33. Training Arc Start!
Dorothea merasa tidak seharusnya berada di sini.
Anak-anak kelas 1-A berdiri di dekat bus yang akan mereka tumpangi menuju ke kamp pelatihan.
Bus yang akan Dorothea tumpangi juga.
"Ah, hari liburku yang berharga..."
Gadis itu mendesah sementara Eins terkikik. Tangan pucat 'merangkul' sang gadis selagi mereka berjalan—melayang, untuk Eins—mendekat ke gerombolan anak yang menunggu keberangkatam.
"Pilihannya ini atau ditangkap oleh sekte gila, Dorothea." Eins mengingatkan. "Sepertinya kau tidak boleh mengeluh."
Si gadis langsung mengeluh cepat dibalik napasnya. Hanya untuk membuat si hantu kesal.
Namun roh rambut putih itu hanya meringis dan 'mengelus' kepalanya. Dorothea mau tidak mau ikut melempar senyum lemah juga.
Dia tahu ide ini masuk akal. Dengan pergi ke kamp pelatihan, setidaknya Kuba dan Seren tidak akan bisa menemukannya selama beberapa hari. Dia akan aman dan tersembunyi. Sementara Monika, Nikky, dan semuanya akan memburu dua buronan itu. Orang tuanya setuju. Kawan-kawannya setuju. Nikky dan Monika setuju.
Dia tahu rencana ini masuk akal.
Namun, masuk akal bukan berarti Dorothea akan menyukainya.
Dia ingin menghabiskan liburan seperti anak lain. Tidur sampai siang, pergi ke kafe kucing dan bioskop, atau bermain arkade. Mungkin menggeret Izuku sekali-kali untuk perburuan malam.
Namun, dia malah terjebak dengan anak-anak Prodi Pahlawan di Kamp Pelatihan mereka. Selagi The Silent Hands menandainya sebagai buron.
Jadi, sebagai ringkasan—
Dorothea sekarang sedang tidak bersenang-senang.
Untung saja, dia tidak harus menghadapi semua ini sendirian. Dari jauh, dia bisa melihat rambut hijau mirip semak yang tertiup angin.
"Izuku-kun!" panggil si rambut merah. Si rekan langsung berbalik. Mata hijau berbinar di bawah sinar mentari pagi.
"Dorothea-chan! Selamat pagi!"
Gadis itu menyunggingkan senyum. Dia berhenti di dekat Izuku. Pandangan keduanya tertumpu pada murid kelas 1-A yang masih tidak menyadari mereka. Terlalu sibuk berbincang dengan satu sama lain.
"Apa kau antusias?" tanya Izuku.
Dorothea meringis kecil. "Tidak... juga. Kau tahu bagaimana perasaanku soal ini."
"Masih khawatir, huh?"
Pertanyaan itu dijawab anggukan kecil. Dorothea merasakan tangan Eins 'melingkar' di lehernya. 'Memeluk'. Itu agak sedikit menenangkan hati.
"Bagaimana tidak? Saat kau bisa menghancurkan dunia hanya karena kau ada, sepertinya wajar jika aku khawatir."
"Secara teknis, yang menghancurkan dunia bukan kau, tetapi Serathephim."
Gadis itu menyikut Izuku sembari menggerutu. Sang kawan terkekeh. Mengelus tangan yang menjadi sasaran. Dua anak itu saling pandang. Lalu tertawa bersama-sama.
"Dorothea? Midoriya?"
Suara familiar itu memutus mereka. Dan laki-laki berambut dwiwarna pemiliknya bergerak mendekat.
"Todoroki-kun!" sapa Izuku antusias. Dia melambaikan tangan. "Selamat pagi!"
Anak yang disapa ikut melambaikan tangan. Mata biru-abu-abu bolak-balik mengamati dua murid kelas 1-C yang berdiri di depannya.
"Jadi, kalian setuju dengan rencana Nezu, huh?"
"Yeah, kami tidak punya banyak alternatif lain," gumam Dorothea.
Sejenak, ekspresi datar di wajah Todoroki meluruh. Berubah menjadi simpati. Lalu—
Determinasi.
Dia menaruh tangannya di pundak sang gadis. Matanya berkilat di bawah poni merah-putih.
"Aku juga akan berusaha melindungimu. Kau tidak perlu khawatir."
Manik emas berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Kemudian, Dorothea merasakan pipinya memanas.
"Ah—uh—itu—" Dorothea tergagap sembari terhuyung mundur. Tidak menyangka akan mendapatkan deklarasi seperti itu dari si anak emas Prodi Pahlawan.
