Chapter 22 Jangan Pergi
"tidak mungkin aku akan mati disini" tawa Mayu.
Bungo Stray Dogs (文豪ストレイドッグス, Bungō Sutorei Doggusu; lit. Literary Stray Dogs) is a manga written by Kafka Asagiri and illustrated by Sango Harukawa.
Genre : Tentukan Sendiri
Rate : T
.
.
.
"TIDAKKKKKKK!, JANGAN SENTUH AKU!" semenit yang lalu Mayu tersadar, ia langsung berteriak-teriak ingin pergi dari ruangan itu, membatalkan kontrak yang ia buat dengan ketua, gerak-geriknya juga aneh ia memeluk dirinya sendiri berontak lalu menyakiti dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya ke dinding atau meja, selalu berteriak histeris ketika seseorang menyentuhnya, dan lagi pandangannya tak lagi sama.
"Osamu kun, Osamu kun, kau dimana?, hei ... Osamu kun, apa kalian kenal Osamu kun?, ia pria berumur sekitar 22 an, berkulit pucat, rambut coklat dan manik dark hazel, aku harus bertemu dengannya, aku harus bertemu dengan Osamu kun sekarang!" racau Mayu lalu berlari meninggalkan ruangan, tergesa-gesa seolah-olah tengah di kejar oleh sesuatu.
Ketua penyelidikan datang, pawakan besarnya langsung saja menutupi cahaya yang menyinari mu mengingat ia berdiri tepat di depan mu,
"apa yang kau lakukan padanya?" tanya nya langsung padamu,
"tak ada" pria itu langsung saja menarik surai mu keras,
"apa yang kau lakukan padanya?" bisiknya sekali lagi,
"kesadaran ku menghilang bersamaan dengannya, kesadaran kami sama sama kembali di waktu yang tak berselisih jauh, kedua tangan ku di borgol, 2 pengawas ada di sampingku, dan cctv serta penyadap di setiap sudut, apa yang bisa kulakukan?" balasmu membungkamnya.
"apa alibi seperti itu cukup kuat untuk melawan bukti dan membebaskanku?, maaf saja tapi aku meninggalkan kucing dan kekasihku sendirian, mereka bisa apa tanpa ku?" senyum mu mengerikan, membungkam nya.
.
.
2 hari sebelum eksekusi mu dilakukan, seorang tamu yang kau damba-dambakan datang menengok mu, kau berusaha meraih lengannya, namun langsung ia tepis kuat,
"aku tak punya waktu untuk berbasa-basi dengan mu" tatapnya menusuk mu, kau ingat tatapan ini, ia pernah memberikannya pada Bos Port Mafia semasa mengundurkan diri, tapi tatapannya kali ini berbeda seolah-olah Dazai membenci mu di setiap sel darah yang ada di dirimu.
"hehehe... maaf, lalu apa yang membawa mu kemari?" tanya mu tersenyum hangat padanya,
"aku mendapat panggilan, masa introgasi mu selalu gagal, dan introgasi terakhir mereka melapor kau membunuh Hoshizora Mayuki kemarin" tanya Dazai,
"eh... aku tak membunuhnya
Osamukun, pasti ada yang salah dengan laporannya, hari itu wanita itu memasuki alam bawah sadarku mengorek pikiran ku, ia sudah ku peringatkan untuk tak membuka kenangan kelam tentang diriku, ia keras kepala, aku tak tau apa yang terjadi padanya setelah gerbang itu tertutup dan tentu saja aku tak mau menyelamatkan orang yang telah lancang memasuki pikiran ku".
"kau, menjijikkan (Name)"
"eh?, kesalahan apa yang kulakukan?, aku benar-benar tak menyentuhnya, Osamu kun aku-"
"kau tak menyelamatkannya, itu membuktikan bahwa kau memang seorang pembunuh, dengan membiarkan Hoshizora Mayu, (Name) yang kukenal juga ternodai" Dazai mengusap wajahnya kasar, frustasi.
"Osamu kun kau baik-baik saja?" kau panik,
"siapa kau sekarang ini? ternyata benar, kau pembunuhnya (Name)"
“tunggu dulu, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan juga, ini tidak adil Osamu kun, bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan bahwa aku lah yang bersalah ?” tolak mu, merasa kesal juga dengan Dazai.
“lalu apa alibi mu ?” tanya nya membungkam mu seribu bahasa, tak percaya bahwa dazai benar-benar tak sadar selama ini,
“apa alasan bahwa aku mencintaimu saja itu tak cukup untuk mu Osamu kun?” suara mu memelas, mengejutkannya terlebih baginya alibi mu sama sekali tak masuk akal.
“Alasan konyol itu lagi”
“ITU BUKAN ALASAN KONYOL !!!” sanggah mu sungguh tak terima, Slama ini apakah Dazai tak menyadari betapa besar kau mencintainya bahkan dengan perasaan kuat mu yang slama ini kau rawat baik-baik,
“Aku mencintaimu hanya itu yang terlintas di otakku, saat diintrograsi pun aku hanya memikirkan mu, setiap malam saat mendekam di jeruji besi itu ku habiskan untuk bertanya-tanya apa kau baik-baik saja, apa kau sehat?, masihkah kau membeli buku panduan bunuh diri seri berkelanjutan konyol itu, apa tidur mu cukup? tidakkah itu cukup untuk menjelaskan mengapa aku bertahan sekarang ini”
"apa kau sudah selesai dengan alasan konyol itu?, (Full Name?) eksekusi mu akan dilakukan lusa, jujur saja aku ingin meragukan kenyataan bahwa kau adalah dalang di balik semua ini" Dazai berdiri, ia meninggalkan mu kau menatap nya nanar bahkan menjawab jujur tak menghasilkan apapun. sekarang kau tau betapa dangkalnya perasaan Dazai padamu.
