Orange

Senyum mu

Tawa mu

Tingkah laku mu

Aku suka semua itu, semua yang ada di dirimu.


"Ku mohon jangan pergi?! Aku masih membutuhkan mu!!"

Hey

Apa kau ingat pertama kali kita bertemu?

Kau berbohong pada ku, kau bilang tidak akan menangis jika bersamaku.

Tapi sekarang....


"Hiks.....k-kau masih ingat dengan janji kita kan?"

Janji ya?~

Janji yang pernah kita buat saat masih kecil.

Kita akan hidup bersama dan saling mencintai.

❤️🌸❤️

Orange

Non Idol!AU

Pair: RikuTsumugi

By: Anggun_P1004

❤️🌸❤️


Sakura?

Kelopak bunga berwarna merah muda yang cantik itu masuk melalui jendela, terbawa oleh hembusan angin kecil musim semi.

Sudah berapa lama ya dia berada di rumah sakit? Hari? Minggu? Bulan? Dia tidak tahu.

Dia melihat ke tangan mungilnya, terlihat pucat dan kurus. Dia mengambil cermin, menatap wajah yang kini semakin pucat dari hari ke hari, pipinya tirus dan bibir ranum itu tampak tidak berwarna.

Kemana warna bibirnya? Pipi chubby kebanggaannya? Tangannya yang lembut? Kemana semua itu?

Sudah hilang di telan penyakit yang kian menghancurkan tubuhnya itu.

Dia tidak suka keadaan yang seperti ini! Dia tidak lagi cantik dan manis seperti dulu, tidak lagi bercahaya seperti dulu. Penyakit mulai menggerogoti tubuh, rasa bersalah dan takut selalu menghantui setiap hari.

Tok
Tok
Tok

Atensi teralihkan pada pintu plastik berwarna putih, terlihat pemuda berdiri dengan senyum yang selalu ia tunjukkan, senyum yang mungkin akan selalu dia rindukan untuk di lihat selama berjam-jam.

"Melamun saja, nanti kerasukan roh baru tahu rasa"

Dia terkekeh pelan, ucapan pemuda ini selalu membuatnya bahagia walau sesaat. Pemuda itu duduk di bangku sebelah ranjang, menaruh jaket dan kotak makan.

"Sudah makan?"

"Uhm! Tapi itu tidak memuaskan. Riku-san benar, makanan rumah sakit memang tidak enak. Rasanya hambar!"

Lelaki yang di panggil Riku itu, membusungkan dada bangga- benar karena makanan rumah sakit memang tidak enak.

"Aku ingin....."

Menaruh jari telunjuk di dagu, memiringkan kepala seraya bergumam- pose berfikir, lalu dia berteriak kecil.

"Aku mau Omurice!"

Tersenyum, menampilkan deretan gigi putih yang bersih, mata nya sedikit menyipit membuat dia menjadi sedikit imut.

"Eh? Tapi aku hanya membawa Roti Manjuu. Apa kau benar-benar ingin Omurice?"

"Ya sudah. Mana sini rotinya, aku lapar"

"Bukankah kau habis makan?"

"Berikan saja!"

Tidak ingin memulai perdebatan yang tidak berguna, Riku lebih memilih menyerahkan kotak makan yang ia bawa tadi.

Gadis itu membuka kotak makan itu, matanya berbinar-binar seperti anak kucing yang baru saja di beri makan oleh majikan. Terlihat menggemaskan.

Mengambil satu potong Roti dan memasukkan ke mulut lalu mengunyahnya perlahan-lahan.

"Asal Rumah sakit ini menyediakan makanan manis. Pasti aku tidak akan mengeluh"

"Kau pikir rumah sakit itu Restoran?"

"Memang kenapa? Lagian makanan rumah sakit memang hambar kan, itu tidak enak"

"Iya-iya terserah kau saja. Cepat habiskan"

"Riku-san tidak mau?"

