©6. Selection ⏳
Tik ... Tik ... Tik ...
Segala aktivitas yang sempat terhenti, kini mulai tergerak kembali seperti semula, seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi.
Walau sempat bermenit-menit lamanya terhenti, rasanya seperti tidak ada satupun detik yang terlewati.
Semuanya masih sama, begitupun dengan tatapan Seokmin yang masih terpana, terpesona untuk yang kesekian juta kalinya akan kecantikan nona Ji Eun yang baru saja melewati mereka.
"Yeppeuda {1}," gumam Seokmin pelan, namun masih dapat didengarkan oleh Mingyu.
"Siapa?"
"Nona Ji Eun," sahutnya polos sembari menatap penuh puja kepada rombongan pasukan kerajaan yang telah berjalan jauh di depan sana.
"Harusnya aku tidak bertanya," Mingyu merotasikan matanya, kemudian berjalan mendahului Seokmin. Entahlah, dia hanya lelah saja melihat Seokmin selalu menyanjung wanita sombong itu.
...
Srek~
Bunyi gesekan pintu lemari terbuka, menampilkan berbagai pernak-pernik khas kerajaan. Yang paling menarik perhatian adalah deretan Hanbok{2} yang berjajar rapi, dan juga terdapat beberapa jubah kebesaran dengan berbagai motif primitif penuh warna.
Tampak sebuah tangan menarik salah satu jeogori{3} berwarna kuning keemasan yang ditarik dari bagian tengah.
Menilik kesampingnya, tangan itu kemudian mengambil sokgui{4} berwarna putih, beserta baji{5} berwarna abu tua.
Beberapa menit setelahnya, dari cermin di ruangan tersebut, terlihat pantulan bayangan pria bertelanjang dada dengan guratan garis indah yang meliuk di sepanjang dada sampai perut bagian bawah membentuk kotakan-kotakan yang apik.
Pria itu mulai mengenakan sokgui, kemudian merapikannya. Setelahnya dia memasang jeogori lalu menalikan pita dari baju kebesaran tersebut. Pacaran warna kuning keemasan yang sangat nyentrik terlihat indah saat dikenakan ditubuhnya.
Sebelum mengenakan Gat{6} yang dia letakkan diatas meja rias, pria tadi menyurai rambut hitamnya sejenak selagi tersenyum menghadap ke cermin. Awalnya senyuman itu terlihat hangat, teduh dan menyenangkan.
Namun, seiring dengan memelannya gerakan tangan pria tersebut, bibirnya yang sedari tadi tersungging bak bulan sabit seketika berubah menjadi seringaian halus dengan tatapan menyeramkan.
'Kau sangat sempurna, Wang So-ya,' gumam pria itu seraya menatap pantulan tubuhnya.
.
.
.
========
=================
—Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada.—
=================
=========
⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.
Length: 1400++
.
.
📍 Songgak, Goryeo, 943.
Seokmin dan Mingyu saat ini sudah hampir sampai di pelataran depan istana Manwoldae. Dapat mereka lihat puluhan pemuda yang berasal dari desa yang sama dengan mereka sedang berjejer menunggu pintu istana itu terbuka.
"Wah ... ramai sekali," sahut Mingyu keheranan, maklum ini pertama kalinya dia ikut seleksi pemilihan prajurit kerajaan.
"Kau benar, bahkan ini lebih ramai dari pada seleksi tahun lalu," Seokmin mengatakan yang sebenarnya.
Seokmin sendiri tidak menyangka jika pendaftarnya akan bertambah lebih besar dari pada tahun sebelumnya. Dia menduga kebijakan baru di istana membuat pemuda-pemuda ini bersemangat mengikuti seleksi.
"Tau begini aku mendaftar tahun lalu saja, pasti saingannya tidak banyak ... ckckck," keluh pria tinggi itu setengah kesal.
Mendengar penuturan sang rekan, Seokmin menggelengkan kepalanya tanda dia tak sependapat.
"Mana bisa, tahun lalu pria se-usiamu pasti tak akan diizinkan mengikuti seleksi ini ...,"
"Hah? Kenapa begitu?" Mingyu yang merasa keheranan kemudian meminta penjelasan kepada Seokmin.
