FIRASAT

Di ruang yang sempit, Ily sibuk, sedang bergulat dengan tepung dan berbagai macam bahan lainnya. Usia kandungan yang memasuki bulan kelima membuat dia harus lebih hati-hati dan tidak terlalu lelah bekerja.

"Ily," panggil seseorang dari luar.

"Iya, Bun," sahut Ily yang sudah hafal dengan suara itu.

Ily berdiri lalu keluar melihat Neneng sudah di depan pintu.

"Masuk, Bun, maaf ruangannya sempit dan masih berantakan," ucap Ily tak enak hati mempersilakan masuk Neneng.

"Tidak apa-apa, sudah sampai mana bikin kuenya?" tanya Neneng yang kini duduk di lantai mengambil alih mixer Ily.

"Ini baru mau mixer gula sama telurnya, Bun," jawab Ily mengangkat oven ke kompor.

"Bunda bantu, ya?" ujar Neneng melanjutkan me-mixer adonan.

Dengan sabar dan telaten, Neneng menjelaskan dan mengajari langkah-langkah memasukan bahan. Ily sangat serius memerhatikan dan melihat step demi step Neneng masukan bahan kue.

Di kapal, Al yang sedari tadi tidak tenang memikirkan sesuatu, dia duduk di kursi. Al memijat pelipisnya pelan.

"Mas Al, kenapa? Sakit?" tanya salah satu anak buah Al yang hari itu jaga bersamanya.

"Eh, enggak, Pri, cuma sedikit pusing, mungkin karena ombak lagi besar ini kali," elak Al sedikit gugup.

Nada SMS masuk dari HP sederhana Al. Dengan perasaan gelisah, Al membukanya.

Al, nanti malam aku tunggu kamu di club biasa.

Isi pesan itu membuat Al bimbang dan bingung.

Oke, gue tengah malam datang.

Jawab Al membalas pesan singkat itu. Al membasahi bibirnya dengan lidah dan mengacak rambut frustrasi.

"Supri, nanti malam saya mau turun, mungkin besok pagi baru naik lagi dari Gilimanuk. Kalau istri saya menanyakan keberadaan saya kepada kamu, bilang saja saya tidur atau sedang sibuk jaga," pesan Al yang mulai berbohong dengan Ily.

"Iya, Mas," jawab Supri.

Malam pun tiba, Al turun dari kapal saat sandar di pelabuhan Gilimanuk. Dia menyewa motor, Al melajukan motor itu ke kelab malam yang sudah dia janjikan tadi. Sesampainya di depan kelab, perasaannya ragu, tetapi akhirnya dia melangkah ke tempat yang sudah beberapa bulan tidak dia jamah. Al menyapu pandangannya sampai di dalam kelab. Seorang wanita cantik dengan pakaian terbuka dan sangat mini menghampirinya. Wanita itu langsung menyambut Al dan mencium kedua sisi pipinya.

"Lysa, tolong jaga sikap lo, gue udah menikah dan bini gue di rumah sedang hamil," jelas Al meninggikan suaranya yang beradu dengan kerasnya musik.

"Masa bodoh dengan istri sialan lo itu. Malam ini lo milik gue, Al," jawab Lysa dengan suara menggoda.

"Lo mau apa nyuruh gue datang ke sini, hah? Melihat lo menari dengan pakaian minim itu? Gue enggak akan pernah tergoda." Al melihat penampilan Lysa dari atas hingga bawah. Al melihat belahan dada Lysa yang rendah, hingga buah dadanya sedikit menyembul ke atas dan paha mulusnya terekspose.

"Apa karena wanita sialan itu, lo jadi cuekin gue, Al?" ujar Lysa yang mulai meraba dada bidang Al. Dengan kasar Al menepiknya.

"Tutup mulut lo! Dia istri sah gue dan lo siapa berani menghina dia, hah?" sentak Al dengan mata tajam yang melotot pada Lysa.

"Gue kekasih gelap lo!" jawab Lysa santai membuat emosi Al meninggi.

"Jangan harap lo bisa hancurin kebahagiaan rumah tangga gue. Lo bukan siapa-siapa gue. Lebih baik lo jahuin gue!" tegas Al menahan emosinya.

"Jangan munafik! Lo butuh gue, Al. Gue tahu istri lo enggak bisa melayani lo dengan baik saat ini," sahut Lysa semakin menjadi, membuat Al jengah dan berniat meninggalkan kelab itu.

"Selangkah lo keluar dari sini, gue akan datang ke istri lo dan membongkar semuanya, jika lo dan gue pernah melakukan hubungan badan," ancaman Lysa membuat Al menghentikan langkahnya.

Flashback

Dengan pikiran kalut dan bingung, Al pergi ke kelab malam. Al frustrasi setiap datang ke tempat Ily selalu diusir kedua orang tuanya. Pikiran Al buntu, hingga di sinilah dia sekarang. kelab malam bersama teman-temannya. Lysa duduk di sebelah Al, menemaninya minum. Sedangkan yang lain pulang terlebih dulu.

