Chapter 12

Pagi selanjutnya datang, membawa nuansa yang lain.

"Happy birthday, riku.... Happy birthday, riku.... Happy birthday.... Happy birthday...."

Bernyanyi dengan nada lembut sambil menunjukkan senyum cerahnya, tenn meletakkan nampan berat di atas pangkuan adik tercintanya.
"Selamat ulang tahun untuk kita berdua."

Sang adik tersenyum, mengecup pipi tenn, "Terima kasih. Aku tahu tenn-nii pasti akan memberikan kejutan pagi ini. Sudah selesai ngambeknya gara-gara kejadian tadi malam dan dua hari sebelumnya?"

Tenn tentu saja membalas kecupan itu. Meminta riku untuk memandang nampannya. "Tentu saja aku harus memberi mu kejutan. Kalau begitu, apakah riku sekarang bisa memotong--hmpm. Curang. Riku sudah menyiapkan tang di laci itu sejak semalam."

Riku menyeringai. Menatap penghitung waktu yang belum berdenyut mundur, ia tersenyum pada belahan jiwa tercinta. "Tenn-nii memilih setelan 25 detik.... untuk menandai ulang tahun kita berdua yang ke 25 tahun, sayang?"

"Tentu," tenn mengangguk, "aku sangatlah pengertian pada adik ku sendiri."

"Tenn-nii memang lebih dari sekedar pengertian." bibir mungil di lindas kecupan penuh rasa terima kasih. "Sampai menghadiahkan bom pada seorang penjinak bom.... Tenn-nii sedang baik hati, atau tidak sengaja salah memilih senjata untuk membunuh ku?"

Memandang jenuh. Tenn bergerak menjauh. "Kalau riku bilang begitu...."

-PIP

Tombol stars di tekan cepat.

"Ku rasa tidak keduanya. Selamat berusaha, adik ku. Semoga tidak panjang umur."

Tenn berlari. Menghilang cepat. Membanting pintu sekasar merobohkan lemari.

"Terima kasih, sayang. Kau memang gila."

Riku memang tertawa. Tapi tidak meremehkan bom rakitan tenn. Dua tangan memilah seliweran kabel. Pisau yang rajin di asah, tergenggam, siap memotong sumbu ledak.

"Jika salah potong, aku mati di tempat. Hadiahnya kali ini benar-benar mematikan."

Penghitung waktu telah berjalan.

Otak jenius riku mulai aktif.

Bekerja.

Berpikir keras.

Bertarung dengan kemungkinan.

23 detik.

"Ini," pisau hampir turun, memutus kabel biru. Tapi mendadak berhenti. "Bukan yang ini."

Pokok saluran konduktor di telusuri.

Riku menarik napas. "Fake. Ini tidak ada sambungan langsung ke detenator."

Meneruskan analisis.

21 detik.

Manik crimson mengamati benar-benar.

20 detik.

"Baterainya di tanam dengan segel timbal. Tenn-nii semakin merajalela."

18 detik.

"Biru. Merah. Ungu. Kuning."

Bagaimana bisa tenn-nii memasang kabel pengecoh sebanyak ini!?

15 detik.

"Sumber arusnya cuma baterai"--melompat, laci-laci di setiap sudut kamar di tarik kasar-- "Aku membutuhkan magnet batangan untuk mengacaukan aliran listriknya."

Gusar mencari.

Riku menemukan setitik harapan untuk hidup.

"Ada!"

13 detik.

Sistem bom rakitan dikacaukan. Dayanya di hambat. Dibelokkan ke pelat timbal, alih-alih ke inti ledakan. Riku sedikit lebih tenang untuk memotong kabel. Tidak akan langsung meledak kalau dia salah potong. Meskipun akan tetap meledak kalau tidak di potong....

"Kabel kuning."

Pucuk tang menggigit juluran.

Keras.

Liat.

11 detik.

"Sial, kenapa tidak putus juga!"

10 detik.

Giliran yang ungu.

9 detik.

Sama susahnya, "Aku harus lebih cepat."

Tik... Tik...

Penghitung waktu yang berjalan benar-benar menerror.

8 detik.

"Putus!"

Beralih ke kabel merah.

"Semoga ini yang menyambung ke detenator."

Tang mengait.

Menggigit.

Mengungkit kencang.

6 detik.

"Belum bisa juga...."

4 detik.

3 detik.

"Ayolah!"

2 detik.

