Bab 26
***
Perjalanan darat sejauh hampir dua jam itu terasa begitu sunyi. Dari balik kemudi, Raka terus memfokuskan pandangannya pada jalanan aspal yang mulai menyempit, diapit oleh barisan pohon kelapa yang menjulang tinggi. Angin laut yang khas mulai menyusup ketika Kirana membuka sedikit kaca jendela mobil.
Raka mengembuskan napas panjang. Pikirannya melayang pada kenangan beberapa bulan lalu. Di pantai inilah, dia, Kirana, dan papanya, Wirya, sempat menghabiskan waktu bersama untuk mencari ketenangan sebelum semua badai masalah menghantam rumah tangga mereka. Saat itu, suasananya begitu damai. Hanya ada tawa kecil Wirya dan ketenangan yang mereka dambakan.
Namun, situasi hari ini sangat berbeda. Raka melirik kaca spion tengah. Mertuanya, Ningsih dan Harun, duduk dengan posisi kaku di kursi baris ketiga. Ningsih hanya menatap keluar jendela dengan bibir terkatup rapat, sementara Harun beberapa kali berdeham canggung mencoba memecah kesunyian.
Di baris kedua, Wirya duduk dengan tenang di samping tumpukan tas kecil. Sesekali pria paruh baya itu tersenyum menatap hamparan laut biru yang mulai terlihat di kejauhan. Raka sengaja membawa papanya ikut serta. Dia sama sekali tidak tega meninggalkan Wirya sendirian di rumah setelah semua konflik yang terjadi.
Mobil SUV hitam itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di area parkir pondok kayu penginapan yang menghadap langsung ke pantai.
"Kita sudah sampai," ucap Raka memecah keheningan sembari mematikan mesin mobil.
Kirana segera turun dan membukakan pintu untuk Wirya, menuntun mertuanya itu dengan sabar. Sementara Raka berjalan ke bagian belakang untuk membukakan pintu bagi Ningsih dan Harun. Harun turun dengan helaan napas lega, diikuti Ningsih yang langsung merapikan pakaiannya dengan wajah masam.
Sembari membawa beberapa tas jinjing menuju lobi, Raka sengaja memperlambat langkahnya. Dia menunggu Ningsih dan Harun berjalan sejajar dengannya, agak menjauh dari jangkauan Kirana dan Wirya yang sedang berjalan lambat menikmati embusan angin sore.
"Ma, Pa," panggil Raka dengan nada bicara yang datar namun terdengar tegas. "Untuk makan malam nanti, pihak penginapan sudah menyediakan restoran di dekat area lobi. Kita semua akan makan di sana."
Harun mengangguk pelan. "Iya, Raka. Terima kasih sudah menyiapkannya."
Raka menghentikan langkah sejenak, membuat mertuanya ikut berhenti.
"Satu hal lagi yang perlu saya perjelas," lanjut Raka, menatap Ningsih secara langsung. "Saya hanya menanggung biaya sewa penginapan dan makan malam utama yang sudah disediakan di restoran. Kalau Mama atau Papa ingin membeli kebutuhan pribadi, jajanan, atau belanjaan lain di minimarket luar, tolong bayar sendiri-sendiri menggunakan uang masing-masing."
Ningsih langsung menoleh dengan dahi berkerut, tampak tersinggung mendengar ucapan menantunya. "Kamu jadi perhitungan sekali sekarang, Raka? Hanya untuk urusan belanja kecil di minimarket saja harus diperjelas seperti ini?"
"Ini bukan soal perhitungan, Ma," sahut Raka tenang, tanpa ada niat menaikkan intonasi suaranya. "Ini soal batasan. Saya ingin semua hal jelas sejak awal agar tidak ada yang merasa diberatkan atau salah paham nantinya."
Harun memegang pundak istrinya, memberi isyarat agar Ningsih tidak memperpanjang perdebatan. "Sudahlah, Ma. Apa yang dibilang Raka itu memang benar."
Raka mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Wirya yang sedang tertawa kecil menunjuk deburan ombak di samping Kirana. Hatinya mencelos. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi ketenangan papanya selama berada di sini.
"Papa Wirya juga ikut bersama kita," ucap Raka kembali menatap mertuanya, kali ini dengan suara yang lebih rendah. "Saya tidak tega membiarkan Papa sendirian di rumah. Jadi, saya minta dengan sangat... tolong jaga jarak dari Papa selama kita di sini. Jangan sampai ada tindakan atau ucapan dari Mama yang bisa menyinggung atau memicu keributan. Saya ingin liburan kali ini benar-benar tenang."
Ningsih membuang muka dan mendecih pelan, namun dia tidak membantah ucapan Raka. Dia masih ingat betul bagaimana marahnya Raka saat mereka bersitegang di rumah tempo hari.
"Saya harap Mama bisa memegang komitmen ini," tambah Raka dengan tegas sebelum akhirnya melangkah mendahului mereka untuk menghampiri Kirana dan papanya.
***
Makan malam di restoran dekat lobi penginapan itu berjalan lambat dan penuh keheningan yang dipaksakan. Setelah selesai, tidak ada yang berniat memperpanjang obrolan. Harun dan Ningsih langsung pamit kembali ke kamar mereka di baris depan, sementara Kirana mengantar Wirya ke kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar Raka.
