3

ABERCIO BAGASKARA


GUE TERBURU-BURU mengakhiri kegiatan setelah menyelesaikan laporan. Gue berpamitan singkat, tanpa mengobrol ngalor-ngidul bareng pilot senior, apa lagi bertingkah konyol demi tawa rekan awak kabin. Gue setengah berlari meninggalkan bandara menuju mobil jemputan, mengabaikan tatapan heran orang-orang yang tahunya gue selalu balik paling terakhir.

Di sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Atmadja, gue sadar apa yang gue lakukan ini kayak rakyat sipil yang nekat ikut perang tanpa latihan khusus. Masalahnya gue nggak bisa mengulur waktu demi persiapan ini-itu; mengganti seragam dengan pakaian santai dulu, bawain makanan kesukaan Kian, terutama nyusun rencana agar situasi di rumah Atmadja nggak terlalu canggung.

Bagi gue yang penting ketemu Kian, sisanya bisa dipikir sambil jalan. Daripada gue kebanyakan mikir, terus ragu sendiri.

Gue tiba di rumah utama keluarga Atmadja sekitar pukul dua sore. Belum apa-apa gue udah disambut wajah panik satpam saat membuka gerbang serta ekspresi kebingungan dari kepala pengurus rumah yang menyambut di pintu utama.

Apa Om Ryan dan Tante Yohana menyebar selebaran wajah gue dengan tanda silang besar-besar ke semua pekerja di rumah? Kenapa semua orang bereaksi waspada seakan gue adalah tamu berbahaya?

"Waduh. Waduh ... Mas Abe datang. Tumben," sambut Bik Nem dengan suara pelan, seolah takut mengganggu siapa pun yang ada di dalam sana.

Gue tersenyum masam, mencuri pandangan ke balik punggung Bik Nem. Siapa tahu salah satu anggota Atmadja muncul di area foyer. Kian, misalnya. Ketika pandangan gue kembali menemui wajah Bik Nem, secara spontan ingatan gue mencari-cari kapan keluarga Bagaskara nggak diizinkan masuk kediaman Atmadja. Baru hari ini dan gue yang pertama merasakannya. Rasa getir gue makin menjadi saat Bik Nem milih menutup rapat pintu utama khas desain American Classic yang terbuat dari perpaduan ukiran hitam besi tempa dan kaca sebagai badan pintu, daripada membuka lebar dan mengizinkan gue masuk.

Pergi saja, Mas Abe. Kira-kira begitu yang gue tangkap dari ekspresi wajah dan gerak-gerik Bik Nem setelah gabung sama gue di teras.

"Iya, nih, Bik Nem. Kangen suasana rumah ini. Udah yah lama banget kita nggak ketemu." Gue menolak menyerah. Gue harus masuk dan menemui Kian. Harus.

"Lah, Mas Abe, kan, sudah jarang main ke sini. Terakhir datang waktu ulang tahun Ibu. Setahun lalu." Meski dibalut senyum keibuan yang sering gue terima sedari remaja, rasa sungkan sekaligus nggak sabar gagal disembunyikan Bik Nem.

"Ini mau main. Eh, pintunya malah ditutup," jawab gue sembari mengode ke pintu di balik punggung beliau, dan tatapan memelas Bik Nem semakin menjadi-jadi. "Kenapa, Bik? Tante Hana ngelarang aku masuk? Haduh. Haduh. Jangan-jangan Om Ryan ngancem potong gaji kalau Bibik izinin aku masuk ...."

Bik Nem menghela napas, lalu gue menyusul beberapa detik setelahnya.

Dulu datang tanpa memberitahu pun bakal disambut senyum hangat dan pelukan kecil dari Bik Nem. Hari ini gue berasa di tengah-tengah medan perang dengan badan penuh luka tembak karena salah strategi.