"Suapi"

Eh? Apa? Dia tidak salah dengar kan? Lelaki didepannya ini minta di suapi? Ini tempat umum, hey! Lagipula bukannya yang sakit harus di suapi, kenapa malah dia yang harus menyuapi lelaki ini.

Merasakan jantungnya berdetak dengan cepat, wajah memanas dan pipi memerah, membuatnya kikuk dan bingung sendiri.

"Ti-tidak mau"

"Hee?~ bukankah tadi kau menawariku?"

"Aku hanya menawari, bukan menyuapi. Itu berbeda!"

"Tapi aku maunya di suapi. Bagaimana dong?"

Ugh- mata menyebalkan itu selalu saja membuatnya tidak tega. Bagaimana bisa seorang remaja berusia 18 tahun bisa membuat tatapan seperti itu?!

"Ya sudah! Ini. Cepat buka mulut"

"Hehe~ gitu dong. Aaaa~"

Suapan pertama masuk ke mulut dengan sangat pelan, wajahnya semakin memerah sementara pemuda di depannya tersenyum penuh kemenangan.

"Owiya. Tswumu apwa kaw mau jwalan-jwalan kelwal"

"Telan dulu Riku-san"

Glek~

"Jadi, apa kau ingin jalan-jalan keluar? Cuaca sedang cerah"

Menoleh ke arah jendela, melihat awan yang tidak terlalu mendung, angin berhembus pelan dan pohon-pohon bergoyang seraya angin bertiup.

Ingin sekali melihat pemandangan yang indah diluar sana tapi sepertinya tidak dulu.

"Riku-san"

Empunya nama menjawab dengan gumaman kecil, menatap dengan manik merah lembut dan penuh kehangatan. Mungkin yang akan dia rindukan.

Rasa takutnya akan kehilangan menjadi besar setiap hari, setiap saat dimana hidupnya tinggal beberapa saat lagi.

"Apa kau..."

Menggantungkan kalimat, menyiapkan hati untuk mengucapkan kata yang dia sendiri tidak percaya keluar dari bibirnya.

"-tidak ingin mencari pengganti ku?"

Atmosfer berubah seketika, suasana yang tadinya ceria dan hangat berubah dalam sepersekian detik. Menjadi dingin dan sedih.

Riku menggigit bibir, merasa kesal dengan penuturan gadis ini. Dia benci suasana dan topik pembicaraan ini!

"Masih banyak gadis diluar sana. Gadis yang lebih cantik-"

Aku tidak mau!

"-yang lebih sehat dariku-"

Tidak!!

"-dan mungkin bisa menjaga mu sampai tua nanti"

Di Tsumugi sendiri. Dia takut, takut suatu saat pemuda di depannya ini akan pergi meninggalkannya. Dia tidak mau itu! Tapi dia juga tidak bisa pergi meninggalkan pemuda itu sendiri.

"Tidak. Keputusan ku tetap sama, lagipula belum tentu kau akan pergi selamanya"

Tersenyum. Senyum secerah mentari yang akan terus ia kenang dan ia rindukan.

"Aku tidak akan pergi meninggalkan mu, tenang saja. Aku janji"

Melihat senyum itu dia juga ikut tersenyum, menganggukkan kepala dengan semangat dan menjawab 'iya'

Tapi...

Tetap saja rasa takut semakin menjadi.

~•~•~•~•~•~

Malam hari. Rembulan bersinar terang, langit bertabur bintang warna warni. Tsumugi tidak bisa tidur, pikirannya melayang kemana-mana.

Dan yang pasti dia merasa takut.

Mencoba bangun dan duduk di atas ranjang, mengambil air untuk minum. Entah kenapa tenggorokannya terasa kering.

Dia melihat ke arah jendela, memperhatikan bulan yang terlihat sangat besar dan indah.

Dia merasa takut akan kehilangan, dia tidak mau merasakan rasa yang sama seperti saat dia kehilangan kedua orangtuanya.

Mengambil sebuah kertas dan pena, menuliskan surat yang mungkin akan jadi surat terakhir darinya.

