2.

"Mikasa, mengapa dirimu menganggap Eren seperti pohon?"

"Hm... Karena dia memang seperti itu buatku."

🌳🌳🌳

Pohon.

Sang penghasil oksigen.

Pohon.

Sang penyalur kehidupan.

Pohon.

Sang paru-paru dunia.

Laksana sebuah pohon, dimata seorang Mikasa Ackerman. Eren Jaeger adalah sebuah pohon baginya.

Entah sejak kapan ia mulai beranggapan seperti itu, tapi yang jelas setelah ia tahu hal itu, ia semakin sering membeli bibit pohon yang nantinya akan ia tanam sendiri.

Biarlah membutuhkan waktu yang lama untuk tumbuh, biarkan saja bibit itu akan menjadi saksi bisunya dalam mencintai seorang Eren Jaeger.

Jika Eren pohon, lantas apakah dia? Ulat kah? Kupu-kupu kah? Atau burung?

Jawabannya adalah rumput.

Mikasa menganggap bahwa dirinya adalah rumput yang selalu mengelilingi pohon. Walau kadang kala di anggap remeh karena hanya sebuah rumput. Tapi hal remeh tersebut lah yang justru sangat berpengaruh.

Tanpa rumput, pohon yang ada terkesan tak sedap dilihat dan menimbulkan pemikiran bahwa tanah disana tak bagus.

Keduanya saling mendampingi, saling melengkapi satu sama lain.

Layaknya Yin dan Yang.

"Mikasa, sudah waktunya."

Sasha mengingatkan, gadis penggemar kentang tersebut masuk ke dalam ruang rias Mikasa dan mengaggumi betapa indah dan cantiknya rupa Mikasa saat ini.

Dia benar-benar terlihat sangat cantik bagai Dewi-dewi.

Gaun pernikahan putih yang mewah menambah kesan plus pada dirinya. Sasha bahkan yakin, jika orang lain pun akan beranggapan sama dengan dirinya saat pertama kali melihat Mikasa dalam penampilan seperti ini.

"Ini hari besarmu, Mikasa."

Mikasa mengangguk, dia kemudian mengambil bucket bunga yang ada di meja rias. Lantas menarik nafasnya untuk sejenak.

"Aku gugup."

Sasha tertawa kecil, jujur saja. Selain melihat rupa ayu Mikasa, ternyata dirinya juga melihat sisi lain dari Mikasa yang seperti ini.

Jarang atau mungkin tak pernah sama sekali, gadis Ackerman itu menunjukkan kegugupannya.

Mungkin ini karena hari besarnya yang akan salah satu hari bahagianya.

"Tak usah dipikirkan, ini akan terjadi sangat cepat. Aku yakin itu." Ucap Sasha memberikan semangat.

Mikasa mengulas senyum, lantas mengangguk dan kemudian berjalan beriringan bersama dengan Sasha yang mengikutinya dari belakang.

🌳🌳🌳

Langkah demi langkah terpijak, satu langkah dari miliknya sama dengan satu buah memori kecil terputar di benaknya.

Dimulai dari pertemuan pertamanya dengan Eren dahulu sampai saat mereka berpacaran dan yang terakhir adalah kejadian makan malam itu.

Semua itu terasa begitu cepat bagi Mikasa yang sedari dulu mengejar sosok Eren.

Dirinya yang sangat mendambakan sosok Eren dan hal lain yang selalu membuatnya berpikir Eren, Eren dan Eren.

Obsesi? Tidak juga.

Dia hanya terlampau suka dengan sosok Eren yang menurutnya sangat pemberani dan pengambil resiko dimatanya. Walau minusnya kadang pemuda itu bisa sangat ceroboh.

Tapi Mikasa tak mempermasalahkan tak itu, dia justru menganggap itu adalah sebuah hal lumrah mengingat tak ada manusia yang sempurna begitu pula Eren.

Dan sekarang, ia akan satu altar dengan orang yang sangat dia cintai tersebut. Mengikat sebuah janji suci yang disaksikan sahabat, teman, keluarga bahkan kerabat mereka.

Pintu terbuka dan dengan begitu, gadis bunga segera masuk dan menabur bunga disepanjang karpet merah. Diikuti oleh Mikasa yang berjalan dengan anggun seraya didampingi Ayahnya.

Di seberang sana, Eren yang nampak menawan menggunakan tuxedo memberikan sebuah senyum hangat. Nampak aura bahagia pun terpancar dari matanya kala melihat sosok Mikasa yang semakin mendekat ke arahnya.

Ini adalah harinya.

Hari dimana, pohon dan rumput akan mengikat janji untuk selalu bersama di sebuah lahan.


"Jika ada banyak wanita di dunia yang bisa aku pilih. Aku akan tetap memilihmu menjadi pendampingku" -Eren Jaeger.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top