"Gue sangat mencintainya. Apa pun gue akan lakukan agar dia biasa jadi milik gue!" rancau Al di tengah mabuknya.

Lysa yang sedari dulu diam-diam mencintai Al, tetapi Al selalu tak mengacuhkannya dan tidak memandang dia ada. Dengan situasi ini, Lysa memiliki kesempatan dan peluang besar agar bisa bersama Al. Dengan seringaian licik, Lysa meminta bantuan seorang penjaga untuk membawa Al ke mobilnya. Lysa membawa Al ke hotel, Al tidak menyadari siapa orang yang sudah membawanya dan di mana dia dibawa. Dalam pikirannya hanya ada Ily, Ily, dan Ily. Lysa membawa masuk Al ke kamar dan menidurkannya di ranjang. Dengan mata sayu, Al melihat wajah Lysa seolah itu wajah Ily. Al tersenyum membelai wajah Lysa lembut.

"Aku merindukanmu, Sayang," ucap Al lalu melihat bibir Lysa.

Tanpa menolak, Lysa membalas ciuman itu hingga menjadi ciuman yang panas.

Tak butuh waktu lama mereka sudah melucuti pakaiannya. Al bercinta dengan Lysa karena dia pikir itu Ily. Tanpa penerangan lampu, Al dan Lysa bergulat hingga Lysa dapat memuaskan Al malam itu tanpa Al sadari jika itu adalah Lysa.

Flashback off

"Tutup mulut lo! Itu hanya perbuatan bodoh lo karena memanfaatkan situasi dan keadaan gue yang sedang mabok berat!" sentak Al menunjuk wajah Lysa.

"Tapi kita sudah merasakannya bersama, Al. Gue merindukan milik lo," pinta Lysa gamblang tanpa ada rasa malu kepada Al.

"Milik gue hanya untuk istri gue dan perbuatan itu tidak pernah gue anggap! Gue hanya melakukan itu dengan Ily!" tegas Al membuat Lysa tersenyum miring.

"Oke, kalau begitu, besok gue akan datangi istri lo dan bilang semuanya," ancam Lysa membuat Al berpikir keras.

"Mau lo apa sekarang? Jangan meminta gue tidur sama lo, itu enggak akan pernah gue lakukan lagi," jawab Al pasrah demi menjaga perasaan Ily dan keutuhan rumah tangganya.

"Lo harus temani gue setiap malam dan lo harus jadi DJ di kelab ini," jawab Lysa santai.

"Gue enggak bisa kalau setiap malam. Nanti Ily bisa curiga, gue hanya bisa jika sedang bekerja, itu saja gue curi waktu seperti saat ini," jawab Al yang kini pasrah dengan permintaan konyol Lysa.

"Oke, Lovely, gue ikutin jadwal lo dan sekarang lo naik dan ambil alih DJ itu," jawab Lysa menunjuk DJ yang sedang beraksi.

Dengan perasaan bersalah karena sudah membohongi Ily dan rasa takut karena ancaman Lysa, Al naik dan mengambil alih permainan DJ itu. Lysa memanfaatkan Al agar bisa mengurangi pengeluaran menyewa DJ untuk meramaikan kelabnya itu.

***

Malam ini Ily tidak bisa tidur, pikirannya tidak tenang, dan selalu tertuju kepada Al, akhirnya dia mengambil air wudu dan salat malam.

"Ya Allah, lindungi suami hamba yang sedang mencari nafkah untuk keluarga kami. Jauhkan dia dari hal yang merugikan, tuntunlah dia kembali ke jalan-Mu jika dia tersesat. Ya Allah, hamba mohon kepada-Mu. Rombana atina fidunya khasanah wafilakhiroti khasanata wakina adhabanar."

Doa Ily tengah malam dengan linangan air mata dan ketulusan hatinya. Salah satu doa yang diijabahi Allah, selain doa ibu, doa istri sangat berpengaruh besar untuk suami yang sedang mencari nafkah di luar rumah.

Selesai salat, Ily meraih HP dan menghubungi salah satu anak buah Al yang saat ini sedang berjaga. Ily mencari nomor Supri, setahunya dia berjaga hari ini bersama Al. Setelah menunggu, akhirnya panggilan terjawab juga.

"Halo, Mas Supri," sapa Ily masih mengenakan mukena.

Dari tadi Supri ragu menjawab telepon Ily, dia gemetar dan dengan gugup akhirnya menjawab, "Iya, Mbak, ini saya."

"Apa Mas Al baik-baik saja?" tanya Ily dengan perasaan khawatir.

"Mmmmm ... anu Mbak, Mas Al lagi istirahat, tidur," jawab Supri ragu dan takut.

"Oh, ya sudah, terima kasih," ucap Ily kurang yakin dengan jawaban Supri tadi.

Namun, pikiran negatif itu cepat Ily tampik, dia ganti dengan berpikir hal-hal yang positif. Ily melepas mukenanya lalu merebahkan tubuhnya kembali di kasur dan mencoba memejamkan mata yang sudah mulai mengantuk.

