Chapter 2

Yuhuuu update🤗

Alangkah baiknya baca ini pas malem hari🤣🤣🤣

Ingat, vote dan komen ya! Soalnya berarti banget buat aku supaya rajin update🥰

#Playlist: The Weeknd - Earned It (Ost Fifty Shades of Grey)

Di dalam kamar hotel tipe presidential  suite, First mengajak seorang perempuan yang dipanggil Rabbit. Setelah mencoba cambuk-cambukan yang berakhir konyol, dia memilih hotel yang orang tuanya miliki untuk dikunjungi. First bukan penikmat sejati fantasi liar seperti di Love and Dust––hanya saja pernah mencoba permainan kasar semacam itu. Di sana dia bertemu perempuan lucu yang kesakitan saat dicambuk. Alih-alih terangsang, dia malah dibuat tertawa.

First memperhatikan perempuan yang sedang duduk mengamati kamar hotel. Tak ada topeng yang menutupi wajah seperti sebelumnya. First dapat menikmati kecantikan perempuan bermata cokelat itu.

"Kamu mau minum apa, Rabbit?" tanya First setelah berdiri di depan Rumbai.

"Apa aja boleh," jawab Rumbai.

"Air keran mau, dong?" canda First.

"Ya, nggak air keran juga. Apa pun itu aku minum kecuali air comberan, air keran, air hujan, air yang jorok-jorok, deh."

First terkekeh. "Oke, tunggu, ya. Saya ambilkan dulu."

Rumbai dibiarkan menunggu sendirian. Dia mengamati ruangan yang super luas dan nyaman. Berbeda sekali dengan kontrakan rumahnya yang kecil. Merasa bosan, dia berdiri untuk berkeliling. Ada satu remote ajaib yang membuat Rumbai penasaran. Dia mengambil remote itu dan menekan tombol bertuliskan right. Dia terlonjak kaget saat melihat tirai kamar ditarik semua ke kanan. Kemudian, dia mencoba menekan tulisan left. Ada kesenangan saat menekan tombol-tombol itu. Seperti anak kecil yang menemukan mainan baru––begitulah Rumbai sekarang.

"Duh, keren banget ini remote. Apalagi yang kudu gue coba, ya?" Rumbai bermonolog sendiri sambil mencoba berbagai macam tombol ajaib di remote tersebut.

Ketika semua tirai bergerak tak keruan dan lampu kedap-kedip Rumbai langsung panik. "Eh? Remotenya rusak. Aduh, gila ... mampus, deh," celotehnya pelan.

"Kenapa, Rabbit?" tanya First, yang kebetulan baru tiba membawa nampan berisi dua cangkir.

"Aku nggak tau apa-apa. Remotenya rusak sendiri." Rumbai memberikan remote kepada First dan mengambil alih nampan. "Sumpah ... aku nggak apa-apain. Ini rusak. Aku nggak bakal disuruh ganti, kan?"

"Ini bukan rusak, kamu pencet tombol play all jadinya semua gerak nggak beraturan." First mengembalikan mode standar seperti biasa.

"Oh, gitu. Remotenya diciptakan buat bikin orang panik maksimal, ya? Berasa diledek," tanya Rumbai spontan.

First mengangguk. "Iya, takut ada anak kecil iseng. Tapi bukan anak kecil aja, sih, iseng. Ternyata yang tua seksi seperti kamu juga bisa iseng."

Rumbai nyengir. Dia meletakkan nampan di atas meja dan mengambil salah satu cangkirnya, lalu menyesap teh buatan First. "Omong-omong, kenapa ruangannya agak beda, ya? Ini tempatnya kayak dibuat spesial. Apalagi ada remote ajaib Doraemon segala. Apa memang tipe kamarnya spesial?" tanyanya mengalihkan pembahasan.

Tentu saja ruang kamar presidential suite yang ditempati First dibuat spesial. Kamar itu memang diperuntukkan untuknya jika malas pulang dan ingin wara-wiri ke hotel bersama teman gemas favoritnya. Namun, First tidak mau menyebutkan soal hotel milik ayahnya. 

"Kamar hotel tipe presidential suite seperti ini, kok."

"Oh, gitu." Rumbai mengamati sekitar dan hendak berkeliling sekali lagi. Sayangnya First menahan lengannya. "Kamu nggak nyimpen mayat atau perempuan di sini, kan? Aku boleh lihat-lihat nggak?"

First menahan tawa. Ada saja ucapan spontan yang menggelitik perut. "Boleh, kok. Tapi sebelum keliling, kamu kasih tau nama kamu dulu. Nama asli."