"Anu, Mas Abe. Bibik, tuh—" Bik Nem tergagap, mengedarkan pandangan ke sembarang arah sembari menggaruk-garuk bagian bawah kuping kanan dengan wajah panik. "Gini—"

Alih-alih mencerna atau membantu Bik Nem menyelesaikan kalimat, gue malah terpaku sama sosok yang tiba-tiba muncul dan berdiri di balik pintu. Gue dan dia mengadu tatapan intens, tanpa memedulikan Bik Nem masih kesusahan mencari kalimat pas untuk menggambarkan kondisi rumah sebenarnya. Gue melangkah maju secara otomatis, dan dia buru-buru membuka satu sisi pintu lalu menepuk bahu Bik Nem tanpa melepaskan adu pandang kami.

"Bik Nem, aku ambil alih dari sini, ya." Suaranya terdengar tenang, setenang angin yang membelai lembut wajah gue, hingga gelombang rasa rindu menghantam kencang dan menghancurkan dinding-dinding pengendalian diri gue.

Gue mau memeluk dia, mengakhiri angan-angan pengantar tidur selama bertahun-tahun.

Dengan percaya diri, gue maju selangkah lagi sambil menggaungkan satu kalimat yang sama di otak gue sejak sosok Kian tertangkap mata; Kian-gue benar-benar pulang.

Tangan gue nyaris merengkuh Kian, tetapi sosok lain melewati pintu dengan berlari sambil berteriak, "Mommy. Mommy. You can't leave me alone with Aunty Nia."

Anak perempuan berambut cokelat gelap bekuncir kuda memeluk pinggang Kian, berdiri memunggungi gue, sedangkan satu tangan Kian mengelus naik turun punggung si anak yang kira-kira berumur lima.

Selama beberapa menit yang terasa berjam-jam, gue memperhatikan anak itu bail-baik, sampai suara lembut Kian menarik gue dari pusaran pertanyaan bermaksud sama: 'Mommy?' 'Kenapa Kian dipanggil Mommy?' 'Anak siapa ini?'

"Ann, please, go in the house first, yaaa," pinta Kian pelan sekaligus tegas.

Ketika si anak kecil cemberut, sejumlah ingatan berputar cepat di benak gue bagaikan terbawa angin puting beliung lalu melemparkan ekspresi Kian tengah sebal akan sesuatu. Wow. Mirip banget. Kalau gue perhatikan lebih detail lagi, Kian dan anak ini memiliki kesamaan di beberapa bagian wajah; bentuk hidung, bibir, apalagi saat keduanya saling bertatapan dan gue lihat dari samping.

Gue memandang Kian yang entah dari kapan melihat gue dengan tatapan meneliti begitu. Kami mengabaikan pamitan sopan dari Bik Nem, saling mengunci mata masing-masing, tetapi telinga gue nggak bisa sepenuhnya menepis suara-suara Bik Nem saat membujuk si anak dengan Bahasa Inggris seadanya dan terus membahasakan diri Kian; Mommy, Mama.

Gue mengambil risiko mencari tahu, dengan menurunkan pandangan dari wajah Kian. Ketika gue menemukan cincin dengan deretan berlian dalam satu garis lurus melingkar di jari manis Kian, gue mengusap pipi kanan yang mendadak terasa sakit. Satu per satu ungkapan bahagia yang gue siapkan untuk Kian luruh bergantikan kekecewaan.

Bukan kepada Kian, tetapi diri gue sendiri ....

Gue menyingkirkan rasa kecewa dan getir ke belakang, menahan apa pun pikiran menyakitkan dengan mengandaikan; siapa tahu gue salah tangkap di sini. Menjadi ibu nggak perlu melahirkan. Memakai cincin di jemari manis bisa saja nggak punya arti apa-apa.

"Abe," sapa Kian setelah memastikan si anak dan Bik Nem nggak lagi berada di sekitar foyer.

"Kiandraaaa!" Suara gue datar banget. "Pulang, kok, nggak kasih kabar ke aku?"