"Berhasil."

Kabel merah terpotong jadi dua.

Penghitung waktu berhenti persis di detik terakhir.

"Terima kasih, tenn-nii."

Riku menimpuk lantai dengan bom mati di tangannya. Mungkin ia akan mempertimbangkan untuk meluangkan waktu, menyelipkan secarik pesan di bawah piring sarapan nanti. Sebuah surat cinta yang paling sederhana.

"Terima kasih karena sudah membuat momen ulang tahun ku hari ini menjadi pergulatan nasib yang paling sengit, Nanase tenn. Aku menyayangi mu, mencintaimu dan menghormati mu, dalam susah maupun senang. Dalam sehat maupun sakit. Dalam keadaan waras maupun sakit jiwa."

.
.
.
.
.

No Exit

By

Lucian_Lucy_

.
.
.
.
.

"Aku pergi sekarang, tenn-nii."

Tenn menoleh dari kegiatannya memilah bunga yang dipetiknya dari taman, dan menemukan kalau ternyata adiknya masih hidup, membuat tenn tidak terlalu ingin berlama-lama memandang riku. "Ya. Selamat jalan, riku."

Riku meraih pinggang tenn, dan berbicara dengan nada rendah di samping telinga surai baby pink. "Ngomong-ngomong, kalau lain kali merakit bom ku sarankan menambah isinya dengan bubuk silikatar. Sehingga momen reaksi di dalam kompartemen bom mu bisa di atur sesuka hati," pipi mulus di kecup, "Bom rakitan tenn-nii masih perlu dikoreksi di beberapa bagian. Kapan-kapan akan ku berikan les privat gratis untuk kakak ku tercinta. Bye, sayang. Oh ya, satu lagi. Hadiah mu sudah ku siapkan di atas meja kamar ku, di terima ya."

"Hm, ya."

Tenn mengawasi kepergian riku. Hingga punggung lelaki yang sudah tinggal bersamanya selama seperempat tahun itu, menghilang.

Entah bagaimana usaha pembunuhannya terhadap riku selalu terasa sia-sia. Ia telah mencurahkan seluruh indra pemburunya. Instingnya. Nalurinya. Yang mana ia bertumpu pada aliran ide yang selalu ia paksakannya mengalir setiap hari.

Namun, tetap saja segala usahanya selalu berakhir lunak seperti lemak. Hal ini seperti menyusun api unggun berdaya bakar keropos, atau menyalakannya dibawah rintik-rintik hujan. Atau terbang dengan parasut tapi mendarat di savana penuh semak berduri.

Nanase riku secara natural, lebih licin dari keramik berlumut. Tenn merasa membutuhkan siraman bensin lebih banyak lagi pada otaknya.

"Tapi sebenarnya kejutan ku untuk mu masih belum selesai, riku."

Lanjut memilah bunga, tenn sengaja memperbanyak tangkai bunga indah di vas bunga kesayangannya.

.
.
.
.
.

"Iori?"

Riku yang menyetir sendirian, langsung menyapa saat mendengar suara salah satu anak buahnya dari lubang earphone.

"Ya, Nanase-sama? Ada apa?"

"Bisa ke markas pagi ini? Aku membutuhkan bantuan mu."

"Bantuan? Soal apa? Apa bayaran untuk proyek menghapus virus dan memastikan aset berharga milik Osaka sogo-san aman masih belum ditransfer?"

"Bukan itu, ada sesuatu yang lebih penting," riku tanpa ragu mengatakan, "Ini soal keselamatan kakak ku."

"Kakak mu? Atau kekasih mu?" terdengar suara tawa Iori. "Baik, katakan bantuan apa itu?"

"Aku ingin tahu alat pengintai yang biasa di pasang oleh Interpol di rumah target mereka."

"Alat pengintai Interpol?" ulang Iori. "Seingat ku mereka sering kali menggunakan sensor inframerah untuk mendeteksi aktivitas seseorang dalam jangkauan area tertentu."

"Itu perangkat makro atau mikro?"

"Makro. Kasat mata. Tapi alatnya sangat halus, tersambung langsung dengan perangkat penerima di markas mereka. Mungkin hanya sekian milimeter, hampir mustahil untuk di temukan jika sudah terpasang di sudut tersembunyi. Apa kalian berdua sedang di buru Interpol?"

"Ya," riku melihat lampu merah menyala, "lebih tepatnya tenn-nii yang sedang diburu."

