6

ABERCIO BAGASKARA


GUE DAN RONALD kompak berlari menghindari serangan matahari setelah turun dari mobil. Kami menuju teras dari rumah hook sederhana bernuansa ceria di salah satu sektor perumahan Gading Serpong.

Nggak jelas siapa yang menjadikan kunjungan ke rumah nggak bertingkat ini sebagai kewajiban. Pokoknya, setiap kali kami menemukan waktu kosong yang sama di tengah padatnya pekerjaan, gue dan Ronald selalu datang demi menyenangkan para penghuni. Kadang kami membawa berbagai jenis makanan atau barang-barang yang dibutuhkan, seringnya kami memboyong mereka ke Summarecon Mal Serpong atau Supermall Lippo Karawaci lalu meminta mereka memilih sendiri apa yang diinginkan.

"Mami Riri," panggil gue di depan pintu utama yang dibiarkan terbuka tanpa adanya tanda-tanda aktivitas. "Yuhuu. Abe datang!"

Ronald memutar bola mata jijik mendengar teriakan manja gue, lalu kami sama-sama tertegun karena Ibu Riri nggak kunjung muncul—minimal menyahut. Biasanya sekali panggilan Ibu Riri akan keluar, atau meminta kami masuk sendiri saat sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang nggak mungkin ditinggal, tetapi hari ini sudah dipanggil berkali-kali hasilnya nihil.

"Mami Riri! Papi Yassss!" Gue memanggil lagi sembari mengetuk jendela kaca di samping pintu, sementara Ronald memeriksa area kebun mini kesayangan Pak Yas.

Ketika Ronald kembali dan berniat teriak juga, wanita paruh baya berbadan gempal dengan cepolan sederhana tergopoh menuju pintu. Beliau menggantung kacamata di kerah kaus oblong salem, mengusap-usap kedua tangan ke sisi celana pendek pantai, sambil menciptakan suara bagai cicak.

"Kenapa teriak-teriak, toh? Tinggal masuk," protes Ibu Riri saat tiba di depan kami. "Kayak belum pernah ke sini aja."

Jawaban gue dan Ronald saling tumpang-tindih, tetapi maksudnya sama; nggak enak main masuk gitu aja. Kemudian, kami bergantian memeluk penguasa utama dari bangunan serba kuning yang diberi nama Rumah Matahari sama warga sekitar.

"Emang Mami lagi ngapain?" tanya Ronald, sambil merangkul Ibu Riri menuju ruang tengah.

Gue mengekor sambil memperhatikan keadaan setelah dua minggu nggak berkunjung, berusaha mencari tahu apa ada kebutuhan yang perlu gue sediakan buat para penghuni. Bukannya menemukan apa yang nggak ada, gue malah menemukan dua benda nggak biasa di meja panjang depan sofa: tas laptop biru tua yang di atasnya terdapat tas ukuran sedang warna hitam dengan gantungan kunci inisial P.A serta tumpukan berkas di sampingnya. Gue mengernyit. Kayaknya pernah lihat gantungan itu, deh.

"Nggak masak 'kan?" Pertanyaan selanjutnya dari Ronald mengembalikan fokus gue, menghentikan usaha gue mencari jejak ingatan tentang barang kecil tersebut. "Aku udah ngabarin dari dua hari lalu lho. Siang ini jangan masak, kami mau datang. Mau makan enak-enak di mal bareng Mami, Papi, dan adik-adik."

Gue dan Ronald duduk di kursi panjang berbahan jati, sementara Ibu Riri di kursi single berbahan sama di seberang kami. Di tengah ocehan Ronald tentang rencana hari ini, gue mengambil waktu buat mencermati wajah renta Ibu Riri. Gue kenal beliau karena Ronald maksa gue ikut membawakan bingkisan Natal sekaligus sumbangan dana dari beberapa orang termasuk gue untuk kegiatan Natal anak-anak Rumah Matahari.

Gue sempat berpikir tempat ini sama saja seperti tempat-tempat serupa, tetapi gue salah.

Rumah Matahari bukan panti asuhan.

Ibu Riri dan Pak Yas nggak mengurus anak untuk diadopsi, apalagi menjual kesedihan demi mendapatkan sumbangan sebanyak-banyaknya. Mereka merawat anak-anak dari keluarga kurang mampu, yang orang tuanya kesulitan bila harus menyambung hidup sambil mengurus anak.

