®21. Deep Talking ⌛

========
=================

Pertukaran jiwa ini membuatku merasa yakin kalau dunia paralel itu benar-benar ada.—

=================
=========

⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.

Length: 1600++.
.
.

Yuju bersama Wonwoo sudah duduk di salah satu tea shop yang berada di pusat perbelanjaan itu. Seokmin masih bersama dengan Jieun membuat Wonwoo bisa leluasa membicarakan apapun dengan gadis di hadapannya.

"Apa kamu masih belum bisa mempercayai semua ini?" Wonwoo yang terlebih dahulu membuka percakapan.

"Menurut anda, tuan?"

"Sepertinya sudah." Wonwoo mengambil cangkir tehnya lalu meminum dengan tenang.

"Mengapa dunia terasa aneh, saat makhluk-makhluk seperti kalian ikut bekerja di dalamnya." sarkas Yuju sambil memainkan ponselnya.

"Sebenarnya sudah dari dulu dunia memang aneh. Kamu saja yang baru menyadarinya."

"Itu karena aku terlibat di dalam."

"Bukan kamu, hanya Dokyeom sebenarnya, tapi dirimu tidak sengaja keseret." Jelas Wonwoo.

"Kau yakin? Dimasa lalu aku adalah putri Daemok, dan kau masih berpikir aku hanya tidak sengaja keseret, tuan. Haha, ingin sekali rasanya aku tertawa!" ujar Yuju sarkas.

"Kamu cerdas," Wonwoo menyilangkan kaki,  "Tidak salah memang mereka mengambilmu. Dulu sebagai Daemok kamu adalah jiwa murni yang polos, aku rasa aku lebih menyukaimu yang sekarang, sebagai Yuju."

"Lebih cantik Daemok dari pada yang ini," tunjuk Yuju pada dirinya sendiri. "Sebenarnya apa yang mau kau bicarakan?" tanya perempuan itu mulai meninggi.

"Ups. Santai nona. Jangan marah seperti ini. Tidak baik jika orang melihat kita, dikira seperti pasangan yang sedang bertengkar." Kelakar Wonwoo membuat Yuju geram.

"Tak usah bergurau! Kau buruk dalam hal itu."

"Terimakasih pujiannya."

"Terserahmu."

Wonwoo tersenyum sejenak, kemudian mengambil catatan emas dari saku mantel yang ia kenakan.

"Kamu tahu? Masa depan kalian telah berubah dan membentuk takdir baru."

"Lalu?" tanyanya dengan wajah sedatar mungkin.

"Maaf harus mengatakan ini tapi, takdir berjalan lebih cepat dari yang aku kira. Jadi aku ingin memberimu satu bantuan."

"Bantuan apa?"

Wonwoo tidak langsung menjawab dia mengeluarkan batu hitam kecil indah  yang entah apa itu gunanya.

"Ambillah."

Yuju menerima batu itu dan memandanginya heran.

"Buat apa?"

"Hanya jaga-jaga. Jika sesuatu buruk terjadi."

"Sesuatu buruk?" Yuju menggumam, "Maksudnya?"

"Kelak, Dokyeom akan mengalami musibah yang tidak seharusnya dia alami, entah itu kapan akan terjadi. Ramalan saat ini mengatakan kejadiannya sesaat setelah Wang Soo naik tahta, untuk itu kau punya kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan membantunya dengan menggunakan batu itu, tapi jangan sampai hilang karena kau tidak akan bisa kembali kalau sampai itu terjadi."

"Lalu kalau aku kembali kemasa lalu, apa kabar dengan daemok?"

Wonwoo menjentikkan jari, "Itu poinnya."

"Ha? Maksudnya? Kalau bicara yang jelas!"

"Menyesal aku memujimu cerdas." Sarkas Wonwoo lalu meminum tehnya sebentar sebelum kembali berbicara. "Tentu saja kalau batu itu bisa membawamu kesana artinya Daemok sudah mati. Dia akan bekerja setelah tragedi itu terjadi. Saat bercahaya, putuskan kau akan pergi atau tidak. Taruh batu itu di atas buku yang ada di kamar Dokyeom jika kau memutuskan untuk menolongnya dan kembalikan batu itu padaku kalau kau tidak bersedia mengorbankan diri."

Yuju mengusap dagunya seperti berpikir, "Gimana cara memberikannya?"

"Aku bekerja di perpustakaan kampusmu. Kamu bisa menemuiku disitu."

"Berapa lama dia akan bersinar?"

"Hanya satu hari."

"Apa yang terjadi kalau aku tidak melakukan keduanya?"

