11 | ???
Sampai saat ini, Mama dan Sasmitha belum juga berdamai. Mereka masih perang dingin dan belum bicara lagi sejak sarapan waktu itu. Tiga hari ini, Mama juga memutuskan untuk tinggal di rumah Tante Jihan di Bali. Mungkin untuk menenangkan diri.
Sasmitha juga banyak berpikir tentang perdebatannya dengan sang Mama di apartemen. Dan hingga saat ini, ia memang sengaja belum mengajak Mama bicara. Setelah dua bulan terakhir mereka terus bersitegang dan berdebat saat bertemu karena masalah yang sama, Sasmitha pikir untuk mengambil jarak sejenak memang pilihan yang paling benar.
Tapi walau begitu Sasmitha tetap rajin mengirimi pesan pada Tante Jihan—yang merupakan adik sang Mama—untuk menanyakan kabar Mamanya tercinta. Seperti minum obat; tiga kali sehari. Sampai membuat Jihan geleng-geleng kepala sendiri karena tingkah ibu dan anak ini. Mereka jelas-jelas saling sayang dan cinta, tapi selalu saja bertengkar yang akhirnya menyakiti hati sendiri.
Sasmitha dan Mama memang punya sifat keras kepala yang sama. Makanya, jika bertengkar keduanya memang jarang ada yang mau mengalah.
Ya, seperti kata mereka; like mother like daughter.
Mama akan pulang dari Bali malam ini, makanya Sasmitha memutuskan kalau nanti malam adalah saat yang tepat untuk meminta maaf pada sang Mama lalu mengajak Mama bicara dari hati ke hati. Mama mungkin manusia paling kolot sedunia, tapi jika sudah diajak bicara biasanya akan mengerti juga. Dan kali ini, Sasmitha berjanji akan sedikit mengalah. Karena ya, walau Mamanya cerewet, sebenarnya ia tahu kalau sang Mama begitu karena cinta.
Sasmitha segera turun dari mobil begitu mobilnya terparkir sempurna di halaman First Bite yang luas. Sejak pertama kali buka tahun lalu, gadis itu memang sudah menjadi pelanggan tetap di bakery ini. Tapi sebenarnya ia sudah jadi pelanggan tetap sejak lama, sejak First Bite belum punya toko offline dan hanya menerima orderan secara online.
Kebetulan Kayla—salah satu owner First Bite—adalah teman mainnya saat kecil. Dulu mereka tumbuh di kompleks perumahan yang sama. Bahkan, Sasmitha masih ingat saat dulu mereka sering pulang sekolah bareng sambil nyeker pas SD. Lalu mencari capung di lapangan dekat kompleks tanpa sunblock hingga gosong, dan juga hujan-hujanan terus besoknya sakit berjamaah.
Sasmitha tersenyum kecil saat mengingat kenangan-kenangan itu. Dan ternyata, waktu benar-benar cepat sekali berlalu. Karena kini mereka sudah jadi perempuan dewasa. Bahkan, kini Kayla sudah menikah dan tengah mengandung anak pertamanya.
“Siang, Kay!” sapa Sasmitha seraya tersenyum lebar.
Dan tentu saja Kayla langsung membalas senyuman gadis itu sama lebarnya. “Siang, Mbak Mitha! Jadi dateng beneran ternyata! Kirain nggak jadi!”
“Jadi dong! Kan, mau beli macaroon buat ibu negara. Masih disisain, kan?”
“Santai. Buat Mbak Mitha mah selalu aman stoknya. Ke ruangan aku aja yuk, Mbak? Pesenan kamu tadi udah aku pisahin di sana.”
Sasmitha mengangguk setuju, lalu ia mengikuti Kayla memasuki ruangan gadis itu yang ada di bagian belakang di samping dapur. Sebenernya kantor Kayla ada di lantai dua, tapi semenjak kehamilannya mulai besar, Kayla memang memutuskan untuk memindahkan kantornya untuk sementara ke bawah. Tentu saja atas perintah tak terbantahkan dari Haikal Suroso—sang suami tercinta.
“Maaf ya, Mbak Mitha, kantor aku masih berantakan. Baru pindahan soalnya. Biasalah Kak Ekal cerewet ini-itu karena kehamilan aku udah gede tapi harus naik-turun tangga.”
“Aku malah kaget karena suami kamu yang kelewat bucin dan posesif itu masih ngijinin kamu kerja saat hamil begini, Kay,” kekeh Sasmitha seraya geleng-geleng kepala ketika mengingat sikap seorang Ekal yang kelewat protektif dan posesif jika menyangkut Kayla.
Setelah Kayla menikah dengan Ekal, Sasmitha memang juga jadi berteman dengan pria itu. Hubungan Sasmitha dan Kayla yang tadinya renggang karena setelah SMA mereka punya kesibukan masing-masing juga mulai kembali akrab. Sehingga kadang sebulan sekali mereka bakal makan malam bersama di rumah satu sama lain.
“Oalah, Mbak, kalau aku cuma di rumah doang selama kehamilan ini, aku yakin aku beneran udah stress! Aku stress karena justru Kak Ekal yang bikin aku stress! Makanya, kerja malah bikin pikiran aku tetep lurus.”
“Aku yakin Ekal begitu karena dia khawatir sama kamu, Kay.”
Kayla memutar bola matanya. “Aku tahu kok, Mbak! Tapi tahu sendirilah Kak Ekal gimana orangnya.”
Sasmitha tersenyum kecil. “Yang aku lihat sih ya, Kay, suami kamu itu beneran udah jadi budak cinta yang buta dan tuli kalau udah berurusan sama kamu.”
“Aku tahu, Mbak. Dan ya ... Aku juga cinta setengah mati kok sama Kak Ekal,” ujar Kayla dengan pipi memerah yang super menggemaskan. Membuat gadis itu terlihat semakin menawan saja. Apalagi semenjak hamil, aura Kayla juga jadi lebih keluar. Entahlah, tapi Sasmitha selalu suka melihat ibu hamil. Aura ibu hamil itu terasa luar biasa. Mereka jadi lebih terlihat glowing dan menawan.
Tapi, ya, wanita yang bahagia memang terlihat lebih bersinar dan menawan. Dan sungguh, Sasmitha juga ikut berbahagia untuk mereka semua.
Lalu, Kayla menatap Sasmitha dengan pandangan jahil yang terlihat nakal. “Ngomongin masalah cinta-cintaan, aku jadi kepo, Mbak. Kamu ada hubungan apa sama Wisnu Jatmiko? Pas aku ikut cooking class-nya dia, dia nanyain kamu ke aku, lho.”
Heh, apa?
???
Wisnu ini diam-diam bergerak ugal-ugalan🤣 besok aku nulis POV Wisnu ya🤣
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top