MAAF

Ali sedari tadi duduk dengan tatapan kosong, tiba-tiba berdiri dan berlari kencang tidak memerdulikan semua orang yang melihatnya. Dimas dan Gina mengkhawatirkan keadaan Ali segera berlari mengikutinya. Saat mereka melihat Ali di tempat parkir dengan cepat mereka menghampirinya, namun belum juga mendekat, Ali sudah mengemudikan mobilnya keluar dari area kantor dengan kecepatan tinggi. Dimas segera mengambil mobilnya menghampiri Gina untuk mengejarnya.

"Yang cepet!!! Aku khawatir dengan keadaan Ali," ujar Gina saat melihat mobil Ali yang dikemudikan mengebut.

"Iya Say, ini juga udah cepet. Kamu tenang aja ya? Aku kenal Ali, dia nggak akan berbuat macam-macam." Dimas mengikuti mobil Ali degan kecepatan tinggi.

Prilly POV

Selesai memandikan Zie, aku segera menyiapkan makan untuknya. Entah kenapa perasaanku sejak Ali berangkat kerja tidak bisa tenang. Pikiranku selalu tertuju kepadanya. Ya Allah lindungi suamiku, jauhkan dia dari hal yang tidak aku inginkan. Saat aku sudah selesai mengambil serelak untuk Zie, tiba-tiba Ali masuk dengan tergesa-gesa dan langsung saja memelukku erat. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan suamiku ini. Wajahnya kusam, penampilannya sudah berantakan. Ada apa sebenarnya?

Aku melihat Dimas dan Gina masuk ke rumah dengan napas tersengal-sengal. Aku semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya berdiri diam menerima pelukan erat dari Ali. Aku dengar Zie menangis tapi Ali tidak juga melepas pelukanku. Gina menghampiri Zie yang aku tinggal sendiri di ruang tengah. Ali merosotkan pelukannya ke bawah menjadi memeluk kedua kakiku. Dia sudah menangis terisak tersungkur ke lantai.

"Maafin aku, Mom." Aku dengar di tengah isakannya.

Aku menatap Dimas yang masih berdiri di ambang pintu dengan kepala menunduk. Apa yang terjadi dengan suamiku? Ali semakin terisak dan memeluk kakiku erat. Dia berdiri dan dengan cepat mencium bibirku kasar. Aku masih saja terdiam dan bingung apa yang terjadi.

"Aku ingin menghapus bekas wanita jalang itu, ayo Mom balas ciumanku!!! Please!!!!" Ali berteriak padaku dan apa maksud dia ingin menghapus bekas wanita jalang itu?

Apa yang sudah Nadia lakukan pada suamiku hingga dia seperti ini?
Aku mendorong tubuh Ali kasar ke belakang.

"Ada apa sebenarnya ini?!!!" tanyaku dengan nada tinggi dan sedikit berteriak.

Ali berlutut di depan kakiku. Ia telungkupkan wajahnya di sela-sela kakiku. Dia masih saja menangis dan selalu berucap 'maaf'. Aku menatap tajam ke arah Dimas.

"Jelaskan padaku!" pekikku menekan nada bicara agar emosiku tidak keluar.

Aku melirik ke ruang tengah. Aku melihat Gina sedang menenangkan Zie dan menutup telinga Zie. Gina juga mengalihkan pandangan Zie agar melihat ke arah luar jendela.

"Gin, lo bawa anak gue naik ke kamar atas. SEKARANG!" bentakku pada Gina.

Dengan cepat Gina membawa Zie yang masih menangis ke lantai atas. Ali masih dengan posisinya yang tadi.

"Bi Inah!!!" Aku panggil Bi Inah dengan keras.

Dia menghampiriku dengan badan sedikit membungkuk dan kepala menunduk.

"Iya Non," jawabnya setelah berada di hadapanku.

Aku serahkan serelak yang ingin aku berikan untuk Zie.

"Tolong kasih Gina, suapi Zie dan buatkan Zie susu," perintahku pada Bi Inah. Segera ia berlalu melakukan yang aku perintahkan.

Dimas mendekatiku dan Ali. Ali masih setia bersujud di kakiku dengan tangis yang tak henti-hentinya. Dimas menjelaskan apa yang terjadi dengan suamiku. Rahangku sudah mengeras, mataku terasa panas, dan emosiku seketika naik. Setelah Dimas selesai menjelaskan padaku, segera aku tarik Ali dan masuk ke dalam kamar bawah yang sementara kami tempati. Ali hanya pasrah mengikutiku. Aku buka pintu kamar kasar dan langsung aku seret Ali masuk ke dalam kamar mandi. Aku menyalakan sower dan melempar tubuh Ali hingga terbentur tembok. Ali hanya diam tanpa melawan padaku. Saat ini aku benar-benar sudah tak bisa menahan emosiku.