Dari cerita-cerita orang sekitar dan melihat dengan mata kepala sendiri, gue menyimpulkan rumah ini solusi bagi orang-orang yang nggak rela bila anaknya diberikan ke orang lain, tetapi sadar nggak bakal sanggup mengurus jika dipaksa hidup bersama. Dari sudut pandangan gue, Rumah Matahari tuh kayak tempat nunggu sampai para orang tua siap secara finansial, lalu menjemput dan melanjutkan hidup bersama si anak.

Karena alasan tersebut, dan lagi, gue udah menyaksikan langsung bagaimana tulusnya pasangan suami istri ini ke anak-anak—gue jadi kagum setengah mati.

Gue bertekad memenuhi apa saja kebutuhan rumah dengan banyaknya mural bertemakan dunia anak serta barisan bunga matahari kesayangan Pak Yas. Mulai dari urusan dapur dan cemilan anak-anak, kebersihan anak-anak, kebersihan rumah, hiburan, sampai kerusakan-kerusakan di rumah ini.

Kata Ibu Riri berkat bantuan gue, uang kiriman para orang tua bisa difokuskan ke tabungan masing-masing anak. Tadinya gue mau mengurus biaya pendidikan juga, tetapi bagian tersebut udah dibantu oleh dua jemaat dari gereja tempat Pak Yas dan Bu Riri pelayanan sebagai Diakonia.

"Mami nggak masak," kata Ibu Riri dengan logat Jawa halus. "Mami dengar Abe manggil, tapi masih baca Alkitab. Sisa sedikit lagi, masa ditinggalin gitu aja."

"Papi lagi jemput anak-anak atau urusan gereja, Mi?" Setelah mengajukan satu pertanyaan, gue mengedarkan mata lagi lalu menemukan koper kecil berlabel inisial yang sama seperti tas laptop di dekat pintu kamar anak-anak perempuan.

Tumben banget ada tamu, apa jangan-jangan ada anak yang mau dijemput orang tuanya?

"Jemput sekolah. Untung hari ini jam pulang mereka sama. Kalau ndak, waduh, repot. Bisa tunggu-tungguan sampai sore." Ibu Riri tiba-tiba menepis udara di depan wajah. "Oh ya, hampir lupa, hari ini boleh nambah satu anggota?"

"Siapa, Mi?" Suara Ronald kedengaran seperti mengernyit, lalu berganti tawa kecil penuh maklum. "Pitha datang di hari kerja? Nginep di sini? Itu kopernya dia 'kan?"

Ibu Riri mengangguk antusias, gue memiringkan kepala sambil melirik bergantian Ibu Riri dan Ronald.

"Tumben banget," ucap Ronald lagi.

"Mami juga kaget. Kemarin baru pulang dari Bali tiga hari, terus ke sini buat nginep," sahut Ibu Riri dengan semangat.

Gue menabrakkan kaki gue ke Ronald, dan bertanya tanpa suara, "Siapa?"

"Pitha. Mamanya Divya," sahut Ibu Riri seperti tahu si sialan Ronald berniat memanjangkan rasa penasaran gue dengan berlagak nggak mengerti apa yang gue bicarakan.

"Oh, jadi ini punya mamanya Divya?" Gue menunjuk barang di meja tamu. "Aku pikir ada anak yang mau dijemput."

Ibu Riri tertawa kecil dan menggeleng. "Belum ada anak yang mau dijemput. Tadi sebelum Mami masuk kamar, Pitha masih sibuk sama laptopnya. Katanya mau urus kerjaan sebentar. Makanya tadi Mami nggak buru-buru, pikirnya kalian ditemani dia. Ronald yo akrab sama Pitha." Tawa kecil Ibu Riri mengudara lagi, mengarahkan air mineral gelas ke arah gue dan Ronald. "Kalau mau minum dingin, ambil sendiri di kulkas," peritah Ibu Riri, sebelum lanjut membahas sosok yang selalu disebut mama aku oleh Divya. "Nggak mungkin kalau jemput anak-anak. Papi udah jalan dari tadi, ke mana yah—Nah, panjang umur! Kamu dari mana toh, Ta?"

