25. I'm Afraid
Leonyca memeluk lututnya dengan erat, peluh keringat membasahi kening, leher, dan bajunya. Tubuhnya bergetar hebat, dan dia tidak berhenti menangis. Gadis itu ketakutan.
Tidak ada yang tahu, tidak ada yang peduli! Karena Leonyca selalu mengatakan pada keluarganya kalau dia baik-baik saja.
Sudah seminggu berlalu, Matt tidak pernah datang lagi, Leonyca sendirian di rumahnya. Tidak ada telepon dari Matt, bahkan untuk menanyakan kabar Leonyca.
Dan begitulah, Leonyca makan tidak makan, kadang tidak tidur semalaman demi menunggu Matt pulang. Leonyca juga tidak pergi ke sekolah sejak saat itu.
Leonyca sudah berusaha menghubungi Matt, tapi nomor Matt tidak aktif lagi.
Pikirkan gadis itu kacau, dia tidak bisa berpikir dengan rasional lagi. Yang menjadi pertanyaan Leonyca, kenapa Matt meninggalkannya?
Leonyca keluar dari lemari tempat persembunyiannya, ia merangkak di lantai karena dia malas berjalan. Wajah Leonyca begitu pucat, bibirnya pecah-pecah.
Dia merangkak menuju kulkas yang ada di dapur, membuka kulkas itu dan dia meraih kue yang dibawakan Jason dan Mine minggu lalu. Leonyca juga mengambil air di botol lalu meneguk air itu dengan rakus. Leonyca meringis karena kerongkongannya yang sakit.
Dia meletakkan botol air itu di lantai, lalu memakan kue yang sudah berjamur itu dengan rakus. Dia memakannya sambil menangis. Sesekali, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal menggunakan tangannya yang kotor membuat rambutnya yang berantakan semakin berantakan.
Leonyca kesulitan menelan makanan itu, dia memuntahkan apa yang dia makan dan minum. Napasnya tersengal-sengal. Karena perutnya juga sudah sakit, akhirnya Leonyca memakan apa saja yang bisa dia makan. Makan dan menelan dengan bantuan air.
Leonyca menundukkan kepalanya, dia bukanlah gadis yang tegar. Keadaan yang dialaminya membuat Leonyca depresi. Tapi dia harus berusaha tegar, menghilangkan kesedihannya. Dia harus bangkit dari keterpurukan yang dia rasakan.
"Mama ... Papa...." ucap Leonyca dalam tangisnya. Dia berusaha berdiri, dan setelah berhasil ... Leonyca melangkah menuju wastafel dan membersihkan tangan, wajah, dan rambutnya. Dia menatap dirinya di cermin dan dia tersenyum kecut.
Selesai membersihkan, Leonyca mencari apa saja untuk melukai dirinya sendiri. Tidak ada benda tajam yang dia temukan di dapur.
Akhirnya Leonyca mencari ke kamar dan mendapat gunting di dalam laci. Leonyca mangambil gunting itu dan ia melangkah menuju meja riasnya. Dia duduk di kursi dan sebelah tangannya menyentuh rambutnya. Mengurungkan niatnya untuk melukai dirinya.
Dengan nekat, Leonyca menggunting rambut panjangnya dengan hati-hati. Setelah selesai, dia meraih sisir dan menyisiri rambut itu dengan tangannya yang bergetar.
"Seperti ini lebih baik, lebih cantik, haha...." tawa itu bergema di kamar yang sepi.
Leonyca cemberut melihat potongan rambut barunya. Rambut yang dulu panjang, kini panjangnya hanya sebatas bahu saja.
Dia melemparkan gunting itu ke lantai, lalu berjongkok di lantai. Karena malas berjalan, Leonyca merangkak menuju kamar mandi.
Sudah berapa hari dia tidak mandi? Entahlah, yang pasti Leonyca juga sudah lupa.
Lima belas menit kemudian, Leonyca keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Dia melangkah menuju lemari pakaian.
Dia mengambil pakaian yang akan di pakai. Leonyca memilih t-shirt milik Matt dan celana selutut. Saat sudah selesai, Leonyca berlari menuju meja riasnya.
Leonyca menatap dirinya di dalam cermin, memasang wajah paling judesnya. Leonyca meraih sisir dan kembali menyisir rambutnya.
"Tidak terlalu jelek, biasa saja, kok!" ketus Leonyca.
Dia mengeringkan rambutnya, lalu mengikat rambutnya dengan asal-asalan sehingga membuat Leonyca terlihat seperti anak laki-laki.
Leonyca menunduk dan melihat rambutnya yang berserakan di lantai, lalu dia melenggang keluar dari kamar. Tidak lupa Leonyca meraih uang dari dalam tasnya.
"Aku mau cari pacar baru!" pekik Leonyca berusaha bangkit dari kesedihannya. Berusaha terbiasa tanpa ada Matt di sisinya. Berusaha menghibur dirinya sendiri.
★•••★
Matt menatap kosong ke depannya. Dia berdiri mematung di kamarnya dan menatap keluar jendela. Jujur saja, dia sangat menyesali keputusan yang telah dia ambil. Sekarang dia sangat merindukan kekasihnya.
