®1. Memory Debris⏳

Di kegelapan malam, tampak dua orang yang sedang berlari menghindari kejaran para prajurit kerajaan.

Seorang wanita cantik yang tampak mengenakan hwarot* berwarna putih sedang menggenggam tangan pria di depannya sambil berlari mengitari hutan. (*Pakaian yang digunakan oleh putri kerajaan ataupun putri bangsawan saat upacara pernikahan atau acara ritual kerajaan.)

Langkah mereka hanya diterangi oleh sinar rembulan yang malam itu sedang berpijar dengan sangat terang.

"BERHENTI!!"

Teriak salah seorang prajurit kepada mereka, namun teriakan itu tidak dihiraukan. Mereka masih terus berlari, menghindari kejaran para prajurit istana.

Hembusan napas memburu, mulai terengah-engah. Namun, mereka tidak boleh lengah. Berlarian seperti ini memang melelahkan, tetapi mereka tidak punya cara selain ini, untuk melarikan diri.

Sampai tiba masanya, sang wanita berhenti secara mendadak, setelah mendengar sebuah suara hunusan yang bergerak kearah mereka.

Slash.

Seorang prajurit yang berdiri dibarisan paling depan, menghentikan langkahnya, kemudian meluncurkan satu anak panah yang ia targetkan kepada si pria.

Drap.

Naas, anak panah itu meleset, dan menghujam si wanita yang notabenenya merupakan baginda ratu di kerajaan mereka. Hunusan anak panah itu menancap sampai tembus ke jantung.

Saat pria itu berbalik, ia terkejut melihat mata anak panah yang sudah menebus ke tubuh bagian depan si wanita.

Wanita itu melemah, dan tumbang ke arah si pria. Dia memeluk lengan pria itu kemudian membawa mereka terduduk di tanah.

Kemudian si pemanah yang melesakkan anak panahnya tadi mengangkat sebelah tangannya, menintahkan prajurit lainnya untuk menghentikan langkah mereka.

Sedangkan sekarang, si pria mulai menahan tubuh si wanita. Aliran cairan kental berwarna merah mengalir deras, mengotori hwarot putih yang ia kenakan. Bahkan, tangan serta baju prajurit yang dikenakan oleh si pria ikut ternodai.

" Ji Eun-ah. Bertahanlah!"

Teriak pria itu menangis dengan sangat kencang. Dirinya mengalihkan tatapan kearah bulan, berharap dewa akan membantu mereka.

...

========
=================

Kematian, awal dari sebuah kehidupan. Dialah jantung keabadian, gerbang penentuan antara kebaikan dan keburukan, mungkin bernaung dibalik sebuah penderitaan semu, namun berusaha mencari kebahagiaan sejati.—

Anonymous

=================
========

⌛⏳⌛

.
.
Genre: Drama/Fantasy.

Length: 1900++.
.
.

📍Art Management Program, Seoul National University, 2019

"Dokyeom-ssi!"

"Dokyeom-ssi!"

"LEE DOKYEOM-SSI!"

Teriak seorang pria berusia pertengahan empatpuluh, berkali-kali memanggil nama salah satu mahasiswa termalas di kelasnya.

Pria yang mengenakan atasan bermotif plaid dengan lengan tergulung sampai kesiku, dipadukan dengan denim tua yang diserasikan dengan sepatu kets warna senada itu nyatanya bergeming, tak menghiraukan panggilan si dosen tua dihadapannya.

Brak.

"LEE ... DO ... KYEOM ... SSI!" teriak pria itu sekali lagi, kali ini penggaris panjang di tangan sang dosen pun ikut memanggil, beradu dengan kerasnya meja yang ditindihi si pria metropolitan. Bukan hanya mengejutkan Dokyeom, mahasiswa lain yang berada di sekitarannya pun ikut terkejut.

Sukses dibuat tersentak, Lee Dokyeom, mahasiswa yang namanya dipanggil berkali-kali, akhirnya terjaga dari alam mimpi. Dia memandang linglung kearah sekitar, dan merasa sangat terkejut saat mendapati sang dosen sudah berdiri dengan garang dihadapannya.

" Ah ... Ne Kangsanim*," sekarang pria itu duduk tegak memperhatikan dosen Kim yang sedang menatap dirinya dengan sangat tajam. (*Ya Pak dosen.)

