44 | acceptance

Saat ini Sasmitha dan Wisnu makan siang bersama. Mereka makan di restoran Wisnu yang ada di daerah Menteng—Jakarta Pusat. Tentu saja Sasmitha makan di ruang VVIP—alias kantor Wisnu yang ada di bagian paling atas restoran. Kantor Wisnu punya balkon super nyaman dengan sofa empuk, sebuah meja, dan rak buku yang ada di tembok bagian kiri.

Lalu jangan lupakan banyaknya tanaman bunga yang mengkhiasi balkon, membuat Sasmitha benar-benar nyaman duduk di sana. Belum lagi Wisnu yang memasak langsung makan siangnya hari ini. Membuat hari ini begitu sempurna.

Hari ini juga jadwal Sasmitha konsultasi dengan Hanum, makannya gadis itu meminta psikiaternya untuk datang ke sini sehingga mereka bisa konsultasi di sini. Untungnya Hanum langsung setuju. Sehingga kini ia sedang menunggu Hanum tiba.

Selama konsultasi dengan Hanum, mereka memang tidak selalu melakukan konseling di rumah sakit. Kadang di cafe atau komunitas seperti sebelumnya, pernah juga di Pantai Ancol dan Kota Tua. Tapi paling sering memang di cafe atau restoran, biasanya sekalian nongkrong dan makan siang.

“Sayang, mau aku bikinin jus lagi?” tanya Wisnu saat melihat gelas jus apel Sasmitha yang sudah habis.

Sasmitha menggeleng seraya menjatuhkan kepalanya di dada Wisnu. Lalu memajukan bibirnya seperti bebek—sehingga terlihat begitu menggemaskan di mata Wisnu.

“Nggak. Aku maunya cium.”

Wisnu pun langsung tersenyum lebar, lalu mendekatkan wajahnya pada Sasmitha dan menciumi seluruh wajah Sasmitha dengan gemas dan sayang. Membuat Sasmitha tertawa kegelian dan begitu bahagia.

Lalu mereka bertatapan lama masih dengan sisa-sisa tawa, napas hangat yang saling bersahutan, dan tatapan mata yang dipenuhi cinta dan juga pemujaan. Wisnu mendekatkan kembali mendekatkan bibirnya dengan Sasmitha, dan gadis itu langsung memejamkan kedua matanya saat bibir Wisnu kembali menyatu dengan bibirnya.

Kali ini ciuman keduanya keduanya lebih intens. Bahkan, kini Sasmitha sudah duduk di atas pangkuan Wisnu dengan kedua lengan yang membelit leher pria itu.

Lidah mereka menari, desah mereka menyatu di udara, dan cinta mereka meledak-ledak di dada, setiap inci kulit—sampai ke tulang-tulang.

***

Sebelum bertemu dengan Hanum yang saat ini sudah menunggu di balkon kantor Wisnu, Sasmitha menghabiskan waktu sekitar lima belas menit di kamar mandi untuk touch up. Ia menghapus lipstiknya yang sudah berantakan tidak karuan, lalu kembali memolesnya dengan lipstik warna merah muda yang memang sengaja ia bawa ke mana-mana.

Ia juga sedikit menambahkan bedak dan juga menyisir rambutnya yang kusut karena jari-jari nakal sang kekasih. Setelah dirasa penampilannya sudah rapi, ia pun segera meninggalkan kamar mandi. Senyumnya mengembang saat matanya bertubrukan dengan Hanum yang saat ini sudah duduk di meja seraya menyeruput cairan hitam yang dari aromanya yang sangat khas Sasmitha tebak sebagai espresso.

“Hai, Mbak!”

“Hai, Tha!”

Lalu mereka berpelukan hangat sebelum akhirnya duduk berjejeran berdua. Wisnu tadi langsung pamit ke dapur setelah mengantarkan Hanum ke sini. Selain karena ada rapat penting, ia juga ingin memberi keduanya privasi.

“Jadi, gimana kabar kamu hari ini, Tha?” tanya Hanum seraya membuka sesi konseling. Sebelum melakukan konsultasi, memang sudah kebiasaan Hanum untuk menanyakan setiap kabar dari pasiennya.