Gue dan Ronald kompak menoleh ke sosok yang berdiri di ambang ruang tamu dan ruang tengah.

Di tengah kesibukan membalas sapaan Ronald dan menjawab; 'habis nerima telepon di luar soalnya di sini susah sinyal.' untuk Ibu Riri, gue merasakan adanya sengatan rasa nggak percaya serta jengkel setiap kali mata kami bertemu. Sepertinya kejadian tiga hari lalu masih segar dalam ingatan kami, gue dan mamanya Divya.

Gue menggosok puncak hidung dengan jemari, menyembunyikan senyum sinis akan fakta nggak terduga, bahwa orang asing yang ngatain muka gue biasa-biasa aja mamanya Divya.

"Sini, Ta. Mami baru aja ngobrolin kamu sama mereka," pinta Ibu Riri.

Gue memperhatikan dia malas-malasan menyeret kakinya menuju samping kursi Ibu Riri, tersenyum kepada Ronald, tetapi bertingkah kalau gue ini nggak terlihat.

"Kamu udah kenal Ronald, tapi belum kenal Abe." Ibu Riri berhasil membuatnya melirik gue, dan mukanya super datar—nggak ada usaha senyum basa-basi atau apa kek gitu. "Kenalan dulu."

Sebelum situasi berubah nggak enak dan menimbulkan banyak pertanyaan dari Ronald, gue berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan ke dia.

Gue menangkap kerutan di keningnya mendadak muncul. Selama sesaat gue ngerasa dia sedang berusaha menyusun alasan kabur, tetapi akhirnya menyerah juga. Dia menjabat tangan gue di bawah pengawasan Ibu Riri dan Ronald, menatap gue lurus-lurus tanpa ekspresi.

"Abercio. Anak-anak manggil Cio. Mami-Papi manggil Abe." kata gue.

"Pitha," balasnya, lalu buru-buru melepaskan tangan gue seolah-olah sedetik lagi mempertahankan jabatan kami—dia bakal terkena virus mematikan.

Dia berdiri di belakang kursi Ibu Riri sambil meremas-remas bahu beliau, bertanya ke Ronald, "Emang tadi ngomongin apa?"

"Kayak yang Mami bilang tadi pagi. Anak-anak mau diajak jalan-jalan. Nah, Ronald dan Abe, nih, yang punya ide dan acara. Kamu kan datang dadakan, jadi Mami minta izin dulu, boleh nggak kamu ikut." Ibu Riri menjelaskan, meremas satu tangan Pitha.

"Boleh, dong!" ucap gue cepat sebelum ada yang merespon tentang boleh atau nggak. "Masa anaknya Mami dilarang ikut."

Pitha melirik gue dengan kernyitan lebih dalam, sedangkan Ronald tiba-tiba menepuk ringan lengan kanan gue sambil setengah berbisik ke gue, "Siapa?"

"Mamanya Divya." Gue menjawab, tetapi Ronald mengisyaratkan sesuatu yang sulit gue mengerti. Jadi gue lanjut bicara, "Divya satu-satunya anak yang manggil Mami; Oma, Papi Yas; Opa—berarti—"

Bunyi klakson panjang menahan ucapan gue, dan Ibu Riri memberi isyarat bagi kami menghentikan obrolan, "Iya, Pitha anak Mami."

Kemudian Ibu Riri berdiri dan melakukan kebiasaan sehari-hari menyambut kepulangan anak-anak, Ronald berdecak gemas seolah gue baru saja melakukan kesalahan yang menyakiti hati Ibu Riri, sedangkan Pitha lagi-lagi bersikap kayak gue nggak terlihat. Dia nggak ikut ke ruang depan, tampak sibuk mengotak-atik ponselnya sembari duduk di tangan kursi Ibu Riri tadi.

Sialan!

Begitu terdengar suara anak-anak, gue mengesampingkan situasi aneh yang terjadi, melupakan sikap menyebalkan Pitha, menyusul Ibu Riri dan Ronald berdiri di ruang tengah.

"Om Cio!" Semua anak memanggil nama gue lebih dulu. Ronald yang berdiri di samping gue mencebik dan bersedekap dengan cara berlebihan, mengundang tawa dari anak-anak. Divya yang masuk paling akhir bersama Pak Yas juga memanggil dan memeluk gue lebih dulu dari Ronald.

