22 | weekend

Akhir minggu ini Sasmitha pergi ke Lembang dengan Wisnu. Karena minggu kemarin Wisnu sudah menemani Sasmitha kondangan, kini giliran Sasmitha yang menemani pria itu kondangan.

Sambil menyelam minum air, mereka juga akan menghabiskan akhir pekan berdua di Lembang. Kebetulan keluarga Wisnu punya sebuah vila di dekat hotel teman Wisnu akan menggelar resepsi pernikahan.

Sebelum Sasmitha izin pada Mama dan Papanya, dengan manisnya Wisnu sudah izin lebih dulu pada mereka.

Lalu, karena Wisnu adalah si calon menantu idaman Mama, tentu saja Mama langsung setuju. Papa juga langsung setuju, walau tetap memberi banyak wejangan Ini-itu.

Wisnu benar-benar 100% berhasil meluluhkan hati orang tua Sasmitha, tapi ya Wisnu memang laki-laki sangat baik. Ia juga tahu sopan-santun dan tipe pria yang bertanggung jawab, makanya tidak heran kedua orang tua Sasmitha langsung jatuh hati.

Saat ini, Mama dan Papa tahu kalau Sasmitha dan Wisnu hanya berteman. Tapi mereka tidak banyak berkomentar. Mama yang biasanya cerewet juga banyak diam. Dan jujur saja, hal itu membuat Sasmitha heran. Tapi sepertinya pembicaraan dari ke hatinya dengan Mama berhasil, sehingga baguslah Mama kini tidak pernah meributkan hal-hal seperti perjodohan dan pernikahan lagi.

Sabtu ini, Wisnu sudah menjemput Sasmitha pagi-pagi buta. Mereka memang sengaja berangkat pagi untuk menghindari macet.

Selain untuk menghindari macet, sebenernya karena Wisnu juga ingin memberikan Sasmitha kejutan. Sehingga pria itu sengaja mengajak Sasmitha untuk pergi ke Lembang pagi-pagi sekali.

Setelah memasukan barang ke bagasi, keduanya pun segera meninggalkan halaman rumah Sasmitha yang masih terlihat gelap karena matahari memang belum muncul. Tentu saja, mereka berangkat setelah pamit pada orang tua Sasmitha.

Wisnu yang menyetir, sedangkan Sasmitha kini duduk anteng di kursi penumpang. Masih agak mengantuk karena tadi malam ia memang membuat laporan keuangan sampai larut. Ia juga mempelajari materi presentasi, karena hari Senin nanti ia ada rapat dengan perwakilan The Asia Foundation untuk kepentingan donasi.

Dengan lembut Wisnu mengelus kepala Sasmitha yang kini bersandar kursi mobil. "Masih ngantuk ya, Tha? Tidur lagi aja. Nanti kalo udah sampe aku bangunin."

Sasmitha menutup mulutnya yang menguap, lalu menganggukan kepalanya. "Aku lanjut tidur bentar ya, Nu. Semalem aku lembur. Jadi, sekarang emang ngantuk banget."

Wisnu mengangguk seraya masih mengelus-elus lembut kepala Sasmitha, membuat gadis itu semakin nyaman menyadar di kursi penumpang.

"He-em tidur lagi aja."

Menuruti perintah Wisnu, Sasmitha pun kembali memejamkan mata lalu berkelana ke alam mimpi. Sedangkan saat ini, Wisnu tersenyum lebar di kursi kemudi. Dadanya mengembang dan dipenuhi oleh rasa bahagia. Selama di perjalanan, Wisnu juga sesekali mengelus kepala Sasmitha sayang. Membuat tidur gadis itu semakin nyenyak karena rasa nyaman.

Dan sungguh, saat ini pria itu menjadi manusia paling bahagia sedunia. Bahkan, ini lebih baik dari mimpi-mimpinya selama dua tahun terakhir. Sasmitha ada di sampingnya. Tertidur di sampingnya dengan nyenyak penuh rasa aman dan nyaman. Pula mereka akan menghabiskan akhir pekan berdua. Sesuatu yang selama dua tahun terakhir, tidak berani Wisnu pikirkan bahkan hanya dalam khayalan.

Karena harapan semu, bisa sangat menyakitkan. Membuat dada kiri terluka dengan brutal, lalu membuat insomnia yang tidak baik untuk kesehatan raga pula jiwa.

***

Sasmitha terbangun saat mereka melewati jalan terasering dengan pemandangan alam yang luar biasa. Sehingga saat Sasmitha baru membuka mata, warna hijau langsung mendominasi matanya.

Ia tersenyum lebar pada Wisnu. "Morning, teman."

Wisnu balas tersenyum pada Sasmitha. "Morning, teman. Tidur kamu nyenyak?"

"He-em lumayan," ujar gadis itu seraya merapatkan jaket Wisnu yang kini menutupi tubuhnya. "Sekarang udah di mana? Masih lama nyampenya?"

"Nggak, kok, bentar lagi nyampe, Tha. Paling tiga kiloan lagi. Kamu udah laper, ya? Atau dingin?"

Sasmitha langsung menggeleng. "Nggak kok, Nu, aku udah kenyang tidur dan perutku juga masih kenyang. Cuma pengin menikmati pemandangan aja. Kacanya buka dong, Nu!"

Menuruti perintah Sasmitha, Wisnu pun segera menurunkan kaca mobil sehingga kini segarnya angin pagi Lembang membelai kulit keduanya.

Sasmitha sedikit mengeluarkan kepalanya, sehingga ia dapat merasakan terpaan angin yang begitu segar di wajahnya. Ia menghidu oksigen dalam-dalam, lalu memejamkan mata untuk menikmati udara segar yang sudah tidak bisa ia hidu lagi di Jakarta.

"Bangun tidur dengan udara seseger ini beneran sebuah kemawahan yang luar biasa! Makasih lho, Nu, karena udah ngajakin ke Lembang weekend ini."

"Aku yang makasih karena kamu udah mau ajakin, Tha. Thanks, karena udah ada di sini sama aku dan bikin pagi aku lebih baik."

Sasmitha langsung terbahak, lalu menatap Wisnu dengan pandangan menggoda. "Nggak sekalian bilang kalau aku bikin pagi kamu lebih indah, lebih cerah, lebih bermakna, dan penuh suka cita?" Tapi saat mengatakan itu pipi Sasmitha memerah, karena tidak bisa dipungkiri jika perkataan Wisnu barusan berhasil membuat jantungnya berdebar dengan brutal.

Wisnu masih tersenyum lebar, dan lesung pipinya yang manis membuat pria itu semakin menawan. "Kalo aku bilang kamu emang bikin aku ngerasa gitu, kamu bakal percaya?"

Sasmitha langsung mengangguk sebagai respons. "Percaya, Nu. Karena kamu juga bikin aku ngerasain hal yang sama. Ini aneh, tapi bangun tidur dan kamu adalah orang pertama yang aku liat, beneran bikin aku happy. Dan aku tebak, seharian ini mood aku juga bakal bagus."

Dan tolong jangan tanyakan bagaimana keadaan Wisnu sekarang! Jawaban Sasmitha benar-benar membuat Wisnu melayang!

Ih, malu si Wisnu kecintaan banget🦋🦋🦋🦋🦋😆

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top