Dengan paksa aku buka kemeja Ali dan celana kainnya. Dengan kasar aku memandikan Ali dan air mataku sudah berlinangan. Ali menunduk tak berani menatapku. Setelah selesai aku memandikannya, dengan kasar aku melempar handuk padanya.

"Pakai itu!"

Dia melilitkan handuk di pinggangnya. Aku siapkan baju ganti untuknya.

"Pakai itu dan aku tunggu di meja makan!" ucapku ketus dan datar.

Aku sebenarnya tidak marah padanya. Aku hanya ingin menghapus jejak wanita jalang itu dari tubuh suamiku. Semarah apa pun aku, tetap aku ingin melayani suamiku sebagai seorang istri yang baik. Aku menunggunya mengenakan pakaiannya, setelah rapi aku sisir rambutnya dan aku tarik dia ke ruang makan. Ali tak memberontak, dia hanya pasrah.

"Duduk!" perintahku.

Kepalanya masih saja menunduk. Dia menarik kursi dan duduk. Aku ambilkan dia makan.

"Makan ini!"

Dia dengan malas mengambil sendok dan aku lihat tangannya bergetar saat memegang sendok. Dengan kasar aku tarik dan menggeser kursi di sampingnya lantas duduk menghadapnya. Aku rebut sendok dari tangannya. Aku angkat piring yang berada di depan Ali.

"Angkat kepalamu!"

Dia mengangkat kepalanya. Oh Tuhan betapa hancurnya hati suamiku yang merasa bersalah padaku. Ini bukan salahnya. Tapi kenapa dia sampai seperti ini merasa bersalah padaku. Matanya yang sendu dan merah karena menangis, wajahnya yang pucat, dan aku melihat dia tidak berani menatap mataku.

"Aaaaa!!! Buka mulutmu!"

Dia hanya seperti robot mengikuti perintahku. Dengan malas dia mengunyah makanannya. Sesekali aku melihat air matanya keluar. Aku sebenarnya tidak tega melihatnya seperti ini. Benar kata dia, kuman itu harus dibasmi agar tidak menyebabkan penyakit. Baiklah sepertinya aku akan turun tangan sendiri untuk membasmi kuman itu.

Nadia! Dia adalah wanita yang sangat teropsesi ingin memiliki Ali. Dia salah satu teman Ali saat mereka kuliah di Belanda. Ali selalu bersikap dingin dan selalu menghindarinya. Sudah tidak terhitung lagi Ali selalu menolaknya. Namun dengan sikapnya yang sudah putus urat malunya itu, ia selalu melakukan hal konyol dan bodoh agar Ali dapat dimilikinya. Hingga suatu saat Ali pernah dijebak Nadia. Dia memberinya minum yang ia beri obat tidur. Nadia membawa Ali ke hotel. Pada saat Nadia akan melakukan aksinya untung saja Dimas datang dan menolong Ali keluar dari hotel itu. Dimas sudah menceritakan semua hal yang sudah pernah Nadia lakukan untuk mendapatkan Ali.

"Mom!"

Aku tersadar dari lamunanku saat Ali memanggilku lirih hampir aku tak mendengarnya.

"Ayo segera habiskan makannya, setelah itu beristirahatlah," ujarku mencoba mengatur emosiku.

Aku seharusnya menenangkannya bukan justru melampiaskan amarahku padanya. Maafkan aku!!!

***

Aku membaringkan Zie di box baby. Dimas dan Gina sudah pulang setelah dirasa keadaan kami tenang. Aku menatap wajah Ali yang kini sedang tertidur. Aku usap lembut pipinya dan aku kecup keningnya, aku kasihan padanya. Dia hanya tidak ingin membuatku bersedih dan kecewa.

Aku tahu bagaimana suamiku. Kesetiaannya tak pernah aku ragukan lagi. Tanggung jawabnya apa lagi? Tidak pernah aku ragukan hal itu. Aku tahu dia sangan mencintaiku dan sangat menyayangi Zie. Aku berbaring di sampingnya dan aku peluk erat tubuhnya. Memberikan kekuatan dan kenyamanan untuknya.

Ali POV

Pagi ini terasa aneh tak seperti biasanya. Prilly hanya diam dan sesekali berbicara itu saja dengan datar. Aku merasa sangat bersalah padanya. Ingin rasanya aku bawa pergi istri dan anakku dari sini agar hidupku dan rumah tanggaku tanpa ada yang mengganggu. Aku memakan sarapanku dengan malas. Rasanya hambar, saat ini aku tidak merasakan semangat dalam hidupku.

