【3/?】

Keesokan harinya, tepat pukul 9 pagi, sebuah mobil limousine berhenti tepat di depan rumah (y/n).

Tak lama kemudian, seorang pelayan membukakan pintu mobil. Dari sana keluarlah Daisuke. Ia langsung berjalan menghampiri (y/n) yang sudah menunggunya di depan rumah bersama ibunya.

Dengan cepat, Daisuke langsung meraih sebelah tangan (y/n).

"Selamat pagi, (y/n)" ucap Daisuke. Lalu ia langsung mencium sebelah tangan (y/n). Hal tersebut membuat (y/n) menjadi kikuk sendiri.

"Hari ini kau terlihat cantik" lanjut Daisuke sambil menatap kedua bola mata (y/n) dalam-dalam. Lalu ia tersenyum kearah (y/n).

"T...terima kasih banyak, Tuan" balas (y/n) malu-malu.

"Kau sudah siap 'kan?"

"I..iya"

"Ayo kita pergi"

Daisuke dan (y/n) pun berjalan beriringan menuju mobil limousine milik Daisuke.

"Hati-hati ya, nak!" seru ibu (y/n) penuh rasa khawatir.

***

Mobil limousine Daisuke melaju di tengah-tengah kota. Dalam sekejap, mobil limousine Daisuke yang mewah menjadi pusat perhatian semua orang di sana.

Daisuke melirik kearah (y/n) yang duduk tepat di sampingnya.

(Y/n) yang menyadari dirinya sedang diperhatikan langsung memberanikan dirinya untuk menoleh kearah Daisuke.

"A...ada apa, Tuan Daisuke?"

"Aku terlalu fokus terhadap wajah cantikmu tadi, sampai-sampai aku tidak menyadari pakaian yang sedang kau kenakan itu"

(Y/n) langsung melirik kearah pakaian yang sedang ia kenakan. Ia mengenakan pakaian blouse sederhana dengan rok panjang hingga ke mata kaki.

"Kau tidak pantas menggunakan pakaian itu"

(Y/n) terkejut dengan perkataan Daisuke tersebut.

"H...hontouni moushiwake arimasen. I...ini adalah pakaian terbaik yang aku miliki, Tuan" ucap (y/n) sambil membungkuk kearah Daisuke.

Daisuke langsung menekan sebuah tombol microphone yang terletak tepat di sampingnya untuk berkomunikasi dengan supirnya.

"Sebelum pulang ke rumah, aku ingin berkunjung ke salah satu brand store wanita terdekat disini" ucap Daisuke.

"Di dekat sini ada Dior, Ralph Lauren, dan Versace. Kau mau ke toko yang mana, Tuan?" balas sang supir.

"Dior saja"

"Wakarimashita. Aku akan langsung pergi kesana"

Daisuke pun melepas jarinya dari tombol microphone tersebut.

Tunggu, bukankah semua itu merek-merek mahal?, pikir (y/n).

"A...ano, maaf, Tuan Daisuke. Kau tidak harus membelikanku pakaian baru, apalagi pakaian mahal dari brand store yang kau sebutkan tadi" ucap (y/n).

Daisuke pun menoleh kearah (y/n).

"Mahal? Apa maksudmu?"

"E..eh?"

"Aku tidak suka melihat seorang gadis cantik sepertimu hanya menggunakan pakaian sesederhana itu"

"M...maafkan aku, Tuan" ucap (y/n) sambil menundukkan kepalanya.

"Jangan panggil aku tuan lagi, panggil saja aku Daisuke"

"Eh? M...maafkan aku tapi, apakah jadi terkesan kurang sopan?"

Daisuke pun menggeser sehelai rambut (y/n) ke belakang daun telinga (y/n) agar ia bisa membisikkan sesuatu kepada (y/n).

"Aku akan menjadi suamimu. Jadi tidak masalah bukan, jika aku juga bertindak tidak sopan kepadamu" bisik Daisuke dengan nada menggoda.