"Tertidur lagi? sudah berapa kali saya peringatkan kepada anda untuk tidak tidur di mata kuliah yang saya ajarkan, apa masih tidak paham juga!" yang ditatap hanya bisa menyengir polos.

Bukannya tidak paham, hanya saja Dokyeom begitu bosan memperhatikan Kim Minseok menjelaskan materi di depan. Padahal belum ada tiga puluh menit jam pelajaran dimulai, tapi pria bermarga Lee tersebut sudah menunjukkan rasa tidak tertariknya dengan mata kuliah yang sedang berlangsung.

"Ini peringatan terakhir dari saya. Sekali lagi jika anda berani tidur di kelas saya, silahkan untuk meninggalkan kelas ini! lebih baik anda mengulang di semester berikutnya!"

"B-b-baik Kim Kangsa*." (*Pak Kim.)

Kini dirinya mulai fokus mendengarkan materi yang dijelaskan oleh dosen Kim walaupun hatinya tidak ikhlas karena dipermalukan seperti tadi.

Mengulang lagi? yang benar saja! Bahkan ini tahun ketiga aku mengulang. Memangnya aku mau apa, jadi mahasiswa abadi disini!

Rutuk Dokyeom dalam hati. Dirinya sudah cukup malu berbaur dengan adik tingkat yang bahkan sudah berbeda tiga tingkat dibawahnya. Jadi, mana mau dia disuruh mengulang untuk yang ke-empat kalinya.

Lee Dokyeom memang sangat membenci mata kuliah sastra klasik. Dia sendiri bingung, mengapa dirinya sampai sekarang tidak memiliki minat pada mata kuliah yang satu itu. Padahal mata kuliah ini merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa di SNU* dan menjadi salah satu mata kuliah penentu kelulusan. (*Seoul National University.)

Walaupun sudah tiga kali Dokyeom mengulang dan bertemu dengan dosen yang berbeda-beda, tapi tetap saja dia tidak paham dengan gaya penyampaian mereka.

Di samping pria itu, seorang gadis berambut panjang, mengenakan dress pendek berwarna abu dengan lengan panjang berbahan chiffon kini memandanginya dengan tatapan menahan tawa.

Choi Yuju, kekasih dari seorang pria yang barusan saja dimarahi oleh dosen mereka, kini menggelengkan kepalanya keheranan. Dari gestur mulutnya, wanita itu seperti menyebutkan kalimat, Pa-bbo*! (*Bo-doh.)


Tentu saja hal itu membuat Dokyeom menjadi sangat kesal. Padahal si pria sudah berpesan kepada Yuju itu untuk membangunkan dirinya saat si dosen memperhatikan kearah barisan mereka, tetapi ternyata wanita itu tidak menjalankan pesan yang diberikan oleh Dokyeom, dan membuat dirinya berakhir dengan insiden dipermalukan seperti tadi.

Karena merasa jengkel, Dokyeom mengalihkan pandangannya dari Yuju dan kembali menatap dosen Kim dengan raut yang sangat datar.

Menyebalkan!

®®®

Dokyeom dan Yuju sekarang sedang berada di taman fakultas. Cuaca siang ini sangat terik, untung saja ada pohon rindang dibelakang kursi mereka yang menghalanginya dari sengatan cahaya matahari.

"Kau kenapa tidak membangunkanku tadi! berkat kau, aku kena marah lagi sama Kim kangsa!" pria itu protes. Namun lucunya, walaupun merajuk, Dokyeom malah meletakkan kepala di pangkuan Yuju, dan mulai berbaring menghadap ke arah pohon di atas mereka.

Sedangkan Yuju yang masih sibuk membaca buku hikayat cinta era dinasti Goryeo itu hanya tertawa maklum, kemudian mengalihkan pandangannya sejenak lalu menyentil dahi pria yang sudah resmi menjadi pacarnya beberapa bulan yang lalu.

"Kau yang susah dibangunkan, aku pula yang kau salahkan. Kalau kau bukan kekasihku, sudah aku tendang dirimu sedari tadi!" celetuk wanita itu tak kalah sadis.

Yuju melanjutkan bacaannya lagi, seraya menyisir anak rambut milik Dokyeom menggunakan buku-buku jarinya, "Ngomong-ngomong tidurmu nyenyak sekali, Kim kangsa meneriaki mu berkali-kali pun kau tidak bangun juga. Apa tadi kau bermimpi hal yang bagus, Oppa*?" (*Panggilan seorang wanita kepada kakak laki-laki/senior.)