Malam itu, Raka merebahkan tubuhnya sendirian di atas ranjang kayu penginapan. Kamar terasa sunyi, hanya menyisakan suara deburan ombak samar-samar dari balik dinding. Raka hanya mengenakan kaos oblong tipis berwarna hijau dan celana pendek krem santai. Kelelahan setelah menyetir hampir dua jam serta ketegangan emosional sepanjang hari membuatnya cepat terlelap. Tidurnya begitu nyenyak, tenggelam dalam ketenangan malam pantai yang dingin.
Hingga kemudian, suara derit halus dari pintu kamar yang terbuka perlahan mengusik tidurnya.
Raka mengerutkan dahi, matanya mengerjap menyesuaikan dengan cahaya remang-remang yang menerobos masuk dari koridor luar. Dia bangkit, menumpu badannya dengan satu siku, lalu mengusap wajahnya yang masih terasa berat.
Sesosok wanita melangkah masuk dengan sangat pelan, berusaha tidak membuat keributan. Itu Kirana. Kedua tangannya membawa dua kantong belanjaan minimarket. Begitu menyadari suaminya sudah terbangun dan menatapnya, sebuah senyuman tipis langsung terbit di wajah Kirana.
"Kamu dari mana?" tanya Raka dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Dia menegakkan duduknya di tepi ranjang. "Kenapa nggak ngajak aku? Padahal aku pengin nemenin kamu belanja."
Kirana meletakkan kantong belanjaan di atas meja kayu kecil di sudut kamar, lalu berjalan menghampiri Raka.
"Tadi aku lihat kamu tidurnya pulas banget, Mas," jawab Kirana lembut. Dia berdiri tepat di depan suaminya. "Napasmu teratur banget, kelihatan capek. Makanya aku nggak tega buat bangunin kamu."
Raka tertawa kecil. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bersalah karena ketiduran begitu cepat. "Ya tapi kan bahaya kalau kamu jalan sendirian malam-malam, meskipun minimarketnya nggak jauh dari sini."
"Kan aku udah biasa mandiri, Mas," goda Kirana dengan nada bercanda, membuat Raka kembali tersenyum.
Keheningan kembali merayap di antara mereka, namun kali ini terasa begitu hangat dan menenangkan. Raka yang duduk di sisi ujung tempat tidur mendongak, menatap lurus ke arah Kirana yang berdiri tegak di hadapannya. Rambut wanita itu sedikit berantakan karena embusan angin malam pantai, namun di mata Raka, Kirana tetap terlihat sangat cantik dalam balutan pakaian santainya.
Seketika, Raka terpukau. Pikirannya melayang pada waktu yang telah mereka lalui bersama.
Satu tahun. Bagaimana bisa dia bertahan melewati pernikahan yang penuh gejolak ini bersama Kirana?
"Kirana," panggil Raka pelan, memecah kesunyian.
"Iya, Mas?" Kirana menatapnya lekat, menyadari ada perubahan nada bicara pada suaminya yang kini terdengar lebih dalam.
Raka meraih salah satu tangan Kirana, menggenggamnya lembut. "Aku cuma kepikiran... sudah satu tahun kita menikah. Dan aku bener-bener bersyukur."
Kirana diam, mendengarkan dengan saksama.
"Meskipun kemarin sempat ada badai yang hebat banget, masalah yang rasanya mau bikin kita menyerah, kita terbukti nggak goyah sama sekali," lanjut Raka, ibu jarinya mengusap punggung tangan Kirana perlahan. "Semua masalah itu justru malah makin ngeratin hubungan kita. Bikin aku sadar kalau aku nggak salah milih kamu."
Mendengar penuturan jujur itu, mata Kirana berkaca-kaca. Dia bisa merasakan ketulusan yang mengalir dari genggaman tangan dan tatapan suaminya. Kirana melangkah satu tapak lebih dekat, hingga lututnya hampir menyentuh ujung ranjang.
Dia mengangkat tangan bebasnya, lalu mendaratkan telapak tangan hangatnya di pipi Raka. Ibu jarinya mengusap lembut rahang suaminya yang tegas. Kirana mengembuskan napas panjang, mencoba menahan emosi haru yang membuncah di dadanya.
"Aku juga bersyukur banget, Mas," bisik Kirana, suaranya sedikit bergetar. "Aku bersyukur kita bisa bertahan sejauh ini. Walaupun... badai dari Papa sama Mama kemarin rasanya besar banget dan diniatin buat ngegoyangin kita."
Kirana menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Raka. "Tapi karena kamu tetep megang tangan aku, aku jadi punya kekuatan buat bertahan."
Mereka berdua terdiam, saling mengunci pandangan dalam keheningan kamar yang remang. Waktu seperti berhenti berputar, menyisakan kehangatan yang menjalar di antara tubuh mereka yang berdekatan.
Kirana memulai lebih dulu. Dia mencondongkan wajahnya, lalu mengecup lembut bibir Raka. Hanya sebuah kecupan singkat yang sarat akan rasa sayang. Dia menjauhkan wajahnya sejenak, menatap Raka yang masih terpaku, sebelum kembali mendekat dan menekan bibirnya ke bibir suaminya untuk kedua kalinya.
Kecupan kedua itu membuat pertahanan Raka runtuh.
Raka tidak membiarkan Kirana menjauh lagi. Kedua tangannya bergerak cepat memeluk pinggang Kirana, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Raka mendongak, memiringkan kepalanya sedikit, dan membalas kecupan itu dengan lumatan yang lebih dalam dan penuh kerinduan. Kirana memejamkan mata, mengalungkan lengannya di leher Raka, menikmati kehangatan suaminya yang meluap malam itu.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top