Wajah (y/n) seketika memerah.

"B...bukan itu maksudku, Tuan. M...maksudku, D...Daisuke" ucap (y/n) gugup.

Tak lama kemudian, Daisuke pun tertawa terbahak-bahak melihat perilaku (y/n) yang sangat menggemaskan. Hal tersebut membuat (y/n) sangat terkejut.

"Aku beruntung bisa menikah denganmu" ucap Daisuke sambil tersenyum kearah (y/n).

(Y/n) hanya menunjukkan ekspresi ketakutan di wajahnya. Ia tidak yakin bisa baik-baik saja bila menikah bersama Daisuke.

"Tuan, kita sudah sampai" ucap sang supir dari balik microphone.

***

Seorang pelayan Daisuke membukakan pintu mobil untuk (y/n) dan Daisuke. Mereka berdua pun keluar dari mobil.

Mata (y/n) langsung terbelalak melihat sebuah toko pakaian dengan merek yang terkenal sangat mahal berdiri di depannya.

"A...ano, apa kau benar-benar akan membelikan aku pakaian disini?"

Tiba-tiba, Daisuke menarik sebelah tangan (y/n) dan langsung berjalan masuk ke dalam toko tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan (y/n) tadi.

Di dalam toko tidak ada pelanggan lain selain mereka berdua. Sehingga suasana pun menjadi sangat canggung bagi (y/n).

"Irrashaimase" sambut seorang pelayan toko.

"Pilihlah pakaian yang kau suka" ucap Daisuke sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.

"Eh? T...tapi..."

"Kau tidak bisa memilihnya, ya? Kalau begitu akan aku pilihkan untukmu"

Lagi-lagi, Daisuke tiba-tiba menarik sebelah tangan (y/n) dan berjalan cepat menuju salah satu boneka mannequin yang mengenakan gaun rok pendek berwarna merah muda.

"Kau akan cocok mengenakan ini"

"T...tapi, kurasa rok-nya terlalu pendek"

"Pelayan! Aku akan mengambil yang satu ini!" seru Daisuke. Ia sama sekali tidak mendengarkan pendapat dari (y/n).

(Y/n) hanya terdiam. Tak lama kemudian, seorang pelayan toko langsung menghampiri mereka berdua.

"Karena yang ini hanya pajangan, silahkan coba yang ini, Tuan" ucap pelayan tersebut sambil menyerahkan sebuah gaun dengan model yang sama persis seperti yang diinginkan Daisuke tadi.

"Coba kenakanlah, (y/n)" ucap Daisuke.

Mau tidak mau, (y/n) pun menuruti perkataan Daisuke tersebut dengan menerima pakaian yang dipilihkan Daisuke tadi untuknya

"Kemari, nona. Aku akan mengantarmu ke fitting room" ucap pelayan tersebut sambil mengantar (y/n) ke fitting room.

***

Tak lama kemudian, (y/n) pun selesai mengganti pakaiannya.

"D...Daisuke" panggil (y/n) pelan kepada Daisuke yang kebetulan sedang membelakangi dirinya.

Dengan cepat, Daisuke langsung menoleh kebelakang untuk melihat penampilan (y/n).

Betapa tekejutnya Daisuke begitu melihat penampilan (y/n) yang sangat berbeda dengan penampilannya tadi. Matanya tidak bisa berpaling dari (y/n). Menurut Daisuke, gaun itu sangat cocok untuk (y/n).

(Y/n) yang tidak terbiasa mengenakan rok diatas lutut terlihat risih mengenakannya.

"B...bagaimana menurutmu?" tanya (y/n) dengan kedua pipinya yang merah merona. Namun sayangnya, lagi-lagi Daisuke mengabaikan (y/n).

"Berapa harganya?"

"50.000 yen, Tuan"

"Hanya 50.000 yen? Kalau begitu, aku akan membeli semua pakaian disini"

"Eh?"

(Y/n) tidak percaya dengan apa yang dikatakan Daisuke. Untuk harga satu baju saja sudah sangat mahal, dan Daisuke malah membeli semua pakaian yang ada di toko itu.

"S...semuanya? J..jangan-jangan anda..." ucap pelayan toko tersebut.

"Ya. Aku Kanbe Daisuke"

"K...kanbe? B...baiklah, aku akan langsung mengirimkan semua pakaian yang anda pesan ke alamat rumah anda" seru pelayan tersebut. Lalu ia langsung sibuk mengemas semua pakaian di toko untuk dikirimkan ke kediaman Daisuke. Sepertinya nama keluarga 'Kanbe' sudah sangat dikenal oleh toko-toko bermerek.

Lalu, Daisuke memegang sebelah telinganya untuk berkomunikasi dengan HEUSC.

"HEUSC, bayar semua pakaian di toko ini"

"Baik, Tuan"

Secara otomatis, HEUSC mengirimkan uang kepada toko tersebut.

Lalu Daisuke kembali menarik sebelah tangan (y/n).

"Ayo, kita pulang"

"Eh? K...kau benar-benar membelikan semua pakaian di toko ini untukku?"

Tiba-tiba, Daisuke berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Matanya langsung tertuju pada perhiasan-perhiasan mewah yang dipajang di depan toko.

"A...ano, Daisuke..."

Dengan cepat, Daisuke menarik sebelah tangan (y/n) dan mengajaknya masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.

"Irasshaimase. Mau mencari perhiasan jenis apa?" tanya penjaga toko perhiasan tersebut.

"Aku mencari kalung berlian yang berukuran diatas empat puluh karat"

Empat puluh karat?!, seru (y/n) dalam hati.

"Bagaimana kalau kalung The Hope Diamond ini? Ukurannya mencapai 45,5 karat" ucap penjaga toko perhiasan tersebut sambil mengeluarkan sebuah cincin berlian berwarna biru laut yang sangat indah.

"Etto, Daisuke. Kau tidak perlu-"

"Berapa harganya?" tanya Daisuke.

"Harganya 7.000.000 yen"

Apa? 7.000.000 yen?!, terkejut (y/n) dalam hati.

"HEUSC, bayar perhiasan ini"

"Baik, Tuan" jawab HEUSC.

Secara otomatis, HEUSC pun membayar perhiasan tersebut.

"Ini. Silahkan, Tuan" ucap penjaga toko tersebut sambil menyerahkan kalung tersebut beserta kotak dan kartu garansinya.

Daisuke pun mengambil kalung tersebut.

"Berbaliklah, (y/n)!" perintah Daisuke.

(Y/n) pun mengikuti apa yang diminta calon suaminya itu. Lalu Daisuke memasang kalung mahal tersebut di leher (y/n).

(Y/n) pun membalikkan tubuhnya lagi agar Daisuke dapat melihat dirinya mengenakan kalung tersebut.

Daisuke pun memegangi dagunya.

"Hmm... sepertinya ada yang kurang..." ucap Daisuke.

"Eh? Tapi ini sudah sangat lebih dari cukup, Daisuke! Kau tidak perlu membelikan aku apa-apa lagi"

"Bawakan aku gelang dengan warna yang sama dengan berlian ini" perintah Daisuke kepada sang penjaga toko. Ia benar-benar mengabaikan perkataan (y/n) tadi.

"Tunggu sebentar, Tuan"

Penjaga toko perhiasa itu pun sibuk mencari gelang yang berwarna senada dengan kalung tadi.

"Ini dia, Tuan"

"Berapa harganya?"

"780.000.000 yen, Tuan"

"HEUSC, bayar gelang ini"

"Baik, Tuan"

Lalu Daisuke meraih gelang tersebut dan memakaikannya di pergelangan tangan (y/n).

"Kau tidak pernah mengenakan perhiasan ya sebelumnya?" tanya Daisuke.

