21. Inbetween Event
"Jadi, bagaimana?"
Suara tinggi seorang wanita memenuhi sebuah bar gelap. Diikuti dentingan es beradu dengan gelas kaca.
"Anak yang menarik, huh?" tanyanya dengan senyum lebar. Mata mengintip dari balik tudung hitam.
Laki-laki berambut biru muda di depannya hanya berdecih. Tidak menjawab.
Si Wanita Bertudung mengangkat bahu.
"Kau tidak asyik, Shigaraki Tomura," celetuknya. Tangan memutar gelas. "Hmm, bukankah anak itu yang di USJ? Yang menyerangmu—"
"Diam."
Terdengar tawa kecil memenuhi udara. Jari-jari lentik sang wanita menutupi mulutnya. Dia selalu senang menggoda Penjahat di depannya ini. Reaksi Shigaraki sangat lucu di matanya.
"Iya, iya~"
Dia terkekeh lagi. Sebelum kembali melirik ke layar. Melihat tongkat yang digenggam erat oleh sang anak berambut hijau.
Technomagic.
"Aku penasaran," gumamnya. Kali ini lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa kau juga salah satu dari mereka yang melawan Mistress, Midoriya Izuku?"
Suaranya lembut. Tinggi dan manis. Seperti seorang penyanyi opera. Seakan mendamba.
"Apa kau mengenal Sang Mata?"
***
Saat Izuku terbangun—
Hal yang pertama dia rasakan adalah nyeri.
Seluruh tubuhnya terasa sakit dan pegal. Kepalanya juga terasa pening. Dia lalu merasakan kasur dan bantal empuk di bawah tubuhnya. Lalu lampu terang di langit-langit.
Ah, dia di ruang rawat.
"Kau sudah sadar?"
Suara lembut mengagetkannya. Membuat Izuku sontak berdiri. Yang langsung dia sesali ketika sakit di kepalanya berdenyar semakin kuat.
"Pelan-pelan, nak!" ucap suara itu lagi. "Kau menghantam dinding di luar arena dengan cukup keras!"
"Yeah...," gumam Izuku. Memegangi kepala yang sakit. "Aku... bisa merasakan itu."
Sebuah kekehan terdengar sampai ke telinganya. Izuku menoleh dan menunduk. Tampak seorang wanita tua pendek berdiri di samping kasur. Rambut berubannya ditusuk dengan hiasan berbentuk suntik. Tongkatnya juga berbentuk jarum suntik. Izuku langsung mengenali siapa dia.
Recovery Girl.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya si nenek lembut. "Ada yang sakit?"
"Selain egoku?" tanya Izuku, sebelum tertawa. "Heh, bercanda. Aku baik. Tapi merasa sangat mengantuk."
Recovery Girl terkekeh lagi. "Yep. Ada fraktur ringan di tanganmu. Aku sudah menyembuhkannya dengan quirkku. Itu yang membuatmu lelah," jelasnya. "Kau juga tidur melewati beberapa pertandingan."
Izuku meringis. Sayang sekali. Tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Jadi dia hanya mengangkat bahu.
"Oh, well," gumamnya. "Aku bisa mencari ulangannya dari internet. Uh, apa aku boleh istirahat di sini lebih lama? Tubuhku masih agak lemas."
Dokter tua di depannya mengangguk sembari tersenyum. Dia melakukan beberapa pengecekan tambahan. Memastikan hantaman di kepala yang Izuku dapat tidak menyebabkan gegar. Serta menanyakan soal memar dan lebam yang mulai membiru di kulit Izuku.
Setelah puas dengan jawaban itu. Dia kemudian berjalan keluar. Membiarkan Izuku beristirahat.
Namun, sebelum dia mencapai pintu, Recovery Girl berbalik.
"Yang kau lakukan di sana, itu sangat hebat," pujinya. "Sayang sekali kau tidak lolos. Todoroki tidak terlempar keluar arena. Dia menggunakan esnya sebagai penghalang."
"Eh, tidak masalah," dehumnya. "Aku sudah tahu dari awal, kalau Todoroki menggunakan kedua quirknya, aku tidak akan lolos."
"Lalu, kenapa kau melakukannya?"
Suara baru yang memasuki pembicaraan membuatnya tersentak. Itu suara dari anak yang baru saja dia bentak habis-habisan.
