a package

Sesampainya di Jakarta, kesibukan langsung membuntutiku tanpa ampun. Sehingga setelah liburan minggu lalu, aku belum bertemu dengan Sergio lagi. Aku hanya pulang ke rumah sekali pada Senin malam untuk mengambil pakaian. Setelah itu aku kebanyakan menghabiskan waktu di kantor dan memakai seragam bridesmaids dari pagi sampai sore. Malamnya aku hanya bakal tidur dengan bra dan underwear sekitar pukul sebelas malam lalu harus bangun lagi jam tiga pagi untuk dandan dan mengecek kembali semua tetek bengek pesta pernikahan, agar pernikahan klienku berjalan dengan lancar.

Selama empat hari ini hidupku berjalan monoton seperti itu. Dan untungnya ini adalah pernikahan terakhir yang aku urus minggu ini, sehingga besok aku bisa pulang ke rumah, dan aku bersumpah hal pertama yang bakal aku lakukan adalah tidur sepuasnya.

Aku meminum kopi tanpa gula yang lagi-lagi memaksa mataku untuk melek pukul tiga pagi. Setelah mandi aku langsung datang ke rumah klienku untuk memastikan tidak ada apapun yang kurang, dan nanti siang pernikahan klienku ini berjalan dengan lancar.

Sekarang masih pukul tiga pagi, tapi orang-orang sudah bangun dan sibuk mondar-mandir sana sini. Khususnya keluarga yang punya hajat.

Aku kembali menghitung kursi, memastikan jumlah souvenir pas, bunga-bunga tertata sesuai dekorasi, dan alat makan tertata dengan rapi. Pokoknya semua harus sempurna, oleh karena itu aku selalu double check sendiri untuk segalanya. Aku harus memastikan dengan tangan dan mataku sendiri kalau semua persiapan pesta berjalan dengan sempurna. Tanpa cacat atau kesalahan sedikitpun.

“Kenapa, Sil?” tanyaku pada Silvia yang baru saja menghampiriku dengan ekspresi panik yang sangat kentara.

Salah satu karyawanku itu membenarkan kacamatanya lalu menatapku cemas. “Duh, Mbak gue dapat info kalo tim make up bridesmaids ditabrak pengemudi mabok pas ke sini. Jadi, mereka sekarang ada di rumah sakit dan nggak bisa ke sini.”

“Tapi mereka nggak papa, kan? Nggak ada yang luka parah?”

“Nggak ada sih. Cuma pada luka ringan dan syok aja. Tapi jadinya kita kekurangan orang buat make up. Gue udah nyoba ngehubungin tim make up lainnya, tapi rata-rata pada nolak karena dadakan dan yups sekarang baru jam tiga pagi.”

Make up pengantin aman kan?”

“Aman sih. Ini lagi dikerjain. Tapi kalo bridesmaids juga nunggu pengantin selesai, kayaknya acaranya bakal ngaret deh nanti.”

“Oke, kalau cuma make up gue bisa bantu. Lo coba hubungin Mira buat mantau keadaan tim make up di rumah sakit. Pastiin semua baik-baik aja dan kalo ada info apa-apa langsung hubungin gue ya, Sil?”

“Oke, Mbak! Kalo gitu gue ke Mira dulu, ya!”

Setelah itu Silvia berjalan kembali masuk ke rumah seraya menelepon seseorang. Aku menghela napas panjang, lalu dengan langkah pasti juga berjalan ke dalam rumah.

***

Dengan fokus aku mengusapkan kuas dengan blush on berwarna merah muda pada pipi salah satu bridesmaids. Lalu aku tersenyum puas saat melihat hasil akhir dari hasil make up-ku.

Setelah itu aku mengusapkan lipstik berwarna merah muda yang diombre dengan warna merah di bibir salah satu bridesmaids yang aku dandani. Dan untuk sentuhan akhir aku memastikan bulu mata palsu yang tadi aku pasang sudah terpasang sempurna.

“Selesai,” ujarku seraya meletakkan peralatan make up ke tempatnya semula.

“Wow, kamu memang bisa semuanya ya, May. Nggak heran klien kamu banyak banget. Apapun di tangan kamu pasti beres!” puji Mbak Raya yang juga tengah mendandani bridesmaids yang lain. Seharusnya ia hanya mendandani pengantin saja. Namun, karena kecelakaan yang dialami tim make up jadinya aku meminta tolong Mbak Raya untuk merias para pengiring pengantin juga. Untungnya ia tidak ada kerjaan lain hari ini, sehingga ia langsung mengiakan permintaanku.

Hah, dan untungnya lagi aku juga mengambil kelas make up beberapa bulan lalu. Sehingga kalau ada situasi darurat seperti saat ini, aku bisa turun tangan untuk membantu. Putus dengan Leo benar-benar membuatku jadi produktif. Kelas make up, gym, kelas memasak, kelas baking, dan gardening yang tadinya cuma wacana dan selalu aku singkirkan di to do list terakhir karena alasan sibuk—kini sudah aku lakukan semuanya. Sehingga setelah putus skill dan pengetahuanku juga bertambah. Jadi, mungkin memang benar, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.

Kadang kita memang harus jatuh terpuruk dulu, sebelum akhirnya bisa bangkit dan menata kembali hidup kita.

“Makasih, Mbak Ray! Tapi rambutnya tolong Mbak yang bikin, ya? Kalo nata rambut aku belum jago.”

Mbak Raya mengangkat jari jempolnya. “Siap bos!”

Lalu kami kembali fokus dengan tugas masing-masing. Tubuhku rasanya lelah dan remuk. Namun, apapun yang terjadi, aku bakal memastikan pernikahan ini berjalan dengan lancar dan sempurna. Bahkan, jika aku harus jadi penghulunya sendiri.

***

Sesampainya di rumah aku langsung mandi. Lalu langsung merebahkan diri di kasur karena tubuhku rasanya capek luar biasa.

Aku mengecek ponsel, membalas beberapa email dan pesan yang masuk, lalu tersenyum lebar saat klienku hari ini memposting foto kebahagiaannya sambil menandaiku akunku dan akun instagram Dreams.

Lagi-lagi pesta pernikahan yang aku rencanakan berjalan dengan lancar dan sempurna. Tubuhku memang lelah, tapi semua rasa lelah itu terbayar saat melihat senyuman dan kebahagiaan para klienku.

Niatnya aku ingin langsung tidur, tapi sebuah paket yang dikirim ke rumahku tadi pagi membuatku penasaran setengah mati. Aku tidak tahu siapa yang mengirim paket ini, tapi siapapun ia, pastilah ini salah kirim.

Hal itu membuatku tersenyum lebar, karena tandanya aku bisa bertemu Sergio besok pagi dengan alasan ini.

Ah, aku merindukan pria itu.

Hal ini benar-benar membuat gila, Sergio begitu dekat, tapi tetap tidak bisa aku genggam erat-erat.

Guys, yang mau baca duluan silahkan ke Karyakarsa, ya!

Di sana chapter-nya udah banyak!

Karyakarsa : Isarsta

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top