2. Waiting

Leonyca masih berdiri di bandara untuk menanti kedatangan Matt. Sesekali dia menghela napasnya, wajah itu begitu murung. Sekarang dia ada di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta.

"Kenapa Matt tidak kembali juga?" desis Leonyca sambil mengusap pelan wajahnya dari tetesan air mata.
Dengan berat hati, Leonyca melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Dia melirik jam di tangannya, kembali menghela napasnya. Melangkah gontai menuju parkiran, dia mendapati Leonard yang ketiduran di dalam mobil.

Leonyca masuk ke dalam mobil lalu menepuk wajah Leonard sehingga lelaki itu terbangun. Leonard adalah saudara kembar Leonyca.

"Sudah?" tanya Leonard membuat kekecewaan di hati Leonyca semakin bertambah.

"Belum, Bang...." jawab Leonyca dengan lirih.

Leonard mengelus kepala Leonyca dengan lembut, lalu dia melajukan mobilnya.

"Ony, kan aku sudah bilang kalau Matt tidak akan kembali dalam waktu dekat ini. Percuma saja Ony menunggu Matt setiap hari di bandara." Leonard menghela napasnya jengah.

Dia sangat kasihan melihat Leonyca yang setiap harinya dihabiskan untuk menunggu Matt pulang. Sejak seminggu lalu, sejak Leonyca keluar dari rumah sakit, dan saat Matt pulang ke luar negeri, Leonyca tidak banyak bicara lagi, dia lebih banyak melamun bahkan mengurung dirinya di kamar.

"Ony, jangan seperti ini terus, Sayang...! Tadi mama sudah menanyakan Ony padaku, sepertinya mama sudah mulai curiga pada kalian. Jadi, bersikap seperti dulu atau mama akan terus mencurigai Ony." Leonyca mengerutkan keningnya, dia menatap Leonard tak yakin. "Ony, Matt itu ingin benar-benar fokus pada kuliahnya, Ony juga harus fokus pada sekolah Ony dulu," lanjut Leonard membuat Leonyca mendengus tidak suka.

Dia mengalihkan pandangnya menuju kaca jendela mobil, dan wajah itu kembali basah karena air matanya. Kepergian Matt benar-benar membuat Leonyca sedih.

"Mama sudah tahu kalau Ony menyukai Matt, Bang...." desis Leonyca membuat Leonard terkesip. "Setelah Matt pergi, mama datang ke kamar Ony dan Ony mengatakan yang sebenarnya," lanjut Leonyca tanpa menatap Leonard. Leonard melajukan mobil menuju Mangga Dua, Jakarta Utara yang memakan waktu hampir lima puluh menit dari bandara.

"Oh, apa gara-gara itu Ony bertengkar dengan mama?" Leonyca menggeleng. Leonard terdiam, dia kembali fokus pada jalanan di depannya. Tidak berapa lama, mereka sampai di rumah.

Setelah saat mobil berhenti di garasi, Leonyca langsung turun dan berlari memasuki rumah tanpa menunggu Leonard.
Leonard mendesah dalam hati, dia tidak habis pikir melihat Leonyca.

"Padahal masih banyak lelaki lain, tapi Ony tetap saja tidak bisa berpaling dari Matt. Lagi pula, apa sih hebatnya si Matt itu? Soal wajah masih aku yang menang, lebih kerenan aku juga. Ya ampun, orang seperti Matt itu wajahnya sudah pasaran, selera Ony memang tidak sebagus seleraku," celoteh Leonard, lalu dia keluar juga dari mobil.

★•••★

Leonyca menjatuhkan tubuhnya di tempat tidurnya. Dia mengerucutkan bibirnya karena Matt sama sekali belum ada menghubunginya. Ia sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian rumahan.

"Matt ke mana, sih? Kenapa Matt tidak pernah menelepon? Matt memang bodoh!" geram Leonyca sambil mengacak-acak kamarnya.

Leonyca mengambil posisi duduk, lalu turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah menuju jendela kamar, lalu duduk di jendela kamarnya, menggigit jarinya dengan gemas.

"Besok, Ony tidak mau ke rumah Evan. Ony, kan bukan perawat!" gerutunya kesal. Evan atau Evano adalah lelaki seumuran Leonyca yang duduk di kursi roda. Leonyca masih ingat betul bagaimana kondisi Evano saat pertama kali ia melihat lelaki itu. Tapi, sekarang kondisi Evano sudah sangat baik berkat Leonyca, karena Leonyca adalah sumber semangat bagi Evano.

"Ony juga harus ke sekolah besok, enak saja kalau Ony harus berkunjung ke rumah Evan. Ony kan lelah!" desisnya, Leonyca mengetuk lututnya dengan pelan sambil berpikir keras.