Untung dia langsung bisa kembali mendapat postur. Walau dia yakin pipinya kini pasti bersemu.
"Aku akan mengingatnya, terima kasih."
Todoroki berdehum. Dorothea mungkin berhalusinasi. Akan tetapi, dia merasa sudut bibir anak itu terangkat sedikit.
"Sekarang wajahmu sungguh mirip strawberry."
"Hei—!"
"Dorothea-kun?! Midoriya-kun?!"
Langkah tegap terdengar. Tampak lelaki berkacamata mendekat dengan senyum lebar.
"Senang bertemu denganmu lagi, Iida-san," sapa Dorothea sopan.
"Aku juga, Dorothea-kun! Tetapi..., apa yang akan kalian lakukan di sini?"
"Ah!" Dorothea melirik Izuku. "Kami akan ikut kalian ke kamp pelatihan."
Mata Iida tampak mengerling. Dia tersenyum lebar. Tangannya memotong udara selagi bicara.
"Oh! Itu berita bagus! Ayo bergabung dengan yang lain! Jangan di sini saja!"
"E-eh? Tunggu—"
Dorothea belum sempat memprotes. Iida sudah menarik dia dan Izuku menuju gerombolan murid 1-A. Todoroki mengikuti sembari mengulum senyum dan gadis itu bersumpah mendengar Eins tertawa.
Dasar pengkhianat!
"Teman-teman!" Iida berkata dengan suaranya yang keras. Alhasil membuat pandangan yang lain langsung tertuju ke arahnya.
"Ini Dorothea Tuning dan Midoriya Izuku! Anak kelas 1-C. Dia akan ikut kita ke kamp pelatihan!"
"Panggil saja aku Dorothea. Salam kenal."
"Namaku Midoriya Izuku! Salam kenal!"
"Hahaha! Tidak perlu berkenalan kita juga sudah tahu, kok!" celetuk seorang anak berambut kuning dengan garis hitam. Dia meringis lebar.
"Kalian dua anak yang juga terlibat USJ, kan? Dan Midoriya—kau yang membuat Todoroki babak belur di Festival Olahraga!"
"Iya! Tapi bukan hanya itu!" imbuh Iida. Tangannya memberi gestur ke Dorothea. "Dia yang menyelamatkan kakakku."
Ah, bloody hell—
"EEEEEHH???"
Anak-anak kelas 1-A langsung ramai. Mata mereka mendelik. Dorothea menggaruk kepalanya.
"Aku hanya menelpon ambulan—"
"Tetap saja! Itu sangat manly!" puji seorang anak berambut merah. Mencuat ke atas melawan gravitasi. Deretan gigi tajam menghiasi senyuman yang lebar. "Aku Kirishima Eijiro, salam kenal!"
Dia menunduk kecil. Dorothea mengikuti dengan canggung.
"Apa kalian akan ditransfer ke Prodi Pahlawan?"
"Ah, kami menolak, sebenarnya!" jawab Izuku cepat. Dia menggaruk kepalanya.
"Uh, kami—kami punya alasan lain untuk ikut."
"Oh, apa itu, kero?"
Izuku menoleh. Wajah ramah Asui menyapanya. Si anak mengibaskan tangan.
"A-ah, aku pikir lebih baik Aizawa-sensei yang menjelaskannya."
Gadis katak itu menaruh telunjuk di dekat bibir.
"Mungkin," jawabnya. Dia tersenyum. "Senang kalian bisa bergabung dengan kita, Izuku-chan, kero."
"Aw, kami juga senang ada di sini, Tsu-san!"
Disampingnya, Dorothea mendengus. Eins yang sudah kembali di sisi sang gadis terkekeh.
"Lihat! Midoriya tampak bersemangat, lho!"
"Tapi aku bukan Izuku-kun..."
"Dorothea-chan, kau mengatakan sesuatu, kero?"
"A-ah! Bukan apa-apa!"
Pembicaraan berlanjut. Topiknya tersebar kemana-mana.
Anak-anak kelas 1-A memperkenalkan diri mereka masing-masing. Lalu beralih tentang seberapa keren Jadestaff yang tersarung di pinggang Izuku. Lalu tentang quirk. Dorothea mempraktikkan sedikit Thread dengan mengikat dan menarik batu yang ada di tanah.
"Uhm, Dorothea."
Gadis itu menoleh. Menatap anak berambut merah putih yang memanggilnya. Muka Todoroki tampak merenung. Dorothea menelan ludah.
"Kau—"
Todoroki tampak serius.
