagia yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Suara derai tawa terdengar begitu merdu dan menggelitik telinga yang berasal dari luar ruangan. Namun, dibalik suara tawa itu ada hati yang berdebar.
Upacara pemberkatan pernikahan Matt dan Leonyca di laksanakan di Gereja Katedral Jakarta, yang dihadiri oleh keluarga kedua mempelai dan juga jemaat gereja, dan resepsinya di rumah Dave dan Nadia.
"Ma...." sentuhan hangat di bahu gadis itu membuat perhatiannya sedikit teralih. Devany terlihat anggun dan awet muda memakai gaun berwana biru muda metalik.
"Ony jangan takut, ya Nak. Santai saja." Devany mengelus bahu Leonyca. Tubuh mungil Leonyca terbalut gaun pengantin berwarna putih. Mewah dan pas di tubuhnya. Wajahnya di poles make-up yang tidak terlalu tebal sehingga terlihat natural.
"Aku berdebar-debar, Ma." Leonyca mengusap peluh di keningnya. Padahal ruangan itu dingin.
Devany tersenyum, dia berjongkok di depan Leonyca dan memakaikan high heals berwarna senada dengan gaun Leonyca. High heals itu terdapat beberapa berlian dan sangat mewah.
"Putriku sangat cantik." Devany berdiri, dia mengusap sudut matanya karena terharu.
"Mama...." Leonyca berdiri, memeluk Devany.
Devany mengusap punggung Leonyca, lalu melepaskan pelukan mereka.
"Ony sudah siap? Acara sebentar lagi di mulai." Leonyca dan Devany menoleh pada suara itu. Ternyata Jackson. Lelaki itu menatap Leonyca dengan mata melebar.
"Sudah, Bang." Leonyca menatap dirinya sekali lagi di cermin.
"Sangat cantik." Puji Jackson. Jackson terlihat sangat tampan memakai jas berwarna hitam dan kemeja berwarna putih. Lengkap dengan dasi kupu-kupunya.
"Terima kasih, Bang."
"Papa menunggu di luar," bisik Jackson, dia mendekati Leonyca dan menggandeng tangan adiknya itu.
"Iya, Bang." Lalu mereka keluar dari ruangan itu. Benar, Nick sudah menunggu di depan pintu.
Jackson menyerahkan tangan Leonyca pada Nick yang terharu melihat putrinya. Dia mengusap sudut matanya dan menerima tangan Leonyca.
"Ony sudah siap, Nak?" Leonyca mengangguk.
Akhirnya mereka melangkah keluar dari ruangan dan memasuki gereja. Leonyca semakin berdebar saat semakin dekat ke altar. Yang mana sudah ada Matt menunggunya di sana.
Mereka terus melangkah, Leonyca benar-benar menjadi pusat perhatian karena sangat mencolok. Hingga kini sudah sampai di depan altar, Nick menyerahkan tangan Leonyca pada Matt. Matt tersenyum lebar.
Leonyca melangkah satu langkah dan mereka saling menatap. Jantungnya semakin berdebar-debar melihat Matt yang begitu tampan mengenakan jas berwarna hitam.
Mereka duduk bersandingan di depan mimbar.
Sementara Nick bergabung bersama Devany.
Lalu acara dimulai.
Acara pernikahan Matt dan Leonyca berjalan dengan lancar dan sakral. Mereka berdua begitu lancar mengucapkan janji nikah dan saling menyematkan cincin pernikahan. Matt mengecup kening Leonyca yang sudah sah menjadi istrinya.
Setelah itu, Matt dan Leonyca melakukan sungkeman secara bergantian pada orangtua mereka yang mana moment ini adalah moment mengharukan.
Waktu berjalan sangat cepat, hingga upacara pemberkatan selesai dan mereka melanjutkan resepsi di rumah Dave dan Nadia.
★•••★
Pukul 21.00
Senyuman itu tidak pernah hilang dari bibir Leonyca. Meski sebenarnya dia sudah sangat kelelahan. Tamu undangan tiada habisnya dan memberi salam dan ucapan selamat pada Matt dan Leonyca.
"Aku sangat beruntung," bisik Matt pada Leonyca saat tidak ada lagi yang menyalami mereka. Leonyca tertawa pelan. Malam ini dia memakai gaun berwarna putih gading, sementara Matt memakai jas berwarna putih.
Acara pernikahan mereka begitu mewah, dekorasi yang sangat cantik dan enak dipandang membuat para tamu betah untuk tinggal.