"I..iya" jawab (y/n). Ia memang tidak mampu untuk membeli perhiasan dengan uang yang ia miliki sendiri. Namun, bukan itu alasan ia tidak pernah mengenakan perhiasan. (Y/n) tidak seperti wanita pada umunya, ia tidak suka terhadap sesuatu yang berlebihan. Suatu hal yang sederhana lebih membuat dirinya senang.

"Sekarang kau bisa mengenakannya kapapun kau mau. Kalau kau menginginkan perhiasan ataupun benda lain, katakan saja padaku"  ucap Daisuke.

(Y/n) pun mengangguk.

"Terima kasih banyak karena sudah membelikan aku barang-barang ini, Daisuke"

Sejujurnya, (y/n) tidak mau menerima barang-barang mahal tersebut. Namun, karena ia tahu Daisuke pasti akan memaksanya, ia pun terpaksa menerimanya.

Daisuke memandangi wajah (y/n) yang terlihat murung.

"Kenapa kau terlihat murung? Apa kau tidak suka dengan semua perhiasan ini?"

"A! T...tidak, Daisuke. Aku sangat menyukainya, kok" ucap (y/n) sambil tersenyum. 

Daisuke merasa heran dengan sikap (y/n). Biasanya setiap wanita yang ia beri perhiasan pasti langsung merasa senang setelah menerimanya. Namun (y/n) tidak bersikap demikian. Daisuke baru pertama kali menemukan gadis seperti (y/n).

"Jangan-jangan kau memikirkan tentang cincin pernikahan kita nanti. Kau tidak perlu memikirkan itu. Untuk cincin pernikahan kita, aku akan membeli yang jauh lebih mahal dari ini"

"Eh? T...tidak perlu yang terlalu mahal, Daisuke"

"Apa yang kau katakan? Cincin pernikahan kita harus sangat spesial karena ini adalah janji suci diantara kita berdua"

"M...memang benar, tapi..."

"Sudahlah. Pokonya kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku pasti akan memberikan sebuah cincin terbaik untukmu"

Bukan itu maksudku, Daisuke, gumam (y/n) dalam hati.

Entah mengapa, (y/n) merasa dirinya tidak senang sedikit pun. Ia pikir Daisuke terlalu berlebihan dalam membeli sesuatu. Walaupun Daisuke memiliki banyak uang, tetapi menurut (y/n), ia tidak boleh menghambur-hamburkan uang seperti itu.

***

Akhirnya, (y/n) dan Daisuke sampai di kediaman keluarga Kanbe. Begitu keluar dari dalam mobil, lagi-lagi (y/n) merasa sangat terkejut. Mansion Daisuke benar-benar besar dan megah. Bahkan di depannya terdapat taman dengan sebuah kolam di tengahnya. Dari luar terlihat jelas kalau mansion tersebut memiliki bagian dalam rumah yang tentunya sangat luas.

"Selamat datang, Daisuke-sama. Silahkan masuk" ucap salah seorang pelayan wanita sambil mengantar (y/n) dan Daisuke masuk ke dalam mansion.

Bagian dalam mansion benar-benar sangat mewah. Lantai koridor dipasangi sebuah karpet memanjang berwarna merah. Di sepanjang jalan diletakan beberapa buah tanaman dengan pot besar yang terbuat dari emas asli. Benar-benar terkesan sangat mewah.

"Silahkan. Nyonya Kikuko sudah menunggu anda di dalam ruangan ini" ucap pelayan wanita tadi.

Begitu sampai di ruangan tersebut, (y/n) merasa sangat gugup.

Lalu, Daisuke pun mengetuk pintu tersebut.

"Masuklah!" seru Kikuko dari dalam ruangan.

Dengan cepat, Daisuke langsung membuka pintu tersebut.

Di dalam ruangan Kikuko sudah duduk di salah satu sofa panjang.

"Kau lama sekali, Daisuke" ucap Kikuko.

