Chapter 40

Tanpa sadar Jani memperhatikan cincin berlian yang sudah bertengger manis di jari manisnya. Setahun yang lalu Naren mengajaknya untuk menikah, tetapi Jani meminta untuk bertunangan terlebih dahulu.

Semula Jani tak menyangka selera Naren bisa dibilang tak biasa. Cincin berlian yang Jani kenakan merupakan cincin berlian round solitaire bukanlah harga yang murah. Desainnya memang terlihat sederhana, tetapi cincin tersebut memiliki berlian tunggal yang berada di tengah cincin.

"Kapan kawin? Udah setahun tunangan, 'kan?" tanya Daffa memperhatikan objek yang diperhatikan Jani.

"Seharusnya gua setuju pas dia minta nikah," sesal Jani terkekeh miris.

"Jadi perawan tua kan lu," ledek Daffa.

Sejak 3 bulan lalu Jani dan Naren sudah mengurus beberapa keperluan untuk pernikahan mereka. Mulai dari memilih wedding organizer dan tempat untuk melangsungkan pernikahan mereka.

"Bulan depan ada acara reuni, 'kan?" tanya Jani memastikan.

Daffa mengangguk. Tumben sekali Jani menyinggung acara reuni yang selalu dilakukan 5 tahun sekali. "Lu bakalan hadir?"

"Iya. Gua sama Naren memanfaatkan acara reuni buat membagikan undangan pernikahan gua."

Kabar bahagia dapat dirasakan Daffa. Meskipun dahulu ia menyukai Naren, tetapi hubungan mereka saat ini sudah berbaikan. Bahkan Daffa dengan legawa mendukung hubungan Jani dan Naren hingga ke jenjang pernikahan.

"Diam-diam nikah. Dari dulu lu itu diam-diam enggak kelihatan lagi dekat siapa, tiba-tiba jadian. Sekarang kelihatannya aja masih tunangan, eh sebentar lagi nikah."

"Lu kapan nikah?" tanya Jani serius.

Dengan santai Daffa menjawab, "Coba tanya Tuhan. Sejujurnya gua udah punya pacar, tapi laki. Tahu sendiri keluarga gua enggak tahu, bisa-bisa gua dikebiri."

Tawa mencuat spontan. Kasian sekali kisah romansa Daffa, tetapi memang dari awal pilihan cowok itu sudah salah.

"Jangan ketawa dong. Seharusnya lu sebagai sahabat dukung gua!" rengek Daffa membuat Jani bingung bagaimana harus menasehati sahabatnya.

Jangan main api kalau tidak mau kebakar. Sudah jelas-jelas jalan yang dipilih Daffa merupakan jalan yang salah dan Daffa sadar akan hal itu, tetapi cowok itu tetap saja memilih dirinya untuk ikut terbakar.

"Kalau gua nasehati lu pasti lu bakalan enek." Hanya itu yang dapat keluar dari bibir Jani.

"Gua butuh jalan keluar bukan nasehat."

Jani menggeleng tak setuju dengan pernyataan Daffa. "Nasehat gua itu jalan keluar buat lu."

"Kita hentikan pembahasan itu sampai di sini. Selamat buat pernikahan lu yang sebentar lagi akan digelar, jangan lupa bikin surat cuti."

Ia memilih menyerah, tersadar hal tersebut merupakan privasi bagi Daffa. Walaupun Jani merupakan sahabat Daffa, tetapi cowok itu seringkali menarik batas jika sudah membahas hal tersebut terlalu dalam.

***

Ruang tunggu menjadi tempat Jani dan Naren menghabiskan makan siang mereka sembari berjaga-jaga jika Jani mendapatkan panggilan.

"Lu sibuk gini bisa cuti?" tanya Naren memberikan sandwich dan air mineral dalam kemasan botol yang sempat Naren beli.

Jani mengangguk. "Bisa kok. Gak mau lagi diundur, nanti jadi perawan tua kata Daffa," adu Jani dengan wajah lesu.

Atika dan Rania saja sudah menikah beberapa tahun yang lalu, bahkan Atika sudah memiliki malaikat kecil. Jani selalu berhadapan dengan pertanyaan kapan nikah? Sudah ada calon kok ditunda.

"Sabar banget kan gua menunggu lu sampai siap."

Semakin bertambah umur, memang patut diakui kesabaran Naren terhadap Jani. Gadis itu memilih menyender di bahu Naren, bertingkah laku bak anak kecil yang ingin dimanja.

"Makan dulu, nanti enggak ada tenaga kalau kejar-kejaran sama pasien."

Tidak hanya sekali Jani sering berlarian di lorong rumah sakit bersama pasiennya atau bahkan mencari keberadaan pasien yang kabur entah ke mana.

Jani mengangguk dan menegakkan kembali tubuhnya untuk memakan sandwich yang diberikan Naren. Kasian sudah dibeli, masa tidak dimakan.