"Apa kau kerabat Best Jeanist?"
Hening.
Huh.
Huh?
Apa?
"AHAHAHAHA! Bagaimana kau sampai ke kesimpulan itu?!!" ucap Izuku sembari terbahak.
"Siapa Best Jeanist?" tanya Dorothea.
Belum sempat Todoroki membuka mulut dan menjelaskan teori konspirasinya—atau apapun itu—sebuah suara batuk menyela.
"Sudah selesai mengobrolnya?"
Aizawa berjalan mendekati mereka. Penampilannya tidak berubah. Dengan pakaian serba hitam dan syal—capture weapon—terlilit di leher.
"Semester pertama U.A. sudah selesai dan saatnya liburan musim panas," ucap guru itu.
"Akan tetapi—"
Pandangannya menusuk.
"—Kalian yang ingin menjadi Pahlawan tidak akan punya waktu berisitirahat."
"Di pelatihan musim panas ini," lanjutnya. "Kami akan melatih kalian menuju puncak yang lebih tinggi, 'Plus Ultra'."
"HAI!"
Semua murid kelas 1-A menjawab serentak.
"Ah, ya, satu hal lagi," ucap Aizawa. Mata hitam menatap gadis itu.
"Dorothea, Midoriya, kemari sebentar."
Kedua anak maju dengan terburu-buru. Berdiri di dekat guru yang bermata lelah itu.
"Ini Dorothea Tuning dan Midoriya Izuku. Dari Klub Jurnalistik Internasional U.A. yang baru saja dibuat," jelas Aizawa.
"Mereka akan ikut untuk mendokumentasikan kegiatan ini dalam artikel bahasa inggris. Kalian baik-baiklah dengan mereka!"
Dorothea berjengit.
Jadi alibi itu benar kita pakai, huh?
Yah, setidaknya itu tidak sepenuhnya bohong.
Pikiran Dorothea melayang saat dia bertemu Nezu sewaktu pulang sekolah.
***
Flashback
"Jadi, uh, Mom dan Dad sudah setuju?"
"Benar sekali Miss Tuning!" ucap Nezu sembari menyesap teh.
Dorothea menunduk dan melihat cangkirnya sendiri. Tangan memainkan kain roknya dengan ragu. Dia dan Nezu duduk di ruang guru. Mendiskusikan rencana mengirim Dorothea bersama Prodi Pahlawan.
"Uh, dan kalian sudah menghubungi The Children? Apa yang mereka katakan?"
"Mereka... tidak bisa dibilang senang dengan situasi ini," ucap Nezu jujur.
"Akan tetapi, mereka tahu bahwa sedikit tenaga lapangan yang mereka punya harus dikerahkan untuk mencari Seren dan Kuba. Mereka tidak bisa menjagamu. Juga, membiarkanmu ada di fasilitas The Children itu terlalu mudah diprediksi."
Si kepala sekolah berdehum. Meletakkan cangkir ke piring dengan bunyi 'klik' pelan.
"Untuk cover story, kita bisa bilang kau akan ditransfer ke Prodi Pah—"
"Oh, pardon my language but that's a bloody no!" sela Dorothea. Nezu diam. Dan berkedip.
"Ah, um," tangan Dorothea menggenggam.
"Maaf Nezu-san, aku—aku tidak keberatan berlatih dengan anak Prodi Pahlawan, selama ini aku juga sering latihan untuk The Children, tetapi—"
Nezu mengangguk, isyarat agar Dorothea melanjutkan.
"Aku—aku merasa hipokrit soal itu. Maksudku—aku sudah menolak masuk Prodi Pahlawan, kan?" ucapnya.
"Dan—setelah selesai, apa aku bisa langsung keluar begitu saja? Bukankah aneh sekali jika satu anak ini bisa keluar masuk Prodi sesukanya?"
"Hmm, ya itu bisa jadi masalah," gumam Nezu.
"Untung saja aku punya ide lain."
Tentu saja dia punya. Dia Nezu. Malah aneh kalau dia tidak punya rencana B.
Dorothea mendengarkan dengan cermat.
"Present Mic bilang kau pandai membuat tulisan dan laporan bahasa inggris, betul?"
"Eh? Yah, aku native speaker, jadi—"
"Kalau begitu, kau bisa datang dengan kedok membuat artikel!"
"A-artikel?"
"Ya!" ucap Nezu. "Dengan begitu kau bisa mengamati mereka dan tidak perlu berlatih!"
Si tikus—beruang—apalah dia itu—menggosok dagunya yang berbulu.