Dia menoleh. Recovery Girl sudah beringsut pergi. Mata hijau malah melihat dua orang murid berdiri di pintu masuk.
Yang satu berambut ungu. Shinsou. Dia tidak terlalu terkejut dengan itu. Namun, yang satunya—
Todoroki Shoto itu sendiri.
"Yo, Midoriya," ucap Shinsou saat keheningan mulai semakin berat. Dia mendekati kasur sebelum memberikan ponsel kepada Izuku.
"Kupikir kau akan bosan, jadi kubawakan ponselmu," ucap Shinsou. Sebelum memberi gestur ke Todoroki. "Dan dia tiba-tiba ikut."
Shinsou tertawa kecil melihat Izuku yang malah fokus membuka search engine. Sepertinya sibuk mencari klip perlombaan yang sudah pasti ditayangkan di internet. Dia tampak sangat fokus.
Sampai Todoroki terbatuk untuk mendapatkan perhatiannya.
Izuku tersentak. Jari terpeleset dan menekan salah satu video pengulangan babak pertama. Sebelum dia mendongak dan meringis kepada anak berambut merah-putih.
"Err, kenapa?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Ah—" Izuku menjentikkan jari. Melemparkan senyum cerah ke arah Todoroki.
"Karena itu hal yang benar untuk dilakukan."
Alis anak yang satunya menukik. "Itu—sesederhana itu?"
"Yep!" Izuku mengangguk dengan antusias. Sebelum dia terhenyak dan menambahkan.
"Oh, dan semua yang aku katakan di arena itu serius. Jangan kecewakan kami!" ucapnya.
Izuku melihat sebuah senyum tipis mengembang di bibir Todoroki. Itu kecil. Sangat tipis. Namun itu sudah cukup untuk sekarang.
"Baiklah," katanya setuju.
"Bagus," ucap Izuku. Nadanya serius. "Jika tidak, aku sendiri yang akan memukulmu kembali ke jalan yang benar."
Shinsou tertawa mendengar itu. Sementara Todoroki tampak sedikit berjengit. Izuku hanya terkekeh riang.
"Hey, ngomong-ngomong, kau sudah menghubungi Dorothea?" tanya Shinsou.
Izuku tersadar. Lalu menggeleng kecil. Dia baru kembali menoleh ke layar ponselnya ketika tampak rambut merah familiar muncul di video yang tadi tanpa sengaja dia tekan.
"Eh? Ada kamera yang merekam Dorothea-chan!"
Shinsou dan Todoroki saling pandang. Sebelum keduanya mendekat. Ikut mengintip apa yang terlihat di layar kecil ponsel Izuku.
Tampak gadis berambut merah menyelamatkan murid lain dari robot. Benang yang muncul di ujung jarinya mengiris kepala makhluk besi itu seperti mentega.
"Oh, wow. Refleksnya bagus," celetuk Shinsou.
"Aku tahu!" Izuku terkikik kecil. "Lagipula, aku dan dia selalu berlatih bersama!"
"Berlatih?"
Izuku menoleh ke Todoroki dengan senyum yang bisa mengalahkan matahari.
"Yeah. Kami butuh banyak latihan untuk melindungi diri sendiri," ucapnya. Kemudian kembali fokus ke telepon. Tepat saat notifikasi panggilan video masuk.
"Eyy! Panjang umur!"
Izuku menerima panggilan itu. Aplikasi pesan instan langsung terbuka. Menampilkan wajah bermata emas yang menyeringai.
"Izuku-kun!"
Suara Dorothea terdengar riang. Seringaian berubah menjadi senyuman geli yang lebih kecil.
"Dan Shinsou-kun. Oh! Bahkan Candy Cane juga!"
Si gadis terkikik melihat kepala tiga anak laki-laki saling berdekatan agar bisa terlihat di layar ponsel yang kecil.
"Well, good game, kalian semua!"
"Aku masih marah padamu," dengus Izuku. Wajahnya merengut. Pipinya agak mengembang.
Dorothea tampak terkekeh canggung di layar. Wajah riangnya agak luntur. Dia tahu kawannya bercanda sekarang, tapi dia juga tahu kalau kekhawatiran sang sahabat itu sangat nyata.
"Maaf," jawab Dorothea. "Aku hanya tidak berpikir itu hal yang penting..."
"Diserang dengan belati oleh seseorang bukan hal yang penting bagimu?" balas Izuku.
