41. It's a Trap!

Bertemu Shoji di pertengahan jalan adalah salah satu berkah dalam semua kekacauan ini. Anak itu tampak kotor dan kelelahan, tetapi tidak terluka parah. Disampingnya, tampak seorang anak dengan rambut pendek yang mencuat kemana-mana. Anak kelas 1-B, Kosei Tsuburaba.

"Shoji-san! Tsuburaba-san!" panggil Izuku. Dia berlari mendekat. "Kalian baik-baik saja?! Kemana Tokoyami?!"

"Midoriya, Todoroki!" Terdengar nada lega di suara Shoji. "Kami baik, tapi—"

Terdengar suara raungan keras.

Demon?

Izuku menengok meteran anomali. Bukan, bukan demon. Mereka masih agak jauh dari titik di atas peta.

Kalau bukan demon, lalu...?

"Itu—"

Suara Tsuburaba melepas keheningan. Seperti tahu apa yang ada di pikiran Izuku, dia berbisik.

"Itu Tokoyami."

Raungan terdengar lagi.

Mata Izuku membulat.

"Huh? Apa maksudmu?"

"Quirk Tokoyami, Dark Shadow, bisa lepas kendali pada keadaan malam hari seperti ini," jelas Todoroki. Shoji mengangguk mengiyakan.

"Untung Tsuburaba disini menutup hidung dan tidak terpengaruh gas tidur, dia membantuku dengan perisai udaranya."

"Perisai yang hanya bertahan beberapa detik," desis Tsuburaba. "Seandainya saja aku—"

Raungan terdengar lagi. Dari jauh, terlihat siluet hitam. Berdenyar seperti ombak dari bayangan.

"Jika quirk Tokoyami mengamuk di malam hari—" Izuku mengokang Jadestaff, melirik ke Todoroki. "Apa kelemahannya adalah cahaya?"

Todoroki mengangguk. Tangan kirinya terkepal.

"Serahkan padaku."

Raungan semakin keras.

Siluet hitam semakin dekat.

"Sebaiknya kita menyingkir," ucap Izuku. Dia menarik lengan Shoji dan Tsuburaba, memimpin mereka mendekai garis pohon. Tidak ingin ada yang menjadi kolateral.

Tangan kiri Todoroki terulur.

Telapak terarah ke depan.

Mata merah Dark Shadow terlihat.

Cakar terhunus.

Tokoyami menjerit.

"PERGI! SELAMATKAN DIRI KALIAN!"

Shoji memandang teman sekelasnya dengan khawatir. "Midoriya, apa kau yakin—"

Midoriya menahan napas was-was. Tentu, dalam hati dia tak yakin. Ini adalah adu peruntungan. Itu temannya yang ada di sana. Dia tidak mau Todoroki terluka.

Namun—

Dia percaya pada Todoroki.

Api menguar.

Tsuburaba melangkah maju. Quirknya aktif. Bersamaan dengan Izuku mengaktifkan pelindung Jadestaff. Dua perisai itu menjaga mereka dari bara yang memercik. Tsuburaba tampak terkejut dan kagum.

"Jadi, alatmu itu tidak hanya untuk menyerang?"

Izuku mengangguk. Masih bisa tersenyum manis di tengah serangan dahsyat yang mengitari mereka. "Tepat sekali!"

Cahaya terang mengiluminasi hutan. Membuat ketiga anak yang mengawasi dari samping memicingkan mata mereka.

Ketika semua padam, Todoroki masih berdiri.

Di depannya, Tokoyami pingsan.

"Kerja bagus, Todoroki-kun!" jerit Izuku. Lalu, dengan cepat dia bersimpuh disamping Tokoyami. Mengecek napasnya.

"Dia masih hidup, tapi napasnya pendek. Quirk exhaustion, sepertinya."

"Sini, kubawa dia." Tsuburaba berlari mendekat. Menggendong Tokoyami di punggungnya. "Kita harus pergi ke tempat aman—"

"Aku harus mencari Dorothea," sela Izuku.

"Dan Bakugou," tambah Todoroki.

"Kalau begitu, aku ikut kalian, quirk-ku dapat mempermudah pencarian," tawar Shoji. Dia melirik ke Tsuburaba. "Bisakah kau bawa Tokoyami...?"

