Keputusan
Semuanya. Semua 25 balok bata itu hancur menjadi dua. Tak ada balok yang terlewat seperti sebelumnya. Setiap energi yang diterima balok-balok itu seakan-akan sama kuatnya seperti yang diterima balok pertama. Sisa-sisanya tersebar di sekitar Soraru-senpai, melukai telapak kakinya dan merobek bagian bawah celananya, mengundang darah untuk keluar.
Tapi ekspresinya tetap sedatar papan setrika milik Amatsuki.
"Uso darou..." Kashitarou-senpai mengulangi, masih tidak percaya. Suaranya lirih, namun jelas, "Balok-balok itu adalah yang terkeras di Jepang..." dia berlutut dan menyingkirkan sisa serpihannya. Dia terkejut sekali lagi, "Bahkan lapangannya ikut retak?!"
"Sa- Sasuga Soraru-san..." Kain-senpai bergetar saking shock-nya. Dia meraih ketenangannya kembali setelah beberapa detik dan berdehem, meraih perhatian Soraru-senpai, "Soraru-san, terima kasih telah menerima tantanganku, dan maaf yang sebesar-besarnya telah membuat tanganmu menderita seperti itu"
"Oh, ini?" Soraru-senpai mengangkat tangannya yang berdarah lebih parah dari sebelumnya. Aku dapat melihat tulangnya yang mulus dan keras dari balik daging dan darahnya. Duh, jadi gak hanya luarnya, tapi dalamnya juga indah yah...
//tulang aja dibilang indah sama Mafu... Author gak ngerti lagi lah.
"Ini bukan masalah besar. Beri tanganku waktu 3 hari, dan dia akan dapat berfungsi kembali seperti biasa. Kau tak perlu minta maaf, sudah lama sekali sejak aku bersenang-senang seperti ini. Arigatou, Kain-kun" ujarnya.
Seneng darimananya coba? Orang mukanya datar terus dari tadi.
"Soraru-san, Kain-kun, kalian ikut aku ke rumahku habis ini" Kashitarou-senpai kembali bicara, "Aku yakin otou-san pasti ingin tau bagaimana akhir "duel" kalian ini"
"Baiklah" mereka berdua mengangguk.
Di sekitarku, murid-murid mulai bubar, berbisik tentang betapa mengerikannya kekuatan Soraru-senpai. Tak hanya dia, mereka juga mengagumi tekad Kain-senpai untuk bisa mengalahkan Soraru-senpai walaupun berakhir dengan kekalahan telak. Lon-senpai semakin meracau tentang Soraru-senpai, dan itu membuat darahku mendidih.
"Tahan dulu"
Aku menolehkan kepalaku dengan cepat, awalnya terbingung kenapa suara om-om dimiliki oleh gadis seperti Naruse-senpai, namun kemudian aku menghiraukannya saja, "A- Apanya?"
"Jika tatapan bisa membunuh, lontong itu pasti sudah ancur diliatian sama elu terus" Naruse-senpai berkata padaku, tapi tidak melihat ke arahku karena lagi sibuk makai bedak, "Elu pernah digangguin sama dia kan? Tragis amat nasib lo, tapi kalo gue jadi lu, gue pasti lawan balik"
Aku tertawa pahit, "Dia tak pernah membuliku sendirian, Naruse-senpai. Dia pasti selalu membawa teman-temannya"
"Tau. Tapi lu tau gak kenapa dia selalu bareng sama mereka?"
"Are? Kenapa?"
Naruse-senpai memasukan cerminnya dan bedaknya kembali ke saku seragamnya, sebelum memutar kepalanya ke arahku, "Itu karena dia takut. Dia beranggapan bahwa elu lebih kuat daripada dia karena elu tinggi. Ditambah lagi, dia tau lu gak berdaya kalo dikeroyok bareng-bareng. Kalau bisa, pisahkan dia dari teman-temannya, baru elu lawan balik"
"Ta- Tapi kalau kayak gitu bukannya nanti jadi lebih marah sama aku ya, senpai?"
"Serah elu aja deh" Naruse-senpai mengangkat bahu, "Semuanya tergantung elu. Lawan, atau tetap diam. Semuanya keputusan elu. Dah ya, gue balik dulu" dia mengacak-acak surai saljuku dengan senyum kecil di wajahnya, sebelum melenggang pergi.
Lawan saja, atau tetap diam?
Ah, aku bingung, Naruse-senpai...
"Mafu-kun!" terdengar suara Amatsuki dari belakangku, "Disini kau rupanya! Ayo kita balik! Udah kesorean ini mah!" ujarnya sambil memegang lenganku.
"Bentar dulu, Ama-chan!" aku melepaskan lenganku dan setelah aku yakin keadaannya aman, aku berlari ke tengah lapangan, yang telah menjadi saksi bisu dari kekuatan dua lelaki tersebut. Aku berjongkok di depan serpihan balok milik Kain-senpai, meraih darah dari salah satu balok dengan ujung jariku, dan menjilatnya.
"Mafu-kun?!" Amatsuki menyahut kaget di sisiku, "Itu darah kotor! Gak boleh dijilat!"
Hem, manis kayak orangnya. Ah, tampaknya dia tinggal di daerah yang lumayan terisolasi dari jalanan. Darahnya masih bagus, seperti dugaanku.
Aku meraih darah Soraru-senpai dengan jari lainnya dan menjilatnya lagi.
Mm? Golongan darahnya O? Jadi begitu. Lebih pahit daripada darah Kain-senpai. Berarti dia tinggal di kota ya, tapi gak sepahit yang biasanya. Mungkin di kota, tapi bagian yang gak terlalu ramai dengan kendaraan.