"Oh, iya, kelupaan." Rumbai mengulurkan tangannya diikuti senyum tipis. "Nama aku Rumbai. Kamu?"

First menyambut uluran tangan Rumbai dan ikut tersenyum. "First."

Mereka berjabatan sebentar sampai akhirnya terlepas. Barulah setelah itu First mengajak Rumbai berkeliling. First mengajak melihat-lihat ruang makan, kamar tidur dan kamar mandi. First mendengar suara 'wah' berulang kali dari mulut Rumbai. Perempuan itu tampak terkagum melihat kemewahan yang ada.

"Kamar tipe ini pasti mahal banget. Bisa berkunjung ke hotel aja udah syukur," gumam Rumbai pelan.

First merangkul pundak Rumbai dengan tiba-tiba, sukses mengejutkan perempuan itu. Rumbai menatapnya kaget.

"Kamu mau main permainan yang menyenangkan?" bisik First dengan nada menggoda.

"Permainan apa?" tanya Rumbai.

"Sesuatu yang bisa bikin kamu gemes sendiri." First menjawab dengan menyeringai kecil. "You'll like it."

Rumbai menimbang-nimbang sebentar. Selama menatap First, laki-laki menunjukkan tatapan nakal yang sulit ditolak. Rasanya dia terjebak dalam tatapan itu. Kalau dia menolak, dia akan kehilangan kesenangan. Kalau menerima, dia tidak tahu permainan macam apa yang akan dimainkan.

"Boleh, deh," jawab Rumbai akhirnya sedikit ragu.

First mendekati Rumbai, memangkas jarak di antara mereka. Dia mengusap kedua pundak Rumbai, lalu menarik pinggangnya hingga tubuh mereka merapat. First mendekati telinga Rumbai, mengembuskan napas di sana agar perempuan itu tergelitik, lantas mencium daun telinganya. Dia bisa merasakan Rumbai bergerak menahan geli. First tahu titik geli Rumbai di sana sejak mereka berada di Love and Dust.

Sambil menarik senyum miring First melanjutkan tangan nakalnya menyentuh punggung Rumbai sampai turun mengenai bokong berisinya. Dia mengecup pundak perempuan itu berulang kali––naik ke atas sedikit sampai berhasil mencapai leher.

"Close your eyes, Rabbit," titahnya.

Tak ada satu menit Rumbai langsung memejamkan mata. Sementara itu, First mengambil barang-barang yang tersedia di Love and Dust. Dia mengambil borgol berbahan lembut untuk para pecinta BDSM. Tak lupa dia mengambil penutup mata bulu-bulu yang satu paket dengan barang lainnya. First menutup mata Rumbai dengan penutup mata dan mengunci kedua tangan perempuan itu dengan borgol yang diambil.

"Tunggu, tunggu. Ini kayaknya nggak asing. Bukannya ini borgol seperti di Love and Dust tadi?" tanya Rumbai. Ekspresinya berubah kaget sejak First mengunci tangannya dalam borgol. Jika hanya mata ditutup saja dia tidak akan sekaget ini.

"Iya. Kamu pikir saya nggak suka yang kasar-kasar, ya?" First menyentuh dada Rumbai dengan jari telunjuknya, bermainan di sana dengan gerakan memutar dan tak berhenti tersenyum nakal. "Kita main sesuatu yang menyenangkan. Saya nggak akan cambuk-cambuk kamu, kok. Tenang aja. Cambuk nggak ada dalam daftar permainan kita."

Rumbai meneguk air liurnya gugup bercampur panik. Semoga saja ucapan laki-laki itu benar karena dia tidak mau dicambuk lagi. Dia tidak berbakat menjadi Anastasia Steele. Bakatnya menjadi Hello Kitty.

"Oke, aku percaya sama kamu," balas Rumbai.

First menggamit tangan Rumbai dan menariknya keluar dari kamar. Saat ditarik keluar, Rumbai nyaris jatuh karena tersandung kakinya sendiri. First nyaris ketawa, tapi dia menahannya dan berakhir menggendong Rumbai agar tidak jatuh.

Di depan ruang makan First menurunkan Rumbai. Dia melucuti satu per satu pakaian yang melekat di tubuh Rumbai. Beruntung saja perempuan itu mengenakan dress dengan ritsleting di bagian belakang sehingga tidak perlu membuka borgol lagi. Saat membuka pengait bra, First melihat dua gundukan kenyal berisi.

"Ki-kita mau ngapain, ya? Kamu nggak mau mutilasi aku, kan? Kok, terasa horor, sih?" tanya Rumbai, masih panik.

