Chapter 3
Yuhuuu update❤
Selamat menikmati suguhan indah wkwkwk XD

#Playlist: I Put A Spell On You - Annie Lennox
•
•
Di atas tempat tidur Rumbai tetap tak bisa melihat apa-apa. Tangannya masih diborgol pula. Sungguh, firasatnya mengatakan kegilaan First belum berakhir. Saat ingin bertanya, kedua tangannya dilepas dari borgol. Dia senang. Sialnya itu tidak berlangsung lama karena ternyata kedua tangannya diikat ke atas dengan tali.
"Fi-First?"
"Hm?"
Rumbai bingung, tapi sepertinya dia tahu sesuatu. First ingin melakukan eksperimen lainnya yang tak kalah gila. Dia tidak berani bertanya dan mengatup bibirnya rapat-rapat. Sebenarnya dia juga penasaran, apa yang akan dilakukan First.
"This is the real pleasure. Just wait, Baby Girl."
Tiba-tiba hening. Suara yang Rumbai dengar selanjutnya adalah lagu Annie Lennox yang berjudul I Put A Spell On You. Ya, ampun! Lagu itu merupakan salah satu soundtrack film Fifty Shades of Grey. Jangan bilang First ingin mencambuknya tanpa memikirkan permintaan di ruang makan. Namun, pikiran Rumbai salah. Bukan cambuk yang menyapa tubuhnya melainkan tangan sedingin es. Tangan besar itu menyapa bagian puncak dada, meremasnya pelan, dan perlahan turun mengusap perutnya. Tangannya benar-benar dingin. Rumbai sampai kedinginan sendiri.
Tak cuma sebatas menyapa perut, tangan kokoh itu bergerak turun menyentuh pahanya. Semakin lama tangannya tambah dingin. Entah apa yang First gunakan sampai tangannya sedingin itu. Rumbai cuma tahu sensasi tak biasa ini berhasil membuatnya mabuk kepayang.
Di sela-sela dingin itu, jari-jari kembali memasuki diri Rumbai. Untung saja jari-jari lainnya yang bergerak di bawah sana tidak dingin. Rumbai merasakan sensasi luar biasa yang diberikan First saat berada di ruang makan. Gerak lincah dari jari-jarinya tak pernah gagal memuaskan. Rumbai mendesah berulang kali sambil sesekali menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya terangkat saat tangan dingin menempel menyentuh pinggangnya. Rumbai merasakan dua sensasi gila yang sulit dijelaskan.
Permainan di bawah sana terus dilakukan sampai akhirnya Rumbai merasakan sesuatu yang lain memasuki dirinya. Rumbai menahan sakit yang menyapa. Dia tahu sesuatu yang tengah mencoba mengoyak dirinya secara langsung dilapisi pengaman. Tangannya sulit menjangkau apa pun karena diikat. Dia cuma bisa mengerang dan mendesah saat akhirnya milik First berhasil menguasainya. Rumbai merasa penuh dan semakin bergairah.
Awal gerakan dimulai pelan dan lambat laun berubah menjadi lebih kasar. Rumbai kesulitan mengikuti temponya dan membiarkan First mendominasi permainan ini. First terus menghujamnya lebih dalam, menghentak berulang kali, dan menggoyangkan panggul dengan hebat. Rumbai menikmati permainan. Ini merupakan seks pertama sejak dia bercerai dari mantan suaminya. Seks yang luar biasa ini benar-benar berbeda dengan seks yang mantannya berikan. Permainan ini lebih memabukkan, gila, dan luar biasa. Karena sensasi nikmat yang tiada dua, Rumbai sampai mengatakan kalimat yang tak pernah terucap di sepanjang hidupnya.
"Fuck me more, First..."
Atas ucapannya itu, First benar-benar menggagahinya tanpa henti. Tak memberi jeda di setiap gerakan kasar itu. Tempo cepat pun terus dilancarkan seiring bibir yang mulai menyapa. Bibir mereka saling bertaut, saling membalas, dan saling menginginkan. Berakhirnya ciuman tidak mengurangi kegiatan apa pun. First bergerak turun menyentuh dadanya, membiarkan mulut meraup puncak dada, dan tangan lainnya yang dingin itu sibuk meremas.
Mereka terus bercinta dengan tempo cepat hingga akhirnya berhasil mencapai klimaks. Saat itulah First membuka penutup mata Rumbai, membiarkan perempuan itu melihatnya melepas kondom. Ada kondom lainnya yang diambil dari atas nakas.
"Wanna try something new?" tanya First dengan senyum nakal khasnya.
"Ini aja udah baru. Kamu mau coba apa lagi?" Rumbai menjawab dengan napas terengah-engah. Tenaganya terkuras dalam permainan First sebelumnya. Laki-laki itu bahkan tidak tampak kelelahan.
"Sesuatu yang bikin kamu menjerit."
Rumbai tidak mau membayangkan apa-apa. Sebelum ini saja dia ingin menjerit, tapi tidak berani. Dia takut mengganggu konsentrasi First atau merusak suasana.
"Kalo kamu mau denger aku jerit-jeritan, matiin lagunya," suruh Rumbai.
"As your wish, Baby Girl." First mematikan lagunya. "Saya cuma uji coba aja. Katanya bercinta sambil dengerin lagu itu bisa meningkatkan gairah. Tapi kayaknya nggak berhasil untuk saya. Sepertinya kamu pun nggak suka."
"Iya, memang nggak suka. Terlalu berisik. Kalo kamu mendes--nggak, nggak. Maksudnya kalo kita ngobrol, sih, nggak apa-apa. Itu berisik yang wajar." Rumbai nyaris saja menyebutkan bayangan liarnya. Dia tidak boleh salah menyebut soal mendesah.
"You want hear my moan, Baby Girl?" bisik First.
Rumbai mengangguk. Sadar anggukan itu berkhianat dari keinginan menggeleng, dia buru-buru meralat dengan gelengan kepala. Sialnya First sudah terlanjur melihat dan menunjukkan seringaian nakalnya. Kalau bisa lompat ke planet Mars, dia sudah melakukannya sejak tadi karena malu.
Kemudian, First menarik tangan Rumbai dan membuka satu per satu ikatan. First mengambil bantal dan meletakkan di belakang punggung Rumbai untuk menjadi tumpuan. First ingat Rumbai mengeluh sakit saat dicambuk dan dia tidak mau perempuan itu semakin sakit saat bercinta. Setelah itu First menutup mata Rumbai dengan penutup mata.
"Jangan lepas penutup mata sebelum saya suruh." First mengingatkan. Melihat Rumbai mengangguk, dia beranjak turun dari tempat tidur dan mulai mengambil sesuatu untuk permainan berikutnya.
First mengambil beberapa es batu berbentuk kotak kecil dan meletakkan di atas tubuh Rumbai. Setelah itu dia menempelkan tubuhnya, membiarkan es-es itu meninggalkan sensasi dingin di tubuh mereka. Saat tengah merasakan dinginnya es, tangan nakal Rumbai menyentuh milik First dan mengusapnya dengan pelan. Sentuhan tangan itu semakin intens sampai berhasil membangkitkan gairah First dan membuat miliknya tegang.
Tak perlu menunggu lama First menurunkan tangan Rumbai dan melesak masuk ke dalam perempuan itu. Dia mulai menggagahi sekaliagi, mengkungkunginya dalam posisi yang sama.
Dalam sensasi dingin yang luar biasa, Rumbai memeluk tubuh First. Karena dingin Rumbai sampai mencakar punggung First. Dia tidak begitu kuat dingin. Untung saja es batu itu jatuh dari tubuh mereka, entah pergi ke mana dan dia tidak peduli. Rumbai hanya peduli soal gerakan yang diberikan First lebih dahsyat dari sebelumnya. Dia melingkarkan kaki di pinggang First, menarik laki-laki itu agar lebih merapat padanya.
Desahan.
Erangan.
Jeritan.
Semua menyatu dalam kenikmatan bercinta mereka. Pendingin ruangan tak bisa menyela panasnya kegiatan yang dilakukan. Mereka berdua terus bercinta, mencoba gerakan-gerakan baru dengan ide-ide tak biasa.
🍓🍓🍓
"First! First!" Suara teriakan yang memekakan telinga berhasil membangunkan First yang masih tidur nyenyak.
"Apa, sih?" sahut First dengan mata sayup-sayup saat melihat ke arah pintu. "Ini masih pagi."
"Rumbai mana?"
First menoleh ke samping. Tidak ada Rumbai di sampingnya. Entah pukul berapa perempuan itu pergi karena sekarang masih pukul tujuh pagi. Dia mengusap wajah sebentar. "Mungkin udah pergi. Kenapa, sih, lo datang-datang malah nanyain dia, Kaning?"
