18. Rapuh
Pagi-pagi sekali, Selina kembali meminjam handphone Romi. Kali ini ia harus memberitahu seseorang tentang keberadaannya.
Sebenarnya tidak ada larangan bagi Selina untuk mengambil waktu cuti. Tidak jarang ia mengambil jatah hari kosong seenak jidat. Levi tak pernah melarang jika Selina ingin libur, asalkan laptop dan ponsel tetap aktif untuk hal genting saja. Tetapi sejak kehilangan barang-barang hingga paspor perempuan itu berpikir dua kali apa yang akan didapat ketika kembali nanti.
Selina mengambil posisi duduk di kasur. Dibanding menghubungi Sam yang kontaknya sudah tersimpan di sana, ia lebih memilih untuk mengingat-ingat nomor telepon sang adik. Meski bertengkar setiap hari, mereka sangat dekat sampai tak mau membuatnya khawatir.
"Halo—"
"KAKAK DIMANA?!"
Ternyata baru mendengar suaranya saja Alex sudah kelewat panik.
"Papa nunggu seharian di kantor kemarin, Sam bilang Kakak sakit. Tapi waktu aku pulang ke apartemen Kakak nggak ada." Alex menghujani Selina dengan kalimat-kalimat telak. "Kakak kenapa suka tiba-tiba ngilang kayak gini, sih? Sekarang sampai nggak bisa dihubungin sama sekali."
"Memang agak nggak enak badan." Dan karena luka-lukanya belum kunjung sembuh. "Tapi aku nggak apa-apa."
"Aku langsung lapor polisi tadi malem, tapi katanya harus tunggu 24 jam. Gila! Kalau Kakak mati sebelum 24 jam gimana?!"
"Lebay. Kamu sumpahin aku mati?"
Alex melanjutkan, "Polisi bilang mungkin Kakak kabur dibawa pacar. Aku hubungin Daniel tapi nggak dijawab juga. Kalian kawin lari dimana?!"
Selina menjawab santai, "Aku nggak bareng Daniel."
"Jadi sama Sam? Kalian sampai bohongin Papa."
"Enggak juga."
"Sama siapa, dong? Tolong bilang Kakak pergi dianter sopir."
Selina melirik Romi sedang mondar mandir di dapur membuatkannya sarapan. Yah, calon sopir Alex yang gagal. "Sendiri."
"Kakakkkk! Terus siapa yang jagain Kakak di sana?!"
Ia mendecak sebal. "Kamu pikir aku bocah yang harus selalu diawasi?"
"Tapi seengaknya jangan ngilang tanpa kabar gitu. Bikin semua orang khawatir."
"Sorry. Aku cuman rehat sebentar. Butuh suasana baru. Hp ... lupa dimana." Ia menimbang-nimbang kejadian beberapa waktu lalu. "Mungkin kamu bisa tanya Daniel. Aku juga mau hp yang itu balik."
"Ini telepon dari hp siapa? Kakak lagi sama siapa?" Lalu jeda. Butuh waktu kurang dari sepuluh detik untuk membuat Alex menyadari apa yang sedang terjadi. "Kakak kabur sama cowok itu?"
Selina menjawab lambat-lambat. "Bukan urusan kamu."
"Kita bahkan nggak tahu kalau dia ini cowok baik-baik atau bukan. Siapa tahu cuman mau manfaatin Kakak?"
"Alex, denger—"
"Nggak," potongnya. "Bahkan orang baik itu nggak akan pernah mau jadi selingkuhan."
"Mungkin aku yang bohong kalau sudah punya tunangan."
Alex diam.
"Denger, bilang Papa kalau aku lagi capek. Aku butuh waktu sendiri sebentar saja. Nggak pernah ada di pikiran aku untuk menghilang, semua terjadi di luar kehendak aku."
"Aku cuman khawatir."
Selina berdeham setuju. "Aku nggak bermaksud buat semua orang panik. Tapi kadang aku juga butuh ketenangan. Hidup rasanya ... sial banget akhir-akhir ini."
