8

PITHA ATHALIA


AKU KEHERANAN MELIHAT empat kotak makan berlogo salah satu catering terkenal di wilayah BSD dan sekitarnya ada di meja makanku. Aku mengais kemungkinan-kemungkinan siapa pengirim makanan rumah tersebut selain Kio, jimat keberuntunganku, sekaligus teman satu kontrakanku. Karena Kio sudah membantah, aku jadi berpikir keras siapa lagi yang rela merogoh kantung cukup dalam demi makanan yang bisa kudapatkan di warteg terdekat dengan harga lebih masuk akal.

Aku berjalan mondar-mandir sembari menekan ujung ponsel ke pinggiran bibir. Sudah empat tahun aku nggak menjalin hubungan khusus dengan cowok mana pun, dan teman-teman dekat perempuanku pasti memilih membelikanku sesuatu yang pasti kuhabiskan tanpa ditunda; kopi atau cake viral.

Aku membaca lagi kartu yang tertempel di paper bag. Mau berpikir salah kirim, tetapi informasi di sana lengkap banget. Namaku; Pitha Athalia. Nomor ponsel juga benar. Bahkan, alamat rumah saja benar-benar akurat dengan kode pos.

Kebingunganku akhirnya menyebutkan satu nama paling masuk akal; Ibu Riri. Kemarin beliau sempat mengeluhkan kondisiku yang katanya terlihat lebih kurus dari pertemuan terakhir kami seminggu lalu.

Aku mendesah.

Aku tahu Ibu Riri menyayangiku seperti anak sendiri sejak kali pertama aku menyewa salah satu kamar di Rumah Matahari sebagai mahasiswa rantau bertahun-tahun silam. Beliau juga rela melakukan yang seharusnya dilakukan orang tuaku sejak tahu Divya hadir di rahimku, menemaniku di ruang persalinan, bahkan merawat Divya untukku. Namun, mengirim catering mahal untukku adalah pemborosan. Lagi pula, dibandingkan masakan orang lain, aku lebih suka masakan Ibu Riri.

Aku mengembuskan napas frustrasi, lalu penuh tekad mengetik balasan pada cowok narsis yang entah dari mana mendapatkan alamat dan nomorku.


"Jangan-jangan si Ronald? Eh, bisa juga dari Mami Riri? Masa iya Papi Yas yang sukarela ngasih ke manusia ini?" tebakku lalu menggeleng kecil. "Udahlah urus si manusia akhir zaman dulu, baru cari tahu dalanganya."

Aku tersedak ludah membaca balasannya, yang ... haduh!! Apa, sih, yang ada di otak manusia ini? Bagaimana bisa dia membayar catering langsung sebulan buat orang asing? Tolol!

Aku melepaskan kacamata dan melempar benda itu ke samping kotak makan berisi sayur asam, lalu mengeluh lebih keras, "Dia nggak tolol, Tha. Ini cuma anak orang kaya yang pamer. Menghamburkan uang buat narik perhatian doang!"

Ironi terbesar di hidupku tiba-tiba menampar, hingga aku meringis. Dulu aku nekat berurusan sama tipe cowok begitu, terbuai dengan segala kenyamanan yang diberikan, merasa disayang dengan banyaknya hal-hal istimewa yang dilakukan untukku. Ujung-ujungnya, aku harus menghabiskan sisa umur belasanku dengan penyesalan, bahkan mau menyentuh umur tiga puluh begini—aku masih sibuk membereskan sisa-sisa kekacauan seorang diri.

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Membujuk rasa sakit di dadaku untuk berhenti menyiksa, lalu aku membuat janji pada diri sendiri; Tenang. Aku nggak akan terjebak untuk kedua kalinya.

Ketika mataku terbuka lagi, aku bertekad mau mengembalikan apa yang dikasih Abe hari ini juga, daripada ditagihkan kepadaku besok-besok dengan jenis bayaran berbeda.

Aku menguncir ulang rambutku asal-asalan, kemudian menelepon dia. Nggak diangkat. Aku mencoba lagi, tetapi nada sambung nggak kunjung berganti sahutan. Sembari mengumpulkan seluruh sikap sinis yang ada dalam diriku, aku menelepon dia untuk ketiga kalinya, dan diangkat.

"Halo," suara tajam dan rendah di seberang sana mengusik telingaku dengan cara nggak biasa, sampai omelan pedas yang kususun sedemikan rupa terhenti di ujung lidah. "Iya, ini Abe, nggak usah mikir penipuan. Apa gue perlu minta maaf nggak karena telepon lo nggak keangkat tiga kali?"

Semerdu apa pun suara di ujung sana, fakta bahwa pemiliknya sangat menyebalkan nggak bisa diabaikan. Dengan cepat, hasrat mengomelku terkumpul lagi.

"Pak Abe," panggilku sopan.

"Hold on. Pak? Seriously? Lo manggil gue; pak?"

"Anda yang minta semalam," jawabku. "Lupa?"

"Astaga."