Eh? Rasa ini kan...
Amatsuki mengerang putus asa saat aku menyicip darahnya untuk kedua kalinya, "Udah dibilangin jangan dijilat masih aja dilakuin!" dia misuh-misuh sendiri.
Dimana aku pernah menjilat darah ini? Rasanya familiar, namun aneh, seakan-akan aku memang pernah merasakannya, tapi sudah lama sekali...
Masih dengan pertanyaan itu di kepalaku, kami berdua berjalan pulang di bawah naungan matahari senja yang hangat.
.
Soraru, Kain, Luz, dan Kashitarou memasuki rumah sang bertopeng kitsune saat bulan baru saja naik. Dipandu oleh Kashitarou, mereka berjalan ke halaman belakang rumah dan disuruh menunggu disitu sementara Kashitarou akan memanggil ayahnya.
Beberapa menit kemudian, seorang pria keluar berpakaian yukata dari rumah dan menghampiri tiga lelaki tersebut di halaman belakangnya. "Kirihara-sama, konbanwa" mereka bertiga membungkuk hormat pada ayahnya Kashitarou.
"Konbanwa, Soraru-shi, Kain-san, Luz-san" Kirihara membungkukkan kepalanya sebagai balasan, "Kashi sudah menceritakan padaku tentang hasil kekuatan kalian di sekolah. Pada akhirnya, Soraru-shi mengalahkanmu lagi, Kain-san"
"Saya benar-benar minta maaf, Kirihara-sama" Kain berkata dengan wajah menyesal.
"Tak perlu meminta maaf. Aku tau bagaimana potensi kekuatan kalian berdua" sela Kirihara, "Walaupun kekuatan Soraru-shi sangat luar biasa, emosinya adalah singa yang harus dijinakkan, dan karena itulah aku memintamu untuk berlatih bersamanya. Kau adalah muridku yang paling bisa menahan emosinya. Aku yakin, Soraru-shi telah belajar banyak darimu"
"Honto da?" Kain melirik Soraru, yang mendengus dan memalingkan wajahnya. Seakan-akan mengerti, wajahnya langsung mencerah, "Jadi begitu! Soraru-san, harunya kau bilang!"
"Buat apa juga aku bilang soal itu..." gumam Soraru pelan.
"Dengan ini, Kain-san, kau kubolehkan untuk masuk ke dalam perkumpulan" lanjut Kirihara.
Kain tersentak, "Se- Sebentar, Kirihara-sama. Apa anda yakin? Saya tak ingin mengecewakan anda. Orang-orang anda luar biasa kuat. Lagipula saya kan masih SMA..."
"Kau itu sangat beruntung, Kain-kun" gaya bicara Luz berubah tiba-tiba, "Aku mungkin mengenal kalian semua, tapi tetap saja aku tak diperbolehkan masuk sampai umurku 20"
"Ya, aku masih perlu pengamatan lebih untukmu, Luz-san. Kau adalah kasus yang unik, dan aku masih memastikan bahwa kau bisa kupercaya" Kirihara membuka kipasnya dan mengipasi dirinya, menutupi bagian bawah wajahnya, "Setidaknya dari laporan Kashi, aku tau kau bisa diandalkan, tapi aku butuh lebih dari perkiraan semata. Aku perlu bukti"
"Maka dengan cara apa saya bisa membuktikan diri saya kepada anda, Kirihara-sama?" Luz tersenyum kecil, manik violetnya berkilat di bawah cahaya bulan.
Kirihara terdiam menatap Luz, masih dengan kipasnya yang menghalangi mulutnya, "Untuk itu, tanyakan pada Soraru-shi. Karena jika kau sudah menyatakan kesetiaanmu padanya, maka aku tak akan ragu untuk menghormatimu. Kau boleh pergi, Luz-san. Sudah malam. Sebaiknya kau bersiap untuk ke sekolah besok"
"Sesuai perintah anda, Kirihara-sama" Luz membungkukkan tubuhnya, sebelum beranjak meninggalkan taman belakang rumah besar bergaya Jepang tersebut.
"Soraru-shi, Kain-san" Kirihara menunjuk mereka berdua dengan kipasnya, sebelum mengarahkannya ke pintu di belakangnya, "Kalian masuklah. Biar istriku yang merawat luka kalian, dan silahkan gunakan kamar tidur tamu. Kalian perlu istirahat yang cukup"
"Kirihara-sama, maaf jika saya terdengar lancang dan tidak menghargai kebaikan anda" Soraru memulai, "Tapi bisakah saya tidur di kamar Kashitarou-kun malam ini?"
"Saya juga" Kain angkat bicara, "Saya juga memiliki permintaan yang sama dengan Soraru-san"
"Hmm, baiklah. Aku yakin Kashi tidak akan keberatan, benar bukan?" ujar Kirihara sembari menolehkan kepala ke putra semata wayangnya.
"Tentu, otou-san. Tentu saja aku menerima teman-temanku untuk tidur di kamarku dengan senang hati" Kashitarou tersenyum cerah, "Ayo, minna. Pertama-tama, mari kita obati luka kalian dulu" lelaki bertopeng kitsune itu berjalan ke belakang dua temannya dan mendorong mereka perlahan dari belakang bahu, menyuruh mereka untuk maju.
Senyum tipis mengembang di wajah Kirihara saat menyaksikan putranya membimbing dua muridnya ke dalam rumah.
~~~
A/N : Setidaknya tugas dah mulai author selesai kerjain semua...
See you next time!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top