"Rumah sudah siap sama perabotan. Tinggal ditempatin aja setelah nikah."

Jani mengangguk lagi. Keuntungan menikah di usia yang tak lagi muda ialah persiapan yang sudah dilakukan lebih matang.

"Besok berangkat bareng, 'kan?" tanya Jani membuat Naren mengangguk.

Besok mereka akan menghadiri acara reuni. Memang tidak seluruh murid di angkatan mereka menghadirinya, tetapi sahabat Naren dan Jani akan datang.

"Jangan lupa dibawa undangan pernikahan kita," pesan Naren tanpa disadari pipi Jani memerah.

"Udah berapa tahun sih kita bareng?" tanya Jani tiba-tiba.

"Bosan sama gua?"

Pertanyaan aneh yang keluar dari bibir Naren membuat Jani menggeleng cepat. Dirinya tak pernah bosan dengan kehadiran Naren, malah ia bersyukur Naren hadir di hidupnya dan bertahan hingga saat ini.

"Cepat banget waktu berjalan. Mana pernah gua bosan sama lu. Malahan gua bersyukur lu selalu dukung gua dan jadi penopang saat gua jatuh tersungkur," ujar Jani tulus.

Mendengar kalimat manis, senyum terpatri di bibir Naren. Ia akui waktu memang berjalan terlalu cepat, tetapi kisah yang mereka lalui tidaklah mudah.

"Jangan pernah bosan," pinta Naren dengan tampang melas.

Jani memang alasan hidup Naren berubah lebih berwarna, maka dari itu ia rela untuk memohon agar Jani tak pergi dari hidupnya. Bahkan ia rela memberikan apa saja untuk membuat Jani tetap di sampingnya.

"Enggak akan pernah."

Naren dengan sayang mengelus puncak kepala perempuan yang sudah bersamanya sejak kecil.

Getaran ponsel yang berasal dari saku Jani menyadarkan mereka. Panggilan dari perawat yang berjaga di bangsal rumah sakit memberitahukan pasien dengan gangguan delusi baru saja kabur.

Tidak lagi. Namun, kenyataan pahit membuat Jani setiap hari bermain petak umpet bersama pasiennya.

Sebelum Jani mengambil ancang-ancang untuk berlari, ia harus mengikat tali sepatu yang dikenakannya agar memudahkan ia untuk berlarian di penjuru rumah sakit.

"Nanti jemput, ya?" pinta Jani sebelum ia meninggalkan Naren dengan kecupan singkat di pipi.

***

Beberapa wajah yang tak lekang di makan usia masih dapat Jani kenali. Mereka sempat menyapa kehadiran Jani dan Naren yang masuk secara bersamaan.

Dari jauh Jani dapat melihat kehadiran Atika, Sakha, dan Naufal. Mungkin sahabat mereka yang lain masih terjebak kemacetan ibu kota.

"Jani! Naren!" teriak Atika yang juga menyadari kehadiran pasangan formalin.

Ada-ada saja memang sebutan dari Sakha untuk hubungan Jani dan Naren yang masih awet sampai saat ini. Semenjak Sakha memanggil keduanya dengan pasangan formalin, sahabat Jani dan Naren juga ikut-ikutan.

"Cie mau kawin. Mana nih undangannya?" tanya Atika cipika-cipiki dengan Jani.

Sahabat Jani sudah mendapat kabar melalui Daffa yang membagikan kabar bahagia Jani melalui pesan obrolan group.

Desain undangan pernikahan yang dipilih Jani dan Naren terlihat simpel, tetapi elegan. Sampulnya berwarna coklat susu dan dalamnya berwarna putih gading.

Sembari membagikan undangan pernikahannya Jani bertanya keberadaan buah hati Atika, "Dedek mana?"

"Lu kangen anak gua apa gua sih?" protes Atika lengkap dengan wajah kesal.

"Lu mah udah tua, ngapain gua kangenin."

"Anak kita kali, bukan anak lu doang Tik. Rene dititip, biarkan gua sama Atika menikmati waktu tanpa diganggu," saut Sakha sebagai suami Atika.

Tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita di masa depan dan tidak akan ada yang tahu rencana seindah apa yang sudah Tuhan persiapkan untuk umat-Nya.

Terkadang kita harus berusaha untuk menggapai apa yang kita inginkan. Walaupun terperosok, rasa cinta yang kita punya tak akan membuat kita menyerah.

Rasa cinta yang berlebihan akan menjadi kekuatan kita untuk dapat menggapai apa yang kita inginkan. Tidak ada yang salah dengan rasa cinta, asalkan digunakan di jalan yang tepat.

Jani dapat membuktikan rasa cintanya yang besar untuk menggapai mimpi dan kemauan keluarganya.

E*N*D

Alhamdulillah selesai juga. Setelah lama hiatus, akhirnya cerita ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu.

Terima kasih banyak yang sudah membaca cerita ini.

Salam Hangat
Puding05💞

22 Juli 2022

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top