43. Kami
Dazai Osamu x Reader
Bungo Stray Dogs (文豪ストレイドッグス, Bungō Sutorei Doggusu; lit. Literary Stray Dogs) is a manga written by Kafka Asagiri and illustrated by Sango Harukawa.
Genre : Tentukan Sendiri
Rate : T
.
.
.
Riuh tepuk tangan menyambut kami berdua, semua teman-temanku ada disini mengucapkan slamat dan berdoa untuk masa depan yang baik bersama suami ku.
Jangan ditanya bagaimana bahagianya aku saat ini, sangat bahagia hingga air mata dan kata-kata tak bisa melukiskannya.
"Oii... (Name)" kudapati sebuah suara familiar memanggil namaku, bahkan di kerumunan seperti ini aku bisa mengenali suaranya. Bagaimana tidak, pria yang telah menjadi partner suami ku dalam kurun waktu cukup lama.
"Terima ini... " ia melempar kotak kado kecil berbungkus merah marun dengan pita putih merekat sebagai pemanis nya.
Aku mengocoknya kado pemberiannya, pria itu Nakahara Cumin jika aku tak salah ia selalu mengincar nyawa Osamu kun, jadi tidak salah jika aku menaruh curiga pada pemberiannya.
"Dengan siapa datang kesini?" tanyaku ramah.
"Boss, Akutagawa dan yang lainnya juga ikut" ah... Aku langsung ingat, Murid didik Osamu kun yang terlihat nyentrik dengan batuk yang tak kunjung berhenti bahkan ketika upacara berlangsung.
"Aku mengerti kalian ingin mendatangi pernikahan ku tapi bisakah kalian semua datang secara normal kemari?, maksudku lihat semua orang-orang port mafia itu? Kalian menakuti para tamu ku!" teriakku mengguncang jas milik Chumin.
"Mereka semua mantan bawahan Dazai, jadi sudah sewajarnya mereka ingin datang" balas Chuuya santai.
"Wah... Wah... Lihat siapa yang datang, apa kau mau menculik istri ku heh? " tanya Dazai memelukku dari belakang.
"Osamu kun, Cumin datang berkunjung-"
"Jangan pernah percaya dengannya sayang, bisa jadi pria ini antagonis utama dalam cerita cinta kita" bungkamnya pada bibirku.
"Aku tak menyangka wanita sepertimu bisa menikahi pria idiot seperti dia" celetuk Chuuya.
"Begitulah... Aku juga bingung kenapa, ngomong-ngomong Cumin sepertinya dalam kurun waktu dekat kau juga akan segera menyusul kami" balasku.
"Apa? Menikah? Jangan bercanda, berbeda dengan penghianat di sampingmu itu aku akan terus mengabdi pada Port Mafia. Pernikahan hanya menghalangi jalan ku" balasnya arogant.
"Entahlah, tapi aku yakin kau akan segera menyusul kami. Habisnya yang mendapat bunga yang kulempar tadi adalah dirimu bukan? " tawa ku, rumor mengatakan jika tamu mendapatkan buket bunga milik pengantin, ia bisa segera menyusul ke pelaminan.
"Hmph... " pria dengan tinggi rata-rata itu masih mendengus arogan, aku semakin tak sabar melihatnya menemukan belahan jiwanya.
"Chuuya, kau ingin mengatakan sesuatu bukan? Kutunggu kau di meja itu" Dazai menunjuk meja kosong di tempat yang cukup sepi.
"Teman-teman mu menunggu mu, kurasa mereka masih terkejut mendapati salah satu dari mereka kini telah bersuami, temuilah mereka sayang. Tapi jangan bicara dengan pria berkacamata itu aku tidak menyukainya, ia lebih tampan dariku" Dazai mengecupku sebelum benar-benar meninggalkanku tanpa sempat membalas perkataannya.
"Konyol sekali, slamat (Name) bukan hanya mendapat seorang suami kau mendapat seorang anak" ujarnya Chuuya kemudian menyusul Osamu kun.
"Chuuya awas-"
BRUKKK...
terlambat, aku ingin memperingatkannya bahwa di belakangnya pas berdiri seorang wanita. Dan Chuuya tipikal pria yang gradas-grudus, satu gerakan saja sampai menjatuhkan seseorang.
Ujung hidung mereka saling bertemu, baru kali ini Chuuya tak mengeluarkan protesnya.
"a-a anu... Maafkan aku" jawab nya menduduki Chuuya sambil berkali-kali menundukkan kepala.
Wah... Aku tau suatu saat Chuuya akan menemukan wanitanya sendiri dan menikah tapi tak pernah kusangka akan secepat ini, takdir itu sungguh aneh.
"Chuuya, aku mengerti kau masih dalam masa pertumbuhan tapi bisa tolong jangan berkembang biak di pernikahan ku? Kalian bisa lakukan itu nanti setelah berkenalan" Teriak Dazai dari kejauhan disahuti geraman marah dari si pemilik nama.
-----------***------------
Ketika bahagia datang dan memenuhi seluruh rongga hidup, waktu kan berjalan lebih cepat. Tidak adil mungkin, namun ini lebih baik daripada hidup bersama sengsara.
Pandangan ku tiba-tiba menjadi segelap malam gulita. Aku tau siapa ini.
"Osamu-kun" jawab ku selalu tepat.
"Mengalahlah sekali-kali" ia merajuk manja, sementara aku tersenyum menggeleng pelan.
"Tidak mau, aku tak mau menyerah padamu " balasku, kembali ia mengalah.
Menaruh kue manju dan duduk disampingku, menatap senja yang begitu indah bersama dengan Laut yang memantulan sinar mentari yang tinggal beberapa menit lagi kan segera pudar tenggelam tergantikan oleh indahnya rembulan malam.