Sebuah hal asing pun datang. Bagi Alex, sudah tidak aneh sang Kakak mengeluhkan banyak masalah. Selina memang dikenal sebagai sosok kuat, bermental baja. Ucapannya lebih seperi angin lewat. Tetapi kenapa kali ini Selina terdengar lebih ... jujur?
"Ini semua ... karena Daniel?"
"Bukan karena siapa-siapa."
"Kak, jujur, deh. Supaya aku juga ngerti keadaannya. Kalau aku dibiarin nggak tahu apa-apa kayak gini, gimana nanti aku bisa bela Kakak di depan Papa?"
"Aku nggak perlu dibela."
Entah sejak kapan Alex selalu bersikap seperti pahlawan. Dia selalu menjadi garda terdepan jika sesuatu menimpa Kakaknya. Berbagai masalah yang datang tidak peduli Selina salah atau pun benar, laki-laki ini selalu membelanya.
Dan tidak tahu sebesar apa instingnya, Alex seolah tahu apa saja yang sedang membebani pikiran Selina.
"Aku bakal minta orang lain buat lacak lokasi Kakak."
"Jangan."
Alex hanya menghela napas panjang.
"Aku minta tolong waktu sebentar saja, tolong sampaikan ke Papa."
"Kakak aja yang bilang. Nanti aku yang kena semprot!" elaknya. "Emangnya Kakak perlu waktu berapa lama? Lupa kalau Mama datang sebentar lagi?"
"Beberapa hari lagi. Aku tahu mustahil buat hilang selamanya." Setidaknya sampai lebam di wajahnya bisa ditutupi dengan riasan. "Cuman itu yang aku minta. Sebelum balik ke tengiknya pekerjaan dan hidup ini."
Kini Alex dirundung rasa bersalah. Siapa pun tahu jika Selina tidak bisa pergi selamanya. Ada kewajiban, tanggung jawab hingga beban-beban lain yang harus dibawa setiap kali perempuan ini pergi. Apakah semua itu terlalu berat hingga akhirnya Selina mulai menyerah?
Sebagai penerus Levi, kadang lelaki itu berpikir lebih terdengar sebagai kesialan dibanding anugerah. Orang di luar sana boleh saja senang ketika diwarisi begitu banyak harta dan tahta. Tetapi tidak bagi Alex. Ia tahu bagaimana beban yang harus ditanggung Selina, ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Bagaimana perempuan itu tampak frustrasi dan tak ada hal yang yang bisa dilakukan selain terus melangkah maju.
Silakan sebut dia anak tak tahu diri. Alex beruntung bisa bebas memilih cita-citanya sejak kecil. Sedangkan Selina? Ada berapa banyak angan yang harus dilepas saat tahu ia tidak punya pilihan selain menjadi penerus Levi?
"Lex, tolong bilang ke Papa aku baik-baik saja, cuman butuh waktu sendiri."
Suara Alex melunak. "Oke, tapi dengan syarat Kakak share location sekarang."
"Aku masih di Jakarta, kamu tenang saja."
"Kak Sel jangan aneh-aneh, deh. Nanti kalau Papa marah gimana?"
Selina angkat bahu. "Nggak masalah."
"Masalahnya, kalau ada sesuatu yang berhubungan sama Kakak, Papa pasti marahnya ke aku," omel Alex. "Sebenernya siapa sih yang adik di antara kita? Perasaan aku terus yang kena sial."
"Sekarang kamu lebih takut sama Papa daripada aku?"
"Nggak gitu."
"Ya sudah ikutin saja kemauan aku sekarang."
"Tapi—"
"Berapa kali sih, Lex?" potongnya. Selina menyentuh keningnya dengan lelah. Suara itu mengudara sangat pelan. "Berapa kali aku pernah minta sesuatu dari kamu? ... Dari kalian?"
Jawaban datang begitu lambat. "... Nggak pernah."