Kaning dapat masuk ke dalam kamar First setelah meminta kartu kepada resepsionis. Semua pegawai hotel sudah hafal kalau Kaning dan beberapa teman First datang pasti akan diberikan kartu agar tidak perlu repot menunggu First membuka pintu--tentu itu hanya teman-teman yang dirasa sangat akrab saja.
"Ih ... lo nggak perhatian banget sama teman bobo cantik." Kaning menarik salah satu bantal dan melemparnya kepada First. "Itu anak baik-baik aja, kan, setelah bermalam sama lo? Nggak susah jalan, kan?"
"Lo pikir gue apain sampai susah jalan?"
"Lo kalo main, kan, suka nggak santai. Ada aja gitu yang jalannya mendadak kayak lagi ngelewatin balok di Ninja Warrior, lebar-lebar."
First tergelak. "Nggak usah berlebihan. Dia baik-baik aja."
Kaning duduk di pinggir ranjang, sedikit menyamping pada First yang sibuk meregangkan otot-ototnya. "Lo nggak bilang kalo kita saling kenal, kan? Lo juga nggak bilang, kan, kalo pertemuan kalian di Love and Dust adalah rencana gue?"
"Nggak ada yang gue beberin. Semua aman." First menepuk pundaknya. "Pijitin gue, dong. Pegel, nih, badan. Anggap aja hadiah karena udah bersedia menuruti permintaan lo."
Kaning mendaratkan kedua tangannya di pundak First, menuruti keinginan laki-laki itu. Dengan gerakan memijat yang cukup kuat, dia bertanya, "Berarti semalam lo udah ajarin dia berhubungan intim yang bisa memuaskan laki-laki, dong?"
First cuma mengangguk. Kaning menarik senyum senang.
"Lo perhatian banget sama dia. Naksir, ya?" tanya First.
"Gila lo! Gue nggak suka naksir orang dari komunitas yang sama." Kaning memukul pundak First kencang sampai membuat First meringis. "Gue bantuin karena kasihan sama dia. Sebagai ketua komunitas, gue nggak mau anggota gue tersiksa gara-gara galau. Gue pengin mereka bangkit dan jadi perempuan strong."
"Kalo mau strong, mah, angkat galon juga udah strong," canda First.
"Kampret satu ini." Kaning berdecak dan memukul pundak First secara spontan. Baru ingin mengomel, dia ingat bantuan First padanya. "Betewe, thank you. Gue berutang sama lo."
"Nggak ada yang gratis, Sister. Jangan lupa janji lo. Kenalin gue sama teman lo."
"Iya, iya, lo inget aja. Dasar nggak mau rugi lo!"
Pertemuan Rumbai dengan First di Love and Dust bukanlah semata-mata karena ketidaksengajaan atau kebetulan. Kaning merencanakan pertemuan itu sebelum Rumbai datang ke Love and Dust. Kebetulan pemilik Love and Dust adalah sepupunya Kaning sehingga dengan mudahnya meminta kerjasama untuk mempertemukan First dan Rumbai. Sialnya First tidak pernah mau rugi, selalu minta imbalan seperti yang disebutkan. Iya, Kaning mengiming-imingi akan mengenalkan salah satu temannya yang seksi kepada First.
"Lo tau nggak sih, First, gue tuh agak kesel sama gebetan sendiri. Dia, tuh..." Kaning berceloteh membahas yang lain.
Selama celotehan itu pandangan First tertuju pada kertas di atas nakas. "Bentar, gue mau ambil sesuatu," ucapnya memotong kalimat Kaning, lalu mengambil kertas yang ditinggalkan.
Kertas yang ditinggalkan berisi gambar-gambar buatan Rumbai. Semalam setelah mereka selesai bercinta, Rumbai menggambar sesuatu. First pikir gambar itu akan dibuang, tak disangka malah diletakkan di atas nakas. Gambar yang dibuat dari pensil itu adalah gambar kepala kelinci dan cupcake. Ada balon kata yang diisi dengan perkenalan mereka di Love and Dust. First terkekeh.
"Gambarnya lo yang buat? Cakep amat," tanya Kaning setelah mengintip.
First mengabaikan pertanyaan Kaning, sibuk menyimpan gambar tersebut ke dalam laci nakas.
"Ih ... pelit banget." Kaning berdecak kasar. "Gue harus ingetin lo sekali lagi. Jangan sampai Duchess dan Rumbai tau hal yang udah kita sepakati. Bukan cuma ini aja, tapi hal lain yang nggak perlu gue sebutin. Kalo sampai Duchess tau, matilah kita dimaki-maki," ucapnya mengingatkan.