"Hey...."

"Apa kau baik-baik saja?"

"Apa kau masih senantiasa tersenyum?"

"Apa kau sudah menemukan seseorang yang sangat kau cintai?"


"Eh?"

Air mata keluar, jatuh ke pipi dengan derasnya. Tanpa sadar dia terisak, mengeluarkan segala emosi yang mengganjal hati.

Menangis menjadi satu-satunya cara untuk mengeluarkan rasa resah yang tidak terucapkan di bibir.

"Bagaimana keadaannya, sensei?"

"Sepertinya penyakit nya itu sudah menyebar ke seluruh paru-paru"

"Tapi apa tidak ada cara lain?"

"Ada. Yaitu operasi tapi kemungkinannya sangat kecil untuk sembuh"

"Ya sudah lakukan saja! Biayanya saya yang tanggung. Semua persyaratan saya yang akan menanggungnya"

"Baiklah. Tapi..kenapa kau mau melakukan ini?"

Terdiam. Riku tidak dapat menjawab apapun, dia hanya ingin orang yang dia sayang dapat hidup dan bahagia bersamanya.

"Kau tahu kan Tenn-nii tiada karena apa Yuki-sensei?"

Dokter yang di panggil Yuki itu juga terdiam. Dia tahu bagaimana perasaan pemuda di depannya ini, dia masih ingat bagaimana terpuruknya Riku setelah kepergian sang kakak 5 tahun yang lalu.

Riku melamun setiap saat, selalu bilang jika kakaknya ada bersamanya dan lebih dari sepuluh kali mencoba bunuh diri. Tapi itu berubah saat dia bertemu dengan seorang gadis.

Gadis yang saat ini sedang bertahan hidup dengan penyakit yang sama dengan yang diderita Tenn lima tahun yang lalu.

Kanker Paru-paru.

Itulah penyakit yang merenggut nyawa kakak Riku dan juga penyakit yang saat ini menggerogoti tubuh gadis malang itu.

"Baiklah terserah padamu tapi ingat jaga juga kesehatan mu, sekarang musim sering berganti"

"Uhm! Wakkata!"

Riku tersenyum, membuat Yuki juga ikut merasakan hal yang sama. Riku sudah dia anggap sebagai adik kecilnya.

Tanpa mereka sadari, Tsumugi mendengar semuanya. Dia merasa sedih dan itu membuatnya semakin tidak tega untuk pergi meninggalkan Riku, mengingat Yuki pernah bercerita jika Riku hampir bunuh diri lebih dari sepuluh kali. Akibat tertekan karena kematian sang kakak.

Tapi...

Apa mereka bisa bersama?

Mari kita sembunyikan fakta itu.

Sembunyikan untuk selamanya

Ya, selamanya.

Fakta bahwa mereka tidak akan bisa bersama.

Riku membuka kelopak matanya, menampilkan sepasang manik merah yang sembab akibat menangis semalaman.

Duduk di pinggir ranjang, menguap dan melihat ke sekeliling-mengumpulkan kesadaran.

Drrt~

Dia menoleh ke arah meja di sebelah ranjang, terlihat ponselnya berbunyi tanda ada seseorang yang menelfon. Dia mengambil ponsel itu

Yuki-sensei is Calling


Melihat nama tersebut, Riku langsung mengangkatnya.

"Riku-kun! Kau ada dimana?"

"Aku ada di apartemen, baru saja bangun. Memang kenapa?"

"Cepat ke rumah sakit. Tsumugi-chan, dia...."

"Tsumu kenapa Sensei?!"

"..dia sekarat"


Bagai disambar petir, Riku langsung bangun. Mengambil jaket, memakai sepatu lalu pergi keluar. Tidak peduli dengan wajahnya yang masih terlihat mengantuk, rambut yang berantakan dia tidak peduli dengan hal itu.

Dia berlari ke rumah sakit secepat yang ia bisa, nafasnya sudah tersengal tanda asmanya akan kambuh.

Tin!