Memang cukup membingungkan peraturan dari kerajaan mereka karena, secara teknis Mingyu dan Seokmin memiliki usia yang sama, akan tetapi Seokmin lahir di awal bulan purnama sedangkan Mingyu lahir di paruh ke-tujuh bulan purnama.
Menurut aturan kerajaan mereka, pria yang lahir setelah paruh ke-enam bulan purnama tahun kelahirannya akan dihitung mengikuti anak yang lahir satu tahun setelahnya, itulah mengapa walaupun mereka lahir di tahun yang sama tetapi umur mereka berbeda.
Mendengar penjelasan Seokmin membuat Mingyu bertambah bingung, hal ini bukan karena dia bodoh, tetapi dia hanya tidak mengerti jalan pikir dari raja mereka.
Lagipula Mingyu merupakan penduduk baru yang pindah ke desa mereka, jadinya Mingyu baru tau kalau ada peraturan yang seperti barusan Seokmin katakan.
Tepat saat mereka berada di depan istana, pintu gerbang dibuka oleh prajurit dan seluruh pemuda dipersilahkan untuk memasuki area pelataran istana ini.
Sekitar kurang lebih 200 pemuda yang mengikuti seleksi pemilihan calon prajurit, sedangkan yang dibutuhkan hanya 50 prajurit saja. Ini bahkan lebih ketat dari pada tahun lalu, untuk itu mereka harus bersungguh-sungguh untuk bisa lolos dari tahap seleksi.
Saat ini kepala prajurit sedang berdiri di podium yang terbuat dari batu di hadapan para prajurit. Dia menjelaskan tata cara serta kriteria penilaian yang digunakan untuk meloloskan calon prajurit nanti.
Keluarga besar kerajaan Manwoldae menyaksikan kegiatan yang berlangsung itu dari atas singgasana yang dikhususkan untuk memantau kegiatan pelatihan seperti sekarang.
Di kursi kebesaran, telah duduk pria yang menggunakan jubah merah menyala dengan motif burung phoenix di depannya, sudah tidak dapat diragukan lagi kalau itu merupakan yang mulia Raja Taejoo yang punya nama asli Wang Geon.
Disebelah kiri raja, berdiri sang putra Mahkota yang bernama asli Wang So atau masyarakat sini lebih mengenalnya dengan nama pangeran Jisoo. Di sebelah kanannya berdiri putra pertama dari permaisuri Janghwa yang bernama Wang Yo atau masyarakat sini mengenalnya dengan nama pangeran Jeonghan.
Sempurna sudah kisah hidup raja yang sebentar lagi turun tahta itu. Ditemani kedua putra kebanggaannya dia menyaksikan penyuluhan yang di sampaikan oleh jendral besar panglima kerajaan dari atas podium.
Pangeran Jeonghan mengikuti arah pandang sang ayahanda dengan mengamati jejeran pemuda yang berdiri tegap dengan seksama. Mata elangnya seketika terfokus pada satu titik yang membuatnya sangat tertarik.
'Jadi juga dia melancarkan aksinya,' seringai licik pria berhanbok biru yang berdiri di sisi kanan raja.
Lain halnya dengan pangeran Jeonghan, sang putra mahkota malah mengalihkan atensinya pada sesosok wanita anggun yang berdiri di sisi kiri sang juru bicara. Wanita tersebut membawa sebuah baki yang diatasnya terdapat semacam alat pemukul gong. Walaupun tanpa ekspresi, tapi wanita tersebut tetap menarik untuk diamati.
Seulas senyuman sang pangeran pun refleks terkembang tat kala gadis itu melirik kearahnya, entah kenapa melihat air mukanya yang teduh membuat hati sang pangeran berbunga-bunga.
...
Dari sudut pandang peserta seleksi, Seokmin beserta Mingyu tampak sedang berdiri di barisan paling depan seraya memperhatikan pengarahan dari Jendral Kang, tapi sepertinya hanya Mingyu saja yang fokus, pasalnya tatapan Seokmin sudah pasti tidak mengarah kepada si jendral. Pria Lee ini malah terfokus memperhatikan keindahan putri penjagal Lee yang tidak bisa ditutupi.
Sepanjang jendral menjelaskan arahan tidak ada satupun kalimat yang masuk di telinga Seokmin, semuanya seakan berlalu seperti masuk dari telinga kanan dan keluar ke telinga kiri.
