⿻⃕⸵Chapter XXVI៚݈݇
Matahari belum terbenam, tetapi langit begitu gelap, disertai hujan dan petir yang menggelegar. Sebentar lagi Helene sampai di air terjun Wasserfall. Namun, Teufelsvogel juga mulai keluar dari sarangnya, meramaikan langit.
Teufelsvogel adalah burung pemangsa yang aktif pada malam hari. Mereka akan terbakar sampai menjadi debu jika terkena sinar matahari, karena itulah orang-orang menjuluki mereka 'burung setan'. Selain malam, mereka juga dapat bergerak di bawah hujan, meskipun itu saat tengah hari.
"Bertahanlah, Ruru. Beberapa meter lagi kita sampai," ucap Helene. Ia memasang sihir anti hujan sekaligus pelindung kalau-kalau Teufelsvogel menyerang.
Sebuah teriakan menggema di antara suara hujan dan petir. Teriaknya serak namun terdengar buas dan menyeramkan. Suara khas Teufelsvogel. Biasanya Teufelsvogel akan memantau gerakan mangsanya dari langit, kemudian terbang ke bawah dengan kecepatan tinggi, menyambar mangsanya dari belakang.
Helene menengok ke belakang, satu per satu Teufelsvogel mengejar mereka. "Cepat, Ruru! Mereka datang!"
Bummd!
Salah seekor Teufelsvogel melesat cepat menabrak selubung pelindung Helene. Dentuman keras terdengar karenanya, bersamaan pula dengan petir yang menyambar.
Pelindung itu kuat, tidak rusak sedikit pun. Helene hanya mengalami sedikit guncangan. Wanita itu beerdecak sebal. Ternyata perhitungannya salah, hujan datang lebih cepat dari dugaannya, dan mengacaukan penerbangannya.
Bummd!
Teufelsvogel lain ikut menyerang. Lagi, dan lagi. Dari segala arah. Mereka tidak lagi menyerang diam-diam, toh Helene berada di jalur terbang mereka. Bukan mangsa yang harus dipantau dari atas.
Bummd!
Teufelsvogel terus berdatangan, berusaha merusak sihir pelindung Helene. Kelemahan lain selain sinar matahari adalah api, tapi sayangnya Helene tidak menguasai sihir elemen api. Untuk saat ini ia hanya bisa bertahan.
"Lebih cepat, Ruru!" Helene dan Ruru terbang lebih cepat, air terjun Wasserfall susah terlihat di bawah mereka. Namun, Teufelsvogel juga masih mengejar.
Bummd!
"Ini tidak bagus, kita harus mendarat." Sihir pelindung Helene mulai retak. Burung-burung pemangsa itu tidak akan menyerah sampai mereka mendapatkan mangsanya.
Mata Helene mengedar dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri lagi, mencari bagian mana dari air terjun yang dapat ia gunakan untuk bersembunyi sekaligus bermalam. Setelah menemukan titik yang pas, ia memerintahkan Ruru untuk terbang ke air terjun.
Suara bedebum air yang jatuh dari tebing seolah berlomba-lomba dengan suara petir, mana di antara mereka yang suaranya kebih keras.
Para Teufelsvogel tidak lagi mengejar, burung-burung itu kehilangan jejak. Helene dan Ruru hilang, seolah ditelan air terjun.
⿻⃕⸙͎
Perjalanan terus berlanjut. Entah sekarang masih sore atau sudah malam. Langit tak lagi menaungi, kini mereka berjalan di dalam gua. Lurus terus seperti yang dikatakan Helene. Jalanan ini aman, tidak ada musuh satu pun selama mereka mengikuti petunjuk Helene. Jalan ini diberi sihir khusus oleh para Elf sebagai pintu gerbang menuju Desa Ventuarbor. Jika dihitung dari lama mereka berjalan, seharusnya sekarang sudah malam.
Alwen pemimpin jalan berhenti melangkah, membuat rombongan di belakangnya ikut berhenti.
"Kenapa berhenti? Kita sudah sampai?" tanya Xan.
"Belum. Ini persimpangan. Nyonya Helene bilang kita harus lurus, tapi tidak ada jalan di depan. Hanya ada lorong kiri dan kanan," jawab Alwen sambil meraba-raba dinding batu di depannya. Samar-samar terdengar suara gemercik air, pertanda air terjun sudah dekat.
"Tapi kita sudah dekat, kan? Kalian dengar suara itu? Sepertinya dari arah kiri, kita jalan ke sini saja!" ucap Xan. Ia yakin sekali jalan sebelah kiri adalah jalan yang benar dan akan membawa mereka ke air terjun.
"Tidak, tidak, tidak. Telingamu itu salah. Dengar, aku ini keturunan Ras Cane Mage, kemampuan pendengaranku jauh lebih tajam darimu, dan aku yakin suara air terjun itu berasal dari jalan ini." Di sisi lain, Roen meyakini bahwa jalan sebelah kanan yang benar.
"Tapi Nyonya Helene bilang kita harus lurus, kan?" Agie ikut berpendapat. Helene bilang mereka harus lurus, ke depan, tidak boleh belok ke kiri atau kanan. Itu syarat mutlak sihir pelindung jalan menuju Desa Ventuarbor. Di luar jalur itu, tidak ada yang tahu ada bahaya apa yang menanti.
"Maksudmu kita harus membobol tembok batu ini?" kata Xan, memicingkan mata.
"Tunggu dulu!" Zen ikut berpikir. Zen mendekati dinding di depannya, dengan alis yang mengkerut dan mata yang mengedar ke segala penjuri, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk jalan.
"Ini dunia sihir, kan? Apa saja bisa terjadi. Jika Nyonya Helene bilang kita harus lurus, tidak boleh belok ke mana pun, mungkin ada tombol atau semacamnya agar jalan di depan kita terbuka," ucap Zen lagi. Menatap satu per satu rekan perjalannya.
Bukankah itu pemikiran yang masuk akal? Jalan yang mereka lalui akan aman jika mereka berjalan lurus, di jalur yang terpasang sihir pelindung Elf.
"Benar juga, atau mungkin ada mantera penghalang yang menutupi jalannya." Roen sependapat dengan Zen, mengangguk-anggukkan kepala dengan tangan terlipat di dada.
Sebenarnya Alwen sudah tahu ke mama jalan yang benar, ia sudah pernah pernah ke Desa Ventuarbor sebelumnya. Anggaplah ini tes untuk menguji bagaimana kemampuan para calon pemimpin negeri dalam berpikir untuk memecahkan masalah.
Mata Zen masih berkeliling mencari petunjuk, tapi nihil, ia tidak menemukan apa pun. Tidak ada benda yang tampak aneh atau mencurigakan. Kini matanya menyipit, menatap dinding. Perlahan tangannya menyentuh dinding batu. Mungkin ada tombol rahasia pembuka pintu yang tidak terlihat, ia diraba-raba.
"Pasti ada sesuatu di sini-HUWAAA!" Tangan Zen menembus tembok. Saking terkejutnya ia sampai kehilangan keseimbangan. Zen jatuh menembus tembok batu, dan menghilang.
"ZEN!" Xan, Roen, dan Agie berseru. Alwen tetap tenang, kemudian berjalan menembus dinding batu yang baru saja menghilangkan Zen dari pandangan mereka. Kemudian ikut menghilang.
Tiga pemuda yang tersisa saling bertukar pandang. Roen menyusul setelahnya, ia menyentuh dinding dan jemarinya tembus. "Ini bukan jalan buntu." Dinding di depan mereka seakan tidak ada, seperti ilusi yang menipu mata bahwa di sana tidak jalan.
Xan dan Agie mengikuti tindakan Roen, berjalan menembus dinding. Meski awalnya ragu, akhirnya Xan tetap melangkah maju. Toh dia tidak bisa terus berdiam diri di sana.
"Selamat datang." Perhatian empat pemuda itu langsung tertuju pada sumber suara. Seketika itu pula wajah mereka berseri-seri. Sambutan itu dari Helene. "Kalian lama sekali, aku sudah sampai dari tadi," sambungnya sembari mengelus kepala Ruru yang menunduk.
Ruang dibalik air terjun ini terbilang luas. Dihiasi kristal warna-warni yang tersebar dari alas hingga atapnya, membuat gua terang-benderang meskipun kondisi diluar sudah tengah malam.
"Jangan disentuh!" ucap Helene memperingatk ketika Xan mengulurkan tangannya dengan penasaran pada tumpukan kristal. "Itu bukaan kristal sembarangan." Anak-anak itu terdiam menunggu penjelasan Helene.
"Itu adalah kristal tujuh perasaan dan enam keinginan, siapa saja yang masih memiliki tujuh perasaan dan enam keinginan, jika menyentuh kristal tersebut meski hanya satu detik, mereka akan kehilangan akal sehatnya. Menurut nenek moyang kami, kristal itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, bahkan sebelum kerajaan berdiri," jelas Helene. Sekilas teringat beberapa warga Desa Ventuarbor yang juga menjadi korban kristal itu. Mereka menjadi gila dan berakhir terjun bebas dari atas tebing, ada pula yang menenggelamkan diri ke sungai.
Zen dan Xan bertukar pandang, sama-sama meneguk ludah hingga terdengar bunyi 'gluk', hampir saja mereka kehilangan kewarasannya. Zen bertanya, "Apa saja tujuh perasaan dan enam keinginan itu?"
"Ketujuh perasaan adalah senang, marah, sedih, gembira, cinta, benci, dan nafsu. Sedangkan enam keinginan adalah melihat, mendengar, mencium bau, mencicipi rasa, sentuhan, dan pikiran," jawab Helene sembari menatap Zen, Xan, dan Agie. Sedangkan untuk Alwen, Roen, dan Gain, Helene yakin mereka sudah lama mempelajari tentang kristal tujuh perasaan dan enam keinginan.
"Maksudnya orang yang bisa menyentuh kristal itu hanya orang yang tidak berperasaan, tidak merasakan senang, sedih, cinta, dan lainnya. Begitu?" Xan bertanya lagi, ia masih tidak paham dengan penjelasan Helene.
"Dan seorang tunanetra? Atau tunarungu?" Zen ikut bertanya, ia juga sama tidak mengertinya seperti Xan.
"Tunanetra dan tunarungu memang tidak bisa melihat dan mendengar, tapi bukan berarti mereka tidak punya keinginan untuk melihat atau mendengar. Jadi maksud sebenarnya itu apa?" