Bab 17

***

Malam merambat pelan, menyelimuti rumah yang terasa begitu sunyi. Kamar utama di mana kamar yang seharusnya diisi dua napas, dua tubuh, dan dua kehangatan, di situlah Kirana duduk sendirian. Mengenakan piyama katun berbahan lembut, punggunya bersandar di kepala ranjang, lutut ditekuk, serta kedua tangan memeluk bantal yang harusnya jadi milik Raka.

Lampu kamar tak dimatikan sepenuhnya. Cahaya temaram merosot sampai dinding, membentuk bayangan panjang yang justru membuat kesepian semakin terasa nyata.

Sisi ranjang di sampingnya kosong.

Kirana menoleh. Seprai di sana masih rapi, tak berkerut, tak berjejak. Tak ada aroma sabun maskulin yang biasa tertinggal di bantal. Tak ada lengan yang terulur, menariknya mendekat saat tengah gelisah di tengah malam.

Dadanya terasa sesak.

Dia sadar, dia tak akan mudah tidur tanpa Raka di sisinya. Bahkan saat suaminya pulang larut, Kirana selalu menunggu—hingga suara langkah itu terdengar, hingga kasur sedikit berguncang saat Raka berbaring, hingga kecupan singkat di pucuk kepala yang membuatnya tenang.

Baru beberapa jam Raka pergi. Bahkan belum genap sehari.

Namun rindu itu sudah memenuhi dadanya.

Kirana memejamkan mata, mencoba mengingat aroma tubuh Raka yang selalu menenangkan. Bau khas yang tak pernah bisa dia jelaskan—perpaduan sabun, sisa keringat, dan sesuatu yang hanya dimiliki suaminya. Tentu, dia merindukan pelukan hangat itu. Cara Raka memeluknya dari belakang, dagu bertumpu di bahunya, napas hangat menyentuh lehernya.

Harusnya Kirana bisa bertahan sedikit lebih lama.

Seharusnya.

Namun kenyataan, Kirana merindukan Raka lebih dari yang dia duga.

Tangannya meraih ponsel di atas nakas. Layar menyala, memantulkan wajahnya yang tampak lelah. Tanpa banyak berpikir, dia membuka kontak Raka. Berpikir apa dia melakukan panggilan video saja? Rasanya tak sanggup, entah bisa menahan air mata jika melihat wajah suaminya.

Mendengar suaranya saja sudah cukup.

Lebih baik panggilan suara, itulah pilihan yang tepat. Tanpa ragu, Kirana langsung menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar satu kali. Dua kali.

Tak butuh waktu lama hingga panggilan itu terangkat.

"Iya, Kirana? Kenapa?" suara Raka terdengar di seberang. Rendah dan hangat.

Air mata Kirana menggenang tanpa izin.

Di sisi lain, Raka baru saja selesai mencuci muka. Dia berdiri di dekat wastafel kamar penginapan, handuk kecil masih tersampir di lehernya. Begitu mendengar napas Kirana yang berat, alisnya langsung berkerut.

"Kamu kenapa, sayang?" tanya Raka. "Dari tadi napasmu aneh."

Kirana mengusap sudut matanya, berusaha menenangkan diri.

"Kamu ... nangis?" tebak Raka.

"Aku ... cuma pengen bicara sesuatu aja. Soal apa yang aku keluhkan."

"Keluhkan apa?" Raka duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk, ponsel menempel di telinga.

Kirana terdiam sejenak. Lalu, dengan suara pelan yang jujur, dia menjawab, "Aku kangen."

Satu kata itu membuat Raka perlahan memejamkan mata.

"Aku kangen sama kamu," lanjut Kirana, kali ini lebih terbuka. "Kangen dipeluk. Kangen dicium sebelum tidur. Kangen suara kamu kalau ngomong pelan sambil meluk aku."

Setiap kata yang dia dengar terasa berat di dada Raka.

Ada rasa bersalah mengendap, tak dapat diabaikan.

"Kirana." Raka menghela napas panjang, mencoba menahan air mata. "Maafin aku. Maaf."

Raka tahu, mungkin seharusnya dia tidak ikut pergi. Tapi bayangan Wirya yang sendirian, usia papanya yang tak lagi muda, dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika dirinya meninggalkan Wirya sendirian, membuatnya tak punya pilihan lain.

"Aku nggak mau papa kenapa-kenapa," ujar Raka sambil menyeka satu air mata yang lolos. "Kalau situasi kayak tadi terus berlanjut, aku takut."

Kirana memejamkan mata. Dia mengerti. Terlalu mengerti. Dan justru karena itu, rindunya terasa semakin perih.

"Aku mohon," lanjut Raka, suaranya terdengar lebih dalam. "Kamu sabar dulu ya. Sedikit lagi. Kalau semuanya sudah tenang, aku pasti pulang."

Kirana mengangguk namun tak mengeluarkan suara.

"Aku sabar, mas," jawabnya. "Aku selalu sabar."

Di seberang sana, Raka tersenyum tipis. Dia mengangkat rendah ponselnya, lalu mengecup udara dengan pelan.

"Ini buat kamu," ucapnya. "Cium dari jauh."

Kirana tersenyum kecil di balik air mata.

"Aku sayang kamu, Kirana," lanjut Raka, suaranya mantap. "Aku sayang dan cinta banget sama kamu."

Hati Kirana mencelos. Kata-kata itu justru membuat tangisnya semakin berat.

"Aku juga sayang kamu, mas," balasnya pelan.

Beberapa detik kemudian, panggilan itu berakhir. Layar ponsel kembali gelap, menyisakan pantulan wajah Kirana yang basah oleh air mata.

Begitu sambungan terputus, tangisnya pecah. Perlahan dia membenamkan wajah ke bantal, menahan isak agar tak terdengar keluar kamar. Dadanya naik turun, rindu itu akhirnya tumpah tanpa sisa.

Dia sungguh merindukan suaminya.

Namun di balik semua itu, Kirana tahu dia harus menepati permintaan Raka. Dia harus bersabar. Terlebih, sikap Ningsih yang semakin jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Wirya.

Kirana menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu merebahkan diri di sisi ranjang yang terasa dingin.

***

Esok pagi di penginapan. Suasana tenang di kamar Wirya. Raka sendiri bangun pagi-pagi, berbenah dari kamarnya sendiri, untuk menyiapkan nasi kuning yang barusan dia beli beberapa menit lalu.

Udara pagi masih terasa sejuk, suasana yang mendukung seolah memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja lebih keras dari biasanya.

Meja kecil dekat jendela, tertata rapi dua bungkus nasi kuning masih mengepulkan uap hangat. Aroma santan dan bumbu kunyit memenuhi ruangan, menggoda siapa pun yang mencium. Raka duduk di kursi kayu, satu tangannya membuka bungkus nasi itu perlahan. Sementara di sampingnya, Wirya sudah lebih dulu duduk, punggungnya sedikit membungkuk, kedua tangan bertumpu di paha.

Raka melirik sekilas ke arah kaki papanya. Dia benar-benar memperhatikan cara langkah Wirya yang kadang tidak seimbang. Ada jeda kecil setiap kali kaki kanan menapak, seolah menahan sesuatu yang tak terlihat.

Raka tahu, papanya mengalami kecelakaan. Tetapi, akan lebih jelas bila Wirya mengungkap semuanya meski sadar juga bahwa Wirya masih mengalami hiilang ingatan.

Apa kecelakaan yang dialami papa benar-benar ada pengaruh dari seseorang? Batin Raka dalam hati.

"Pa?" panggil Raka pelan.

Wirya menoleh sedikit. "Iya, nak? Kenapa?"

Raka menunda sebentar, seolah tengah menyusun kalimat yang benar agar kesannya tak menyudutkan papanya.

"Papa ingat, kenapa papa bisa kecelakaan sampai kaki papa agak pincang?"

Pertanyaan sederhana itulah yang mungkin dapat memulihkan pelan-pelan ingatan Wirya. Berharap saja Wirya menjawab hal itu meskipun singkat atau ala kadarnya.

Wirya sendiri tidak langsung menjawab. Tangannya yang semula hendak menyuap nasi justru terhenti di tengah jalan. Wajahnya perlahan mengeras, bukan karena marah—lebih seperti seseorang yang sedang mencoba membuka laci lama yang sudah lama terkunci.

"Papa ... ditabrak," jawab beliau akhirnya, singkat.

Raka mengangkat pandangannya lalu menebak. "Tabrak lari?"

Wirya mengangguk kecil. "Iya."

Jawaban itu terlalu ringkas. Tidak ada detail, tidak ada emosi yang menyertai. Seolah itu hanya kepingan informasi yang tersisa, tanpa cerita lengkap di belakangnya.

Begitu pertanyaan selanjutnya meluncur, Raka kali ini lebih berhati-hati. "Apa setelah kejadian itu, papa sempat nggak bisa jalan? Apa sampai dinyatakan lumpuh?"

Wirya langsung menggeleng, lebih cepat dari sebelumnya. "Nggak lumpuh juga, nak."

Nada suaranya sedikit lebih tegas, melanjutkan.

"Hanya patah kaki. Waktu itu memang susah jalan. Lama juga pulihnya." Ucapannya terhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah, "Sampai sekarang juga ... ya begini."

Ada jeda setelah itu.

Raka memperhatikan ekspresi wajah di depannya. Tidak ada tanda-tanda bahwa Wirya sedang berusaha menutupi sesuatu. Tapi justru itu yang membuatnya terasa ganjil. Semua jawaban tersebut benar-benar seperti kepingan yang terpisah.

"Terus habis kejadian itu, papa langsung dibawa ke rumah sakit?" tanya Raka lagi.

Wirya tak langsung jawab melainkan tatapan yang kosong mengarahkan pandangan ke atas meja. Seolah tak melihat apa pun.

Alisnya sedikit berkerut, seperti seseorang yang berusaha keras mengingat sesuatu yang terus menjauh setiap kali didekati.

Beberapa detik berlalu, dan tak lama menghela napas pelan.

"Papa ... nggak ingat lagi," ucapnya akhirnya.

Sederhana. Datar.

"Tiba-tiba kosong." Wirya mengetuk pelan pelipisnya sendiri, senyum tipis yang tidak benar-benar menunjukkan perasaan apa pun. "Seperti ... nggak ada apa-apa di kepala papa."

Raka terdiam, melepaskan sendok di tangannya, menghentikan pergerakan. Nafasnya tertahan, merasa sedikit sesak. Melihat bagaimana papanya mengucapkan hal itu tanpa emosi sekalipun. Seolah, hilang ingatan adalah hal yang bisa dia terima begitu saja.

Padahal bagi Raka, itu bukan hal kecil.

"Semuanya hilang?" tanya Raka pelan memastikan.

"Tidak semuanya hilang, nak. Terkadang papa membayangkan kejadian itu namun langsung hilang lagi." Wirya kemudian menggeleng pelan. "Rasanya capek bila memikirkan semua itu, nak."

Kalimat itu terdengar ringan, tapi justru membuat Raka semakin terdiam.

Dia menunduk, menatap nasi kuning di tangannya yang sudah tidak lagi hangat. Aroma santannya kini terasa hambar di hidungnya.

Di kepalanya, banyak pertanyaan bermunculan—tentang kecelakaan itu, tentang bagaimana kondisi Wirya waktu itu, tentang siapa yang menolongnya, tentang kenapa semuanya bisa hilang begitu saja.

Tapi dirinya sadar, memaksa papanya tak bakal bikin apa pun jadi lebih jelas.

Raka menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Matanya kembali terangkat, menatap sosok di sampingnya—pria yang meski kehilangan banyak hal, dia tetaplah papanya.

Dalam diam, tekad itu tumbuh. Dia tidak akan menyerah begitu saja.

Kalau ingatan itu hilang ... maka dia akan bantu untuk menemukannya. Sedikit demi sedikit. Pelan-pelan, tanpa paksaan.

Raka menggenggam sendoknya lebih erat, lalu kembali menyuap nasi, meski rasanya masih hambar.

"Baiklah kalau begitu, pa," ucapnya berusaha terdengar ringan. "Yang penting sekarang papa masih bisa jalan, kan? Meski masih pincang?"

Wirya mengangguk kecil. "Iya, nak."

"Baguslah." Raka melenggut, merasa lega.

***


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top