"Em, besok Ony jalan-jalan saja ke bandara," katanya dengan semangat tapi Leonyca terdiam saat seseorang menyentil telinganya.

"Jalan-jalan ke bandara, eh?" Leonyca mengerucutkan bibirnya membuat sang ayah gemas.

Dominick atau Nick menarik tangan Leonyca, lalu membawanya ke sofa. Mendudukkan Leonyca di sana dan memeluk putrinya itu.

"Ony, bandara itu bukan tempat wisata, Nak. Berhenti menunggu Matt, dan fokus pada sekolahnya dulu, ya?" Leonyca mengangguk saja. Dia mengelus kening sang ayah yang berkerut.

"Mama di mana?" tanya Leonyca sambil terkekeh pelan.

"Mama sedang tidur, Nak. Mungkin mama kelelahan," jawab Nick dengan santai membuat Leonyca menaikkan sebelah alisnya.

"Kelelahan, ya? Padahal mama tidak bekerja, lelah karena apa, Pa...?" tanya Leonyca penasaran. Nick mengulum senyumnya, dia mengecup puncak kepala Leonyca.

"Itu urusan orangtua, Nak...." jawab Nick, Leonyca tertawa pelan.

"Oh ... tapi sepertinya Ony tahu urusan orangtua yang Papa katakan!" Leonyca menyeringai, dia melepas pelukan Nick, kemudian memukul dada bidang sang ayah dengan sekuat tenaganya.

"Hahaha...." Nick tertawa terbahak-bahak, benar-benar tertawa lepas di depan Leonyca. Membuat Leonyca merasa takjub.

Tapi, dengan jahilnya, Leonyca menyumpal mulut Nick dengan cemilan yang memang selalu ada disediakan di kamarnya sampai mulut Nick penuh.

"Hahaha...." Gantian, sekarang Leonyca yang tertawa terbahak-bahak, dia juga memegangi perut dan air mata keluar dari matanya karena tertawa.

Nick hendak memuntahkan makanan di mulutnya, tapi Leonyca dengan cepat membungkam mulut sang ayah.

"Dikunyah, Papa...." ucap Leonyca sambil menatap Nick dengan jenaka.
Mau tidak mau, terpaksa Nick mengunyah dan menelannya dengan paksa.

Leonyca memberikan segelas air untuk Nick, dan langsung di teguknya sampai habis.

"Ah, ya ampun ... Ony jahil sekali." Leonyca menyeringai lagi, dan dengan tanpa dosa, dia menarik rambut sang ayah dengan pelan.

"Pa, Ony ingin liburan ke rumah Oma Rista...." desis Leonyca sambil memilin-milin kerah baju yang di pakai oleh Nick.

"Lain kali saja, ya Nak ... besok Ony sudah harus sekolah. Jadi lain kali saja, oke?" Leonyca mengerucutkan bibirnya, namun dia mengangguk juga.

"Papa ngapain ke kamar Ony?" tanya Leonyca sambil cekikikan sendiri. Nick menyentil kening Leonyca membuat tawa gadis itu pecah.

"Memangnya tidak bisa, ya?" tanya Nick dengan alis yang diangkat sebelah dan juga senyum mengejek di bibirnya.

"Bisa Papa ... hanya saja ini sudah hampir sore, biasanya Papa menghabiskan waktu di kamar bersama mama sampai menjelang makan malam, eh?" celoteh Leonyca membuat sang ayah gemas. Nick mencubit pipi tembem Leonyca dengan gemas lalu dia mengecup kening putri kesayangannya itu.

"Ya sudah, Papa turun dulu ya, Nak. Ony jangan marah-marah terus, ya...." ucap Nick sembari bangkit berdiri. Dia membungkukkan tubuhnya, mengecup puncak kepala Leonyca.

"Papa jangan nakal terus sama mama!" jerit Leonyca saat Nick menutup pintu kamarnya.

"Ya ampun, mereka tidak ingat umur saja!" gumam Leonyca dengan pelan. Dia berlari menuju meja belajarnya lalu memasukkan beberapa buku tulis ke dalamnya.

"Kira-kira, besok ada teman baru tidak, ya? Teman baru di kelas," desah Leonyca sambil mengancing tasnya.

Dia kembali menatap ponselnya dengan jengah dan tanpa minat sedikit pun.

"Matt sialan! Matt ke mana saja, sih?" gerutu Leonyca sembari melangkah menuju balkon kamarnya.

"Nah, panjang umur," kata Leonyca dengan semangat saat ponselnya berdering. Dan yang meneleponnya adalah Matt.

"Dasar Matt sialan!" jerit Leonyca dengan kesal saat dia sudah mengangkat telepon. Tidak ada salam pembuka, yang ada malah bentakan.

"Ony masih marah padaku?" tanya Matt dari seberang sana sambil menghela napasnya pelan.