Bukan hanya suara, gue juga mampu berpura-pura nggak paham akan situasi kami. Gue nekat membuka lebar kedua tangan untuk memeluk dia, tetapi Kian mundur satu langkah sambil mengulurkan tangan—meminta kami tetap berjarak.

"Hold on!" henti Kian. "Please, jangan ada kontak fisik." Kian mengangkat tangan kanan yang terpasang cincin.

"Ki ...." Bahkan, di telinga sendiri, gue merasa suara yang keluar terlalu menyedihkan.

"Bukan Mama, Papa, tapi aku yang minta tolong sama Bik Nem." Dulu Kian paling nggak tahan mendengar suara memelas gue. Semarah apa pun, dia akan segera melupakan apa yang terjadi. Namun, hari ini Kian mengabaikan gue. "Aku minta ke Bik Nem kapan pun kamu datang, tolong ditahan di luar aja sampai aku yang keluar sendiri." Kian terdiam sejenak dan terlihat nggak mengharapkan tanggapan gue. Jadi, gue diam, sampai Kian melanjutkan, "Aku ngerasa aneh lihat kamu masuk rumah, padahal ada suami dan anak aku."

Gue udah tahu kata suami dan anak akhirnya akan dilempar Kian, tetapi gue nggak berharap secepat ini.

Seenggaknya Kian bisa kasih waktu bagi kami berbasa-basi demi kenangan menyenangkan masa lalu, sebelum gue dengan tololnya mengusir Kian demi satu cewek pembohong.

"So, hampir enam tahun kamu ilang ditelan bumi, terus balik bawa anak dan suami." Gue memiringkan posisi berdirinya, gagal menahan tawa getir lolos dari bibir. "Seriously, Ki?" Sembari mengusap sudut mata kiri dengan telunjuk, gue bertanya, "Sorry, ini—gini, Kian. Itu beneran anak—ya, ampun, dulu kamu bilang nggak mau—"

"Anna. Namanya Anna. Dia benar-benar anak aku. Aku yang ngelahirin."

"Kian."

"Kenapa?" sela Kian. "Kamu mau nanya itu, kan?" Kian maju dan menyisakan jarak kosong satu langkah di antara kami. "Setop, ikut campur kehidupan aku, Abe. Komentar ini-itu. Kita bukan lagi anak kecil yang susah bergaul karena latar belakang keluarga, apa-apa barengan. Satu nggak setuju, yang satu lagi ikut kayak buntut."

Kepala gue berdengung keras kayak dipukul kayu. Nggak pernah gue bayangkan pada pertemuan pertama setelah dikurung penyesalan bertahun-tahun, bukannya mendapatkan pembebasan, gue malah dapat hukuman lainnya.

"Kita punya kehidupan masing-masing, jalan masing-masing. Pilih apa pun yang lo mau, aku juga gitu." Senyum Kian yang redup saat mengucapkan kalimat gue di pertemuan terakhir kami dulu, muncul lagi. "Masa kamu lupa sama omongan sendiri?" Kian mundur satu langkah lagi. "Ini jalan yang aku pilih. Menikah, punya anak, dan ..." Kian menarik napas tajam lalu berkata tegas, "Ngelupain kamu ...."

Kesedihan melanda hingga membuat gue menggigil, meski panas terik menepuk-nepuk punggung.

"Gimana kalau aku nggak bisa ngelupain kamu?" tanya gue.

"Perasaan kamu bukan tanggung jawab aku," sahut Kian.

Seketika gue terhempas ke ingatan masa lalu saat Kian bertanya; 'Gimana kalau alasan aku mencari-cari kesalahan cewek-cewek kamu itu, karena aku nggak pernah lihat kamu sebagai sahabat? Karena aku lihat kamu sebagai cowok. Aku cinta kamu, Abe.' Dan gue, memberikan jawab yang sama; 'Perasaan lo bukan tanggung jawab gue, Kiandra.'

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top