"Saya boleh minta nomor rekening Anda," potongku sebelum orang di seberang sana menciptakan perdebatan nggak penting. "Saya mau mengembalikan biaya catering sebulan ini."

"Are you kidding me?!"

"Nggak. Kebetulan saya nggak suka bercanda sama orang asing, jadi, ya ... saya serius. Saya mau mengembalikan uang Anda."

"Pitha."

"Saya sudah makan satu porsi dari masakan ini tadi pagi, jadi secara nggak langsung niat baik Anda sudah saya terima. Urusan selesai—"

"Mamanya Divya—"

"Oh ya, bisa nggak berhenti jual nama Divya ke saya?!" Kalimat tajamku disambut keheningan serta helaan napas kasar di seberang sana. Aku mencengkeram ponsel lebih erat lalu berkata, "Tolong kirimkan nomor rekening Anda dan total yang sudah dikeluarkan. Saya tunggu hari ini. Maaf mengganggu kesibukan Anda dan terima kasih, Pak Abercio."

Nggak mau mendengar lebih banyak omong kosong Abe, aku melupakan sopan santun dan mematikan sepihak sambungan telepon. Aku membiarkan room chat dia terbuka, menunggu kiriman nomor rekening yang kuminta, tetapi pemberitahuan typing di bawah nomornya nggak kunjung berhenti.

Mendapat ilham untuk mencari tahu siapa dalang dari kasus pembocoran informasi pribadiku, aku pun meninggalkan room chat dan membuka kontak yang menurutkan paling masuk akal.

Ronald. Aku meneleponnya. Ketika diangkat, aku segera mencecarnya dengan berbagai pertanyaan dengan nada datar: 'Kok nggak izin dulu mau ngasih nomor gue ke temen lo kemarin?' 'Lo nggak mikir apa kalau bahaya ngasih alamat cewek ke cowok yang nggak dikenal sama sekali sama tuh cewek?' 'Tumben amat otak pinter lo nggak dipake.'

Kalau nggak mengingat hubungan baik kami sedari awal dikenalkan Ibu Riri, aku pasti sudah memakinya habis-habisan.

"Demi Tuhan deh, Pit. Komunikasi gue sama Abe terakhir ngomongin rencana join bisnis kami. Tuh, gue udah kirim screenshot chat kami," tegas Ronald sebelum telepon aku selesaikan.

Akhirnya, malah aku yang minta maaf ke Ronald karena mengomel tanpa dasar.

Aku berpindah dan menggali kebenaran ke calon tersangka selanjutnya. Di luar dugaan. Dari nama-nama yang diputar otakku, yang melakukannya justru nggak aku pikirkan sama sekali.

Divya ....

Divya menyerah cepat, mengakui sudah memberikan nomorku kepada Abe karena orang itu mau minta maaf. Aku bahkan nggak sanggup menyahut pesan singkat Divya, apa lagi menelepon untuk menenangkannya yang takut aku marah, karena aku sendiri pun takut seluruh emosiku akan terlihat jelas. Aku takut menegurnya karena ketakutan yang Divya nggak paham.

Jadi, aku menaruh ponsel di samping kacamata. Aku ingin menjauh sejenak dari urusan cowok aneh bernama Abe itu. Dengan usaha menekan rasa marah, aku menyeret kaki meninggalkan meja makan menuju kamar. Membuka pintu ruangan yang kata Kio lebih layak disebut gudang dengan satu ranjang single untuk beristirahat daripada kamar pribadi, karena seluruh ruangan penuh sama berbagai buku dan tumpukan kertas. Mulai dua rak putih lima tingkat yang penuh sama novel dari yang tipis sampai tebal, ada juga novel-novel yang kutaruh ke lantai saking nggak mendapatkan tempat di rak. Terus tumpukan buku-buku sketsa berbagai ukuran, hingga keperluan yang menunjang pekerjaanku sebagai desainer interior; meja kerja, dua tabung berisi pensil gambar dan mewarnai, laptop, berbagai contoh bahan-bahan penunjang interior.

Aku menghempaskan diri ke ranjang, meringkuk dengan perasaan nggak nyaman.

Entah kenapa perasaan asing yang mengganggu semakin menjadi-jadi.

Mungkin, efek dari aku belum tidur semalaman karena mengiyakan beberapa deadline dalam waktu berdekatan, atau akibat pertanyaan terakhir Divya sebelum aku pulang kemarin; "Ma, Divya kapan bisa tinggal sama Mama?" Bisa jadi aku masih kaget karena Ibu Riri mengatakan kalimat yang belum pernah kudengar selama Divya tumbuh dalam pengawasan beliau; "Kamu semakin berumur, Divya juga bertambah besar, Mami dan Papi juga nggak selamanya bisa sehat mengurus Divya. Pit, Masa depan seperti apa yang mau kamu jalani, kalau kalian terus hidup terpisah begini? Divya butuh kehadiran kamu, bukan cuma dia tahu status kamu sebagai ibunya, tapi keterlibatan kamu sehari-hari."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top