Jujur sebenarnya aku malu jika harus masuk kerja karena kejadian kemarin. Apa yang akan dikatakan karyawanku? Selama ini aku menjaga kewibawaanku dan selalu menjunjung tinggi martabat serta kehormatan keluargaku di mata karyawan dan semua orang. Namun seketika dengan sekejap rusak karena kuman yang sangat berbayaha itu.
Saat aku sudah selesai sarapan, Prilly menghampiriku dan memasangkan dasi. Aku menatap wajah datarnya. Aku yakin saat ini ia masih menahan emosinya. Lebih baik aku diam dan menurut saja daripada aku menambah amarahnya.

"Sudah selesai," ucapan Prilly membuat aku terbangun dari lamunan. Aku melihat dasiku yang sudah rapi.

"Kamu diantar Pak Joko saja ya, Li." Aku hanya mengangguk.

Rasanya hatiku sakit saat dia hanya memanggil namaku seperti itu. Baru kali ini aku dengar dia memanggilku seperti itu, selama kita mulai berkomitmen untuk bersatu, dia tidak pernah hanya menyebut nama.

Saat aku ingin mengambil jas biasanya aku sudah menciumi setiap inci permukaan wajahnya. Tapi kali ini entah kenapa aku merasa berat untuk melakukannya. Aku berbalik badan siap untuk melangkah.

"Li...." Panggilannya lirih.

Aku menoleh. "Iya."

Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Aku benci situasi seperti ini.

"Kamu melupakan sesuatu ya?"

Aku menautkan kedua alisku menatap dia yang berusaha tersenyum padaku.

"Apa?" tanyaku memasang senyum palsuku.

Dia mendekatiku, tangannya memegang bahuku. Dia condongkan tubuhku sedikit ke depan, kakinya berjinjit dan dia mencium keningku, turun kedua mataku yang sudah pasti sembap karena aku menangis, dia beralih kedua pipiku, hidung dan berakhir di bibirku. Biasanya aku yang melakukannya. Baru kali ini dia yang melakukannya padaku.
Aku mengangkat kedua sisi bibirku hingga membebtuk senyuman.

"Kamu pakai kacamata ya? Untuk menutupi mata sembapmu. Kamu jangan cengeng ah! Malu sudah punya anak juga masih cengeng." Akhirnya dia berbicara banyak setelah kejadian kemaren sore.

Aku memeluknya dan mencium pucuk kepalanya.

"Maafin aku ya? Aku tidak ingin membuatmu kecewa. Aku terlalu takut membuatmu menangis dan kecewa karenaku."

"Sudahlah. Kamu sekarang harus kerja," ujarnya sambil melonggarkan pelukanku.

"Mom...," panggilku lirih.

"Hmmm," jawabnya hanya bergumam, tangannya sibuk merapikan penampilanku.

"Boleh nggak hari ini aku tidak masuk kerja?" tanyaku padanya sambil menunduk.

Aku sudah seperti anak SD saja yang takut masuk sekolah karena di-bully teman. Prilly tersenyum melihatku dan merapikan kerahku.

"Kerjalah Dad, pekerjaanmu banyak. Jangan melepas tanggung jawabmu."

Aku menghela napas kecewa. "Aku malu Mom, aku tidak mau Nadia berulah lagi semakin mempermalukanku," rajukku kepadanya agar dia berubah pikiran.

"Sudahlah Dad, hadapi saja. Aku percaya padamu."

Jawaban yang tidak aku inginkan. Bi Inah menghampiri kami. Dia sedang menggendong Zie.

"Non, ini Den Zie-nya." Bi Inah memberikan Zie kepada Prilly.

Aku mencium pucuk kepala Zie dan aku usap pipinya yang gembul.

"Hai jagoan Daddy." Tangannya menggapai untuk meminta gendong padaku.

Saat aku ingin menggendongnya, Prilly mengalihkannya ke tempat lain. Ada rasa kecewa dihatiku.

"Berangkatlah Dad, nanti kamu kesiangan," titahnya sambil membawa Zie masuk ke kamar. Aku dengan malas dan tidak bersemangat berangkat ke kantor.

***

Author POV

Seperti hari-hari biasanya, siang ini kuman itu kembali ke kantor Ali. Seperti biasa juga Ali tidak menutup pintu ruangannya. Ali kali ini berdiri dari duduknya.

"Mau apa lagi lo ke sini?" tanya Ali yang sudah terpancing emosinya.

Nadia menghampirinya dan memainkan kerah kemeja Ali dengan wajah menggoda. Dengan cepat Ali menepis kasar tangan Nadia.

