⌛Epilog⌛

Diruang hampa yang putih nan bercahaya, seorang manusia yang  baru saja pergi meninggalkan dunia dengan cara yang kurang baik terduduk di kursi kayu, tepat di tengah-tengah ruangan.

Dia tertunduk lesu, seakan pasrah dengan hukuman yang akan dia jalani nantinya. Tidak hanya sendiri, selain dirinya ternyata ada pria lain yang kehadirannya tampak sangat asing di mata pria tersebut.

Ya, yang dia lihat adalah seorang utusan dewa yang biasanya di panggil dengan sebutan Doryeong-nim, sedangkan yang terduduk pilu ialah pangeran Jisoo yang telah menghembuskan napas terakhirnya dengan cara menenggak racun.

"Kau menyesali perbuatanmu?"

"Tentu saja, tidak ada seorangpun yang tidak menyesal jika melakukan kesalahan sebagaimana yang aku lakukan. Kekayaan, tahta, derajat, bahkan wanita, mereka mampu membutakan mataku, juga ibu dan saudaraku."

"Hal wajar, mengingat sifat manusia memang tamak dan serakah. Padahal Tuhan sudah menurunkan semua yang di butuhkan sesuai porsi, dan adil, tetapi begitulah manusia, kalian memang tidak pernah puas, dan malah menghalalkan segala cara demi mencapai apa yang kalian inginkan. Sungguh dosa yang teramat besar."

"Apa setelah ini aku akan langsung dikirim ke neraka?"

"Tentu saja tidak, kau masih di berikan kesempatan untuk melakukan penebusan dosa."

"Bernarkah?"

"Tentu saja."

Kemudian pria itu tersenyum, membuka tangannya dan dari sana keluar jam pasir yang butirnya sedang mengisi ke ruangan kosong di bawah, Jisoo memperhatikan jam tersebut dengan tatapan bingung, namun seketika mengangguk seakan mengerti maksud dari si pria.

...

'Apa alam semesta hanya memiliki satu dunia? Tidak, Karena ketika satu pintu mulai tertutup, maka akan ada pintu lain yang terbuka.'

⌛⏳⌛
.
.

Finished

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top