"Ya." Anak kelas 1-B itu mengangguk. "Pergilah, kami akan baik-baik saja."

***

Salah satu hal yang dapat dibilang ironis adalah Izuku jarang berburu di hutan.

Jika orang awam menembak elk atau rusa di antara pepohonan, mereka terbiasa dengan memburu demon di Musutafu. Bergelut diantara gedung dan area suburban. Untung saja, adaptasi adalah kemampuan utama yang ditanamkan oleh anggota Children of Earth. Jadi, ketika Izuku menemukan Dorothea, mereka langsung berdiskusi dan membuat rencana.

"Ini pyrocheros?" Izuku memastikan. Dorothea mengangguk.

"Tapi bukan seperti yang biasa kulihat. Sepertinya, dia berasal dari amulet demon."

"Benar sekali," ucap Dorothea. Dia berdehem. "Satu-satunya quirk yang berguna sebagai penyerang sekarang hanya es Todoroki."

Yang namanya disebut hanya mengangkat bahu. "Aku tak keberatan, apa yang harus kulakukan?"

Izuku mengangkat tangannya. Dengan telunjuk menegak. "Yang paling utama, demon itu cepat. Bukan yang paling cepat, tapi pergerakannya bisa membuat kita kerepotan. Jadi, kita harus melumpuhkannya."

"Itu urusanku." Dorothea menyeringai. "Namun, berarti kita perlu umpan..."

"Aku bisa melakukan itu."

Mata keempat anak melirik pada Shoji. Tangannya mengepal. Izuku menaikkan alis.

"Kau yakin...?"

"Ya." Dari balik penutup mulutnya, terdengar Shoji terkekeh. "Aku bisa memancing apapun itu menggunakan quirkku."

Sebagai peraga, salah satu ujung selaput di tangannya memanjang. Ujungnya membentuk sebuah mulut bergigi. Dorothea menatap Izuku. Sang anak hijau membalas dengan anggukan. Si gadis tersenyum.

"Baiklah kalau begitu—"

"Oi, Mesin Jahit! Bagaimana denganku?!"

Jeritan Bakugou terdengar. Diikuti oleh helaan napas berat dari Dorothea.

"Tidak semua hal berputar padamu, Baka-gou," dia mendesis. "Kau duduk saja yang manis."

"HEI—"

Geraman terdengar.

Kelima anak menegang. Izuku menepukkan tangan.

"Katsuki, Dorothea, simpan perdebatan kalian," kata Izuku. Nadanya serius. Begitu juga ekspresi yang terpasang di wajah. Kontras sekali dengan air muka Izuku yang biasanya ramah.

Dorothea mendecih. Namun, dia paham dan mengunci mulut. Bakugou sendiri tampak terpana. Hanya melongo karena terkejut. Tidak bisa disalahkan, ini mungkin pertama kalinya dia melihat Izuku dalam mode berburu.

"Baik? Kalian mengerti? Bagus. Sekarang, ini rencananya..."

***

Shoji berlari.

Dia yakin dia tidak pernah berlari lebih cepat dari itu sebelumnya.

Namun, sesuatu memburu di belakang. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang marah.

Sesuatu yang Izuku sebut sebagai demon.

Dan dia tidak pernah menyangka bahwa makhluk itu menyerupai badak yang mengamuk. Dengan kulit bertameng batu dan lava.

Shoji agak menyesal mengajukan diri sebagai umpan.

Namun, hanya sedikit lagi.

Dari jauh, dia sudah bisa melihat sekelebat rambut merah.

"SHOJI! SEKARANG!"

Shoji menyapu kakinya dan meluncur di bawah benang-benang yang mengikat pepohonan. Seperti membentuk jaring laba-laba yang rumit. Sayang, untuk sang demon, jaring tersebut terlalu tipis untuk dilihat. Makhluk tersebut menerobos langsung dalam perangkap.

Dia terjebak.

Suara raungan keras keluar dari mulut bergigi tajam. Tubuhnya meronta dan menggeliat. Menggetarkan pohon dan tanah.

"TODOROKI! GILIRANMU!"

Kristal es menyeruak.

Dan demon itu diam.

Membeku. Seperti nyamuk dalam batu amber.

Shoji menarik napas lega. Sudah selasai. Ini lebih cepat dari yang dia duga—

Crack.

"AWAS!"