"Hah!? Kenapa kau tidak memberitahukannya pada kami tadi malam!?" Iori berteriak dengan tidak elitnya karena pemberitahuan yang sangat terlambat itu.

"Shut up! Yang pasti kalian perketat penjagaan di seluruh sudut mansion."

"Baiklah, akan ku sampaikan pada yang lainnya nanti."

"Oke."

Mendadak kening riku berkerut. Ia menemukan kejanggalan saat kakinya bermaksud menginjak rem dengan perlahan.

"Kenapa ini?"

Injakkan diulangi.

"Rem ku?"

Lampu merah telah dekat.

Tapi mobilnya sedikitpun tidak melambat.

"Ayolah! Kau ini kenapa!?"

Riku mencoba sekali lagi.

Dan Iori masih terus berbicara, "Kalau ingin mendeteksi inframerah, gunakan photoiodida. Aku bisa mencarikan perangkatnya kalau Nanase-sama mau. Akan ku carikan yang memiliki nilai resistor 10.000 Ohm--Oi. Halo, Nanase-sama? Kau ini ketiduran atau apa?"

Riku mulai gusar.

"Iori, sepertinya teleponnya harus ku tutup sebentar--sampai ketemu nanti."

Panik.

Riku menekan klakson agar kendaraan yang melaju persis di depannya, menyingkir.

Sahut-sahutan klakson, memuntahkan protes di jalan raya padat pengguna.

"Ini semua pasti ulah tenn-nii!"

Gagal memompa pedal rem, riku beralih pada gigi.

"Turunkan bertahap. Dua.... Satu...."

Belum berhasil.

"Ah, sialan! Kenapa bisa begini!?"

Ia melewati garis pemberhentian lalu lintas.

Klakson meraung-raung.

"Menyingkirlah!"

Riku dimaki-maki pengguna zebra cross.

"Tidak berguna sama sekali." mata berkeliaran, mengincar celah untuk membanting setir ke pinggir. Rem parkir di tarik, "Ini hampir mustahil."

Riku frustasi.

"Makhluk baby pink itu benar-benar membahayakan hidup ku!"

Mungkin lebih baik ku batalkan saja keinginan pribadi agar bisa hidup bersamanya hingga usia senja, dan ku bunuh saja dia.

"Brengsek!"

Riku tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa benar-benar murka.

"Awas kau tenn-nii"--aku pasti akan memendekkan sisa hidup mu. Lihat saja nanti.

"Sialan!"

Riku belum menemukan spasi untuk membanting laju.

Ekspresi dingin semakin mengeras.

Ia menemukan belokan.

"Dan kenapa kau tidak mau berhenti!"

Klakson kembali menghajar udara.

"HEI!"

Mobilnya berbenturan keras dengan mobil lain.

"Darurat!"

Apakah aku harus menabrakkan mobil ku pada sesuatu agar mau berhenti!?

Sepertinya itu memang cara terakhir.

Riku berpikir cepat. Mencari. Mempertimbangkan target.

"Ck..."

Satu--Kotak telepon.

Dua--Trotoar pembatas jalan.

Tiga--Pohon peneduh.

Sepertinya opsi ketiga. Mungkin akan menimbulkan percikan api. Tapi ia masih bisa meloloskan diri.

Seatbelt di kencangkan.

Riku melaju lurus.

Dan membanting arah secara mendadak.

BRAKKK!

Tubuhnya terbanting ke depan.

Riku bisa mendengar banyak suara teriakan.

Dan menghirup bau percikan api.

"T-tenn..." dalam rasa sakit hanya satu nama yang diucapnya.

Ia mengerang kesakitan. Darah kental mengalir dari pelipisnya.

.
.
.
.
.

"Riku? Kenapa kepala mu di perban?"

Inumaru touma menghampiri bosnya yang datang begitu terlambat, sore itu.

"Dari rumah sakit."

"Dari rumah sakit kok malah sakit?"

Riku berjalan cepat menujuk ruangannya. "Gara-gara tenn-nii."

"Kau dihantam menggunakan apa saat kami pergi tadi pagi?" touma makin tidak yakin kalau riku memiliki saudara kembar seorang manusia. "Barang-barang rumah tangga? Panci? Dispenser? Kursi tamu? Barbar sekali kakak mu itu."

"Bukan. Aku kecelakaan di jalan tadi. Dia menyelipkan selembar tembaga di kabel rem ku."