Makanan juga ada banyak dengan menu yang berbeda.
"Apa masih ada?" tanya Leonyca pada Matt.
"Mungkin," Matt mengelus punggung tangan Leonyca yang menggandengnya.
Mereka berdua melempar senyuman dan melangkah mendekati keluarga mereka.
"Evan cepat menyusul," kata Leonyca sambil menaik-turunkan alisnya.
Evano tersenyum, "Targetku belum sampai. Usiaku belum matang, Ony."
"Tapi Evan saja belum punya pacar," Leonyca menggoda Evano. Evano tersenyum masam.
"Bang Jack juga, dong." Leonyca melepaskan tangan dari Matt dan mendekati Jackson yang duduk menyendiri.
"Ony sangat cantik," ucap Jackson menatap Leonyca penuh kasih. Dia berdiri dan menggandeng tangan Leonyca dan membawanya bergabung bersama keluarga.
Sebenarnya Leonyca tahu sesuatu, tapi dia tidak mau memberitahu siapa pun termasuk Jackson.
"Jack...." Devany menyentuh bahu Jackson. Jackson hanya memaksakan senyumnya.
Leonyca kembali mendekati Matt dan memeluknya manja. Malam semakin larut, namun tamu masih ramai.
"Ony masih kuat, Sayang?" Leonyca mengangguk. Rasanya Leonyca ingin sekali rebahan untuk meluruskan pinggangnya, tapi dia harus bersabar sebentar lagi.
Matt membawa Leonyca menemui beberapa teman-teman sekantornya. Dia merangkul Leonyca dengan erat.
"Selamat, Matt. Maaf aku terlambat."
"Tidak apa-apa, Dion." Matt tersenyum lebar.
"Ony, ini Dion. Teman dekatku di kantor." Leonyca melemparkan senyumnya dan menyebutkan namanya.
"Oh iya, gadis yang ingin kamu bawa di mana?" Matt mencari-cari orang di sekitar Dion.
"Dia ke toilet sebentar." Matt mengangguk, sementara Leonyca mulai berpikir dan Matt menyadari itu.
"Jangan pikirkan apa pun, Sayang." Matt mengecup kening Leonyca.
★•••★
Leonyca menggigit bibir bawahnya pelan, dia semakin grogi. Acara pernikahan sudah selesai. Kini dia sedang duduk di ranjang, menunggu Matt yang sedang mandi.
Leonyca semakin berdebar, ditambah dia juga sudah mengantuk.
Leonyca menguap sekali lagi, lalu dia memutuskan berbaring dan memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian dia sudah tertidur.
Matt yang baru saja selesai mandi, melangkah mendekati tempat tidur, tersenyum lebar melihat pemandangan di depannya.
"Hah, sudah tidur rupanya." Matt naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Leonyca. Dia memiringkan wajahnya agar bisa menatap Leonyca sepuasnya.
Dan untuk seterusnya, dia akan mematap Leonyca sampai puas, tanpa larangan dari siapa pun.
Matt mengelus wajah Leonyca. Mata, hidung, dan berhenti di bibir. Dia tersenyum, perasaannya begitu menghangat. Semua beban yang dia tanggung selama ini hilang. Melihat Leonyca yang tidur pulas memberikam kelegaan yang luar biasa pada Matt.
"Aku sangat bersyukur. Aku sangat mencintaimu." Matt mengecup kening Leonyca penuh perasaan. Dengan gerakan pelan, dia memeluk Leonyca. Dia tidak ingin mengganggu tidur istrinya ini.
Leonyca merapatkan tubuhnya sehingga tidak ada jarak antara mereka, dia memeluk Matt dan menjadikan lengan Matt sebagai bantalnya. Kini mereka tidur berhadapan.
"Ony...." bisik Matt. Leonyca membuka matanya sebentar, lalu kembali tidur.
Matt mengelus punggung Leonyca, dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyum dari bibirnya.
Malam semakin larut, Matt pun akhirnya tertidur bersama Leonyca dipelukannya.
★•••★
Terima kasih banyak untuk kalian yg masih baca cerita ini sampai sekarang. Aku senang. Mungkin kalian kurang puas, wkwkw
Btw, aku udah gatau lagi gimana buat adegan romantis, sumpah dah. Padahal dulu bisa bgt, wkwkw.
Btw, baca ceritaku yang SECRET OF JACKSON ya
Dan setelah ini masih ada 1 part bonus lagi. Tungguin ya😊
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top