"Beb, kenapa kamu tidak pernah mau melihatku? Apa aku kurang seksi, hm?" tanya Nadia jari telunjuknya membelai pipi Ali.

"Bagi gue, lo tidak beda dengan wanita jalang yang berusaha menggona suami orang. Di mata gue, lo nggak ada harga dirinya!!!" bentak Ali sudah geram sambil menunjuk wajah Nadia tajam.

Matanya yang sudah menyalang merah, rahangnya yang keras tidak membuat Nadia takut dan gentar.

"Apa karena wanita kecil itu yang membuat kamu tidak pernah melihatku? Kalau memang itu alasannya aku akan melakukan sesuatu untuknya agar dia melepaskanmu untukku."

"Cihhhh! Jangan mimpi lo! Sampai lo nyentuh sedikit pun keluarga gue apalagi istri gue, lo akan menyesal seumur hidup."

"Ancaman kamu tidak membuatku takut Beb, aku ingin segera memilikimu. Aku sangat mencintaimu!" ucap Nadia dengan suara mendesah dan dibuat manja.

Ali yang mendengar merasa mual ingin muntah dan semakin jijik melihat wanita di depannya itu. Jika itu yang mengucapkan Prilly sudah pasti seketika berahinya akan berontak untuk segera dilayani. Tapi saat dengan wanita itu kejantanannya tak sedikitpun bergerak. Sekalipun kemarin dia sudah sempat menggesekan pantatnya dipangkuannya, milik Ali tidak bergerak merasa seperti mati rasa.

Nadia dengan lancang mendorong Ali hingga tubuhnya terjatuh di sofa. Saat Nadia ingin menindihnya dengan cepat dia menghindar.

"Keluar lo wanita jalang!" bentak Ali hingga suaranya terdengar sampai luar.

Fani yang mendengar itu segera menghubungi Prilly yang sengaja sedari tadi menunggu di ruang Dimas.

Saat Ali berangkat bekerja, Prilly mengganti pakaiannya dan Zie sengaja ingin ke kantornya. Sebelum berangkat ke kantor, ia keluar untuk menyelesaikan urusannya dengan seseorang.

Fani langsung menelpon Prilly.

"Hallo Bu, Nadia berulah lagi." Telepon Fani terputus setelah berbicara singkat.

Prilly yang sedari tadi menunggu di ruangan Dimas bersama seseorang lelaki paruh baya langsung berdiri setelah mendapat kabar dari Fani. Amarahnya sudah tak bisa tertahan lagi. Matanya terlihat merah, rahangnya mengeras, urat dan nadi disekitar wajah cantiknya terlihat. Gina dan Dimas menatap ngeri dan takut pada Prilly.

"Gin, lo di sini jagain Zie!" ujar Prilly sebelum keluar dari ruangan Dimas.

Dengan langkah lebar dan pasti, Prilly berjalan ke ruangan suaminya. Diikuti Dimas dan lelaki paruh baya di belakangnya. Sesampainya di depan ruangan Ali, pintu yang terbuka lebar dan para karyawan dari luar dapat melihat jelas apa yang sedang big boss-nya lakukan. Saat melihat Prilly, mereka membubarkan diri dan kembali ke tempatnya masing-masing hanya dengan tatapan tajam Prilly, mereka semua menunduk dan terdiam. Fani melihat kedatangan Prilly, hanya menundukan kepalanya.

Sengaja Prilly menahan sesaat berdiri di depan pintu dan melihat suaminya dipaksa Nadia untuk menciumnya. Tubuh Ali dikunci Nadia dan dihimpit di antar tembok dan dada Nadia. Tangan Ali dicekal ke atas, ditekan ke tembok

"Lepasin gue wanita jalang!" teriak Ali sambil meronta dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri agar Nadia tidak dapat menciumnya.

"DASAR WANITA TIDAK PUNYA MALU!" teriak Ali lagi. Namun tidak dihiraukan Nadia.

Prilly yang melihat dari depan pintu dengan amarah yang sudah sampai diubun-ubun. Kedua tangannya sudah mengepal. Dadanya sudah naik turun dan keringat keluar dari sekujur tubuhnya. Badannya terasa panas. Oksigen disekitarnya terasa menipis membuat dia susah untuk bernapas. Dua lelaki beda generasi yang berdiri di belakangnya pun ikut geram dan emosi.

"CUKUPP!!!! HENTIKAN NADIA!!!!" teriak lelaki paruh baya itu.

###########

Waduh? Siapa dia? Hehehe
Nadia, ada ya cewek gila dan sangat terobsesi begitu. Wkwkkwkwkwk lol

Terima kasih untuk vote dan komentarnya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top