"Dan kalau kau benar-benar membuat satu artikel bahasa inggris soal kamp pelatihan, itu bagus. Aku bisa memasukkannya ke nilai tambahan."
Dorothea berdehum. Dia tidak perlu ikut turun langsung ke kegiatan. Hanya mengamati. Membuat artikel bahasa inggris juga bukan hal yang sulit. Mengingat itu bahasa ibunya. Dia bisa menulis satu dengan mudah. Dan iming-iming nilai tambah itu boleh juga.
"Itu... bukan ide buruk," gumam Dorothea. "Oh! Satu lagi!"
Nezu menelengkan kepalanya. Manik hitam memandang penuh rasa ingin tahu.
"Aku ingin Izuku-kun ikut," ucap Dorothea mantap. "Aku tidak berharap hal buruk terjadi, tetapi untuk jaga-jaga..."
"Aku mengerti," ucap Nezu. Senyum kecil muncul di wajah.
"Apa kau mau Shinsou Hitoshi ikut juga?"
"Ugh, kalau bisa, aku akan menjawab iya," keluh Dorothea. "Tetapi, dia ada rencana liburan dengan keluarganya."
"Hmm, begitu. Jadi, hanya Midoriya Izuku. Aku bisa mengurusnya."
"Baiklah," ucap Dorothea. Kemudian satu hal terbesit di benaknya.
"Tetapi, kalau mereka bertanya, aku menulis artikel untuk apa?"
Nezu menyesap teh. Tampak berpikir. Dorothea ikut meminum miliknya. Berusaha menghiraukan pandangan si Kepala Sekolah yang tampak merencanakan sesuatu.
"Bagaimana kalau—hmm—"
Nezu tersenyum kecil. Lalu menatap Dorothea.
"Bagaimana kalau kau menulis untuk Klub Jurnalistik Internasional U.A.?"
Dorothea hampir tersedak.
Nama panjang macam apa itu?
"Uh, Nezu-san, aku tidak ingat U.A. punya klub seperti itu."
Nezu berdehum lagi.
Cakar berbulu kemudian mengeluarkan ponsel. Entah darimana dia menyimpannya. Dia tampak sibuk mengutak-atik sesuatu di ponsel itu. Dorothea hanya memperhatikan. Menunggu dengan sabar.
Beberapa menit kemudian, pandangan Nezu terangkat dari ponsel.
Menatap Dorothea dengan senyuman yang membuat gadis itu berkeringat dingin.
"Kita baru saja punya klub itu sekarang."
***
Bulu kuduk Dorothea merinding mengingatnya.
Dia tahu Nezu itu salah satu orang—hewan? Entah apa dia itu—paling pintar yang ada di dunia. Metode yang dia pakai juga efektif. Itu sebabnya dia sangat baik dalam menjalankan tugas sebagai Pro Hero dan pengajar.
Akan tetapi, Dorothea tidak berpikiran dia seefektif itu.
"Mereka berdua hanya akan mengamati. Dia tidak akan mengikuti kegiatan secara langsung. Bersikaplah sebaik mungkin, mengerti?"
Peringatan Aizawa dijawab dengan 'hai' serentak dari murid-murid.
Dorothea berusaha menenangkan diri.
Semua akan baik-baik saja.
Dia dan Izuku menundukkan badan sedikit. Kemudian bangkit dan pandangan sang gadis menyisir wajah-wajah murid 1-A.
Tanpa sengaja, mata emas tertaut dengan sepasang manik merah anak berambut pirang jabrik.
Bakugo Katsuki.
Aneh, sedari tadi dia menyendiri. Bahkan tidak mengucapkan satu ejekan kepada Izuku. Kemana sifat yang ribut seperti waktu SMA dulu? Apa dia sudah berubah atau belum?
Apapun itu, bagi Dorothea, Bakugo masih sebuah bom. Dia mungkin tidak meledak sekarang tetapi—
Bom waktu juga tenang sebelum meledak, kan?
Dan si gadis tidak akan membiarkan rekan rambut hijaunya ada dalam radius letusan.
Sejenak, mereka menahan pandangan. Menatap lurus ke netra masing-masing. Sebelum Bakugo mendecih dan memalingkan muka.
Barulah Dorothea kembali melihat yang lain. Lalu memasang senyumnya yang paling manis.
"Kami mohon bantuannya."
***
.
.
.
.
.
.
.
A.N. :
Training arc go brrrrr
Ehehe, chapter kali ini sedikit-sedikit direkonstruksi ulang dari Normal. Semoga kalian suka!
Thank u for reading! :D
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top