Memang susah kalau sudah menyukai seorang wanita, seolah seluruh dunia teratensi pada satu pusat semesta.
"Yang berdiri di barisan paling depan, nomor tiga dari kanan, apa kamu mendengar apa yang baru saya sampaikan?" tegur sang Jendral yang kedapatan menangkap basah Seokmin saat melamun.
Seokmin di buat terperangah saat namanya tiba-tiba saja disebutkan, mendadak pria itu dibuat gelagapan saat sang Jendral menatapnya dengan sangat tajam.
"Kamu yang dari tadi melamun, coba ulangi apa yang saya instruksikan!" perintah Jendral itu tegas, membuat Seokmin mati kutu. Tangannya gemetaran, karena jujur aja tidak ada satu kalimat pun masuk ke telinganya.
Disampingnya, sang teman hanya dapat menggelengkan kepala, dia tidak habis pikir lagi dengan sahabatnya yang satu itu. Sebenernya dia juga kasihan, tapi mau gimanapun disini tetap aja kasusnya Seokmin yang salah.
"CEPAT ULANGI APA YANG TELAH SAYA INSTRUKSIKAN, ATAU KAMU KELUAR DARI SELEKSI INI SEKARANG JUGA!!!"
⌛⏳⌛
Dari dimensi yang berbeda, entah itu dimana tempatnya, ataupun kapan masanya. Apakah itu bagian lain dari pecahan dunia, apakah itu serpihan dari masa lalu ataupun jejak dari masa depan, yang jelas, tempat klasik dengan interior bergaya bak zaman europa kuno ini tidak dapat ditemukan di dimensi manapun. Ruangan dengan dominasi warna putih di sekitarnya ini, hampir mirip seperti tempat luas, hampa udara.
Mini perpustakaan dengan rak menjulang tinggi, dimana sebagian besar isi di dalamnya di dominasi oleh buku-buku yang sudah tidak dapat ditemukan di setiap zaman itu tersusun dengan rapih.
Siapa lagi pemiliknya kalau bukan pria berbeanie misterius yang identik dengan teh chamomile juga kacamatanya.
Dari balik meja kerja, tampak pria itu sedang melihat kearah buku dengan sampul berwarna putih tulang serta terdapat goresan tinta emas di sampulnya.
Yang mengejutkan, tidak dapat disangka-sangka bahwa sebenarnya pria itu tidak sedang membaca buku itu. Dari balik lembaran bukunya, pria itu ternyata memperhatikan berbagai rangkaian adengan yang tersusun apik layaknya pemutaran film.
Lebih anehnya lagi, lembaran kertas itu menampilkan susunan cerita yang terjadi di setiap dimensi. Layaknya sebuah kamus, buku itu memiliki tanda tersendiri, dimana tanda itu menunjukan masing-masing dari waktu yang terputar di seluruh alam semesta.
Saat ini, lembaran yang sedang terbuka, menampilkan adengan-demi adegan yang terjadi di era Goryeo. Dengan seksama, pria itu tersenyum atau mungkin menyeringai saat melihat salah satu cuplikan yang mungkin baginya sangat menarik.
Seraya menyeruput secangkir teh yang selalu bertengger manis di tangan kanannya, Wonwoo, si pria misterius itu dapat menikmati segala aktivitas yang ada di semesta hanya dengan melihat sebuah buku, sungguh suatu hal yang sangat mustahil, tapi itulah kenyataannya.
Di sela-sela aktifitas pria itu, tiba-tiba saja pancaran sinar merah berpijar dengan cerah di salah satu tanda bagian dimensi. Saat membukanya, Wonwoo tentu saja mengerti maksud dari sinyal itu, kemudian beranjak untuk pergi ke suatu tempat,
" Kau mempermudah pekerjaanku, Lee kangsa."
⌛⏳⌛
.
.
.
To Be Continued.
====================================
Mana's Dictionary :
{1}Yeppeuda : Cantik
{2}Hanbok : Baju tradisional korea
{3}Jeogori : Baju tradisional korea (atasan)
{4}Sokgui: Dalaman Jeogori
{5}baji: Celana tradisional korea
{6}Gat: Pelindung kepala tradisional korea
====================================
P
ublished: 16 - 06 - 2019
Revised: 05 - 10 - 2019
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top