"Ada sesuatu yang harus kukerjakan dulu tadi"

"Sudah. Sekarang duduklah. Kau juga, nona muda"

"A! H...hai" balas (y/n) dengan suara pelan.

Lalu Daisuke dan (y/n) duduk di sebuah sofa panjang secara bersamaan.

"Jadi, kau memutuskan untuk memilih sendiri calon istrimu, Daisuke?" tanya Kikuko.

"Iya. Dia Kimura (y/n). Umurnya baru 17 tahun" balas Daisuke sambil melirik kearah (y/n) yang duduk tepat di sampingnya.

"A! Etto... y...yoroshiku onegashimasu" ucap (y/n) sambil membungkukkan setengah tubuhnya. Ia benar-benar merasa sangat gugup.

Kikuko pun terdiam sejenak.

"Apa keluargamu tidak mengajarkanmu cara berbicara dengan baik dan benar?" sarkas Kikuko.

"M...maafkan aku"

"Sifatnya memang seperti ini. Kau tidak bisa menentukan sifat seseorang seenaknya!" seru Daisuke membela (y/n).

"Diamlah, Daisuke! Aku sedang berbicara dengan Kimura-san. Bukan kepadamu"

Daisuke pun langsung terdiam.

"Kimura, ya? Aku belum pernah mendengar marga itu sebelumnya. Apa Kimura adalah marga keluarga kaya yang baru?" tanya Kikuko.

(Y/n) seketika mematung.

Marga keluarga kaya?, gumamnya kebingungan.

Kikuko pikir (y/n) berasal dari keluarga konglomerat.

"Kenapa kau terdiam?" tanya Kikuko.

"Dia bukan dari keluarga kaya" ucap Daisuke.

"Apa katamu?!" seru Kikuko yang terkejut mendengar jawaban dari Daisuke.

"Memangnya kenapa?"

Kikuko menghela nafas panjang.

"Daisuke! Apa kau lupa? Keluarga kita hanya menerima marga keluarga yang setara dengan kita. Apa kau mau membuat keluarga Kanbe malu?!" seru Kikuko.

Mendengar hal tersebut, hati (y/n) seketika
merasa hancur. Padahal, Daisuke yang memintanya untuk datang kemari. Tetapi setelah sampai disini, hanya karena ia bukan berasal dari keluarga yang kaya, harga dirinya malah diinjak-injak begitu saja oleh Kikuko.

"Jangan katakan itu di depan (y/n)!" seru Daisuke.

Kikuko pun terkejut karena Daisuke malah lebih memilih membela (y/n) daripada dirinya.

"K...kenapa kau malah lebih membela gadis itu?! Aku ini nenekmu yang membesarkanmu sejak kecil sejak ibumu meninggal!"

"Aku tidak peduli. Aku akan tetap menikah dengan (y/n)! Ayo, (y/n)!" seru Daisuke sambil menarik sebelah tangan (y/n) dan meninggalkan ruangan tersebut begitu saja. Ia sangat bersikeras ingin tetap menikah dengan (y/n).

"Tunggu, Daisuke! .... Daisuke!" seru Kikoku.

Brukk...

Daisuke membanting pintu ruangan tersebut dengan sangat kasar.

Ia tetap menggenggam erat sebelah tangan (y/n) sambil berjalan di koridor.

Kenapa Tuan Daisuke sangat ingin menikahiku? Kita bahkan bekum pernah bertemu sebelumnya, gumam (y/n).

Tiba-tiba, (y/n) menghentikkan langkah kakinya. Otomatis Daisuke yang berada di depannya ikut menghentikkan langkahnya dan menoleh kearah (y/n).

"Etto... Daisuke, apa kau serius dengan ini?" tanya (y/n).

"Tentu saja"

"Nenekmu tidak mau aku menjadi istrimu"

Lalu, Daisuke kembali menatap ke depan. Ia pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan (y/n).