Es Todoroki retak.

Lalu pecah.

"SHOJI!"

***

Mata Dorothea terbelalak.

Perhitungan mereka salah.

Pyrocheros itu bukan demon biasa. Dia adalah makhluk buatan dari amulet sihir. Dan makhluk itu tidak bisa diprediksi. Atributnya sudah dimodifikasi.

Dalam kasus ini—

Bom bunuh diri.

Bongkahan es besar melayang padanya. Menerjang kepalanya. Terlalu cepat. Dorothea tahu bahwa sudah terlambat untuk melarikan diri. Dia menyilangkan tangannya di depan wajahnya dan—

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada yang menabraknya. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada tengkorak yang hancur. Tidak ada.

Dan ketika dia membuka matanya, es itu melayang di udara.

Setidaknya, itulah yang dilihat orang lain. Tapi untuk Dorothea—

Itu Eins.

Tangan hantu itu menahan es tadi di udara. Tubuhnya bergetar hebat. Berkedip-kedip seperti gambar statis di televisi tua.

Es itu kembali menembus tangan Eins. Sang hantu kehabisan energi. Dia terhuyung di udara. Sosok astralnya masih buram dan kabur.

"Eins!" pekik Dorothea. Berusaha merengkuh kawannya. Akan tetapi, tentu saja, tangannya hanya meraih kekosongan. Saking khawatir, ia lupa Eins bukan manusia.

"A—aku baik-ba—ik s—aja"

Suara si hantu terputus-putus. Bagai radio lapuk.

"Tidak—pernah me—nyent—uh benda sebe—sar dan se—lama itu sebe—lumnya."

Dorothea menghembuskan napas lega. "Terima kasih, Eins. Tanpamu aku pasti sudah—"

"Oh, apa kau bicara dengan teman imajinasimu, Nona Kecil?"

Dorothea terkesiap. Refleks menoleh. Dia merasakan tangan menyentuhnya.

Hal terakhir yang dia lihat adalah pria bertopi dan memakai topeng bercorak aneh—

"DOROTHEA—!!"

Sebelum semuanya gelap.

***

Pandangan Izuku kabur. Kepalanya pening dan dia merasakan telinganya berdering. Walaupun dia tidak dapat mendengar apapun, dia tahu seseorang memanggilnya.

Perlahan, pendengarannya kembali. Dan yang memanggilnya adalah Shoji.

"Midoriya! Kau baik-baik saja?! Tanganmu—"

Izuku berusaha menggerakkan lengannya. Dan sakit langsung menyapu syarafnya. Seperti sebuah peringatan.

Dia menjerit.

Kelebat memori terlintas di kepala.

Pyrocheros, ledakan, salah satu debris hampir mengenai Shoji, dia bergerak dan—

Ah.

Izuku meringis menahan sakit.

Dia mendorong Shoji ke tempat aman. Dan dalam proses itu, lengannya terfraktur.

"Kenapa kau melakukan itu?!" bentak Shoji. Dia bukan marah, hanya terkejut. Dan mungkin merasa frustasi. "Apa yang kau pikirkan?!"

"Kakiku—" Izuku bergumam. "Kakiku bergerak sendiri..."

"Kau—"

"Todoroki-kun? Shoji-kun? Midoriya-kun?!"

Suara tinggi terdengar dari garis pohon. Dua anak perempuan berlari. Uraraka dan Tsuyu.

"Apa kalian baik-baik saja?!" tanya Uraraka. "Astaga! Tanganmu!"

Dengan sigap, anak dengan quirk gravitasi itu merobek jaket yang dia pakai dan membebat tangan Izuku bersama kayu pohon sebagai bidai darurat. Izuku meringis.

"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Izuku.

Tsuyu mengangguk. "Kami baik, kero. Yah, sebaik seseorang yang baru saja diserang oleh seorang pembunuh berantai, kero."

"Pembunuh berantai?!"

"Kami tidak ada cidera parah!" kata Uraraka. Wajahnya serius "Apakah diantara kalian bertiga ada lagi yang terluka?"

"Huh? Bertiga—?"

Barulah Izuku tersentak sadar.

Dia menghitung kepala di sekitarnya. Shoji, Todoroki, Uraraka, Tsuyu—

"Mencari dua temanmu?"

