Natalia
Senyum Natalia seketika memudar. Mata Natalia terarah lurus pada dua koper yang ada di depan pintu. Teras depan rumah menjadi saksi bisu saat kedua orang tuanya memutuskan meninggalkan Natalia dari kehidupan yang dulunya bahagia.
Sekilas, Natalia melihat sang mama menyeka sudut mata, saat papanya mengatakan sesuatu. Entah apa. Namun dari samar-samar suara pelan di luar sana, Natalia bisa mendengar beberapa kali namanya disebutkan. Baik itu dari bibir sang mama, ataupun papanya.
Papa memeluk Mama dari samping. Menepuk singkat bahu Mama, seolah tengah menguatkan. Namun dari sudut pandang Natalia, pelukan itu tidak lagi diselimuti kehangatan. Tatapan cinta yang dulu Natalia lihat di mata kedua orang tuanya, perlahan-lahan mulai menghilang.
Natalia menangis dalam hati. Tanpa suara. Tanpa air mata.
Masih di posisi berdirinya saat ini, Natalia termangu. Sama sekali tidak menolak atau menerima saat Papa mendekat dan memeluk Natalia erat. Berkali-kali mengucapkan kata maaf dan terima kasih yang menurut Natalia sama sekali tidak perlu. Bahkan kecupan singkat di puncak kepala Natalia, terasa bagaikan hembusan angin.
Sang papa memilih pergi. Meninggalkan Natalia dengan sang mama di rumah yang sudah bertahun-tahun mereka tempati. Palu pengadilan telah terketuk tiga kali. Sebuah putusan dari hakim membuat kedua orang tua Natalia resmi berpisah.
Atas keputusan dan perundingan selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, Papa memberikan rumah tersebut kepada Mama. Sedangkan Papa akan tinggal di tempat lain. Entah di mana. Natalia tidak tahu dan tidak berniat mencari tahu atau menanyakan pada papanya.
Detik berjalan melambat. Hanya deru mesin mobil yang lambat laun menjauh yang bisa Natalia dengar. Sebuah pertanda bahwa tidak ada lagi sosok laki-laki yang akan menjadi kepala keluarga di rumah ini. Tanggung jawab itu kini sepenuhnya beralih ke Mama. Begitu pula dengan hak asuh atas Natalia.
Setelah kepergian Papa, Mama lantas masuk ke dalam. Memeluk Natalia erat sambil menangis sesengukan. Natalia masih membisu. Masih berada di garis tipis antara khayalan dan mimpi.
Natalia masih bertanya-tanya pada alam bawah sadarnya. Benarkah ini terjadi? Apa ini semua adalah kenyataan yang memang harus Natalia lalui? Apa semua ini benar-benar terjadi? Bukankan ini semua hanya mimpi dan yang perlu Natalia lakukan adalah segera bangun?
"Kenapa Mama menangis? Padahal ini semua adalah keputusan kalian berdua?"
Ingin sekali Natalia bertanya demikian. Namun lidah Natalia benar-benar kelu.
Sebelum Natalia sepenuhnya tersadar dan mengungkapkan isi kepalanya, Mama memgurai pelukan mereka. Tanpa sepatah kata pun, Mama berlalu dan meninggalkan Natalia sendiri. Benar-benar sendirian hingga Natalia bisa merasakan dinginnya angin malam dari celah daun pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
Susah payah Natalia menyeret langkahnya menjauh. Masuk ke kamarnya dan meraih pintu lemari. Natalia terdiam sejenak. Menimbang pemikiran yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Sebelum Natalia berubah pikiran lagi, gadis itu langsung meraih koper di dasar lemari. Mengambil secara acak pakaian yang ada di lemari. Menjejalkannya ke dalam koper secara kasar. Tidak lupa pula Natalia membawa perintilan lain yang sekiranya dibutuhkan.
Tergesa, Natalia keluar dari kamarnya. Seolah dirasuki oleh sesuatu, tatapan Natalia tertuju lurus pada pintu depan. Menyeret kopernya hingga akhirnya berhasil melewati daun pintu tersebut.
Natalia terdiam. Menatap langit malam yang begitu kelam.
Namun keputusan yang Natalia ambil sudah bulat. Tanpa menoleh, Natalia menyeret kopernya menjauhi rumah. Entah akan ke mana kakinya akan melangkah, satu hal yang Natalia tahu, ia akan pergi dari tempat yang menyesakkan dadanya ini.
***
Tidak terasa, sudah bulan November, ya. Udah mau akhir tahun juga. Karena sudah akhir tahun, maka bulan depan adalah episode atau bab terakhir dari Pause.
Aku sangat senang jika ada yang membaca cerita ini. Tidak hanya cerita ini, tapi juga semua cerita-ceritaku.
Aku masih banyak kekurangan. Karena itu, aku akan terus belajar agar karyaku bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Juga, semoga aku bisa segera menyelesaikan karya yang sudah aku mulai.
Sampai jumpa lagi bulan depan. Aku harap kalian menyukai cerita ini.
Xoxo
Winda Zizty
30 November 2023
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top