Selina agak termenung mendengar. Benarkah ia tidak pernah sekali saja meminta apa pun kepada keluarganya? Barangkali pernah, sudah bertahun-tahun lalu sampai tak ada seorang pun yang bisa mengingatnya.
Perempuan itu mengatakan kalimat pamit setelah dua atau tiga kali harus kembali menyakinkan adiknya jika dia akan pulang dalam keadaan utuh. Tentu, Selina hanya pergi ketika sedang rusak. Saat tubuhnya sudah sembuh ia akan kembali menapaki dunia.
***
Dari depan koridor kos, Selina mengamati punggung Romi yang pergi menjauh. Lelaki itu bilang mau keluar sebentar untuk membeli kuas baru. Selina ditinggalkan sendiri dengan rasa bosan yang selalu menghampiri.
Menikmati hari kedua tanpa harus repot-repot bekerja ternyata cukup mengasyikkan. Meski tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menonton youtube, melihat Romi melukis, dan tidur. Inikah kebebasan yang dimiliki rakyat miskin? Selina mendengus geli. Tetapi jika harus merosot jatuh ke kalangan bawah, lebih baik dia bekerja seumur hidup.
Sesuai prinsipnya: "Semua masalah bisa dilewati dengan mudah asal tidak jatuh miskin."
Di sela-sela menikmati kemiskinannya yang bersifat sementara, lirikan mata terpaku pada sebuah kendaraan. Berjarak cukup jauh tetapi masih terjangkau dalam pandangan. Sebuah sedan Bentley hitam mengkilap seolah memanggilnya dari ujung sana.
Saat itu seolah energinya terjun bebas. Kedua bahu merosot lelah. Tetapi tidak perlu waktu lama bagi Selina untuk bersiap diri dan menghampiri mobil yang parkir di sana.
Selina datang dengan topi dan masker, masuk ke dalam mobil. "Alex yang kasih tahu kamu?"
Dari kaca spion itu, Sam menggeleng pelan.
"Sudah dari kapan di sini?"
"Sejak kemarin pagi," jawabnya. Ia bersandar lebih santai. "Jaga-jaga kalau laki-laki itu berbuat buruk, saya sudah di sini."
Selina menebak-nebak, "Romi bilang ke kamu"
Lagi-lagi Sam menggeleng.
"Terus kenapa tahu aku di sini?"
"Feeling saja."
"Kamu nggak kasih tahu yang lain, kan? Papa gimana?"
"Saya tidak bilang ke siapa pun, tapi beliau curiga sejak tadi malam karena Alex lapor polisi." Sam menoleh ke kursi belakang tempat Selina berada. "Mungkin tidak lama lagi berkat orang suruhan, Tuan Levi tahu keberadaan Non."
"Mereka lebih terlatih buat cari orang hilang dibanding polisi." Selina memijat kedua pelipisnya. "Mungkin aku cuman punya waktu paling lama dua sampai tiga hari lagi." Ini terlalu cepat. Ia tidak bisa tampil di hadapan semua orang penuh lebam pada wajah. Selain tak mau membuat orang-orang khawatir, Selina juga merasa asing dengan tampak lemah. "Gimana keadaan di rumah?"
Sam menjawab pelan, "Cukup ribut. Tuan Levi pikir Non pergi dengan Daniel. Beliau pergi ke kediaman Tasman pagi-pagi sekali. Belum ada respon dari keluarga mereka karena sedang di luar kota."
"Aku sudah telepon Alex pagi ini, tapi dia nggak bilang apa-apa. Mungkin belum tahu. Seharusnya aman-aman saja. Aku titip pesan supaya Papa nggak terlalu khawatir."
"Saya dengar Nyonya Serra sudah pesan tiket kemari."
"Aku kira Mama baru pulang beberapa hari lagi, Alex yang bilang."