"Aku tahu. Abaikan saja orang tua itu. Pokonya rencana pernikahan kita tidak akan kubatalkan!" ujar Daisuke. Lalu ia berjalan begitu saja meninggalkan (y/n) sendirian.

Kenapa...., dia sangat egois seperti itu?

Ia bahkan tidak pernah mendengarkan pendapatku.

Kenapa aku harus menikah dengan orang yang egois dan sangat keras kepala seperti dia?

Kalau begini sudah dipastikan hidupku tidak akan baik-baik saja...

Apa yang harus kulakukan?

***

Akhirnya hari pernikahan Daisuke dan (y/n) pun tiba.

(Y/n) sudah mengenakan sebuah gaun pengantin berwarna putih yang sangat indah. Di gaun tersebut ditempeli berbagai macam berlian dan kain yang digunakan pun lebih lembut daripada sutra. Sehingga gaun tersebut benar-benar nyaman ketika dikenakan. Gaun tersebut dibuat oleh seorang perancang busana terkenal di dunia yang sengaja disewa oleh Daisuke untuk membuat gaun pengantin terbaik untuk (y/n).

Selain itu, Daisuke juga menyewa hingga 5 orang penata rias profesional dan 3 orang penata rambut terkenal di dunia untuk mendandani (y/n), sehingga tak aneh kalau di hari pernikahannya (y/n) terlihat sangat cantik.

Seharusnya, bagi  wanita mana pun di dunia ini pasti merasa sangat senang bila hari pernikahan mereka telah tiba. Namun hal tersebit tidak berlaku bagi (y/n). Di hari yang spesial ini ia malah merasa sangat sedih. Pernikahannya dengan Daisuke bahkan tidak direstui oleh nenek Daisuke. Ia juga khawatir bila Daisuke tidak benar-benar serius menikah dengannya.

Setelah selesai dirias, (y/n) memandangi wajahnya di depan cermin. Wajahnya terlihat sangat lesu. Ia pun menghela nafas panjang.

Tak lama kemudian, ibu (y/n) menghampiri (y/n).

"(Y/n)-chan, kau cantik sekali di hari pernikahanmu ini" ucap ibu (y/n) sambil memegangi kedua pundak (y/n).

(Y/n) hanya terdiam.

"Nee, okaasan"

"Iya, sayang?"

"Apa Daisuke, adalah orang yang tepat untukku?"

Ibu (y/n) hanya terdiam. Ia tahu anaknya sama sekali tidak mencintai Daisuke. Apalagi Daisuke adalah orang yang sangat egois dan keras kepala. Jujur, ibu (y/n) sama sekali tidak menginginkan pernikahan anak tunggalnya itu. Namun apalah daya mereka? Mereka hanyalah keluarga yang serba kekurangan. Mau tidak mau mereka harus mengikuti keinginan Daisuke. Orang tua (y/n) juga pasti menginginkan kebahagiaan bagi (y/n). Karena bila (y/n) dan Daisuke menikah, ia pasti tidak akan merasakan lagi susahnya hidup karena kekurangan uang.

"Aku hanya takut, okaasan. Aku takut pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Bahkan nenek Daisuke tidak menyetujui hubungan kami. Dan sejujurnya, aku masih ingin bersekolah. Tidak pernah terpikir olehku akan menikah dengan umur semuda ini" lanjut (y/n). Ia benar-benar merasa sedih.

Ibu (y/n) bingung harus menjawab apa. Lalu ia memeluk anak tunggalnya itu dari belakang.

"Maafkan kami, (y/n)-chan. Sejujurnya, okaasan juga tidak mau menyerahkanmu kepada Daisuke. Maafkan okaasan, (y/n)-chan" ucap ibu (y/n) sambil meneteskan air mata. Hal tersebut membuat (y/n) merasa semakin sedih.

***

Para kerabat dan teman terdekat sudah berkumpul di sebuah taman resepsi yang megah untuk menjadi saksi pernikahan Daisuke dan (y/n).

