®23. Question ⌛

========
=================

- Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada -

=================
=========

⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy

Length: 1100++
.
.

Setelah pulang dari pusat perbelanjaan hari itu, Yuju jadi lebih sering diam membuat Seokmin mengerut bingung. Dirinya seperti tidak bersemangat, seakan ada hal yang mengganggu pikirannya.

Saat ini mereka sedang berada di kantin universitas, setelah tadi menghadiri kelas sastra dengan Jieun yang masih menjadi dosen mereka.

"Akhir-akhir ini kau jadi sering melamun." kata Seokmin seraya meminum tehnya.

"Tidak apa, hanya lagi banyak pikiran." Yuju sedikit berbohong. Padahal sebenarnya yang melatarbelakangi wanita tersebut bersikap demikian adalah pernyataan Seokmin waktu itu yang menanyakan tentang nasib istrinya.

Bohong kalau Yuju bilang tidak cemburu, nyatanya wanita tersebut tidak merasa baik-baik saja setelah Seokmin bilang dirinya pernah menikah.

"Memikirkan apa? Tugas kuliah?"

Yuju mengangguk lesu membuat Seokmin ikut menaik turunkan kepala. Kalau masalah itu juga Seokmin tidak bisa memberikan pembelaan apapun, karena dirinya juga pusing ngurusin skripsi Dokyeom yang seakan tidak ada jalan keluar.

Dia tidak mengerti apapun terkait seni, yang dia tau hanya memanah, dan berburu. Dia juga buruk dalam berjualan sampai-sampai Mingyu dulu memarahinya.

"Ngomong-ngomong hari ini IU kangsa jadi sedikit lebih ramah kepadamu." Yuju mengalihkan pembicaraan.

"Benar, dia jadi lebih baik dari yang biasa. Syukurlah."

"Memang kemarin dia membicarakan apa saja?" Yuju mulai penasaran.

"Hanya obrolan tentang masa lalu, kau tidak perlu tahu." Seokmin mengacak rambut Yuju halus, membuat sang gadis mendesis. "Kalungmu bagus, mirip sama batu yang biasanya di jual di pasar pada eraku." Seokmin mengalihkan perhatian pada kalung milik Yuju, membuat gadis itu tertunduk melihat kalungnya. Ya, sampai sekarang dia masih menggunakan kalung pemberian Wonwoo dengan menaruh sedikit rasa cemas.

"Benarkah?"

"Ya, begitulah. Dulu hanya orang yang punya banyak kekayaan yang bisa membeli batu seperti itu." penuturan jujur dari mulut Seokmin membuat Yuju sedikit terkejut.

"Berarti batu ini mahal?"

"Benar, tidak semua orang bisa membelinya. Aku tidak tahu kalau di masa sekarang masih ada yang menjual kalung bermatakan batu seperti yang kau kenakan."

Yuju menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Mmm, oppa mau pulang sendiri atau menungguku?" dia bertanya dan sengaja mengganti topik pembicaraan yang dia rasa kurang nyaman untuk di bicarakan.

Seokmin menimang sebentar lalu kemudian tersenyum. "Aku akan menunggumu saja, lagi pula ada yang ingin aku tanyakan pada Wonwoo."

Lagi, Yuju di buat merengut akibat perkataan Seokmin yang barusan.

"Mau menanyakan tentang mendiang istrimu ya?"

Seokmin sedikit terheran mendengar nada bicara Yuju yang tidak seperti biasanya.

"Memangnya kenapa?" setelah berpikir cukup lama baru kemudian Seokmin tersadar, "Jangan bilang kalau kau cemburu?" Seokmin bertanya tidak percaya.

Akhirnya ketahuan juga, tanpa ragu, Yuju mengangguk. "Benar, aku cemburu. Aku tahu bahkan kau bukan Dokyeom oppa, tapi karena kau menanyakan kabar wanita lain menggunakan tubuh kekasihku tentu saja aku cemburu." Yuju memberi penjelasan dengan raut sedikit menyesal.

"Maafkan aku. Aku lupa kalau sedang tidak berada di tubuhku sendiri dan tidak bisa menjaga perasaanmu." Seokmin tertunduk kalut.

"Tidak apa, mungkin aku yang belum terbiasa saja." Yuju menggerakkan tangannya melambai di udara. Ya, bagaimanapun Dokyeom dan Seokmin mempunyai watak yang berbeda.

Seokmin terlalu sering minta maaf, tidak seperti Dokyeom yang sangat susah untuk di suruh minta maaf. Juga Seokmin lebih sopan dalam berbicara, tidak seperti Dokyeom.

Tapi sayangnya, hati Yuju sudah terlanjur jatuh untuk Dokyeom, sehingga apapun kekurangan pria itu bisa Yuju terima dengan berbesar hati.

®®®

Di perpustakaan, Jieun kembali mendatangi Wonwoo dengan pembawaan yang lebih kalem, tidak seperti biasanya.

Tujuannya kesana hanya untuk memastikan berapa lama lagi waktu yang tersisa sebelum takdir berubah.

