35. First Time With Patch

Leonyca membuka matanya sambil menggaruk lehernya yang terasa gatal. Dia mengedarkan pandangannya untuk memastikan mereka sudah sampai atau belum. Lalu dia melirik jam di tangannya.

"Hampir jam dua dini hari. Ternyata sudah sampai, ya? Aku pikir sampainya pagi." Leonyca melihat ke sampingnya. Keningnya berkerut saat melihat Patch tidur, bukan Leonard.

Leonyca mengulum senyumnya saat dia berniat menjaili Patch yang terlihat tidur dengan nyenyak. Dengan gerakan pelan, Leonyca menaikkan tangannya mendekati wajah Patch. Saat hendak menarik hidung Patch, tapi tangan Leonyca sudah di tahan Patch.

"Tidak boleh jail pada orangtua," kata Patch masih dengan mata yang terpejam.

Leonyca menarik tangannya, dia mengerucutkan bibirnya.

"Kita sudah sampai. Ternyata hanya tidak sampai tiga jam. Haha...." Leonyca berdiri dan dia menatap ke sekeliling.

"Abang mana, ya?" tanya Leonyca menyentuh dagunya.

"Dia sudah pulang. Katanya ada urusan penting." Leonyca menendang kaki Patch membuat mata lelaki itu terbuka.

"Kamu sama sekali tidak punya etika. Dasar, kekanakan!" gerutu Patch sembari berdiri.

"Terserah!" jerit Leonyca sambil berkacak pinggang, mengabaikan tatapan aneh dari beberapa penumpang yang terbangun karena keributan yang dibuatnya.

"Bawa sendiri tas dan kopermu." Patch mendorong Leonyca, lalu turun lebih dulu.

"Sinting! Dia tidak seperti pendeta! Tidak seperti saat di stasiun tadi!" sungut Leonyca sembari memakai tasnya, dia juga mengangkat kopernya. Lalu ikut turun dari kereta.

"Stasiun Pegaden Baru. Aku belum pernah ke sini. Dan ternyata Matt lebih memilih tinggal di pedesaan. Dasar, Matt! Dia pikir aku tidak bisa menemukannya, huh?" Leonyca menggeret kopernya, mencari keberadaan Patch.

"Di mana dia? Ah, sepertinya dia sedang buang air besar, hihi...." Leonyca pun akhirnya duduk di kursi yang ada.

Sembari menunggu Patch yang pergi entah ke mana, Leonyca memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari tempat-tempat wisata di pedesaan Subang menggunakan ponselnya. Dan dia tertarik untuk mengunjungi salah satu desa Wisata Wangunharja-Subang.

"Sepertinya tempat ini bagus, aku jadi tidak sabar memotret pemandangannya nanti," katanya berbicara sendiri.

Leonyca mendongak saat ada yang menyodorkan kopi panas untuknya.

"Terima kasih," kata Leonyca tersenyum lebar pada Patch, dia menerima kopi yang dibelikan Patch.

Patch duduk di sebelah Leonyca, melirik gadis itu yang menyeruput kopi panas yang tadi dia belikan. Lalu melirik ponsel Leonyca.

"Aku ingin ke tempat ini," kata Leonyca membuat kerutan di kening Patch terlihat dengan jelas.

"Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu ingin mencari pacarmu?"

"Aku tidak punya pacar! Tapi, kamu benar." Leonyca memberikan kopinya pada Patch.

"Aku tidak suka kopi pahit. Kamu benar-benar tidak tahu bagaimana selera wanita," gumam Leonyca. Patch menerima kembali kopi dari tangan Leonyca, dan dia hanya mengangkat bahunya.

"Patch, ini masih jam setengah tiga. Apa kita akan tetap menunggu di sini sampai matahari terbit?"

"Terserah." Leonyca menggerutu dalam hati mendengar jawaban Patch.

Ternyata dia sangat menyebalkan dan irit bicara!

"Baiklah, kita tunggu di sini saja sampai pagi. Lagi pula, Matt ada di pedesaan Wangunharja. Itu berarti, aku bisa liburan." Patch hanya diam dan memasang ear phone di telinganya menambah kekesalan hati Leonyca.

Sebaiknya aku tidak bicara lagi karena dia juga tidak mendengarku. Menyebalkan! Gerutu Leonyca dalam hatinya.

Akhirnya dia pun diam, mereka tak saling bicara sampai akhirnya Leonyca tertidur kembali.

"Gadis bodoh!" gerutu Patch membaringkan Leonyca di kursi, karena masih banyak kursi yang kosong. Dia juga menyelimuti Leonyca.

★∞★

"Huwaaaaaaaa...!!!" jerit Leonyca kegirangan saat kini mereka ada di tempat wisata Wangunharja-Subang setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari stasiun dan perkotaan.

"Tolong fotokan aku!" pinta Leonyca pada Patch yang sedari tadi hanya diam saja. Dia menatap tangan Leonyca yang menyerahkan kamera padanya. Hanya menatap kamera itu saja tanpa menerimanya.

"Ah, percuma saja!" pekik Leonyca yang merasa gemas pada lelaki yang sekarang sudah berjalan melewatinya di tengah sawah.

"Nah, sepertinya dia menarik dijadikan objek! Hahaha...." Leonyca pun memotret Patch dari belakang. Hanya beberapa gambar karena lelaki itu membalikkan badannya.

"Awas saja kalau kamu mengambil gambarku lagi!" Patch menatap Leonyca tidak senang.

Bukannya berhenti dan mengindahkan ucapan Patch, Leonyca malah semakin menjadi. Dia malah mengambil banyak sekali gambar Patch dengan beberapa ekspresi Patch.