Meski dia sudah menuruti kemauan Lory, tapi sejak saat itu, Lory tidak pernah banyak berbicara lagi, termasuk padanya. Hanya berbicara seadanya saja, itu pun hanya pada Nara, Nick, dan Devany.
Matt tahu bahwa dia sudah mengecewakan ibunya, sehingga Lory bersikap dingin padanya.
"Maafkan aku, Ony...." desis Matt dengan lirih. Dia tahu bahwa dia sudah melukai Leonyca, tidak bisa menepati janjinya. Bahkan sehari lagi statusnya sudah berbeda.
"Matt...." suara yang sangat Matt kenal itu membuat Matt tersadar.
"Matt boleh menemui Ony." Matt mengerutkan keningnya. Lalu dia menggeleng. "Tidak, Pa. Lebih baik kami tidak perlu bertemu lagi, karena itu hanya akan menambah luka Ony, dan membuat aku semakin berat meninggalkannya." Matt mengalihkan pandangannya. Meski dia sangat ingin bertemu Leonyca, tapi Matt menahannya.
"Matt, kamu yakin? Kita tidak tahu bagaimana keadaan Ony di sana! Tidak ada yang memperhatikan dia, Matt! Semua orang sibuk mengurus pernikan Jason dan Ony selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja!" Matt menghembuskan napasnya yang berat lalu berlari meninggalkan Nara di kamar.
Matt tidak lupa membawa kunci mobilnya. Setelah ada di halaman, Matt mengendarai mobilnya sedikit tergesa. Ingin cepat sampai di rumah dan menemui Leonyca.
Setelah sampai di halaman rumah itu, Matt memarkirkan mobilnya dan langsung turun. Dia berlari dan mendapati pintu yang terbuka lebar.
"Ony...! Aku pulang, Sayang...!" panggil Matt melangkah menuju kamar. Mengabaikan rumah itu yang berantakan.
"Ony...!" Matt terbelalak saat melihat rambut yang berserakan di lantai dekat meja rias. Dia berjongkok, meraih potongan rambut itu.
"Apa yang terjadi, Ony?" Matt melihat sekeliling kamar yang seperti tidak berpenghuni itu.
Dia berlari ke kamar mandi, tidak ada Leonyca. Lalu keluar dari kamar dan berlari menuju dapur, tidak ada Leonyca. Hanya dapur dan kulkas yang berantakan.
"Ony!!!" panggil Matt mulai mencari Leonyca keluar rumah.
"Ony, kamu di mana?!" wajah cemas itu terlihat jelas, matanya memancarkan kekhawatiran dan mulai berkaca-kaca. Matt menyusuri pekarangan rumah dan tidak menemukan siapa-siapa.
"Kamu di mana, Ony? Ya Tuhan, semoga Ony baik-baik saja," ucap Matt kembali ke dalam rumah. Dia melangkah cepat masuk ke kamar dan mendekati lemari. Saat dia membuka lemari, Leonyca tidak ada juga.
Matt berhenti saat mendengar suara tawa dari luar.
Dia mengintip dari jendela kamar dan dia tertegun.
Tawa itu dari Leonyca, gadis itu tertawa dan lari ke sana-sini sendirian. Matt langsung berlari dengan cepat, dan saat dia sudah di luar, dia mendekati Leonyca yang masih tertawa sendirian. Ya, gadis itu berhalusinasi.
"Ony...." panggil Matt membuat Leonyca berhenti. Dia menoleh dan mendapati Matt berdiri beberapa langkah darinya. Dan betapa kagetnya Matt saat melihat wajah Leonyca basah karena air mata, dahi dan hidung Leonyca juga berdarah.
Matt semakin mendekat, lalu langsung saja dia memeluk Leonyca dengan erat.
"Maafkan aku, Ony. Aku tidak bermaksud meninggalkan kamu," ucap Matt menitikkan air matanya. Tubuh Leonyca dingin dan semakin kurus.
Leonyca mendorong Matt sekuat tenaganya, setelah pelukan itu terlepas, Leonyca kembali berlari ke sana-sini.
"Ayo, kejar aku!" jerit Leonyca masih berhalusinasi, yang menganggap ada seseorang yang mengejarnya. Leonyca terus berlari sampai tidak menyadari pohon besar ada di depannya.
"Ony, awas!" jerit Matt berlari, tapi terlambat, Leonyca sudah menabrak pohon itu sampai dia terjatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Dahinya semakin berdarah, begitu juga hidung dan bibirnya.
Matt berjongkok dan meletakkan kepala Leonyca di pangkuannya. "Ony...." Matt menepuk-nepuk wajah Leonyca, lalu menggendong Leonyca. Dengan langkah yang cepat, Matt membawa Leonyca ke mobilnya.
Semoga Ony hanya terkena luka ringan, batin Matt yang mulai melajukan mobil.
★•••★
Okey, semoga suka😁
Kalo 400 vote dan 200 komentar, langsung aku next deh, hehe....
Terima kasih
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top