Si gadis berambut merah terkekeh. Sementara Izuku menghembuskan napas berat.
"Maaf Izuku-kun, aku hanya tidak mau ini jadi beban pikiranmu."
Dia tersenyum kecil. Izuku bisa melihat penyesalan di dua manik emas. Jadi, dia mendesah kecil. Memutuskan meninggalkan topik itu. Untuk sekarang.
"Jadi, bagaimana Hosu?"
"Aman," jawab Dorothea singkat. Dia mengangkat tas kertas berwarna merah muda.
"Aku juga membawakanmu dan Shinsou oleh-oleh."
"Oh! Terima kasih! Dan—er, Dorothea-chan? Apa kau sedang berjalan?"
"Yep! Aku baru keluar dari toko roti."
"Tunggu dulu."
Suara bernada bingung membuat semua mata bertumpu ke Todoroki Shouto. Pria itu tampak sedikit terkejut.
"Kau diserang?"
"Uh, sial, aku lupa kau di sini," gerutu Dorothea pada dirinya sendiri. "Tenang, semuanya sudah diurus kok. Aku kemari hanya mencari informasi tambahan."
Setelah itu, Dorothea dan Izuku mulai membahas kudapan apa yang dibelikan si gadis untuk kawannya di Musutafu. Lalu melompat ke pertandingan tadi. Seakan topik penyerangan itu hanya sebuah angin lalu yang tidak penting.
Todoroki hanya terpaku.
Heran bagaimana dua anak Prodi Umum bisa sangat santai soal hal seperti itu.
"Kau akan terbiasa," ucap Shinsou geli. Dia menepuk pundak anak merah-putih itu. "Mereka ini memang seperti hidup di semesta yang lain."
"Oh, dan aku tidak percaya Baka-gou harus melawan wanita dua kali." Suara Dorothea terdengar dari speaker. "Dan keduanya temanmu, kan?"
"Yeah, Tsu-san dan Uraraka-san," gumam Izuku. "Ugh, aku belum melihat pertandingan Tsu-san. Sebaiknya aku cari pengulangannya nanti."
Terdengar suara Dorothea tertawa. Sebelum suara itu berhenti dengan batuk kecil.
"Err, Izuku-kun, Candy Cane masih di sana?"
"Candy—? Oh, Todoroki-kun. Ya, dia di sini. Ada apa?"
"Bisa lihatkan ponselmu padanya? Aku mau bicara."
Izuku menurut. Memiringkan ponsel sampai wajah Todoroki masuk ke kamera. Dia disapa oleh seringaian lebar dan mata emas yang berkilat jenaka.
"Todoroki, kalau kau menang semifinal, kau akan melawan Baka-gou di final, kan?"
"Uh, iya?"
"Bagus," ucapnya. Senyumnya mengembang lebih lebar. "Tolong tendang dia untuk kami."
"Dorothea-chan!" Izuku memekik. Memberikan kawannya pandangan menghakimi.
"Hehehe, ayolah Izu—"
Kalimat gadis itu terputus.
Langkah terhenti. Tubuhnya menegak. Kepala terangkat dari ponsel. Pandangan terlempar jauh. Ke hal lain. Apapun itu. Mata emas membulat.
"Izuku-kun."
Dorothea meliruk kembali ke layar. Air mukanya serius.
"Nanti kutelpon lagi."
"Tunggu! Ada apa—?!"
Pet.
Layar gelap.
Panggilannya diputus.
"Dorothea-chan! Kebiasaan deh!" dengus Izuku. Dia menggeleng kecil. Sebelum menaruh ponsel ke kasur dan mengusap wajahnya dengan tangan.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Shinsou. Ada khawatir di nada suaranya.
"Kemungkinannya 50/50 kalau anak itu," decih Izuku. Dia menarik napas dalam sebelum menengok ke anak dwiwarna yang masih berusaha memproses semua interaksi itu.
"Maaf, Todoroki-kun, Dorothea-chan itu memang—"
Izuku tampak memilih kata selanjutnya dengan hati-hati.
"Unik."
"Ya, aku bisa lihat," gumam Todoroki. Dia menatap Izuku. "Apa dia... punya masalah dengan Bakugou Katsuki?"
Izuku mendengus. "Bukan dia yang punya masalah tapi—eh, kau tahu apa?" Anak itu mengangkat bahu. "Lupakan saja."
