38 | suami
Wisnu turun dari mobil lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Sasmitha.
Sasmitha tersenyum lebar pada pria itu, mengandeng tangannya yang lebar dan hangat, lalu berjalan berjejeran memasuki rumah Wisnu.
Rumah Wisnu tampak berbeda dari terakhir kali ia ke sini. Karena ternyata pria itu melakukan renovasi sana-sini, hingga kini rumahnya tampak lebih lebar. Kamar tamu yang tadinya ada di lantai satu, dijebol temboknya dan kini menyatu dengan ruang berkumpul. Sehingga ruang berkumpul pria itu yang tadinya hanya seadanya, kini benar-benar luas dan lebar. Ada sofa berbentuk L yang super empuk dan nyaman, dan sebuah televisi berukuran 98 inch tampak menempel di tembok. Yang Sasmitha yakin jika TV itu baru, karena saat ia ke sini waktu itu, TV ini belum ada.
Jadi, saat ini ruang berkumpul Wisnu seperti bioskop mini pribadi.
Sasmitha tersenyum menggoda. “Nu, please, jangan bilang kamu maksa aku ke rumah kamu karena mau pamer kalau kamu habis renovasi rumah.”
“Suka nggak?” tanya pria itu yang sontak membuat Sasmitha tertawa kecil.
“Ini kan rumah kamu, Nu! Ngapain tanya aku suka apa nggak!” ujar gadis itu seraya menggelengkan kepalanya, tapi lalu kedua matanya melotot kaget seraya mengedarkan kedua netranya ke setiap sudut ruang berkumpul. Jantungnya lagi-lagi berdebar kencang, dan wajahnya kembali terasa terbakar.
“Nu, jangan bilang kamu renovasi ruang berkumpul kamu jadi kayak bioskop gini karena aku suka nonton?”
Wisnu langsung mengangguk. “Memang. Dan aku juga lagi bangun lantai tiga buat dijadiin perpustakaan, karena kamu suka baca.”
“Nu, kamu pasti bercanda!”
“Nggak, Tha, aku serius,” ujar Wisnu seraya menatap mata Sasmitha. Dan dari tatapan matanya yang memang benar-benar serius, Sasmitha langsung tahu kalau Wisnu memang sama sekali tidak bercanda.
Sasmitha memainkan lesung pipit Wisnu dengan telunjuknya. Membuatnya pria itu tersenyum semakin lebar dan lesung pipinya semakin dalam.
“Nu, kamu nggak mau aku jadiin pacar. Tapi renovasi rumah sambil mikirin aku. Aku harus gimana, Nu?”
Wisnu meraih telujuk Sasmitha yang memainkan lesung pipinya, lalu ia menggenggam tangan gadis itu dan menatap Sasmitha serius.
“Aku nggak mau pacaran sama kamu, karena aku nggak mau jadi pacar kamu, Tha. Aku maunya jadi suami kamu. Makanya, daripada pacaran, nikah aja yuk, Tha?”
Tentu saja, ucapan Wisnu langsung membuat kedua mata Sasmitha melebar. Secara refleks ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Wisnu. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa? Wisnu mengajaknya menikah! Apa pria itu gila? Mereka bahkan belum mengenal lama, mereka belum mengenal lebih dari tiga bulan. Yang menandakan, jika keduanya hanya orang asing. Jadi, bagaimana bisa Wisnu berpikiran menikahi orang asing? Bahkan, pria yang dipacarinya tujuh tahun saja tidak mau menikahinya.
“Nu, sumpah, ya! Kalo ini bercanda, candaan kamu nggak lucu sama sekali!”
“Aku nggak bercanda, Tha. Aku serius. Dan aku tahu, kamu juga tahu kalau aku sangat serius sekarang.”
Dan ya, sialnya, di lubuk hati Sasmitha paling dalam, ia juga tahu kalau Wisnu sama sekali tidak bercanda. Karena walau mereka baru kenal kurang lebih tiga bulan, Sasmitha tahu kalau Wisnu tidak akan pernah menyakitinya dengan bercanda soal pernikahan. Sesuatu yang membuatnya insecure dan tidak percaya diri. Wisnu tidak akan menyakitinya, apalagi sampai membuat candaan yang melukainya.
“Tapi, Nu, gimana bisa kita nikah? Kita baru kenal selama tiga bulan—”
“Kita udah kenal dari dua tahun lalu, Tha. Dan aku jatuh cinta sama kamu sejak hari itu. Sampai saat ini, perasaan aku sama kamu nggak berubah. Dan aku yakin, perasaan ini juga nggak bakal berubah sampai puluhan tahun ke depan, Sasmitha.”
“Tetep aja Wisnu! Kita belum kenal lama. Kamu belum tahu segala kekurangan aku dan hal-hal buruk di diri aku. Gimana kalau setelah tujuh tahun kamu menyesal? Gimana setelah tujuh tahun, akhirnya kamu sadar kalau aku nggak layak dijadikan istri? Gimana kalau kamu akhirnya ninggalin aku?” tanya Sasmitha dengan air mata yang mengalir di pipi. Saat ini hatinya sakit sekali, ternyata hubungannya sebelumnya memang memberikan luka yang sangat dalam baginya. Hingga kini dadanya begitu sesak, walau ia tidak bisa bohong jika ia sangat bahagia karena Wisnu melamarnya.
Wisnu memeluk Sasmitha erat. Hanya memeluknya. Membiarkan gadis yang dicintainya itu menangis di dadanya sampai lega. Sampai rasa takut dan khawatirnya hilang, hingga ia merasa aman dan nyaman di sisinya.
***
Tangis Sasmitha kini sudah reda. Tapi gadis itu masih ada di pelukan Wisnu. Kedua tangannya melingkari pinggang pria itu, sedangkan kepalanya menyandar di dadanya. Saat ini Wisnu setengah tiduran di sofa, sehingga keduanya merasa nyaman karena ada di pelukan satu sama lain.
Wisnu menghapus sisa air mata yang ada di pipi Sasmitha, membuat gadis itu memejamkan matanya untuk merasakan lembutnya belaian jari-jari Wisnu di wajahnya.
Sasmitha mengeratkan pelukannya di tubuh Wisnu. Dan pria itu pun juga ikut mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Sasmitha. Pelukan mereka begitu pas dan hangat, seolah tubuh mereka memang diciptakan untuk saling berpelukan satu sama lain untuk selamanya.
“Nu?”
“Ya, Tha?”
“Kenapa kamu mau nikah sama aku?”
See you besok, guysssss!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top