we're everything

Begitu aku memasuki rumah, Sergio sedang duduk di sofa tunggal di rumahku sambil bertopang dagu dan tatapan mata yang begitu menusuk. Seperti suami yang tengah memergoki istrinya selingkuh. Padahal hubungan kami cuma tetangga.

“Sergi, ngapain lo di sini? Gimana lo masuk?”

“Gue masuk lewat pintu depanlah. Kan, kuncinya kayak biasa, lo taruh di bawah pot.”

“Mau nganter paket?”

“Heem, kalo ditaruh di luar aja, takutnya nanti ilang.”

Aku tersenyum saat mendengar alasan Sergio. Karena halah, alasannya benar-benar cuma mengada-ngada. Biasanya kalau aku ada pekerjaan di luar kota, paket sampai numpuk di depan rumah selama seminggu juga tidak akan hilang.

“Oh yaudah, makasih.”

“Gimana kencan lo? Menyenangkan?” tanya Sergio dengan nada menyindir yang sangat kentara, membuat aku lagi-lagi mati-matian menahan tawa. Ternyata rencanaku sangat berjalan lancar dan lebih baik dari yang aku bayangkan. Membuat Sergio cemburu dan jatuh cinta itu tidak sulit. Karena pria itu memang bukan tipe gengsian yang malu menunjukkan kasih sayang atau rasa sukanya padaku.

Hanya saja, Sergio itu tipe yang terlalu santai. Bahkan dalam sebuah hubungan. Makanya, dulu ditikung oleh saudaranya sendiri.

Ditikung dua kali pasti rasanya tidak menyenangkan. Oleh karena itu, aku membuat rencana ini. Pura-pura dekat dengan Aji agar Sergio tidak lagi jalan di tempat.

“Ya, cukup menyenangkan. Gue sama Aji nonton, terus nonton konser band indie yang lagunya galau semua, kami ke bazar dan beli makanan, jalan-jalan di taman, lalu karaokean, dan foto gemas di photobox.”

Oke, tentu saja sisanya itu bohong. Tapi melihat ekspresi Sergio benar-benar membuat aku senang. Seolah pria itu benar-benar ingin meledak, tapi menahan dirinya mati-matian karena mungkin tiba-tiba otaknya memberi peringatan keras, kalau kenapa ia harus cemburu padahal kami tidak punya hubungan apa-apa.

HAHAHA MAMPUS KAN SERGI! MAKANYA GERAK CEPET MASNYA!

“Terus kayaknya minggu depan gue juga bakal pergi lagi deh sama Aji. Masa-masa pedekate memang menyenangkan ya? Rasanya kayak ada—”

Namun, ucapanku langsung berhenti saat Sergio mencapit bibirku dengan jari jempol dan telunjuknya, membuat bibirku maju seperti bebek.

“Gue nggak mau denger! Dan minggu depan, lo nggak pergi sama siapa-siapa!”

“Apaan sih Sergi? Ngapain juga lo ngelarang-ngelarang gue? Kita kan bukan siapa-siapa. Kita cuma tetang—”

Namun, lagi-lagi ucapanku berhenti karena kali ini, Sergio menubrukkan bibirnya ke bibirku. Lalu, menciumku  dengan buru-buru, sehingga aku harus mundur dua langkah karena ciuman pria itu benar-benar sangat menuntut dan dalam. Seolah ia ingin menyalurkan semua rasa frustrasi dan cemburunya di sana.

Untungnya, kini tangan Sergio melingkar di pinggangku, sehingga tubuhku yang oleng masih bisa berdiri.

Aku tersenyum di sela-sela ciuman Sergio, lalu melihat ke arah kamera kecil yang dipasang si stalker di rak buku yang ada di ruang tamu.

Aku menatap kamera itu sambil sesekali mengerang, karena ciuman Sergio rasanya begitu nikmat dan membuat melayang.

Lalu, aku menutup kedua mataku, mengalungkan kedua lenganku ke leher pria itu dan membalas ciuman Sergio sama menuntutnya. Sama frustrasinya dan sama menggilanya. Hingga udara di sekitar kami terasa begitu panas dan sensual.

Oh, God ... Memang cuma Sergio yang bisa membuat aku hilang akal.

Aku sesekali menjambak rambut belakang Sergio saat lidah pria itu menggoda lidahku, membuat semua area sensitif di tubuhku rasanya sakit.

Lalu, Sergio mengangkat tubuhku dan mendudukanku di atas piano. Dan posisi ini membuat ciuman kami semakin dalam. Oh, begitu nikmat, begitu sensual, dan membuat jantung seolah mau pecah!

Hingga akhirnya Sergio memutus tautan bibir kami saat dada kami mulai terasa sesak karena butuh asupan oksigen.

Sergio menempelkan keningnya di keningku. Lalu berkata, “Cuma tetangga nggak balas ciuman kayak tadi,” ujar Sergio seraya tersenyum mengejek.

Aku yang tak mau kalah pun, segera membalas ejekan pria itu. “Tapi lo yang nge-ghosting gue hampir seminggu. Jadi, lo yang memang ngasih kode kalau hubungan kita ini bukan apa-apa.”

“We're everything, Maya. Dan gue udah bilang, gue punya penjelasan super masuk akal kenapa gue ngilang selama seminggu. Dan tentu saja, gue nggak ada niat buat nge-ghosting lo sama sekali.”

“Dan nggak usah kencan lagi sama Aji entah minggu depan atau kapan pun. Karena gue nggak suka. Kencan sama gue aja Maya. Kita bisa nonton, jalan-jalan sambil gandengan tangan, ngambil foto di photobox sampai muak, atau beli baju couple-an norak kalau memang itu mau lo. Tapi lakuin semuanya cuma sama gue, ya? Please....”

Aku hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan Sergio, karena aku tidak tahu harus berkata apa dan dadaku mengembang penuh rasa bahagia.

Aku mengecup kening pria itu lama, membuat Sergio langsung memelukku dan menenggelamkan kepalanya di dadaku dengan manja.

“I miss you, tetangga. Seharusnya hari ini kita cuddle kayak gini sampai puas, tapi lo malah jalan kencan sama cowok lain. Benar-benar bikin kesel aja!”

“Ngaca dong! Kan lo yang bikin kesel duluan!”

“Malam ini nginep di rumah gue, ya? Biar gue jelasin semuanya. Please, stay with me, baby....”

“Okay, tapi sebelum itu, ada rahasia yang pengin gue kasih tahu ke lo....”

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top