big bear

"Katanya lo sempet ribut sama Maya ya pas awal-awal pindah? Kalo dia nyebelin, tolong maklumin aja, oke? Anaknya memang begitu, and I know she's the problem."

Aku langsung berkacak pinggang saat mendengar ucapan Mas Raja yang kini tengah duduk santai di teras rumahku sambil ngopi dan makan cookies yang seharusnya aku berikan pada Sergio sebagai ucapan selamat datang.

Mas Raja memang selalu seperti jelangkung. Datang tak diudang, pulang minta diusir. Seenak jidat ia bakal mampir dan menginap, lalu berantakin tempat tinggalku seenaknya.

Hari ini Kakakku itu juga datang tanpa pemberitahuan. Tiba-tiba ia sudah di rumahku saja dan tengah mengobrol akrab dengan Sergio. Dan yups, seperti yang kalian dengar; ia juga baru saja menjelek-jelekan aku di depan Sergio!

"Ck, kayaknya aku harus panggil polisi karena tiba-tiba ada tamu nggak diundang yang nerobos rumah saat yang punya rumah nggak ada!"

Mas Raja mengapit leherku di keteknya. Yang tentu saja membuatku langsung memberontak dengan brutal. "Bau asem! Ah, minggir!"

"Aku udah kirim pesan tapi nggak kamu  bales bocil! Lagian abis dari mana sih sampai sok sibuk segala? Jomblo ngenes kayak kamu nggak bakal kencan, kan? Biar Mas tebak, pasti kamu habis jalan-jalan sendirian dengan menyedihkan!"

"Dih, sok tahu! Aku emang abis kencan kok sama Yura!"

Dan skakmat, karena kalau ada satu hal yang bisa membuat Mas Raja tiba-tiba nge-blank atau kehilangan pikirannya, sudah pasti 'Yura'. Satu kata yang selalu bisa membuat Mas Raja mati kutu dan tiba-tiba berubah jadi manusia paling goblok sedunia.

Mas Raja sudah menyukai Yura sejak lama. Hanya saja aku nggak tahu kenapa Kakakku itu memilih menyimpan semuanya sendirian. Aku tahu ia punya alasan, dan sudah kebisaan kami nggak mengganggu privasi masing-masing kalau kami memang sengaja menyimpannya. Bahkan, di hubungan persaudaraan pun ada batas-batas yang nggak seharusnya dilalui. Kita semua berhak punya privasi dan ruang pribadi masing-masing. Makanya, aku nggak bakal memaksa kakakku itu cerita kalau memang ia belum mau cerita.

"Biar gue tebak. Lo pasti jadi obat nyamuk antara Yura dan Barga," ujar Mas Raja mengejek. Tapi tak bisa menutupi rasa sakit yang berkelibat di matanya.

Aku pun langsung memeluk Kakakku itu. Memeluknya erat bermaksud untuk memberi kekuatan. Karena apapun ketakutan yang menyelimutinya, aku harap ia bisa segera berdamai dengan itu semua.

"I miss you big bear. Dan janji deh, aku kali ini nggak bakal laporin Mas Raja ke polisi. Aku nggak sejahat itu bikin Mas ngerasain jeruji besi untuk yang kedua kalinya."

"Terus deh! Ungkit aja terus! Dari adik sialan!" serunya yang sontak membuatku tertawa ngakak.

***

Saat ini aku tengah duduk di bangku santai di samping kolam ikan halaman belakang rumah Sergio sambil melihat Mas Raja dan Yura yang tengah tanding tenis. Halaman belakang rumah pria itu bakal menjadi tempat nongkrong baru favoritku, jadi dengan senang hati setiap ada waktu luang aku bakal ke sini.

Awalnya di halaman belakang rumah itu ada kolam renang outdoor yang sangat luas, tapi pria itu mengubahnya menjadi lapangan tenis yang di sampingnya ada kolam ikan, gazebo, dan pinggirannya ditumbuhi rumput Jepang. Sehingga duduk langsung di bawah pun nggak masalah.

Aku dan Sergio duduk di gazebo dengan berbagai camilan yang kebanyakan adalah cookies yang aku buat. Sedangkan Yura dan Mas Raja masih bermain tenis dengan semangat sambil sesekali bercanda dan tertawa.

"Jadi, cookies ini tadinya mau buat gue?" tanya Sergio seraya memasukkan satu cookies cokelat ke mulutnya. Pria itu tampak sangat menikmati kue kering buatanku itu, hingga ia tak segan untuk terus memakannya lagi dan lagi.

"Heem, niatnya begitu. Di hari pertama lo pindah gue bakal ngetuk rumah lo, kenalan dengan nyaman setelah itu bisa jadi teman, dan gue bawain cookies andalan gue terus kita bisa sahabatan. Tapi ternyata lo malah ngajakin ribut! Lo beneran menyebalkan!"

Sergio tertawa saat mendengar ucapanku. "Dan lo sensitifnya ampun-ampunan. Padahal kalau sejak awal kita bicarain dengan baik, kita nggak perlu ribut. Tapi saat gue baru mau bahas, lo selalu ngajak ribut dan debat. Tapi, tenang aja, gue dapat sambutan selamat datang paling memorable yang pernah ada. Milkshake strawberry, all over my face!"

Kali ini aku yang tertawa. "Milkshake strawberry adalah minuman favorit gue. Jadi, memang pilihan yang tepat buat nyambut tetangga baru. So, sekarang udah ikhlasin halaman samping."

"Belum, tapi memang lagi nggak banyak mikirin soal taman. Akhir-akhir ini, ada seseorang yang selalu muncul di kepala gue dan jadi distraksi," ujarnya sambil melihat ke mataku. Membuatku juga menatap ke matanya. Menyedot pandangannya agar tidak melihat ke arah lain, dan hanya terpaku padaku saja.

"Who?" tanyaku sambil menggigit bibir bawahku sensual. Membuat napas Sergio memburu.

"You."

Hasrat itu melayang-layang di udara, begitu menyesakkan dan membuat gila. Dan aku percaya, bukan hanya aku yang memikirkan soal ciuman di dalam pikiran. Pria itu juga sama. Hanya saja, kali ini aku tidak akan jadi pihak yang maju lebih dulu.

Hubungan tanpa komitmen bukanlah hal yang bisa aku tanggung. Dan pengalaman masa lalu mengajarkanku untuk nggak jatuh ke lubang yang sama dua kali.

Aku akan membiarkan Sergio yang memutuskan, bagaimana ia akan memadamkan gelora yang mengalir dari ujung kaki sampai kepala.

Guys, yang mau baca duluan boleh ke Karyakarsa, ya! Di sana udah tamat!

Karyakarsa : Isarsta

Sa,
Xoxo.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top