Pandangan siswa-siswi itu teralih. Tertuju pada seorang pria dengan overcoat panjang. Dia berdiri di cabang pohon. Topi tinggi khas aristokrat tua menghiasi kepala yang memakai balaklava. Wajah pria itu tertutup topeng dengan pola geometris. Tangan kiri memegang tongkat. Sementara tangan satunya memegang—

Kelereng?

"Kawan-kawanmu ada di sini," katanya. Memainkan dua kelereng di telapak. "Maaf, aku harus membawa mereka. Tapi mereka punya peran di panggung yang lebih besar."

Jantung Izuku seakan melompat ke tenggorokan.

"Bajingan! Kembalikan Dorothea! Dan Katsuki! Mereka bukan objek yang bisa kau ambil seenaknya!"

***

Sako Atsuhiro—Mr. Compress—menyukai teatrik.

Itu sebuah fakta. Sebuah kenyataan yang tak terhindarkan. Jadi, ketika wanita bertudung dan bertato ular itu berjalan masuk ke toko dengan aura penuh percaya diri serta kata-kata manis bak puisi, dia tahu dirinya sudah memakan kait.

Dia ingin tahu pertunjukkan apa yang wanita ini bawa.

Apapun itu, itu adalah hal yang besar.

Maka dari itu, Mr. Compress tidak ragu untuk mengiyakan permintaannya. Toh, mereka sudah berniat menangkap satu anak, menculik satu lagi bukan masalah besar.

Yang tidak dia duga adalah teman-teman anak itu nekat berusaha mencegatnya ke titik pertemuan.

Saat dia masih di udara.

Mereka jatuh dengan bunyi berdebum.

***

Ketika Izuku menyuruh Uraraka menerbangkan Todoroki, Shoji, serta dirinya sendiri, lalu meminta Tsuyu melempar mereka sekuat mungkin, Todoroki pikir dia sudah putus asa dan menjadi nekat. Tapi, ini Midoriya Izuku. Jadi, harusnya dia tidak terkejut.

Dia juga seharusnya tidak mempertanyakan apa yang ada di pikiran anak itu, karena rencananya berhasil.

Mereka menangkap si penjahat bertopeng di udara. Memaksanya jatuh mengikuti gravitasi.

Itu berarti, quirk Uraraka hilang.

Itu berarti, mereka semua jatuh.

Namun, itu bukan akhir.

"Mister, menghindar."

Api biru menyeruak di udara. Lebih panas dari api Todoroki. Jika saja ketiga anak itu telat menghindar, mereka sudah pasti jadi abu.

"Midoriya! Shoji!"

Belum sempat Todoroki melakukan apapun, seorang laki-laki mengenakan bodysuit melompat ke arahnya.

"Mereka ada di daftar Shigaraki!" seru pria itu.

Todoroki berdecih. Es menyeruak dari kaki. Membuat dinding besar yang mendorong si pria mundur.

Di sisi lain, seorang wanita pirang berpisau menyerang Izuku. Duduk di atas tubuhnya. Jadestaff ditendang hingga terpental jauh.

"Namaku Toga!" ucapnya dengan senyum manik. Dia mengangkat pisau.

"Dan kupikir, kau akan lebih keren jika berdarah lebih banyak!"

BUGH!!

"Midoriya!"

Shoji menginterupsi. Memukul si gadis sampai dia terlempar.

Selagi ketiga murid berkutat dengan lawan masing-masing, Mr. Compress kembali muncul. Dia berjalan mendekati penjahat lain yang ada di sana. Kulitnya penuh dengan luka bakar. Dia si pemilik api biru tadi.

"Dimana Bakugo?"

Mr. Compress merogoh saku.

Saat itulah, Shoji berseru.

"Todoroki, Midoriya, ayo pergi!" teriaknya. Mata kembali menatap pada Mr. Compress.

"Aku tidak tahu benar apa quirkmu. Tapi, benda yang kau pamerkan sebelumnya... yang ada di saku kananmu..."

Salah satu tangan anak itu menyodorkan sesuatu. Diapit dalam genggakan jarinya.

"Aku tahu ini Bakugo dan Dorothea, kan? Tuan Entertainer?"

Shoji memegang dua butir kelerang.