"Benarkah? Sampai segitunya?Aku tidak yakin apakah itu mimpi bagus, akupun tidak begitu ingat akan mimpinya. Yang jelas, di mimpiku ada seorang wanita yang tertusuk sama benda tajam. Menyeramkan bukan?" jawab Dokyeom berusaha mendramatisir, untung saja Yuju tidaklangsung percaya.

"Kau sedang berusaha menipuku ya? Mana ada orang yang betah tidur berlama-lama jika mimpinya seperti itu," hardik Yuju sedikit jengkel, dia kira Dokyeom sedang meempermainkannya.

"Ntahlah, tak usah dipikirkan perkataanku yang barusan. Aku mau tidur lagi, menyambung mimpiku yang tadi, aku masih penasaran karena mimpinya tidak begitu jelas. Jadi, jangan ganggu tidurku ya!"

"Terserah kau saja," sahut Yuju pasrah, masih memainkan rambut Dokyeom.

Di trotoar jalan, tampak seseorang wanita yang mengenakan dress putih selutut, dengan rambut panjang yang terurai, sedang melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. Dari sorot matanya, tersirat sedikit aura kesedihan yang tertutupi dengan pandangan kosong.

Yuju yang merasa seperti diperhatikan, kemudian menghentikan kegiatannya dan melirik kearah sekitar. Sensitifitas wanita itu sangat tinggi, meskipun dia bukan seorang indigo*. Hal itu yang membuatnya mudah peka terhadap sesuatu, apalagi yang terkesan mencurigakan. (*Merujuk pada kemampuan seseorang yang bisa merasakan atau bahkan melihat sesuatu yang enggak bisa dilakukan oleh orang kebanyakan.)

Saat Yuju menatap ke arah jalan, dia membenarkan dugaannya. Memang ada seseorang yang melihat mereka. Si wanita cantik terlihat sangat tidak asing dimata Yuju, tapi dia tidak tahu wanita itu siapa.

"Kyeom-i oppa, coba lihat kesana!" Yuju Menolehkan kepala Dokyeom yang ada dipangkuannya, menghadap ke arah jalan.

"Apa sih? mengganggu istirahatku saja!" kesal Dokyeom. Matanya yang sedari tadi memejam, mau tak mau dipaksa untuk terbuja kembali.

"Lihat ke arah wanita itu. Dari tadi dia melihat kita, tatapannya seperti orang yang sudah putus asa, oppa. Apa kau mengenal dia?" ucap Yuju gamang, entah mengapa tiba-tiba dia melamun.

"Wanita yang mana? Tidak ada siapa-siapa disana ...," Dokyeom bertanya penasaran karena dia tidak melihat apapun. Yuju yang baru tersadar, tadinya akan menunjukan orang itu, namun dirinya dibuat bingung, karena tiba-tiba wanita itu sudah tidak ada lagi disana.

"Dia kemana ya?" ujar Yuju kepada dirinya sendiri.

"Tidak ada kan. paling kau hanya salah lihat. Sudah jangan ganggu tidurku lagi!" gumam Dokyeom malas, dan kembali menyamankan posisinya. Sesungguhnya Yuju masih penasaran akan eksistensi wanita tadi, hanya saja dia memilih untuk mengabaikannya.

'Aneh ....'

®®®

"Mau cari buku apa, Nona?" sahut seseorang pemuda berkacamata yang mengenakan setelan bermerk dari brand ternama, dirinya sedang duduk di balik meja sirkulasi. Pria itu adalah penjaga perpustakaan tua di kampus SNU.

"Aku tidak sedang mencari buku, tapi aku ingin bicara padamu," jawab Nona cantik itu kemudian.

Sang pustakawan kini mengalihkan tatapan dari buku yang sedari tadi ia baca, memandang kearah wanita yang berdiri di depan mejanya.

Dia lagigumam pria itu malas. Dirinya sudah hafal betul dengan suara lembut yang khas milik wanita didepannya.

"Baiklah, kita bicara didalam saja," final pria itu memimpin jalan menuju ruangannya. Sang pria kemudian membawa wanita tadi masuk kedalam ruang pribadinya. Sampai disana, sang pria meminta si nona untuk duduk di sofa, sembari menunggu dia menyiapkan teh, juga kudapan untuk menjamu tamunya.