First tidak terbiasa tertawa sebanyak hari ini saat dengan perempuan lain. Namun, Rumbai berhasil memunculkan tawa sejak bertemu di Love and Dust. Dia maju selangkah dan mengusap pipi Rumbai.

"Saya bukan psikopat. Saya udah bilang mau kasih permainan yang menyenangkan. Jangan takut," ucap First, yang kemudian diakhiri dengan kecupan di bibir perempuan itu.

"Tapi ini beneran nggak dicambuk, kan? Demi ... kalo kamu cambuk, aku bakal sumpahin kamu kejengkang atau jatuh terguling-guling," cerocos Rumbai.

"Nggak, Rabbit. Keep my promise."

"Oke. Aku bisa tenang kalo kamu janji begitu. Punggung aku beneran sakit digebuk kayak tadi."

"I'm sorry about that. Kali ini nggak ada pecut-pecutan. Don't worry."

First berjalan mendekati pintu kulkas dan mengambil madu dari dalam sana. Dia meletakkan botol madu di atas meja makan. Setelah itu dia menyingkirkan semua barang di atas meja makan dan menyuruh Rumbai merebahkan tubuhnya di atas meja makan.

"Kamu beneran nggak bakal mutilasi aku, kan?" tanya Rumbai gelagapan.

"Saya udah bilang bukan psikopat. Kamu nggak percaya? Saya pecinta kenikmatan sejati, bukan hal menyeramkan kayak gitu. Believe me, you'll like this one." First menjawab seraya membuka penutup botol madu. Berhasil dibuka, dia menyendok madu menggunakan sendok teh dan mengoleskan madu tersebut di bagian kecil puncak dada Rumbai. "Let's play a game, Rabbit."

Ada sensasi dingin yang menyapa bagian dada Rumbai. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan First nanti. Dia gugup.

"Kamu bilang mau seks sepanjang malam, kan? Berhubung saya laki-laki yang fair dalam apa pun, kita main permainan untuk menentukan kata-kata kamu." First mengoleskan madu di dada Rumbai yang lain, lalu menarik kedua tangan perempuan itu ke atas kepala agar tidak menghalanginya. "Kalo dalam lima menit kamu bisa nggak mendesah, kita nggak perlu seks sepanjang malam. Tapi kalo sebaliknya, maka kamu harus siap-siap kehilangan tenaga."

Rumbai menelan air liurnya. Ya, Tuhan! Kok, bisa-bisanya dia setolol ini? Mengapa mengucapkan kalimat yang bisa membuatnya menyesal sendiri? Namun, dia berusaha tenang. Bukankah ini yang dia mau? Mencari kesenangan dan berubah liar sekali seumur hidupnya? Lagi pula, dia tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun jadi tidak ada yang tersakiti olehnya. Dia yakin bisa menahan desahan. First tidak mungkin bisa menggodanya. Tidak. Dia harus yakin First gagal.

"Oke," jawab Rumbai. Singkat dan padat.

"Call my name," suruh First seraya mengusap perut rata Rumbai.

"Oke, First."

"I'll make you moan a hundred times. Be ready, Rabbit," bisik First nakal.

Rumbai mengatup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak tahu First mengoleskan apa di dadanya, hanya tahu cairan itu terasa lengket. Dia menganggap ucapan First takkan bisa dibuktikan. Akan tetapi, Rumbai tidak memikirkan apa yang akan First lakukan untuk membuatnya mendesah. Dia segera tahu siasat laki-laki itu setelah lidah menyapa bagian dadanya, bermain di sana dengan lihainya seolah tengah menjilat es krim yang dingin. Tangan terikat, mata tertutup, semua sensasi ini baru untuk Rumbai.

First menggunakan lidah dan mulutnya bekerja sama untuk menggoda bagian puncak dada Rumbai. Meninggalkan jejak basah dan lengket yang menyatu dalam permainan tak terduga. Rumbai terlihat mengigit bibir bawahnya menahan desah. Hal itu meningkatkan keinginan First agar berhasil dengan seluruh siasat liciknya.

Selagi First sibuk menjilat madu dan memainkan bibirnya di puncak dada Rumbai, tangan lainnya turun menuju bagian kewanitaan Rumbai. Jari-jarinya bergerak lincah menelusup masuk ke celana dalam dan mulai menyapa bagian intim itu dengan dua jari. First yakin Rumbai tidak akan mampu menahan diri jika dia menggoda dua bagian sekaligus. First menggerakkan jari-jarinya di bawah sana sambil tetap sibuk mengulum dada Rumbai.