"Banyak yang terjadi dalam beberapa jam ini," ucap Sam. Ia mengalihkan pandangan keluar jendela. "Keluarga Tasman baru saja melakukan konferensi pers tanpa persetujuan Tuan Levi. Beliau ... cukup marah."
Selina tidak bisa membayangkan segila apa kata cukup untuk mendeskripsikan Papanya ketika sedang marah. Sebab pria itu biasanya lebih banyak diam. Tetapi kalau Sam sudah menjabarkan seperti ini, hal buruk memang sedang terjadi.
"Tuan Levi bilang ..." Ia seolah sedang memikirkan kalimatnya menjadi lebih halus. "Kepergian Non secara tiba-tiba bisa mempermalukan keluarga. Ditambah fitnah dari Daniel."
"Dia bilang apa ke Papa?"
"Ke wartawan," koreksinya. "Kalau semua keburukan yang netizen bilang adalah benar. Semua orang percaya kalau Nona kabur karena takut. Beritanya masih trending sampai sekarang."
Semua sesuai perkiraannya. Hanya saja kelihangan ponsel membuat rencana Selina sedikit keluar dari jalur.
"Biarin. Mereka suka drama, kan? Kasih saja tontonan." Selina menurunkan posisi topinya. "Mereka sebenarnya nggak bisa apa-apa tanpa saya. Yang buat pusing itu Papa masih mau aku berhubungan dengan curut seperti dia."
"Beliau hanya tidak punya pilihan lain."
"Papa cuman lebih peduli soal reputasi keluarga. Dari dulu juga begitu."
Sam hanya diam. Ia sudah mengenal majikannya sejak lama. Setiap pergerakan Selina telah dihapalkan sebaik mungkin dalam kepala. Setiap hal tersembunyi, alasan menjauh, tutup mulut. Tidak ada celah baginya. Tetapi untuk yang satu ini, dia harus bertanya, "Kenapa Romeo?"
Selina memalingkan wajahnya dari sembarang arah, menuju kaca spion. Menatap tepat pada mata lain di sana. Tak ada jawaban, sebab dia pun tidak tahu mengapa. Mungkin karena hanya lelaki itu yang ada di saat dirinya hampir dihabisi Daniel. Hanya sekadar orang asing yang cukup nyaman untuk terlihat sedikit lebih lemah.
Romi adalah satu-satunya yang tidak pernah menyimpan ekspektasi tinggi. Berbeda dengan keluarga atau pun orang lain. Semua tahu Selina sebagai penerus harus mampu menjadi pemimpin penuh wibawa, meski kadang ditakuti. Tetapi lelaki itu? Romi tak tahu apa pun yang membuatnya harus menyimpan harap selain perasaan terbalaskan.
"Ada baiknya Non pulang sekarang."
"Aku nggak bisa, Sam. Nggak sekarang."
"Kalau untuk itu..." Sam membuka dashsbord, mengambil sesuatu di sana lalu memberikannya kepada Selina. "Mungkin ini bisa bantu."
Mata menatap kantong hitam di paha. Ia sudah sangat mengenali benda ini dan beberapa isian di dalam. Selina terdiam. Tangan lentik menyentuh sisi wajah yang masih terlalu nyeri ketika di tekan—lebam di bawah mata, memar samar di pipi, tempat-tempat tak tertutup masker. Wewarna ungu dan kehijauan belum hilang di sana.
Hening sejenak. Kata-kata Sam masih menggantung, tetapi Selina tahu maksud di baliknya. Tidak perlu ada petunjuk lebih jauh, tetapi ia tahu betul apa yang dibicarakan. Selama ini Selina selain kabur secara tiba-tiba, ia selalu menyembunyikan luka dengan riasan tebal.
Selina masih menatap berbagai makeup di kantong itu, lalu pandangannya pindah ke arah Sam. "Kamu tahu?" Suaranya sedikit memecah, seperti ada sesuatu yang retak.
Meski tidak pernah bilang, Sam selalu tahu kenapa majikannya kadang kala hilang ditelan bumi. Ia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat.