Wonwoo membawa wanita yang baru saja datang tersebut dan menjelaskan dengan cara yang lebih manusiawi, tidak menjengkelkan seperti yang biasa dia lakukan.

"Harusnya kau menjelaskan dengan baik seperti ini dari awal, jadinya aku kan tidak perlu menggunakan emosi jika berbicara denganmu," sahut Jieun menyesap teh yang di sajikan.

"Hmm, aku tidak terlalu suka beramah tamah seperti sekarang. Hanya saja, karena Seokmin telah menceritakannya jadi buat apalagi aku menutup-nutupi." Sahut Wonwoo seadanya.

"Untung saja kemarin aku meminta penjelasan pada Seokmin. Meminta padamu hanya menguras emosiku."

Wonwoo tergelak tapi juga tidak menyangkal. Memang terkadang sebagai makhluk tanpa emosi dia senang mempermainkan makhluk lainnya. Dengan begitu dia merasa seperti hidup.

"Kalau begitu mengapa tidak dari awal langsung bertanya padanya."

"Kan sudah jelas karenamu. Hah, untung saja ada kupu-kupu itu yang jadi petunjuk, kalau tidak pasti aku masih akan terus kau bodohi."

"Aku tidak membodohimu." Wonwoo membela diri.

"Katakan hal itu sekali lagi pada sepatuku!" Jieun mendengus, "Kau lebih parah dari pada tuanmu dalam mempermainkan manusia."

"Kami tidak mempermainkan," lagi, Wonwoo menyangkal membuat Jieun mendelik.

"Lalu apa namanya kalau bukan mempermainkan? Menukar tubuh manusia bukanlah hal rasional yang bisa di terima oleh nalar, meskipun tujuannya baik. Aku memang tidak tahu bagaimana cara dewa bekerja tapi bukankah ini kejam untuk mempermainkan takdir sesuka hati mereka." Jieun mengeluh.

Wonwoo membuang kembali teh hangat kedalam gelasnya sendiri, duduk dengan kaki tersilang seraya meniup gelas miliknya beberapa kali.

"Sudah di bilang itu bukan permainan. Sang pencipta punya alasan tersendiri mengapa dirinya memerintahkan dewa untuk membuat takdir serumit ini. Tidak etis menyebutnya sebagai sebuah permainan nona, saat tidak ada kesenangan di dalamnya."

"Takdir adalah bagaimana cara Tuhan menyampikan kehendaknya, ada yang bisa di rubah ada yang tidak bisa, semua kembali lagi, bergantung pada manusia, bisa menerima atau tidak." Wonwoo menyesap teh cukup lama, sebelum kembali membuang napas hangatnya ke udara.

"Dewa sudah bermurah hati menciptakan dunia parallel ini. Seharusnya kau bersyukur bukan mengeluh. Setidaknya kalian bisa di lahirkan kembali dengan nasib yang lebih baik bukan?" Wonwoo mengangkat gelasnya, tersenyum penuh arti, memandangi Jieun yang terlarut dalam kata.

"Ah, sepertinya aku kedatangan tamu lagi, apa kau sudah selesai?"

Jieun tersadar dari lamunan singkatnya kemudian ikut beranjak.

"Siapa yang datang?"

"Mahasiswa kesayanganmu."

"Ah, Seokmin. Ada urusan apa?"

"Hmm, rahasia. Ja Pulanglah kalau sudah tidak lagi ada urusan."

Meskipun sebenarnya merasa terusir Jieun tetap melangkah keluar bersama dengan Wonwoo.

Benar saja ucap si pria misterius. Tanpa melihat, dia tahu kalau ada yang sedang mencarinya.

"Hai nona Jieun." sapa Seokmin ramah tapi berhasil membuat Jieun mendelik, seketika dia sadar sudah salah bicara. "Ah, maksudku hai IU Kangsanim."

Wonwoo yang memperhatikan sedikit tertawa di belakang mereka.

"Ada urusan dengan Wonwoo?" Jieun bertanya pada Seokmin dan di angguki cepat.

"Begitulah. Anda juga?" Seokmin bertanya balik.

"Sudah selesai." Jieun mengulas senyum tipis, "Kalau begitu aku permisi."

Setelah Jieun pergi, kini Seokmin mengalihkan tatapan pada Wonwoo.

"Ada yang ingin aku tanyakan, tentang Nakrang, ku mohon kali ini tolong beritahu aku semuanya, jangan menyembunyikan apapun. Sesungguhnya ini sedikit menggangguku."

Wonwoo lagi-lagi sudah tau maksud kedatangan pria itu. Setelah tadi malam menanyakan pada Doryongnim, pria itu bersedia menjelaskan nasib mendiang istrinya.

"Kita bicarakan di dalam saja."

Wonwoo memimpin langkah dan kembali masuk kedalam ruangannya bersama dengan Seokmin yang mengikuti pria tersebut dari belakang.

⌛⏳⌛
.
.
To Be Continued

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top