Touma memandang lelaki itu antara kasihan dan entahlah. Mungkin itu karma. Nanase riku, seumur hidup berkeliaran di dunia yakuza, sudah membunuh hampir empat ratus korban. Mungkin ia menerima banyak kutukan dari arwah yang mati penasaran.

"Dia benar-benar ingin membunuh mu ya," touma berkomentar, "Kau sepertinya sedang suntuk. Padahal ada kabar bagus yang baru dibawa Iori."

"Kabar apa?"

Touma berbalik dan datang lagi sambil membawa selembar koran.

"Baru terbit beritanya hari ini."

Riku hanya melirik. 'Tragis, seorang miliyader kaya di temukan gantung diri'.

"Gantung diri? Padahal aku mengharapkan cara bunuh diri yang spektakuler."

"Apa yang kau maksud dengan spektakuler? Membakar diri dengan seribu kembang api?"

"Hm, menjepitkan leher di pintu lift terdengar lebih mengesankan."

"Menjepitkan leher kepala mu." touma mendengus. Mungkin gara-gara tengkoraknya terbentur, kewarasan riku jadi sedikit terganggu. "Kau juga tadi di tunggu Iori. Katanya ada janji mau ketemu sejak pagi, tapi kau malah baru muncul sore-sore begini. Dia memilih untuk menyelesaikan misi saja tadi."

"Tadinya aku ingin meminta bantuannya untuk melacak alat pengintai Interpol yang dipasang di mansion," ucap riku, "tapi ku rasa, aku sudah tidak memerlukannya lagi."

"Alat interpol?" touma mengulangi, "Bukankah jaringan kita tidak pernah terendus oleh siapapun? Bahkan terkadang kita juga membunuh klien setelah uangnya kita terima."

"Ya. Sepertinya tenn-nii sedang dicurigai oleh mereka."

"Tenn? Bah, biarkan saja. Kau jangan di bodohi oleh cinta, biar saja dia di tangkap Interpol."

"Siapa yang cinta?"

"Kelihatannya sih."

"Tidak. Kesabaran ku sudah habis sekarang."

"Lalu? Kau akan membunuhnya?"

"Tidak. Akan ku buat tenn-nii frustasi dan bunuh diri seperti target ku yang lainnya."

Setan memang bosnya ini. "Yakin kau, riku?"

"Kenapa tidak? Mau dia mati atau hidup sudah tidak ada pengaruhnya lagi untuk ku."

Touma masih ingat, sesuatu yang baru saja di tarik riku dari laci itu merupakan detenator bom yang kemarin sempat ditanyakan olehnya.

"Kalau seandainya aku tidak bisa membuatnya bunuh diri, aku akan membuat tenn-nii diburu dan di eksekusi mati oleh Interpol. Iblis kecil itu sudah berani menjudi nyawa dengan seorang Nanase riku. Aku tidak akan memberi ampun sekalipun dia adalah kakak ku sendiri."

.
.
.
.
.

"Riku?"

Sosok yang menyambutnya ketika sampai di mansion tetap saja sama.

"Kau ternyata masih hidup, ya?"

"Sayangnya masih. Aku tidak akan diterima di neraka sebelum tenn-nii mati lebih dulu."

Riku melepas sepatunya, menyabaikan begitu saja saat tenn mendekat, ingin menyentuh perban di kepalanya.

"Mau makan apa?"

"Tidak perlu memasak. Aku hanya pulang untuk ganti baju. Aku akan pergi lagi."

Riku kenapa?" tenn mengikuti langkah adiknya. "Biasanya tidak pernah marah."

Riku berbalik dan menatap tajam. "Kenapa tenn-nii mengacaukan rem mobil ku?" tatapan itu sebeku lelehan gletser. "Dengar tenn-nii, jika kau melakukan semua usaha pembunuhan itu hanya untuk menguji seberapa tinggi kadar kesabaran dan rasa manusiawi yang aku miliki, ku beritahu sekarang. Kau justru telah berhasil memunculkan sisi kesetanan ku."

Tenn kali ini terdiam.

"Tadinya aku berpikir kalau aku masih harus menjaga tenn-nii. Tapi sekarang tidak lagi, nasib dan nyawa tenn-nii sudah bukan urusan ku. Kau yang tidak mau ku jaga. Itu pilihan mu sendiri."