Rumbai menahan desah mati-matian, sialnya First melakukan hal yang meningkatkan gelora dalam diri. Saat jari-jari First begitu terampil mengoyak diri, menemukan titik kenikmatan yang tidak pernah dia dapatkan dari sang mantan suami, Rumbai tidak ingin permainan ini berakhir. Belum lagi saat First menjilat, mengulum, dan mencecap dadanya dengan lihai. Sensasi-sensasi geli nan nikmat itu berhasil meruntuhkan kegigihan Rumbai untuk menahan diri. Ini bahkan belum ada lima menit. Rumbai sadar sudah kalah setelah First mempercepat temponya di bawah sana, membuat kaki-kakinya bergelinjang tak keruan. Desahan pun lolos begitu saja.

"Seems like we can having sex all night long, Baby Girl," bisik First.

Ketika Rumbai akan membalas ucapan itu, dia kembali dibuai dalam gerakan jari-jari First––yang mana berhasil memabukkannya dan menciptakan desahan berulang kali––pertanda dia menikmati semua yang First lakukan. First tak berhenti sampai akhirnya Rumbai mencapai orgasme pertamanya.

"Are you ready for the next game, Baby Girl?" tanya First seraya mengecup daun telinga Rumbai, menggodanya kembali.

Rumbai mengangguk. Kedua tangannya diturunkan, tapi tetap diborgol. Tak ada satu menit dia merasakan sesuatu yang tegang menyapa punggung tangan. Perlahan, dia menaikkan tangannya dan berhasil menangkap sesuatu itu. Dia tahu ini bukanlah lele ukuran besar, ini sesuatu tak biasa yang didambakan laki-laki di luar sana untuk memuaskan pasangan. Rumbai segera tahu kalau First berada di atas tubuhnya, tapi menahan dengan kedua tangan di sisi kanan dan kiri. Aroma wangi First dapat tercium Rumbai. Bahkan saat dia mulai menyentuh ujung pangkal kejantanan laki-laki itu, ada napas berat yang tertahan seakan menunggunya melakukan lebih dari ini.

Tak pakai pikir panjang Rumbai langsung mengandalkan instingnya. Dia tidak bisa melihat ekspresi First ataupun wujud kejantanan itu. Dia hanya bisa merasakan dan tahu sebesar apa First menginginkan tangannya memanjakan bagian intim itu. Rumbai melakukan pembalasan dengan menaik-turunkan tangannya, menyentuh ujung pangkal itu, dan melakukan gerakan memutar melalui ibu jarinya saat menggoda ujung pangkalnya. Rumbai mengulangi yang dia lakukan sampai mendengar suara erangan memenuhi telinga, pertanda First menikmatinya. Walau tidak pintar dalam urusan foreplay atau memuaskan mantan suaminya dulu, dia hanya mengandalkan insting yang selama ini redup. Setelah cukup lama menyibukkan tangan memuaskan First, akhirnya ada cairan yang mengenai tangan Rumbai.

Detik itu pula penutup mata Rumbai ditarik ke atas hingga dia bisa melihat wajah rupawan First. Mereka saling menatap sebentar sebelum akhirnya First mencium leher Rumbai berulang kali dan meninggalkan beberapa warna kemerahan di sana.

Ketika First turun dari meja, Rumbai tidak bisa melihat lagi karena First menutup matanya kembali. Dia hanya tahu laki-laki itu membantunya mengelap tangan yang kotor dan membersihkan beberapa bagian yang sama kotornya. Tak ada beberapa menit First kembali dan tiba-tiba menggendongnya.

"Kita udah selesai?" tanya Rumbai polos.

"Siapa bilang? Kamu kalah dan kita akan bercinta sepanjang malam. Itu sesuai yang kamu bilang," jawab First diselipi kekehan jahil.

"Uhm ... aku nggak pintar urusan di ranjang. Nanti kamu malah––"

"Don't worry, I can teach you," potong First.

"Beneran?"

"Iya, Rabbit. Tapi dengan cara saya."

Entah mengapa jawaban itu terdengar agak ekstrem di telinga Rumbai. Dari madu yang dioles di dada, tangan yang diborgol, semua terasa tidak terduga. Meskipun demikian Rumbai sangat menikmatinya.

🍓🍓🍓

Jangan lupa vote dan komen kalian🤗🤗🤗🥰

Semoga kalian suka part ini wakakakakak

Follow IG: anothermissjo

Jangan lupa baca One Last Knot punya Kak Lyan🥰🥰🥰 lyanchan

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top