"Ada apa?" tanya si pustakawan.

"Apakah tidak ada cara lain lagi untuk memberi tahu dia?" tanya sang wanita mulai putus asa.

"Hah ... bertanya hal itu terus, jawabanku tetap sama, Nona," ujarnya sedikit angkuh.

Wanita yang sedari tadi meremas ujung bajunya itu menghela nafas sejenak, kemudian berkata, "Kau jahat, bagaimana mungkin hanya aku yang mengingatnya sendirian. Rasanya sangat sakit, melihat dia tidak mengingatku sama sekali." Airmatanya menetes.

Si pemuda yang duduk dihadapannya tersenyum singkat seperti sedang menghina wanita itu, kemudian dia menuang teh hijau, dan meminumnya sendiri, dengan kaki kiri yang ditumpukan ke atas kaki kanan, pria itu memainkan cangkir digenggamannya, "Itu kan permintaanmu sendiri, Nona. Kau yang menukar keuntunganmu dengan kembali kedunia fana ini, aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, tapi kau tidak mendengarkan, jadi kau juga yang harus menanggung resikonya," ujar pria itu tersenyum licik.

Kesal, wanita itu mulai menyentak sang pria dan meninggikan nada suaranya,

" WON—"

"Ssttt ...."

Ucapan si wanita dipotong dengan sangat tidak sopan, sang pustakawan mengarahkan telunjuknya di depan mulut sang wanita, mengisyaratkan agar dia berhenti berbicara.

"Biarkan waktu yang menuntunnya untuk ingat kembali. Kau berpura-puralah seperti biasa. Jangan gegabah, atau takdir kalian akan berubah."

"Jalankan saja peran yang sudah terlanjur kau pilih. Bersabarlah, sampai saatnya kalian bersatu kembali."

"Dan aku peringatkan sekali lagi, berhentilah untuk terang-terangan menatap dirinya dengan pandangan seperti tadi, Ji Eun-ssi. Kalau diteruskan, kau bisa melanggar janjimu."

Perkataan sang pustakawan sukses membungkam bibir cantik milik wanita itu dengan sempurna, amunisi argument egoisnya yang sedari tadi ingin dia lontarkan tiba-tiba saja menguar, entah kemana.

Pria itu kembali menuang teh kedalam cangkirnya, "Kau mau?"

Si wanita hanya mendesis kesal, dirinya kembali kalah melawan si sosok misterius, "Tidak, terimakasih. Dan kau, berhentilah memanggilku dengan embel-embel ssi! Aku ini ratumu, berbicaralah dengan cara yang semestinya!"

"Sepertinya kau masih tidak bisa move on dari masa lalu. Dulu memang kau ratu, tapi aku bukan rakyatmu, juga sekarang aku bukan siapa-siapamu. Caraku menyapa sudah lebih sopan dari yang semestinya." Wonwoo menaikkan kedua alisnya, "Berhentilah mendatangiku, jika kau tidak ingin terus menerus dipermalukan. Aku bukan makhluk baik, yang selalu pandai menjaga sikap, kau tau kan kalau aku sudah marah, akan berbuat apa?"

Wonwoo kembali menyeruput teh di genggamnya, kemudian menggelengkan kepala seraya memejamkan mata sejenak.

"Aku sudah bosan melihat wajah cantikmu itu, Ji-Eun-ssi. Atau haruskah sekarang aku memanggilmu dengan sebutan I-U-Kang-sa? Agar kau tahu diri? Kita tidak di izinkan untuk sering terlibat seperti ini, ingat? Aku tak ingin pak tua itu mengomeliku lagi, dan menambah pekerjaanku.Pergilah!" usir Wonwoo sangat sopan namun sedikit nyelekit.

"Kau menyebalkan!" ujar sang wanita yang kini diketahui bernama IU. Dia bangkit dari duduknya dan menyentakkan kaki lalu meninggalkan ruangan itu dengan sangat tidak beretika.

Sepeninggalan IU, sang pustakawan itu kembali memutar cangkirnya dipiringan kecil lalu menatap cangkir itu seraya menyeringai kecil,

'Semua manusia sama saja, mereka selalu mengeluh saat tuhan menyajikan sesuatu yang pahit seperti rasa dari teh ini.'

⌛⏳⌛
.
.
.

To Be Continued.


====================================

Published: 07 - 05 - 2019
Revised: 23 - 02 - 2020

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top