Ia menggenggam tangan ku erat, aku menatapnya. Wajahnya begitu kusut, matanya sembab dan lingkar hitam itu. Astaga berapa lama ia tak tidur.
"Kau yakin tak ingin segera pulang? Usia kehamilan mu telah menginjak bulan-bulan akhir" Osamu kun menatap perut ku yang mulai membesar, jadi ia masih mempermasalahkan perihal itu?. Kami sudah membicarakannya beberapa hari yang lalu.
Keputusaku tak bisa di rubah oleh siapapun di dunia ini, aku inginBertepatan dengan musim panas aku meminta Osamu-kun mengantarku pulang ke rumah ku, desa kecil berdekatan dengan Yokohama, tak dekat tidak juga jauh tapi masih menjadi bagian dari kota pelabuhan itu.
Meski memaksa aku tak mengizinkannya ikut denganku sampai ia benar-benar mendapat cuti asli dari Tantei-sha. Menjadi istri pembela kebenaran sedikit membuatku sedih memang.
Sebagai gantinya Osamu-kun boleh menggunakan waktu liburnya pergi ke desa ku dan menghabiskan waktu musim panas kami bersama.
Seminggu berada di rumah membuatku ingin melakukan proses lahiran disini, aku ingin putri ku mengenal kampung halamanku, aku ingin ia menghirup udara pertamanya di tempat asri itu.
Tempat dimana aku tumbuh dan menempa kenangan bersama Ibu dan ayahku. Kelak aku ingin anakku mengenal erat keluargaku, mengisi kekosongan anak perempuan di rumah tradisional itu.
Kugenggam tangan ramping Osamu-kun.
"Menyerahlah sayang, ini sudah jadi keputusanku, jangan remehkan aku, aku cukup kuat untuk menahan sakit, wanita yang telah lama mencintaimu ini sanggup menepis semua rasa sakit itu" ujarku.
"Baiklah..."
Osamu pasrah, ia menyandarkan kepalanya pada bahuku. Aku menepuknya pelan.
Keputusaku tak bisa di rubah oleh siapapun di dunia ini, aku ingin anak ku lahir disini,
Banyak kenangan di desa kecil dengan populasi kurang dari 500 jiwa ini, memang mungkin aku tak dilahirkan disini, namun kenangan yang melekat dan membentukku hingga jadi (Name) yang sekarang ini, semuanya berasal dari sini. Entah itu rasa sakit, duka atau pun bahagia semuanya ada disini.
"Mengerti lah, Anata." Aku mengusap mata sembabnya, lalu beralih menempelkan hidung kami. Dazai Osamu mafia beradarah dingin itu telah banyak berubah, kehidupan membawanya bertemu dengan orang-orang baru yang dapat ia andalkan.
Seorang teman, seorang partner, sebuah tempat yang menerimanya bersama identitas masa lalu nya dan jika boleh aku akan menambahkan diriku sendiri dalam daftar orang yang merubahnya. Orang yang menjadi kekasihnya.
Deru nafasnya panas, sebagai seorang calon ayah Osamu-kun pasti gugup, Otou-san mengatakannya padaku. Beberapa bulan sebelum kelahiran Onii-chan ia merasa membawa beban tak kasat mata di pundaknya tapi itu bukan apa-apa dibanding neraka yang harus Otou-san hadapi ketika istri pertamanya mengalami kontraksi.
"Keras kepala" ujarnya lalu bungkam.
Kini bulan berada di posisinya, masih tak berubah tempat layaknya malam-malam yang kami lewati sebelumnya. Suara-suara jangkrik saling bersautan bersama dengan angin yang berhembus di sela-sela rerumputan yang mulai memanjang, menimbulkan aroma khas musim panas. Kunang-kunang beterbangan seperti jilatan api malam kebakaran besar di mimpi ku.
Mimpi-mimpi mengerikan itu tak kunjung menghilang. Tak peduli berapa banyak malam yang kuhabiskan untuk memimpikan hal lain dan berapa pagi yang kuhabiskan untuk melupakannya, beberapa kali semakin menjadi dengan suara-suara samar yang memanggil ku lalu setelah itu kutemukan diriku telah menangisi sebuah mimpi.
"Aku baik-baik saja kok" jawabku tersenyum mendaati Osamu-kun menggenggam tangan ku erat.
"Dokter bilang ada kemungkinan kau harus menjalani operasi sesar" ia memulai pembicaraan di malam bisu yang kami ciptakan.
"wah... menakutkan, apa aku bisa memilih jalur jalur bius?" tanya ku berangan-angan.
"(Name), kau tau pembicaraan ini bukan mengarah kesana, kita tak bisa melakukan operasi disini karna-" Osamu-kun bungkam.
"Tidak ada rumah sakit cukup besar yang menyediakan perlengkapan operasi disini. aku paham kok" lanjutku, suami ku yang satu ini tak bermaksud buruk.
"Aku ibunya, aku tau apa yang terbaik untuk putri ku lagi pula sesar itu masih kemungkinan bukan? Belum 100% terjadi, kalau-kalau terjadi apa-apa kita bisa ngebut lagi-"
"Tidak!" sambungnya cepat.
"Aku hanya separuh bercanda kok" balasku tertawa, merebahkan diri di pahanya. Senang rasanya hubungan kami bisa sejauh ini,tak lagi canggung seperti dulu tak lagi, tak ada lagi yang harus kami berdua sembunyikan dan yang terpenting...
Kami tak lagi saling mengejar satu sama lain.
"Mungkin ini akhir bahagia cerita kami berdua" bisikku sebelum menutup mata terlelap dalam pangkuan suamiku Osamu-kun.
To be continue~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top