Tenn sebenarnya tidak keberatan. Ia hanya heran. "Lalu riku mau kemana sampai tidak mau makan di rumah? Apakah kau takut aku macam-macam pada makanan mu?"

Riku tidak menjawab. Sibuk mengaduk isi lemari.

"Riku?"

"Aku keluar," sang adik menjawab dingin, "mencari pelacur."

.
.
.
.
.

"Mencari pelacur...."

Novel kriminal di tangannya ditutup.

"Aku yang di tinggal disini malah merasa seperti pelacur."

Jam menujuk pukul delapan malam. Belum terlalu larut baginya untuk tidur. Tenn bergerak untuk menutup tirai jendela kamarnya. Hingga pandangannya tertuju pada salah satu pelayan yang berlari dari arah gerbang dengan cepatnya menujuk pintu masuk mansion.

Tenn memutuskan kalau dia mungkin tidak perlu ikut campur, hingga sebuah suara ketukan menghentikan niatnya untuk menghubungi riku.

Dengan malas, tenn kembali melangkahkan kakinya hingga mencapai pintu kamarnya dan di kagetkan dengan kemunculan momo yang sepertinya rela berlari menujuk ke arah kamarnya.

"Momo-san?"

"T-tenn.... Kau dapat tamu."

Dia mengangkat alisnya sebelah, tanda kebingungan.

"Lalu?"

Momo ternganga sedetik, sebelum dengan kasar mengguncang-guncang bahu tenn agar lelaki bersurai baby pink itu sadar.

"Bodoh! Tentu saja tamu mu itu dapat memicu kemarahan riku!"

Tenn spaclesss

Apa kaitannya kemarahan riku dengan tamunya itu?

"Astaga! Momo-san!" tenn berusaha melepaskan genggaman tangan momo di kedua bahunya. "Bisakah kau berhenti menggungcang bahu ku?"

Entah apa yang di gumamkan oleh momo, tapi tenn berusaha untuk tetap tenang. Tenn terlihat menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha menepis segala pemikiran buruk yang akan menantinya.

"Baik. Katakan siapa tamu ku itu? Dan di mana dia. Sekarang?"

Momo terdiam, sebelum akhirnya tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Tenn bersweatdrop ria saat tahu kalau momo tidak menanyakan detailnya sebelum berlari ke kamar tenn.

"Sudahlah," tenn langsung memberi kode pada momo untuk mengikutinya, kemudian menunduk sedikit ketika ia telah mencapai kasurnya dan menarik beberapa kemasan bibit sawi.

"Sebenarnya ini hanya untuk berjaga-jaga saja, tapi mau bagaimana lagi, hanya momo-san yang ada di sini sekarang." tenn meletakan bibit sawi tersebut di atas sebuah meja kecil dan menatap ke arah momo dengan tajam. "Kalau nanti ternyata tamu ku itu seorang anggota Interpol dengan nama Natsume Minami, tolong momo-san ambil bibit sawi ini dan berikan pada ku. Biar aku yang mengurus orang itu."

Momo mengangguk dengan cepat, sebelum mengikuti langkah lelaki bersurai baby pink itu menujuk ke arah calon tamunya yang masih tertahan di gerbang utama mansion.

.
.
.
.
.

Tenn saling bertatapan dengan sang tamu misterius.

"Siapa?"

Calon tamunya menjawab, "Natsume Minami. Yang kemarin memesan bibit sayuran. Kemarin aku menghubungi anda lagi tapi tidak ada respon."

"Oh, tunggu sebentar." tenn kemudian memberi kode pada momo untuk bergerak.

Tenn sempat berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja karena hanya orang bodoh yang berani menyerang mansion mereka dalam keadaan penjagaan penuh dan ketat. Tapi dia sempat memperhatikan pandangan tamunya yang menatap kepergian momo hingga menghilang di balik pintu mansion, pandangan tamunya itu terlihat kalau dia cukup terkejut dengan keberadaan momo yang berada di sampingnya.

Keduanya menunggu kemunculan momo, hingga akhirnya ia kembali dengan membawa beberapa bungkus bibit sawi yang sudah di siapkan oleh tenn.

"Terima kasih," katanya saat menerima bungkusan itu dari momo.

Kemudian tenn menyerahkan bungkusan itu pada tamunya dengan sangat hati-hati, "Semuanya jadi 185 Yen, Natsume-san."

"Ah tunggu, ini uangnya." minami tersenyum tipis, "Ku pikir anda tadi sedang tidak berada di rumah."