Daisuke sudah menunggu (y/n) di mimbar bersama seorang saksi pernikahan. Ia sudah siap dengan mengenakan sebuah jas pengantin berwarna hitam lengkap dengan dasi. Rambut Daisuke pun ditatata sedemikian rupa sehingga menambah ketampanan wajahnya. Wajahnya tampak berseri-seri karena ia akhirnya bisa menikah dengan seorang gadis yang sangat dicintainya, walaupun mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu.

Tak lama kemudian, (y/n) berjalan perlahan mendekati Daisuke sambil memegang sebuket bunga mawar merah. Tidak seperti Daisuke yang terlihat sangat bahagia di hari pernikahannya, wajah (y/n) malah menunjukkan ekspresi penuh dengan kesedihan. Namun karena tudung yang ia kenakan, tak seorangpun menyadari wajah sedihnya tersebut.

(Y/n) pun berhenti tepat di depan Daisuke. Ia langsung menghadapkan tubuhnya kearah Daisuke.

Melihat wajah cantik (y/n) dari dekat, membuat Daisuke tak bisa berhenti tersenyum. Pandangannya tak bisa berpaling dari wajah calon istrinya tersebut. Sedangkan (y/n), ia hanya menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak ingin melakukan ini.

"Kanbe Daisuke, apa kau bersedia menjadikan Kimura (y/n) sebagai istrimu?" tanya seorang saksi pernikahan tersebut.

"Iya" jawab Daisuke tegas.

"Kimura (y/n), apa kau bersedia menjadikan Kanbe Daisuke sebagai suamimu?"

(Y/n) terdiam sejenak. Lalu ia menghela nafas panjang.

"I...iya" jawab (y/n).

Selanjutnya adalah sesi pemasangan cincin. (Y/n) memberikan sebelah tangannya kepada Daisuke. Lalu Daisuke memasangkan cincin pada jari manis (y/n). Setelah itu, (y/n) juga memasangkan cincin pernikahan tersebut ke jari manis Daisuke.

Cincin tersebut terlihat sangat indah. Di tengahnya ditempeli sebuah permata berwarna pink. Di sekeliling cincin tersebut ditempeli berbagai macam berlian. Benar-benar menyilaukan mata. Harganya pun mencapai 100.000.000 yen untuk sepasang cincin pernikahan Daisuke dan (y/n).

Selanjutnya adalah sesi berciuman bagi kedua mempelai. Daisuke membuka tudung (y/n) secara perlahan. Ia semakin bisa melihat dengan jelas wajah cantik calon istrinya tersebut. Sedari tadi, ia tidak bisa memalingkan pandangannya dari (y/n).

(Y/n) membalas tatapan Daisuke tersebut dengan tatapan yang sedikit risih. Ia benar-benar tidak mau menikah dengan Daisuke. Namun sepertinya Daisuke tidak peka terhadap hal tersebut.

Daisuke menggenggam erat kedua tangan (y/n). Lalu ia mulai menutup kedua matanya dan mendekatkan wajahnya kearah wajah (y/n) untuk menciumnya.

Terpaksa, (y/n) harus membalas ciuman calon suaminya tersebut. Ia pun ikut memejamkan matanya sambil menunggu Daisuke mendaratkan bibirnya di bibir (y/n).

Sulit dipercaya, ciuman pertama (y/n) direbut oleh seorang pria 35 tahun yang tidak dicintainya.

Namun, sedikit lagi bibir mereka bertemu.

Tiba-tiba....

Terdengar suara hentakan kaki seseorang yang berjalan terburu-buru mendekati mereka berdua. Spontan, seluruh pandangan para tamu undangan tertuju pada orang tersebut.

"Daisuke! Apa yang kau lakukan?!" teriak seorang wanita tua yang berjalan tergesa-gesa tadi.

Ternyata ia adalah Kanbe Kikuko.

Daisuke dan (y/n) benar-benar terkejut dengan kedatangannya tersebut.

.
.
.
.
.

~Bersambung↠~

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top