Todoroki mengerjap. Sebelum melirik ke jam yang ada di dinding. Sebentar lagi dia harus bertanding dengan Iida. Sebaiknya dia bersiap.
"Uh? Midoriya? Dan—Shinsou, benar?"
Dua anak yang namanya disebut langsung menengok ke arahnya. Todoroki menggaruk kepala.
"Aku harus pergi, dan—uh." Dia memberi gestur kecil ke Izuku. "Maaf sudah membuatmu pingsan. Dan mematahkan tanganmu."
Izuku meringis. Sebelum memberikan gelengan kecil.
"Tidak perlu. Aku yang menyerangmu lebih banyak." Dia berjengit. "Sial, apa kau bisa bertarung? Aku memukul cukup keras."
Bulu kuduk Todoroki langsung berdiri. Ya, dia ingat itu. Jadi dia langsung mengangguk.
"Recovery Girl sudah mengurusnya," kata Todoroki. Dia menunjuk ke pintu dengan canggung. "Kalau begitu, aku—uh—"
"Semoga beruntung!" ucap Izuku riang. Shinsou juga tersenyum dan melambaikan tangan.
Saat Todoroki keluar dari ruang rawat. Langkahnya terasa lebih ringan.
***
Siang untuk Dorothea berjalan lancar-lancar saja. Tenang dan santai.
Namun, karena ini Dorothea.
Tentu itu tidak berlangsung lama.
Dia dan Eins berjalan—atau melayang, untuk si hantu—ke Yukimura's dan memilih tempat duduk paling pojok di kafe itu. Dorothea-tanpa melihat menu-langsung memesan cokelat panas.
Mereka mengobrol. Untung tempat itu sepi. Sepertinya lebih banyak orang memilih menonton Festival Olahraga U.A. daripada keluar. Jadi dia dan Eins tidak perlu terlalu heboh menutupi perbincangan mereka.
Dan ngomong-ngomong soal Festival Olahraga, televisi tua yang terpasang di dinding kafe juga menayangkan itu. Dorothea hampir kena serangan jantung melihat Izuku versus Todoroki. Kawannya memang tidak pernah mau mundur.
Akhirnya, setelah cokelat habis dan Eins selesai memberi komentar soal pertandingan di televisi, dia membayar. Mereka kemudian pergi ke toko roti dekat sana. Dorothea membelikan Izuku sekotak macaron. Serta kue kering warna ungu yang mengingatkannya pada Shinsou.
Setelah itu, dia membuka video call dan menelpon Izuku. Ingin memberinya selamat. Dia tidak menyangka Shinsou dan—herannya—Todoroki juga ada di sana.
Dalam hati dia tahu Izuku sudah 'mengadopsi' anak itu menjadi temannya. Padahal mereka baru saja selesai saling pukul. Fight therapy bocah itu memang sangat efektif.
Intinya, siang Dorothea berjalan dengan damai.
"Dorothea! CEPAT KEMARI!"
Sampai dia mendengar jeritan Eins.
Gadis itu terlonjak. Melempar pandangan heran.
"Heh?"
"Gang—itu—kau harus—"
Suara si hantu statis. Seperti radio rusak. Mata dinginnya jelalatan.
Dia panik.
"Ikuti aku!"
Melihat urgensi di wajah sang hantu, si gadis langsung menutup percakapan dan mematikan ponsel.
Dorothea berlari mengikuti hantu itu. Berkelit diantara kerumunan. Badan pucat Eins menembus orang-orang. Sementara sang gadis harus berusaha tidak menabrak siapapun. Sesekali mengucapkan maaf jika tanpa mendorong seseorang.
Eins berbelok di depan.
Dia berbelok di gang sepi.
"Eins, serius, apa yang kau—"
Merah.
Itu yang pertama kali dia lihat.
Merah.
Merah.
Merah.
Itu darah.
Kalimat Dorothea tercekik.
Di tengah adegan horor itu—
Pro-Hero.
***
.
.
.
.
.
.
.
A.N. :
Eii tumben aku up lumayan cepet. Hehehe. Tapi chapter ini rada pendek sih. Sorry.
Sebenarnya aku mau ngasih rekomendasi fanfic buat dibaca kalau aku kelamaan nggak up. Tapi aku sadar hampir semua fanfic yang kubaca ada di web lain dan pakai bahasa inggris semua.
Oh welp.
Thank u for reading! :D
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top