Di tengah hebohnya pertanyaan antusias dari anak-anak yang kaget melihat kedatangan kami, Ronald yang kewalahan menjawab tempat mana yang mau kami kunjungi, perintah Ibu Riri supaya anak-anak mandi bergantian dan merapikan barang-barang sekolah, gue justru nggak bisa berhenti memperhatikan senyum kecil Pitha yang muncul saat Pak Yas mengajak dia bicara.

"Om Cio ...." Sebelum gue menjawab, tiba-tiba saja Divya sudah menarik gue membelah anak-anak yang mengelilingi Ronald.

Gadis berumur sepuluh itu menarik gue menuju sang mama yang baru saja ditinggalkan Pak Yas ke dapur. Tanpa memedulikan ekspresi mamanya atau gue sama-sama kayak disodorin makanan beracun, Divya berseru ceria, "Ini Om Cio. Temen Om Ronald yang aku ceritain lucu itu, Ma. Yang kasih pesawat kecil, terus bawain aku English book banyak banget dari Singapura."

Divya terdiam sesaat, memandang bergantian gue dan sang mama.

"Om Cio, ini mama aku yang paling hebat, yang gambar kebun Opa." Divya berdiri miring menghadap Pitha lalu berkata, "Om Cio bilang lukisan Mama baguussss banget ...."

It's true! Mural-mural di rumah ini juara semua. Gue pernah memamerkan gambar tersebut di story Instagram, dan semua orang bilang itu keren. Ternyata yang ngegambar—sudahlah.

Seolah menunggu salah satu dari orang dewasa berinteraksi seperti seharusnya, Divya melipat kedua tangan di depan dada lalu terbatuk kecil.

"Oma bilang kalau kenalan sama orang baru harus salim." Divya memandang sang mama sepersekian detik, berpindah cepat ke gue sambil bekata penuh penekanan, "Biar sopan."

Wah, mereka bener-bener ibu dan anak. Tatapan tajam dan senyum sarkas Divya, mirip banget kayak sang mama malam itu.

"Div, Mama tadi udah kenalan. Sebelum kamu pulang," kata Pitha, sama tegasnya seperti Divya.

"Oh ya?" Divya sengaja melirik gue, dan gue mengangguk kecil sambil mengunci mata Pitha. Bahkan, kami terus bertatapan selagi dia mendorong paksa Divya bergabung mengikuti kegiatan sembilan anak lainnya. Pada satu titik ini, gue merasa sedikit lega, walau sikapnya nggak ramah, seenggaknya dia bertindak bijak tanpa menimbulkan keributan lanjutan dari malam itu.

Susah payah gue berusaha terlihat sibuk dengan membantu dua anak cowok merapikan barang mereka sebelum mengantre mandi, ujung-ujungnya gue selalu tertegun ke arah yang sama; Pitha.

Gue bertanya-tanya sendiri, apa benar ini cewek kaku serta rapi tempo hari. Karena yang di hadapan gue sekarang, kayak beda orang. Meski nggak menunjukkan tanda-tanda menerima kehadiran gue, Pitha terlihat santai dan lembut di tengah anak-anak. Pemilihan kaus cerah dan jins, helaian-helaian rambut yang lolos dari ikatan buntut kuda dan lemas di sekeliling wajah, hingga bibir yang diwarnai cherry—mata gue berlama-lama memperhatikan bibir yang malam lalu nggak diwarnai apa pun—menggiurkan.

Gue tersentak, menepuk tengkuk cukup keras, hingga lima anak dan Pitha melihat gue yang duduk di kursi ruang tengah bareng Ronald.

Apa-apaan?! Bisa-bisanya gue berpikir bibir yang mengeluarkan kalimat tajam itu menggiurkan?! Di sela rasa kaget pada diri sendiri, gue menangkap basah Divya dan Ibu Riri cekikikan di dekat kamar mandi. Oma dan cucu itu sibuk berbisik-bisik sambil melirik bergantian gue dan Pitha. Dan anehnya, ketika pandangan gue dan Ibu Riri bertemu, beliau memamerkan senyum penuh arti yang belum pernah gue lihat sebelumnya—bagaikan predator menemukan mangsa.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top