"Dasar! Ony tidak mau berbicara pada Matt lagi!" jerit Leonyca lagi membuat Matt memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak.

"Ony, jangan marah-marah terus, oke?" pinta Matt yang tidak di dengarkan Leonyca.

"Terserah!" ketus Leonyca, lalu dia memutuskan sambungan telepon dengan sepihak.

Seakan tidak menyerah, Matt kembali menelepon Leonyca, dengan cepat Leonyca mengangkatnya.

"Maafkan aku karena sudah membuat Ony marah. Kumohon, jangan berbicara ketus lagi, Ony...." Leonyca mengangguk-anggukan kepalanya, dia tersenyum kecut saat mendengar suara Matt yang begitu lirih.

"Matt kapan pulang?" tanya Leonyca dengan manja, berbeda dengan suaranya yang tadi.

"Secepatnya, Ony ... aku sedang mengejar mata kuliah yang tertinggal jauh, tapi semua hampir selesai. Maaf, ya, karena baru menelepon, Ony...." Leonyca mengangguk-anggukan kepalanya lagi.

"Ony tidak nanya, Matt...!" desis Leonyca membuat Matt mendesah dalam hati.

"Bagaimana keadaan Ony di sana? Apa ada yang sakit?" tanya Matt dengan khawatir.

"Ony baik-baik saja, Matt. Hanya saja, Ony kangen...." Leonyca meringis pelan, begitu juga dengan Matt di sana.

"Aku juga, Ony ... Ony jangan nakal ya, di sana. Ony harus menjadi gadis yang penurut dan tidak boleh keras kepala. Ony fokus sekolah dulu dan giat belajar, ya...." Leonyca terkekeh pelan.

"Matt juga, jangan nakal di sana! Awas saja kalau berani macam-macam, Ony akan memukul kepala Matt sampai berdarah-darah!" ketus Leonyca membuat Matt bergidik.

"Tidak akan, Tuan putri. Em, Ony juga jangan malas makan, ya...." Leonyca mengulum senyumnya.

"Iya, Matt ... nanti bawakan Ony oleh-oleh yang sangat banyak sekali, ya...." pinta Leonyca dengan semangat.

"Iya, Sayang. Nanti aku bawakan sangat banyak untuk Ony, apa pun aku lakukan, asal Ony senang...." Leonyca meloncat-loncat saking senangnya.

"Terima kasih," ucapnya tulus, "Matt sedang apa?" tanya Leonyca.

"Siap-siap pergi ke kampus, Ony...." Leonyca hanya ber-oh saja.

"Pokoknya Matt harus cepat pulang! Ony sayang pada Matt...." lirih Leonyca dengan mata yang berbinar-binar.

"Aku juga sangat menyayangi Ony, aku ingin bersama Ony terus...." Leonyca memegang wajahnya yang terasa panas. Dia juga tersenyum salah tingkah.

"Ony juga, Matt...." kata Leonyca malu-malu.
"Matt, sudah dulu, ya, Ony ingin mandi dulu. Pokoknya nanti, Matt harus telepon Ony lagi, setelah jam makan malam!" Leonyca terkikik pelan dengan ucapannya barusan.

"Iya, Sayang ... nanti aku telepon Ony lagi, kok...." Leonyca meloncat-loncat kegirangan. Dia juga tersipu malu saat Matt memanggilnya dengan sebutan sayang.
Leonyca memutuskan sambungan telepon, lalu dia masuk ke dalam kamarnya.

Dia senyum-senyum sambil bersenandung pelan. Melangkah dengan semangat menuju kamar mandinya.

Leonyca melepas kuciran rambutnya saat dia sudah berdiri di depan cermin besar di kamar mandi. Dia mengamati penampilannya dari kaki sampai ke dada.

Lalu dia mengamati wajahnya sambil tersenyum, sebelah tangannya memegang dada kirinya.

"Jantung ini selalu berdebar tidak karuan saat bersama dengan Matt, hanya pada Matt. Bahkan saat mendengar suara Matt, jantung ini juga berdebar dengan cepat," desis Leonyca, senyum itu belum juga hilang dari wajahnya.

"Nanti, saat Matt pulang, Ony akan dandan secantik mungkin. Matt pasti senang. Nanti, Ony akan meminta kak Mine mengajari Ony," celoteh Leonyca, dia kembali menatap dadanya.
Helaan napasnya terdengar nyaring.
"Tidak kelihatan! Nanti, Ony akan meminta tips dari mama...." gumam Leonyca kembali semangat.
Lalu dia kembali bersenandung dan membersihkan tubuhnya.

Jasmine atau Mine adalah pacar Jason, abang Leonyca.

★•••★

Jangan lupa di vote ya, hehe....
Di komen juga, ya.

Terima kasih

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top