"Baiklah! Sini kameranya!" Leonyca memberikan ponselnya pada Patch.

"Pakai ini saja. Kalau aku berikan kameraku padamu, pasti kamu akan menghapus yang baru saja aku potret." Leonyca menggantungkan kameranya di lehernya.

Leonyca tersenyum puas saat Patch menerima ponselnya.

"Gadis bodoh! Ponselmu bahkan mati!"

"Astaga, sepertinya kehabisan baterai, hehe...." Leonyca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bagaimana kalau pakai ponselmu saja dulu? Nanti kalau ponselku baterainya sudah ada, kirim ke aku." Patch menghela napasnya dengan pelan. Menatap Leonyca dengan tidak suka. Dia memasukkan ponsel Leonyca ke dalam saku celananya.

"Ayolah ... kalau abang Lee di sini, dia pasti mau melakukannya. Sayangnya abang sudah pulang, aku jadi sedih," kata Leonyca memasang wajah sedihnya.

"Baiklah!" Patch mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya, lalu memotret Leonyca dengan asal-asalan.

"Patch! Potret dengan benar! Awas saja kalau hasilnya jelek, kupatahkan tanganmu!" ancam Leonyca membuat Patch hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Ah, sudahlah!" Leonyca melangkah ke depan melewati Patch yang masih mengarahkan kamera padanya.

"Orang gila!" pekik Leonyca yang kesal sendiri.

"Gadis bodoh!" gumam Patch untuk kesekian kalinya.

Leonyca terus melangkah sampai akhirnya sebelah kakinya terpeleset ke dalam sawah, dan itu terabaikan di dalam ponsel Patch.

"Gadis bodoh!" kata Patch mendekati Leonyca. Dia menahan tawanya melihat ekspresi Leonyca, gadis itu juga hanya diam meski ingin rasanya dia berteriak dengan kuat.

Patch memotret Leonyca sekali lagi, lalu dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia mengulurkan tangannya pada Leonyca.

Leonyca menerimanya, saat sudah setengah berdiri, Patch malah melepaskan tangannya yang membuat Leonyca jatuh bahkan dia terduduk di sawah yang berair.

"Jahat!!!" teriak Leonyca menitikkan air matanya. Dia sudah tidak tahan lagi.

Patch hanya mengangkat bahunya, lalu dia pergi.

"Gadis bodoh! Membuatku repot saja!" gerutu Patch yang masih bisa di dengar Leonyca.

"Akan aku adukan kamu ke abangku!" jerit Leonyca sambil berusaha berdiri. Celana, baju, dan sepatunya basah dan kotor terkena lumpur sawah.

Leonyca melepaskan kameranya agar tidak basah. Dia meringis karena pinggangnya terasa sakit.

"Aku tidak menyangka ada orang sekejam dia!" jeritnya menatap Patch yang mulai menjauh.

Leonyca berusaha bangkit berdiri, dan saat sudah berhasil, dia mengambil kameranya dan mengejar langkah Patch.

"Tidak akan kulepaskan kamu!" jeritnya mempercepat larinya, dia juga mengusap air matanya.

"Memangnya siapa dirimu yang terus mengejekku bodoh, hah?" Hampir dekat, Leonyca mangambil lumpur, lalu melempar Patch yang mengenai kepala lelaki itu.

"Hahaha, rasakan itu!" jerit Leonyca, tangisnya berganti menjadi tawa saat lemparannya berhasil mengenai Patch. Leonyca mengambil lumpur lagi, karena merasa belum puas dan dia melemparkannya pada Patch tempat saat lelaki itu membalikkan tubuhnya. Alhasil, lumpurnya mengenai wajahnya.

"Mati saja!" jerit Leonyca menatap puas pada Patch.
Patch memejamkan matanya, dia membersihkan lumpur dari wajah dan kepalanya.

Gadis ini benar-benar menyebalkan! Geram Patch dalam hatinya. Namun dia tidak mau membalas Leonyca. Dia sangat yakin kalau dibalas, Leonyca pasti akan menjadi-jadi. Jadilah Patch mendekati Leonyca, dia menarik gadis itu pergi dari persawahan.

"Kita belum mendapatkan penginapan, tapi sudah kotor begini. Dasar, gadis bodoh!"

"Berhenti mengatai aku gadis bodoh!" jerit Leonyca mengempaskan tangan Patch.

Patch membawa koper Leonyca, lalu dia membiarkan Leonyca mengikutinya dari belakang.

"Kamu harus mengganti sepatuku yang baru! Aku tidak membawa cadangan!"

"Berhenti menjerit atau kutinggalkan kamu sendirian di desa ini!" Leonyca mengepalkan kedua tangannya.

"Pertama, kita harus mencari kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mencari penginapan. Aku rasa, tidak ada kamar mandi umum di desa. Jadi, kita harus mencari sungai."

"Pergi saja sendiri! Aku tidak mau!"

"Terserah!"

"Ihhh!!! Kamu sangat menyebalkan!" Leonyca terpaksa mengikuti langkah Patch dari belakang. Dia menghidupkan kameranya, lalu memotret Patch dari belakang. Dia terkekeh karena kepala Patch masih kotor karena ulahnya.

"Semoga hari ini mendapat penginapan dan aku bisa menemukan Matt." Leonyca tersenyum tipis, dia sudah tidak sabar bertemu dengan Matt dan ingin menceritakan apa saja yang sudah dia alami pagi ini.

★∞★

Patch di baca atau senyamannya aja deh.
100 vote for next?

Semoga suka dan terima kasih!
Ig: Naomiocta29

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top