"Osamu kun, tolong" lirih mu berusaha menggapai nya dengan kedua tangan kecil mu yang pas segali di sepasang borgol yang membatasi pergerakan mu, bagaimana bisa kau terjebak di posisi ini,
"akan ku kembalikan ini (Name), aku tak menginginkan peninggalan sekecil apapun yang mengingatkan ku akan sebuah eksistensi mu, kutukan yang terlahir di dunia ini" Dazai mengembalikan cincin couple yang telah tersemat indah selama 3 tahun di jemarinya.
Ia melemparnya ke meja namun cincin itu menggelinding ke sudut ruangan, kau menatapnya nanar. air mata membendung di pelupuk mata mu, tak sepatah dua kata berhasil kau keluarkan.
"ada keinginin lain sebelum kematian mu (Name)? " tawar Dazai pada tubuh tak berjiwa milik mu,
"Aku ingin melihat kampung halaman ku" ucap mu spontan, sedikit mengejutkan Dazai akan permintaan normal mu ia pikir kau akan meminta nya untuk menghabiskan waktu bersama mu sampai tiba di hari eksekusinya berlangsung. Dazai pergi kali ini benar-benar meninnggalkan mu sendirian,
“Selamat tinggal (Name), akan ku katakan ini sekarang sebelum kita benar -benar berpisah, ku harap pertemuan yang terjadi antara kita hanyalah sebuah mimpi dimana suatu saat aku akan terbangun dan tak lagi menemukan mu disisiku ” Dazai mengutuk mu, mengutuk pertemuan kalian yang kau yakini bukan sebuah kebetulan.
Kau bergerak pergi ke sudut ruangan, meraba-raba sudut ruangan mencari pasangan cincin milik Dazai, seluruh indramu seolah mati. Tak dapat lagi melihat maupun merasakan kau terus merabanya pikiran mu pergi jauh, matamu kosong sepertinya jiwa mu juga ikut meninggalkan raga mu.
“apa yang kau lakukan ?” tanya seorang pengawas yang bertugas membawa mu kembali ke sel tahanan mu,
“tolong aku pak, aku tak bisa menemukan cincin kekasih ku ia tak sengaja menjatuhkannya disini” kau masih meraba, menjelaskan ketidak sengajaan Dazai Osamu berharap orang ini mau berbaik hati membantu mu menemukan cincin itu.
“apa yang salah dengan mu?,cincin yang kau maksud itutepat ada di depan mu” tanyanya, namun kau masih meraba pengelihatan mu benar-benar terasa gelap,
“pak bisa kau bantu aku menemukannya disini terlalu gelap” kau terisak kesulitan mencari barang berharga itu tanpa bantuan siapapun. orang itu membantu mu memungut cincin yang kau maksud melihatnya lebih jeli lagi, siapa tau itu bisa di jadikan alat untuk melarikan diri.
“lampu ruangan ini telah mati tepat setalah tamu terakhir mu pergi, namun kurasa ruangan ini tak segelap yang kau katakan, apa kau menderita rabun atau semacam nya nak?”tanyanya memberikan cincin itu padamu,
“Terimakasih pak, kau sangat baik” kau menatap cincin itu dengan mata kosong menangisinya atau mungkin lebih tepatnya menangisi pemiliknya sebelum sang pemilik membuang cincin nya.
.
.
.
Kau berjalan pelan kembali ke sel mu, neraka yang dimana tubuhmu sudah hampir terbiasa karenanya namun kali ini tak ada senyum yang terpatri di bibir mu,
Tempat dimana kau menaruh seluruh harapan hidupmu telah pergi. Meninggalkan harapan rapuh tanpa wadah milimu hancur berserakan dan serpihannya tak bisa kau kumpulkan kembali,
Pintu penjara yang kau huni sendirian itu terbuka, menyambut mu dengan gelapnya tempat tanpa lampu, kotor, dinginnya ruangan itu dan udara pengap menyesakkan tanpa sinar matahari atau sebuah harapan lagi.
Semua hal di sel itu yang membuatnya terasa seperti neraka menjadi semakin mengerikan dengan kenyataan bahwa dua hari hidup terakhir mu akan berakhir tanpa Dazai,
“Nak....?, kau terlihat berbeda dengan sebelumnya?” tanya petugas yang selalu mengantar mu kembali ke sel mu, ia tau perbedaan mu sebelum hari ini berlangsung, ia tau bahwa di mata (EC) mu itu setiap harinya selalu ada harapan akan hari esok bahkan setelah semua siksaan yang kau terima atu makanan tak layak yang kau dapat di sel. Kau terlihat berbeda hari ini.
“Aku baik-baik saja pak, terimakasih atas semua pertolongan mu sampai saat ini” senyum mu kau paksakan, dunia ini tidak adil untukmu sungguh tidak adil untuk seorang wanita yang berusaha mencari kebahagiaannya.
Selamat siang.....
Um..... , trus ini mau ngomongin apa 😂😂😂
#kehabisan topik.
Aduduh....., Punggung ku rasanya atit :v
Apa jangan jangan aku udah tambah dewasa yah 😎
Ga lah deng, penyakitan iya 😂😂😂
Sekian 5 detik bersama Yukitan
Oh iya satu lagi, klil tanda bintang di bawah ntar jodoh kalian bakal dateng
Wkwkw 😂😂😂
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top