"Hoho! Kerja bagus! Dan gerakmu cepat juga!" Mr. Compress menepukkan tangan. "Memang tidak ada pencuri yang lebih handal daripada yang bertangan enam!"

Todoroki lalu berteriak. "Bagus! Kita selesai di sini!"

"Tunggu dulu Todoroki—!"

Jerita Izuku terputus ketika sebuah massa hitam menguar. Seperti asap dengan dua mata kuning bersinar.

Penjahat lain. Dan yang satu ini adalah jalan mereka kabur.

"Sudah lima menit dari sinyalnya, ayo pergi, Dabi."

Lebih banyak portal hitam terbuka di udara. Penjahat ber-bodysuit melompat masuk. Begitu juga si gadis pirang setelah dia mengucapkan selamat tinggal. Izuku terlihat bergidik ngeri.

Sementara itu, penjahat berluka bakar—Dabi—hendak maju.

"Tunggu. Target masih—"

Mr. Compress menghentikan langkah sebelum dia sendiri masuk ke salah satu portal, lalu menoleh.

"Karena mereka berhasil mengejar kita sampai sini, kuberi mereka hadiah."

Dia berbalik. Kembali menghadap tiga siswa U.A. tadi.

"Ini sudah menjadi kebiasaan pesulap. Jadi, jika kami memamerkan sesuatu..."

Satu tangan Mr. Compress memegangi topi. Satu lagi membuka topeng yang dia kenakan.

"Itu pasti bagian dari trik."

Lidahnya terjulur.

Ada dua kelereng di sana.

Tepat ketika kelereng di tangan Shoji berubah menjadi bongkahan es.

"Kau—!"

"Ledakan es tadi adalah kesempatan bagus. Jadi kubuat sedikit sebagai pengalih perhatian." Dia kembali memakai topengnya. "Aku tahu kalian akan mengejarku begitu melihat dua benda itu."

Dia berjalan mundur ke portal. Sembari membungkuk. Seakan menutup pertunjukkan.

"Dan sekarang saatnya aku pergi—"

SHIING!!

Lecut cahaya menghantam sisi wajah pria itu.

Aoyama!

Todoroki bersumpah dia akan berterimakasih padanya nanti. Tapi sekarang—

Dua kelereng terlontar dari mulut Mr. Compress. Todoroki dan Izuku meringsek maju.

Sedikit lagi!

Jari mereka tinggal tinggal sejengkal lagi!

Sebuah pita melesat dari portal.

Melilit dua kelereng. Menariknya menjauh ke dalam asap hitam.

Izuku dan Todoroki jatuh ke tanah.

Dengan tangan kosong.

"Usaha kalian cukup bagus, Paladin Muda. Namun sayang sekali..."

Sebuah suara tinggi terdengar. Wajah bertudung melongok dari portal di belakang Dabi. Seorang wanita. Mata perak berkilat di bawah cahaya rembulan. Bibir berhias seringai. Membuat empasis pada luka yang melintang di pipinya.

"Kalian tidak diundang pada pesta ini."

Tangan wanita itu keluar dari portal. Membawa dua kelereng. Seakan mengejek dua anak yang terbaring di tanah. Dan tepat di pergelangan tangannya—

Tato ular yang memakan ekornya sendiri.

Ouroboros.

The Silent Hands.

Izuku meringsek maju. Tidak peduli seluruh tubuhnya menjerit protes. Namun, si wanita menarik Dabi masuk dan—

Portal tertutup.

Jeritan Izuku menggema di seluruh hutan.

***

Ketika berita tersiar, semua tahu neraka baru saja terbuka.

Dari 41 satu murid.

15 dalam kondisi kritis.

11 murid cidera.

13 murid tidak terluka.

Dan—

2 murid tidak ditemukan.

***

.

.

.

.

.

.

.

Hello everybody~~ gimana, kangen nggak sama cerita satu ini?
/authordigamparreader/

Maaf ya lama. Tapi motivasi memang kadang pasang surut, ditambah kesibukan lainnya. Benar jadi resep nggak bisa up sampai bertahun-tahun.

Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia sama cerita ini. Sekali lagi maaf karena aku lama sekali buat bikin chapter baru. Tapi kalian boleh loh cek ceritaku yang lain /promosieaa:v/

Anyway, thanks again for reading my story and sorry for the lateness! I hope you can enjoy this one!

Thank u for reading! :D

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top