"Iya, Kaning."
"Ya, udah. Gue mau ketemu gebetan dulu. See ya, Satu!"
Sepeninggal teman kuliahnya itu First turun dari tempat tidur tanpa mengenakan apa-apa. Belum melangkah ke kamar mandi, dia melihat ada tulisan lain di atas meja. First mengambil kertas tersebut dan dibuat tertawa setelah membaca.

"Ada-ada aja," ucap First, masih menikmati tawa.
Dia meninggalkan tulisan itu dan bergegas ke kamar mandi. Sebentar lagi dia harus bertemu dengan ibunya.
🍓🍓🍓
Saat ini.
Sepanjang lift naik ke lantai 24 Rumbai menutup mulut rapat-rapat, tak menanggapi First. Dia pikir pertemuan waktu itu menjadi pertemuan terakhir karena Rumbai tidak mau bertemu lagi. Kegiatan panas mereka memang luar biasa, tapi dia tidak mau melakukan kegilaan lainnya.
Beruntung saja ada banyak pegawai yang masuk jadi Rumbai tidak perlu meladeni First. Setelah keluar dari lift, dia pergi menunggu di dalam ruang khusus menunggu untuk pegawai baru. Rumbai disuruh menunggu oleh kepala HRD karena direktur masih mengurus sesuatu. Waktu wawancara pun Rumbai diwawancarai direkturnya langsung. Kalau tahu pria itu ayahnya First, dia akan menolak pekerjaannya.
"Selamat pagi, Rumbai. Kita bertemu lagi, ya," sapa Revan ramah sesaat memasuki ruangan.
Rumbai bangun dari tempat duduknya sambil tersenyum. "Selamat pagi, Pak. Iya, Pak."
"Saya ingin mengucapkan selamat kepada kamu. Saya senang punya asisten pribadi seperti kamu. Tapi, ada perubahan yang harus dilakukan." Revan duduk di kursi tengah, sambil tetap melihat pada Rumbai.
"Sejujurnya saya butuh asisten pribadi, tapi putra saya lebih membutuhkan. Putra saya ini agak picky soal asisten pribadi. Waktu saya mewawancari kamu, saya merasa kamu cocok bekerja dengan putra saya. Pas saya kasih lihat profil kamu dan jelasin tentang kamu, dia setuju. Jadi, nanti kamu akan bekerja di bawah naungan putra saya, bukan saya. Kontrak yang kamu tanda tangani nanti pun menjelaskan soal itu. Sebentar, saya panggil putra saya agar kamu kenalan sama dia," lanjutnya dengan senyum ramah.
Revan menaikkan tangannya ke udara agar menyuruh sekretaris di luar memanggil putranya. Tak perlu waktu lama putra yang dimaksud memasuki ruangan.
"Nah, ini dia putra saya. Namanya First Iverand Salim. Kamu akan bekerja di bawah naungan dia, Rumbai. Jadi, segala sesuatu yang dia butuhkan, tolong bantu, ya. Saya harap kamu nggak masalah dengan perubahan ini. Putra saya nggak merepotkan, kok," ucap Revan seraya menunjuk First.
Iya, nggak merepotkan, tapi meresahkan! Tolonnnnnggg! Jerit Rumbai dalam hatinya.
Rumbai mati kutu. Di situlah dia ingin mengumpat kasar. Kenapa harus First yang menjadi bosnya? Kalau seperti ini, dia bisa melihat kegilaan First setiap hari.
"Hai, Rabbit. Salam kenal," sapa First jahil sambil tersenyum penuh arti.
"Namanya Rumbai, bukan Rabbit. Kamu, nih, jangan ubah nama orang," omel Revan.
"Maaf, Pa. Kedengerannya, Rabbit. Saya harap kamu betah, ya, Rumbai." First tetap mempertahankan senyum penuh arti itu, sambil mengerlingkan satu matanya kepada Rumbai.
Rumbai cuma bisa nyengir dan menjawab sok manis. "Iya, Pak."
Rasanya Rumbai ingin misuh-misuh sekarang. Sialan! Sempet-sempetnya manggil gue Rabbit di depan bapak lo. Lihat aja, nanti gue seleding lo!
🍓🍓🍓
Jangan lupa vote dan komen kalian😘🤗❤
Gimana versi barunyaaaa? ehehehe
Jangan lupa baca kisah Michelle di lapak Kak Lyan lyanchan 🥰🥰
Follow IG: anothermissjo
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top