***

Paginya, Ily bangun dan menata kue yang kemarin sudah dibuat bersama Neneng. Pukul lima, setelah salat Subuh, dia harus pergi ke pasar menitipkan kue-kue buatannya ke pedagang yang menjual snack dan makanan ringan.

"Bismillah, semoga laris. Ya Allah, berkahi niat baikku ini untuk membantu suami hamba mencari nafkah." Ily berdoa saat di ambang pintu, ingin keluar dari kamar kos.

Dia mengunci kamar lalu berjalan membawa tas belanjaan yang sudah tertata kue-kue. Dengan langkah mantap dan yakin, dia berangkat ke pasar. Sesampainya di pasar, Ily membagi kue-kuenya, dititipkan dari tempat satu ke tempat lainnya. Keramahan Ily membuat banyak orang mengenalnya dan tidak segan untuk membantu.

"Neng Ily, sudah ke pasar pagi buta begini?" sapa Itha saat melihat Ily masuk ke kiosnya.

"Iya, Tante, soalnya mau nitip kue yang kemarin saya buat sama Bunda Neneng," jawab Ily ramah.

"Sekarang mau belanja apa?" tanya Itha yang sudah siap melayani Ily.

"Saya masih bingung, Tante, mau masak apa," jawab Ily sambil melihat-lihat bahan pokok yang harganya sudah naik semua.

"Loh, Ily sudah sampai di sini?" tanya Neneng yang baru saja datang.

"Eh, Bunda. Iya, soalnya ngantar kue yang kemarin kita buat untuk dititipkan itu," jawab Ily tersenyum manis.

"Sekarang kamu mau belanja apa?" tanya Neneng mengambil minyak goreng ukuran sedang.

"Aku masih bingung, Bun, semua harga naik, Al berpesan, belanja yang cukup dengan uang yang ada. Padahal aku cuma bisa masak itu-itu saja. Pengin masak yang berbeda, tapi apa yang mudah ya, Bun?" jelas Ily membuat Itha dan Neneng merasa iba dan prihatin dengan kondisi Ily.

"Kalau masak soto gimana? Itu bahannya irit, paling cuma ayamnya saja yang mahal," celetuk Itha memberi saran.

"Nah, betul itu kata Itha. Nanti soal bumbu, Bunda ajari kamu. Gimana?" tanya Neneng langsung dijawab anggukan Ily.

"Tapi aku enggak tahu bahan membuatnya, Bun, Tan," sahut Ily sedih.

"Belanja bareng Bunda, nanti Bunda kasih tunjuk bahannya, ya?" tukas Neneng sambil memegang bahu Ily.

"Iya deh, Bun, terima kasih," ucap Ily akhirnya Itha dan Neneng tersenyum manis.

"Sekarang kamu mau beli apa dulu, nanti dititpin di sini, setelah belanja, kamu ambil," tanya Itha.

"Bahan kue seperti kemarin, Tan, sama minyak goreng yang ukuran kecil saja, ya?" jawab Ily diangguki Itha.

"Jeng, ini belanjaanku dihitung dulu," ujar Neneng majukan minyak goreng dan terigu ke arah Itha.

Itha menghitungnya, setelah selesai bertransaksi, Neneng mengajak Ily berbelanja. Semua bahan yang diperlukan didapat, Ily dan Neneng pulang untuk memasak bahan yang sudah mereka beli tadi. Neneng mengajari Ily membuat bumbu soto dan menjelaskan langkahnya, setelah Ily paham, Neneng kembali masuk ke rumah untuk melanjutkan memasaknya.

Selesai memasak, Ily membereskan peralatan dapurnya dan mengepel lantai agar bersih, jika Al nanti pulang tinggal makan. Semua sudah siap, tinggal menunggu Al pulang. Ily melihat jam dinding sudah menunjukan pukul sepuluh pagi.

"Kenapa sampai jam segini dia belum pulang?" Ily meraih HP-nya yang berada di meja sebelah televisi.

Ily menelepon Al berulang kali. Namun, tidak ada jawaban. Perasaan Ily semakin tidak tenang dan angan-angan negatif menghampirinya. Ily memegang dadanya, entah mengapa tiba-tiba air mata meleleh keluar tanpa tahu alasannya. Ily merebahkan tubuhnya di lantai hanya beralaskan tikar. Dia menangis tanpa sebeb sambil memegangi perutnya. Bayangan orang tua menari di pikirannya. Penyesalan menghampiri. Dia merasakan lelah dan letih di jiwa dan raganya.

"Maafkan Ily, Mom, Dad, belum bisa menjadi anak yang baik dan tidak dapat kalian bangenggakan. Ily merindukan kalian," ucap Ily lirih lalu dia memejamkan matanya dan tertidur karena merasa lelah.

##########

Ily, biarpun usiamu masih remaja, tapi pikiranmu dewasa. Terima kasih vote dan komentarnya.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top