Dia berhenti, menatap mobil yang berada di sebelahnya saat ini. Kemudian kaca mobil itu terbuka, menampilkan adik dan kakak yang ia kenal wajahnya.

"Kau mau kemana Riku? Buru-buru sekali"

"Ke rumah sakit! Tsumu sekarat"

"Apa?! Kalau begitu ayo naik. Aku akan mengantarmu sampai sana"

"Arigatou Mitsuki, Iori"

"Cepat Nanase-san!"

Mitsuki dan Iori, adik kakak Izumi yang tinggal di dekat apartemennya. Dua sosok ramah yang selalu membantu Riku kala kesusahan.

Mitsuki langsung menginjak gas, melaju dengan kecepatan penuh menuju Rumah sakit. Sementara Iori memberikan Inhaler kepada Riku agar tidak kambuh, kebetulan Riku membawa inhaler di kantung jaketnya.

Ckit!

"Terimakasih lagi atas tumpangannya Mitsuki!"

Riku langsung berlari keluar mobil, meninggalkan Iori dan Mitsuki.

Perasaan ku tidak enak!

Dia berlari menaiki tangga menuju lantai tempat kamar Tsumugi berada. Perasaannya semakin menjadi.

Brak!

"Yuki-sensei!"

"Riku-kun.."

Manik merah itu membelalak, melihat gadis yang ia sayang terbaring lemah dengan alat penopang hidup terpasang di seluruh tubuh.

Wajah pucat, pipi tirus dan tubuh tidak bertenaga. Berbeda dengan dia lima tahun yang lalu, dulu dia masih ceria, masih bisa berlari kesana kemari tanpa hambatan apapun.

Kami-sama! Bisakah aku menggantikan dia? Aku mohon.

Melihat Tsumugi seperti membuat dadanya sesak, lebih sesak dibandingkan saat dia kambuh.

Kenapa tidak aku saja yang menerima penyakit itu? Aku yang sejak kecil selalu sakit-sakitan, kenapa tidak aku saja yang pergi, kenapa harus orang yang ada di sekitar ku.

"Ri.....Riku..-san"

"Nani?"

"Ji-jika aku pergi...aku ingin...Riku-san tetap ter-tersenyum"

Air mata tidak dapat dia tahan, Seketika dia menangis dan berteriak.

"Chigau! Kau pasti sembuh aku yakin itu. Sembuh kau pasti sembuh!"

Dia menggenggam tangan mungil itu, mencoba memberi kekuatan. Dia tidak mau kejadian yang terjadi pada kakaknya terulang lagi kepada Gadis di depannya ini.

Senyum mu

"Riku-kun. Bisa kau keluar sebentar, kami harus melaksanakan operasi"

"Tidak. Aku ingin disini Yuki-sensei, ku mohon biar kan aku disini!"

Suara mu

"Tapi tidak boleh Riku-kun"

"TIDAK! AKU INGIN DISINI!! TSUMU- HANASHITE!"

Para perawat menarik lengan Riku, menyeretnya keluar dari ruangan itu. Riku memberontak melepaskan pegangan itu, nafasnya sudah tidak beraturan. Dadanya sakit.

Semua cinta yang kau berikan.

Aku suka itu.

"Hah...hah....uhuk-T-Tsumu. Ja-jangan.... per....gi"

Sayonara, Riku-san


Bruk!

Piiip~

------------------------------------

Heii~ aku kembali dengan Oneshoot Idolish7, hehe~

Cerita ini terinspirasi dari Lagu yang di nyanyikan Hatsune Miku, judulnya Orange, Sesuai judul book ini.

Untuk Septet For, nanti aku akan lanjutin lagi. Masih aku ketik chap 5 nya, maafin jika jadi lama up,

Maklum Aku hanyalah seorang pelajar yang senang sekali numpuk tugas dan pada akhirnya ga di kerjain//ngaku juga//

Jangan di contoh, ga baik.

Oke silahkan tinggalkan komentar dan juga jangan lupa vote

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top