08 | i need bf
Rumah Baca adalah sebuah toko buku indie yang Sasmitha bangun sekitar 5 tahun lalu setelah ia memutuskan untuk berhenti menjadi seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta bergengsi.
Tentu saja keputusannya ini langsung dihakimi oleh para Tante dan juga tetangga sebagai keputusan super tolol karena Sasmitha meninggalkan pekerjaan dengan gaji tetap dan stabil untuk membuka toko buku indie yang tidak jelas masa depannya.
Katanya, membuka toko buku di jaman sekarang itu keputusan yang benar-benar goblok.
Tapi walau begitu, Sasmitha tidak berhenti mengejar mimpinya. Ia tetap membuka usahanya dari nol, hingga kini sudah punya banyak cabang di mana-mana di berbagai kota di Indonesia.
Selain menjual buku, lewat Rumah Baca Sasmitha juga membuka open donasi berupa uang dan buku bekas maupun baru untuk disalurkan ke perpustakan di daerah-daerah terpencil yang belum punya banyak koleksi buku karena berbagai keterbatasan.
Bahkan, selain donasi buku, kini ia sudah bisa membuat program untuk membangun perpustakaan-perpustakaan di daerah-daerah yang memang belum punya perpustakaan sama sekali. Biasanya daerah yang menjadi targetnya adalah daerah 3T.
Makanya, selain bekerja mengurus toko buku, Sasmitha kini juga sibuk dengan berbagai presentasi untuk menarik donatur-donatur besar agar program ini semakin lancar ke depannya.
Uang donasi yang ia terima juga selalu ia laporkan secara transparan kepada para donatur yang sudah mendonor. Baik di media sosial ataupun lembaga-lembaga khusus donasi. Makanya, tidak heran jika Sasmitha dianggap sebagai perempuan yang menginspirasi dan punya banyak followers di Instagram. Kini pengikutnya sudah tembus sampai 6 juta orang.
Sasmitha tersenyum lebar saat akhirnya materi presentasi yang dibuatnya selesai. Ia pun merenggangkan otot-otot di tangannya, setelah itu ia menutup laptopnya dan turun dari kantornya yang ada di lantai dua.
“Buku baru udah pada datang, Chris?” tanya gadis itu pada Christine yang merupakan salah satu pegawainya di toko buku.
“Aman, Mbak Tatha, udah pada dateng semua, kok. Ini lagi aku sama Radit data ulang sebelum masukin ke rak,” jawab Christine seraya mengacungkan jari jempolnya. Di Rumah Baca Sasmitha memang biasa dipanggil Tatha. Kata para karyawannya itu adalah panggilan sayang khusus untuknya. Dan saat diberitahu itu, tentu saja hati Sasmitha langsung menghangat. Karyawan Rumah Baca memang sudah seperti keluarganya sendiri. Makanya berangkat ke kantor selalu membuatnya semangat.
“Oke, kalo gitu nanti kamu kirim laporannya ke aku kayak biasa, ya. Dan kayaknya kita harus hubungin penerbitlan lagi, deh. Soalnya beberapa buku best seller mau habis juga, kan?”
“Tenang Mbak. Itu juga udah aman, kok! Tadi aku udah hubungin mereka soal buku-buku yang mau re-stock.”
“Oke, kalo gitu aku keluar bentar ya, Chris. Mau beli kado buat kondangan nanti sore.”
“Oh iya betul! Aku juga belum beli kado nih buat kondangan sepupu aku! Tapi bulan ini gila sih, Mbak! Tiap akhir pekan ada aja yang nikahan pusing!”
“Emang lagi ‘musim kawin’ Chris. Maklumlah habis lebaran!”
Christine langsung tertawa ngakak. “Buset! Nyebutnya musim kawin banget, Mbak!”
Sasmitha ikut tertawa. “Kan, emang fakta, Chris!”
“Iya sih Mbak betul. Bulan ini aja aku dapet undangan sampe empat.”
“Aku sampai 10, Chris,” ujar Sasmitha seraya meringis karena mengingat pesta pernikahan pertama yang ia datangi tidak berjalan memalukan. Hadeh, masih ada sembilan lagi pula!
“Waduh! Emang beneran musim kawin sih itu, Mbak Hahaha! Tapi sumpah, di saat ‘musim kawin’ begini gue beneran butuh bf buat gandengan. Jadi, nggak ditanya kapan nyusul mulu atau mana nih pacarnya,” ujar Christine seraya memutar bola matanya. Aku tersenyum maklum, karena tentu saja aku juga merasakan hal yang sama.
“Tenang, Chris! I feel you, Sis! Dan ya, di saat-saat begini kita emang butuh bf, sih. Alias billion-fucking-dollar!”
Christine lagi-lagi tertawa. “Nah iya betul itu, Mbak! Bf yang maksud juga itu!” ujar gadis itu seraya mengajak Sasmitha bertos ria. Mereka lalu tertawa karena tingkah absurd mereka sendiri. Lalu, setelah itu Sasmitha segera pamit keluar karena perutnya juga sudah keroncongan. Jadi, ya, mari mencari kado sekalian mencari makan siang yang enak!
***
Setelah kenyang makan siang, Sasmitha memutuskan langsung berkeliling mall untuk mencari kado untuk pernikahan Sahila dan Azmi besok. Biasanya ia tidak selalu membawa kado saat kondangan, tapi Sahila adalah salah satu teman dekatnya di SMP jadi ia memutuskan untuk memberi kado untuk gadis itu. Kebetulan mereka memang tinggal di satu tower apartemen walau berbeda lantai, makanya kontak keduanya masih terjaga dengan baik. Bahkan, kadang-kadang kalau hari Minggu, mereka akan pergi ke CFD bersama. Mereka juga suka pajamas party di apartemen satu sama lain sambil nonton Drama Korea atau Drama China.
Azmi sudah pacaran lebih dari tiga tahun dengan Sahila, makanya Sasmitha juga mengenal pria itu dengan baik. Oleh karen itu, di hari bahagia keduanya, ia ingin memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan.
Setelah memutari mall dari lantai bawah sampai paling atas, akhirnya ia memutuskan untuk membelikan Sahila dan Azmi bed cover dan juga satu set cangkir aesthetic, karena Sahila memang menyukai hal-hal aesthetic seperti ini. Sehingga ia punya banyak koleksi cangkir-cangkir cantik hampir satu lemari. Dan mengingat hal itu, membuat Sasmitha jadi geleng-geleng sendiri sambil tersenyum kecil.
Tapi senyuman gadis itu langsung hilang, dan secara refleks ia langsung berhenti melangkah saat ia melihat dua orang yang tengah jalan bersama sambil tertawa bahagia. Hatinya rasanya sesak sekali, dan remuk sekali lagi.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top