Selina menghembuskan napas panjang. Tidak ada rasa terkejut, atau alih-alih marah karena rahasianya terbongkar begitu saja. Namun, lebih seperti seseorang yang pada akhirnya memperlihatkan aib di tubuh. Luka lama harus terabaikan, kini muncul ke permukaan ... dan merasa jijik.
Harga dirinya seperti tercoreng.
Ia meraih kenop pintu, keluar dari mobil dengan gerakan tergesa.
Selina meninggalkan mobil itu dan kembali ke arah kos. Langkahnya lemah dengan tatapan kosong. Dingin dan bukan karena merasa kuat. Tanpa air mata, tanpa nada pecah. Justru itu yang paling menyakitkan. Harus menelan semua rasa tak enak seorang diri.
Dari dalam mobil, Sam hanya menatap punggung itu pergi, tidak memanggil. Sadar bahwa untuk kesekian kalinya, Selina selalu memilih untuk pergi agar tak ada siapa pun yang melihat sisi lemahnya.
Di tangga Selina mencoba menarik napas dalam, berusaha tenang meski paru-paru seperti menolak udara. Ia tahu jika sudah seperti ini dirinya harus segera pergi tidur untuk menenangkan diri.
Begitu pintu di buka, Romi sudah di sana. Duduk di sofa dengan wajah yang tak terdefinisikan.
"Kamu habis darimana?" Ia berdiri menghampiri Selina. "Kok pucet mukanya?"
Entah karena perasaan tak menentu terus menggila, Selina bernapas berat dengan jantung berdegup cepat. "Bukan urusan kamu."
"Boo, kalau ada apa-apa itu cerita. Nggak baik dipendem semua kayak gini."
"Tahu apa, kamu?"
Hari semakin siang. Matahari tepat berada di atas kepala menghantarkan suasana panas ke dalam ruang. Namun saat itu, Selina malah bergemetar kecil. Tangannya mendingin seraya titik peluh bermunculan di kening. Napas itu masih belum juga teratur, tetapi cukup untuk mengeluarkan banyak kata.
Romi masih di sana. Diam. Menunggu. Menjaga.
Dan itu membuat Selina tambah muak.
Ia melepas masker dan topi, menatap Romi tepat di mata. Tatapannya tajam sekarang. Dingin. "Kamu pikir kamu ini siapa? Sembarangan mengatur orang."
"Aku nggak ngatur, aku cuma—"
"Kamu pikir kamu ini siapa?" Suaranya rendah, tetapi nada itu tajam dan memotong udara.
Romi terdiam. Ia hanya menatap Selina, penuh hati-hati. Ada kebingungan di wajah itu, tetapi tidak berani bertanya lebih jauh.
"Kamu pikir dengan selamatin saya malam itu dan kasih tempat tinggal di sini, buat kamu punya hak untuk larang-larang saya?"
"Aku nggak larang, Sel. Tapi ada baiknya—"
"Ini hidup saya," potong Selina. Napasnya tertahan sebentar dengan tangan terayun yang gemetaran. "Bukan kamu yang selalu terlihat jelek di mata orang lain. Bukan kamu yang repot-repot ngurusin kerjaan sialan ini. Bukan kamu yang—" Ia merasa tercekat. "Yang bangun tiap hari dan merasa kesal karena ternyata masih hidup di dunia."
Romi hendak meraih tangan yang menunjuk tajam ke arahnya.
"Kamu pikir enak harus nikah sama orang yang suka pukulin kamu? Mungkin buat kamu mudah untuk berpura-pura setiap hari. Kamu tahu rasanya bangun tiap pagi ... sambil coba untuk nggak ingat kalau bajingan itu sudah ngerusak kamu di malam sebelumnya?"
Matanya tajam, suara mengalun dingin. Lagi-lagi tidak ada air mata. Tetapi nada itu keluar dengan getaran.
"Kamu ini kenapa?"
"Kamu bukan siapa-siapa. Ngerti?"