"Saya selalu berada di rumah, Natsume-san. Jika butuh bibit sayuran lagi, anda bisa beli di sini."

Minami tertawa kecil sebelum menjawab dengan santai, "Tentu. Oh ya saya dengar, anda mulai tinggal bersama Nanase Riku semenjak tiga bulan yang lalu."

Mata mawar lembut tenn menikam tajam mata tamunya. "Apakah anda mengenal adik ku?"

Minami mengedikan bahu, "Teman sekolah dulu, tapi sudah lama tidak bertemu setelah ia bekerja di Interpol."

Interpol?

Heran, "Riku bekerja di Interpol?"

"Ya, memangnya tidak? Nanase Riku bekerja di Interpol. Itu cita-citanya sejak dulu. Dia selalu berkata begitu pada ku dan teman-teman kami."

Tenn terdiam.

"Apa?"

Jangan lekas percaya. Jangan lekas percaya.

"Ah, aku tidak tahu kalau adik ku pernah bercita-cita untuk kerja di interpol. Sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan asing," tenn akhir dapat kembali menguasai diri dan tersenyum. Sedangkan momo tampaknya sudah berkeringat dingin di sampingnya. "Apakah ada yang masih anda butuhkan, Natsume-san?"

"Ah, tidak. Terima kasih. Aku harus buru-buru pulang."

Tenn mengangguk, sedikit membungkukkan badan. "Kalau membutuhkan bibit sayuran silahkan datang lagi"--senyum setipis kertas-- "Natsume-san."

.
.
.
.
.

"Sendirian saja?"

Seolah mendapat sekota harta karun yang terkapar, seorang wanita jalang datang dan meraba tengkuknya dengan gerakan overdosis sensual.

"Bagaimana kalau ku temani?"

Nanase riku, sama sekali tidak mencipratkan perhatian.

"Hei, tampan."

Beku. Di kubangi lamunan, ia mematung, hanya mengisap rokok berulang kali.

"Tuan?"

Riku layu. Selayu hantu. Kalau saja ia masih bisa melihat belahan dada itu yang mampu mampu membuat birahi pria morat-marit. Atau membuat kewarasan seorang lelaki hingga masuk kamar opname. Atau tertarik untuk tekun mengekorinya hingga muncul acara tawar menawar antara tubuh lawan nominal, Riku seharusnya sudah bisa merasakan becek-becek mengganggu yang menggenang di balik celana.

Masalahnya, ia masih saja kelam. Masih saja seperti hantu.

Dan hantu, kabarnya tidak bisa di buat terangsang.

"Tuan?"

"Pergilah."

Pengusiran tanpa segan.

Perempuan itu terdiam. Mungkin ia melupakan satu hal, teorema standar yang berlaku di setiap rumah bordil berkedok klub malam di seantero galaksi adalah : Jika seorang penjaja tubuh ingin di perhatikan oleh calon pelanggan, ia harus menanyakan orientasi seksualnya lurus, menyimpang, atau separuh lurus - separuh menyimpang.

"Tidak mau ku temani?"

Riku melirik. Menghembuskan asap rokok sekali lagi. "Siapa kau?"

"Bidadari mu."

"Aku tidak suka bidadari," tandasnya sinis, "Aku lebih suka malaikat kecil bermental setan."

"Eh?"

Saat itu ponsel di saku jaket riku berdering.

"Ya, tenn-nii?"

"Riku, tadi orang yang menghubungi ku kemarin datang ke mansion."

Jawaban malas, "Oh."

"Dia mengatakan kalau riku bekerja di Interpol."

"Hm."

"Benarkah itu?"

"Terserahlah. Ku tutup teleponnya."

"Tunggu, riku. Jam berapa kau pulang?"

"Aku sibuk."

"Sibuk apa? Ini sudah jam sepuluh lewat."

Riku melirik perempuan yang terabaikan di sampingnya.

Ia berkata pelan agar tidak di dengar oleh tenn, "Tolong mendesalah yang menyakinkan," lembaran Yen di tepuk kasar di atas meja. "Aku membutuhkan bantuan dari mu."

.
.
.
.
.

TBC







// Riku : Ultah kami kan udah lewat

Ya maaf dek soalnya nih book di publikasi 2 bulan setelah kalian ultah hehe✨

Tenn : ....... Kok hidup gw meresahkan ya

*ketawa bengek*














Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top