“Kabar aku baik, Mbak, hari ini. Pagi aku dimulai dengan hal-hal yang bikin happy dan saat ini aku juga happy. Kayak dada aku cuma dipenuhi rasa senang dan bahagia.”

“Bahagia yang beneran bahagia? Atau tetep ngerasa takut juga?” tanya Hanum seraya mengamati setiap perubahan yang ada di wajah Sasmitha dengan teliti.

Sasmitha tersenyum lebar, senyumnya sampai ke mata. “Kali ini aku beneran bahagia, Mbak. Nggak ada perasaan khawatir apa-apa! Aku tahu ke depannya hidupku juga pasti nggak bakal selalu baik-baik saja, tapi aku tahu aku bakal selalu bisa ngelewatin itu. Apalagi sekarang aku sama Wisnu. Orang yang aku yakin bakal ada di sisi aku saat aku jatuh ataupun bahagia.”

Sasmitha menjeda ucapannya sejenak, kali ini kedua pipinya memerah sampai telinga. “Dan bulan depan, aku sama Wisnu bakalan nikah!”

Tentu saja informasi itu membuat Hanum tekejut, tapi senyuman lebar kini terbit di bibirnya. “Congratulations, Sasmitha! I am so happy for you, Tata!”

“Thank you, Mbak!” sahut Sasmitha seraya membalas pelukan erat dan hangat Hanum.

So, apa yang kamu rasain soal pernikahan kamu sama Wisnu? Ada yang bikin kamu khawatir?”

“Anehnya, nggak ada, Mbak. Aku beneran ngerasa bahagia dan nggak khawatir soal apa-apa. Dan kayaknya, sekarang aku juga udah berdamai dengan masa lalu. Semenjak aku putus sama Rakha, aku terus bertanya-tanya apa salahku. Apa kekuranganku, sampai Rakha ninggalin aku dan milih nikahin perempuan yang baru dia kenal tiga bulan daripada aku yang udah dia pacari selama tujuh tahun. Tapi saat ini, aku ada di posisi Rakha. Aku juga bakal menikahi Wisnu yang baru aku kenal tiga bulan. Menikah adalah keputusan yang besar, tapi aku beneran ngerasa yakin banget sama keputusan aku ini. Seolah aku tahu kalo Wisnu adalah the one. Aku bisa bayangin masa depan aku sama dia. Sampai kita tua bersama dan rambut kita putih semua. Aneh kan, Mbak? Tapi terus aku mikir, mungkin ini yang namanya takdir. Dan mungkin, itu juga yang dirasakan sama Rakha pas ketemu istrinya yang sekarang. Dan saat memikirkan itu, hati aku jadi tenang. Aku seolah sudah menerima semuanya. Kalo apapun yang terjadi di hidup aku, memang sudah diatur Tuhan untuk yang terbaik.”

Hanum menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu ia meremas tangan Sasmitha erat. “Syukurlah kalo itu yang kamu rasakan. Dan selalu inget, Tha. Nggak bakal ada kejadian buruk yang mengikuti perasaan bahagia kamu ini. Kamu bahagia karena kamu memang berhak bahagia Sasmitha, Sayang. Sekali lagi selamat. Aku ikut berbahagia buat kamu.”

“Terima kasih, Mbak,” ujar Sasmitha seraya memeluk Hanum erat. Kali ini ia juga menangis di pelukan psikiaternya itu, seperti saat pertama kali ia menangis di pelukan Hanum saat pertama kali konsultasi.

Bedanya, kali ini dadanya sudah tidak penuhi dengan perasaan sakit dan terasa berat. Saat ini, Sasmitha hanya merasa bahagia. Dan kali ini, ia akan mengamini perkataan Hanum tentang ia yang memang berhak untuk berbahagia, tanpa lagi khawatir soal apa-apa.

Sasmitha sembuh karena ia memutuskan untuk sembuh. Gadis itu bahagia, karena ia memutuskan untuk bahagia.

Keknya tinggal 1-2 chapter lagi ya guys!

Sa,
Xoxo.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top