Kalimat itu keluar pelan walau terasa setajam pisau yang melukai tubuh. Namun entah mengapa ketika kata-kata terucap tegas, rasanya lebih menyakitkan untuk Selina sendiri dibanding Romi.
Romi terus diam. Wajahnya tetap tenang, meskipun jelas ada sesuatu yang hancur di dalamnya.
Lelaki yang berkata memiliki perasaan lebih padanya. Yang berucap akan selalu ada, ingin terus melindungi. Orang pertama selain keluarga, yang rela berdiri di sana hanya untuk mendengarkannya meledak dimakan waktu.
Tetapi yang lebih menyakitkan: Bagaimana ia bisa membalas perasaan Romi jika hati saja tidak punya? Sesuatu yang pria itu inginkan darinya. Sesuatu yang sejak dulu sudah lama mati, atau barangkali memang tidak pernah ada.
Selina merasa tubuhnya mengambang. Tak ada lagi kekuatan penuh pada kedua kaki lalu oleng ke samping. Romi menahannya dan mendapat tepisan keras. Ia tidak peduli. Terus diri di sana, sedikit mencondongkan tubuh seperti masih siap jika perempuan itu runtuh lagi.
"Buat apa buang waktu untuk peduli? Buat apa ikut campur?" tanya Selina.
Lelaki di sana masih saja diam. Mata terus tertuju pada Selina. Menyakini bahwa apa yang dilihat sekarang sudah diharapkan sejak malam ia menyelamatkannya dari tangan Daniel. Selina adalah bom waktu. Dialah sang karya yang memilih untuk hancur sendiri daripada disentuh siapa pun.
"Kenapa kamu?" Selina berkata parau. "Di antara semua orang terdekat saya, kenapa malah kamu yang nggak punya kepentingan apa-apa."
"Boo," panggilnya pelan. Romi menatap sosok yang sedang meluapkan segalanya, dan untuk pertama kalinya. Ia menempatkan tangan di pipi Selina, mengelus lembut. "Kamu kenapa? Mau cerita?"
Entah kenapa pula Selina melepaskan semuanya kepada Romi. "Kamu tahu kenapa orang-orang mau dekat dengan saya? Karena mereka cuman ngincar harta. Tapi kamu hanya mau perasaan saya saja. Kenapa?"
Mata kelabu tak berkedip. Ada sesuatu yang bergetar, tetapi masih saja ia tahan. Seolah marah karena botol pilnya terambil adalah tameng dari rasa sedih yang ada. Seolah ia punya hal untuk mengalihkan rasa lemah dengan amarah.
"Saya memang rusak dan berantakan. Tapi saya nggak butuh dikasihani."
"Hey," potongnya lembut. "Kamu nggak rusak."
"Dan kamu, Romeo ... kamu terlalu baik. Terlalu bersih." Selina melepaskan elusan hangat di pipinya yang dingin. "Tapi kamu bukan pahlawan. Kamu nggak lebih dari cowok kelewat baik yang salah tempat. Apa deskripsi yang lebih cocok selain kata tolol buat itu?"
Hening.
Romi bergeming sendiri. Dalam jiwanya, perkataan Selina selalu menancap seperti paku di bingkai kayu. Tetapi kali ini terasa berbeda. Ia bagaikan kanvas yang terpaku di dinding agar tidak pernah bisa bergerak. Menyadari bahwa rasa sayang dalam bentuk tertulus pun, bisa dianggap beban oleh orang yang belum selesai membenci dirinya sendiri.
Selina berdiri dengan postur tegap. Napas sudah tidak lagi memburu, tetapi mata itu seperti menahan badai yang tak jadi meledak. Lagi dan lagi. Ia telan semuanya dalam diri. Terkubur tanpa harus ada siapa pun menjadi saksi. Seolah luapan rasa ini hanyalah sebuah kesalahan. Seolah Romi tak seharusnya melihat semua itu.
"Saya selalu jahat. Dan kamu ... tetap setia seperti anjing."