"Kamu akan mati."

Yuju memandang Wonwoo sengit berusaha mencari kebohongan yang terpancar dari matanya. Namun nihil, yang di katakan Wonwoo adalah sebuah kejujuran.

"Bagaimana bisa mati?"

"Cahaya itu, dia akan menyerap dayamu. Tak perduli kau menyimpan atau membuangnya. Dia akan selalu ada di sisimu."

Yuju refleks membanting batu pemberian Wonwoo, "Mengapa baru mengatakan sekarang! Aku tidak mau menerimanya!"

"Sayangnya kamu harus." Menggunakan energi kinesis, Wonwoo membuat batu itu bergerak sendiri dan mengubahnya menjadi kalung. Lalu kalung itu bergerak menuju ke leher Yuju, tanpa bisa di lepaskan.

"YA!"

"Sudahlah tidak usah protes, ngomong-ngomong sebentar lagi Seokmin kembali."

"Bagaimana kau tau?"

Wonwoo hanya menyeringai dan mengangkat cangkir teh miliknya.

"Ah Iya, Kau bisa melihat kupu-kupunya. Mengapa aku lupa," Yuju memukul kepalanya sendiri.

®®®

"Masih ingat saat aku menyatakan perasaan padamu nona?"

"Tentu saja, dan kau begitu marah saat aku mengatakan aku menyukai Mingyu."

Seokmin dan Jieun masih duduk di tempat yang sama, memandangi kawanan kupu-kupu tak kasat mata yang beterbangan di sekitar sana.

"Karena aku merasa itu sungguh tidak adil. Aku yang terlebih dahulu mengenalmu dan paman Lee, tapi kau malah jatuh hati pada Mingyu." Seokmin mengulurkan tangan keudara dan membuat kupu-kupu itu menempel pada jarinya.

"Perasaan tidak bisa di paksakan, Seokmin-ah. Memang kau yang datang terlebih dahulu tapi, Mingyu yang berhasil membuat hatiku terketuk, apalagi waktu malam penyerangan itu. Awalnya aku berpikir, itu semua hanya sebatas perasaan berhutang budi, tapi entah sejak kapan perasaan itu mulai berkembang menjadi rasa suka. Kemudian lama kelamaan aku jatuh pada sosok bijaksana dari Mingyu."

Seokmin merasa terkejut dan menatap Jieun yang melihat kearah depan, ini pertama kalinya gadis itu memanggilnya secara banmal. Bukan formal seperti biasanya.

"Tapi kau menikah dengan raja Jisoo."

"Aku terpaksa." Jieun mengalihkan tatapannya, "Jisoo mengancamku akan membunuh Mingyu jika aku tidak mau menikah dengannya. Dia sudah tau kalau aku menyukai Mingyu."

Benar, Seokmin juga lihat itu di tayangan takdir mereka beberapa waktu yang lalu. Cuma yang baru Seokmin tahu ternyata Jisoo yang mengancam bukan atas kehendak Jieun seeprti yang terlihat waktu itu.

"Dan kau berkorban demi Mingyu."

"Mianhada."

"Tak apa, aku mengerti. Aku juga melakukan hal yang sama jika ada di posisimu." Seokmin kembali memandang kearah depan.

"Ngomong-ngomong, aku punya satu hal lagi yang perlu di ceritakan, mengenai Daemok."

"Kenapa ratu Daemok?"

"Apa kau tidak sadar kalau selama ini dia menyukaimu?"

Deg.

Atensi Seokmin teralih keatas awan, melihat langit biru di kejauhan.

"Aku sadar."

"Tapi berpura-pura tidak peka." sarkas Jieun.

"Aku punya alasan."

"Alasannya adalah aku," gumam Jieun kembali.

"Bukan itu saja."

"Lalu?"

Seokmin membongkar serpihan ingatan dikepala, "Putri Nakrang, dia juga punya rasa padaku."

Jieun tertawa setelahnya mendengar penuturan Seokmin, "Kau bercanda?"

"Tidak, ini sungguhan."

Kemudian tertawanya luntur, berganti dengan raut bingung, "Bagaimana bisa?"

"Waktu hari ujian perekrutan prajurit semuanya di mulai."

Jieun ikut menengadahkan kepala, "Ah, jangan bilang ...."

Seokmin mengangguk, "Benar, gara-gara itu. Entah bagaimana setelahnya dia jadi sering mengunjungiku di utara. Meskipun aku tahu tujuan utamanya untuk memastikan Mingyu menderita."

"Benar, Nakrang sangat membenci Mingyu."

"Dan dia semakin senang saat aku ikut membenci pria itu."

Jieun kemudian menatap kearah Seokmin, "Kau mati karena apa?" Jieun penasaran.

"Rasa menyesal, bersalah, iri, dengki, kehilangan semuanya cukup membuatku mati menggunakan cara bunuh diri." terang Seokmin mengingat rasa sakitnya.

Jieun menutup mulutnya, tidak menyangka kalau pria itu juga memiliki jalan yang buruk sama seperti dirinya dan Mingyu.

"Aku menikah dengan Nakrang setelah kejadian itu berlalu. Mengabdi setia pada raja Jisoo, tapi jauh di dalam batin diriku benar-benar tersiksa."

"Hanya dayang Na satu-satunya orang yang aku percaya pada masa itu, dan darinya aku mendapat racun untuk mengakhiri hidup. Dia sangat baik, namun sayang dewa salah paham dan membuatnya hidup menderita setelah kematianku."

"Dewa tidak sebodoh itu," peringat Jieun.

"Memang, tapi pernahkah Kau memikirkan kalau sebenarnya mereka berpura-pura bodoh, hanya untuk menguji kesabaran manusia."

"Itu hanya pemikiran burukmu, Seokmin-ah."

"Memang," Seokmin tersenyum hangat seraya mengusak rambut Jieun.

"Ja! Kita kembali. Kasihan Yuju pasti bingung mencariku."

"Sepertinya kau menyukai gadis itu," gumam Jieun.

"Apa salahnya, dia baik."

"Tapi dia pacar Dokyeom."

"Dan sekarang aku adalah Dokyeom, bukan?" pria itu tersenyum menggoda membuat Jieun ingin memukulnya.

"Kasihan sekali reinkarnasimu, dia harus menanggung apa yang kau perbuat, sedangkan disini kau hidup dengan nyaman."

"Tidak juga nyaman, aku harus beradaptasi lagi dengan hal-hal modern seperti ini." Seokmin beranjak, "Sesungguhnya aku sedikit terkejut waktu tahu kau tidak marah padaku."

"Berterimakasihlah pada Doryongnim, dia yang membuatku mengerti cara untuk mengatasi sakit hati."

"Ah, benar juga, dia yang memberi kesempatan padaku masuk ke tubuh reinkarnasiku sendiri."

Mereka sama-sama jalan kebatang pohon. Jieun mengetuk membuat kulit pohon itu bergeser selayaknya pintu lift.

"Temui Yuju sendiri, ikuti kupu-kupu itu pergi." Terang Jieun kemudian.

"Tentu."

®®®

"Wonwoo-ya? Kenapa bisa ada disini?" tanya Seokmin yang baru datang menghampiri.

"Kemana saja kau pergi, oppa. Kenapa lama sekali?" Bukan Wonwoo malah Yuju yang bertanya, berdiri dan merangkul lengan Seokmin khawatir.

"Sepertinya kau lupa kalau aku bukan Dokyeom?"

"Ups. Maaf." Refleks Yuju melepaskan.

Wonwoo hanya tertawa kecil, "Tidak sengaja mampir. Urusan kalian sudah selesai?" yang di maksud kalian adalah Seokmin dan Jieun.

"Sudah, tidak ada lagi kesalahpahaman. Semuanya sudah jelas. Oh ya, ngomong-ngomong ada yang ingin aku tanyakan padamu."

"Apa?" Wonwoo mengangkat alisnya.

"Kemana perginya putri Nakrang sekarang? Apa dia bereinkarnasi juga?"

Baik Wonwoo maupun Yuju, mereka serentak memandang Seokmin dengan tatapan berbeda. Kalau Yuju menyiratkan kecemburuan yang tidak signifikan, dan Wonwoo — tatapannya masih sulit di artikan.

"Mengapa tiba-tiba bertanya tentang Nakrang?"

"Aku hanya penasaran dengan kondisi istriku." Sahut Seokmin membuat Yuju terkejut.

"I-istri?"

"Maaf baru memberi tahu, salahkan saja pemutaran masa lalu yang tidak menceritakan detailnya." Seokmin mengusap tengkuknya. Entah mengapa, ada sedikit dari perasaan Yuju yang sakit mendengar kalimat itu.

"Maaf Seokmin, untuk yang satu itu, bukan wewenangku." Wonwoo beranjak, "Jja-aku pergi."

Pria ber-beanie itu berlalu begitu saja. Entah apa alasan di balik perubahan raut wajahnya, Seokmin tidak tahu.

'Mencurigakan.... '

⏳⌛⏳
.
.
To Be Continued

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top