Ketika ia bicara, suaranya menjadi seperti bisikan halus. Namun, inilah yang lebih menusuk rusuk Romi karena setiap kata terasa menancap lebih dalam.
"Saya nggak ngerti, kenapa kamu peduli sama saya. Apa kamu cuman sekadar seniman yang cari objek sedih untuk dilukis?"
Selama ini lukisan Romi tak pernah jauh dari dunia tanpa warna. Seakan memendam kesedihan tak terucap. Apakah Selina merupakan salah satu di antaranya? Insprirasi hidup yang akan digores pada kanvas polos.
Romi menahan napas. Di matanya, Selina adalah kanvas hidup serupa warna pelangi. Pekat saling tabrak, bergaris liar menolak diatur. Tetapi tak ada satu pun karya yang pernah membuat hatinya sangat berat. Terlebih di saat perempuan itu meyakini, kebutaan warna dalam mata Romi adalah permanen. Lelaki ini tak mungkin dapat melihat rona kehidupan dalam diri Selina. Mustahil bagi siapa pun bisa memahami anak kaya raya ini.
Selina mengangkat kepala, menatap Romi tepat pada di sana. Kali ini, ada selapis kilau basah di sudut mata. Tetapi dia tidak menangis. Tidak boleh, terlarang bagi Lenoir untuk tampak lemah. Dan lelaki itu hanya bisa diam meski pikirannya berisik. Setiap dibanding ucapan kasar, melihat Selina saat ini terasa seperti hujaman basah pada lukisan setengah jadi yang tengah ia coba lindungi dari hujan. Sungguh sakit.
Selina tersenyum kali ini, tipis sekali. Tetap cantik dengan cara menyesakkan. Romi pedih melihatnya. Merasa pahit ketika harus mendapat senyuman pertama dengan cara seperti ini.
"Dan anehnya ... dari semua orang, kenapa saya malah bilang ini ke kamu?" Dengan satu tarikan napas panjang dan sebuah jeda menggantung tak enak. "Kamu satu-satunya orang yang buat saya ingin jujur. Dan itu ... yang paling buat saya takut."
Selina yang benci terlihat lemah, kini harus mengaku kalah. Semua tameng baja luntur di hadapan Romi. Kenapa lelaki ini selalu melihat sisinya yang menyedihkan?
Seakan lelah dengan semuanya, Selina pun balik arah. Melangkah jauh. Pelan. Tanpa suara, meninggalkan begitu banyak drama dan luka bagi keduanya.
Romi menahan tangannya. Wajah yang tertunduk oleh rasa pedih bertanya pelan, "Mau kemana?"
"Pergi dari sini. Bukan urusan kamu."
"Jangan."
"Apa peduli kamu?"
"Jangan pergi," lanjutnya. "Biar aku aja yang pergi. Kamu di sini. Jangan kemana-mana."
Romi baru saja diusir dari tempat tinggalnya sendiri. Mengantungi kunci motor dan keluar. Gerakannya begitu cepat hingga Selina hanya bisa mematung di sana.
Mungkin memang benar, tidak semua karya perlu disematkan. Dibiarkan basah oleh hujan pun tak mengapa. Tidak semua lukisan memiliki nilai lebih, seperti Selina.
Ia terduduk lelah. Mengungkapkan dasyatnya perasaan yang terkubur dalam-dalam. Sungguh, aktris yang sangat hebat. Bertahun-tahun Selina memerankan sosok iblis jahat tidak berperasaan. Menipu begitu banyak orang tentang dirinya yang sebenarnya. Bukan dingin, Selina hanya begitu rapuh hingga mati rasa.
Selina barangkali menjadi perempuan paling kejam. Tetapi sebenarnya, ia sungguh rapuh.
—————
Gimana menurut kalian chapter panjang kali ini? Akhirnya Selin bisa meledak juga walau ditinggalin Romi.
Sampai jumpa chapter depan.
IG: @elchotye
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top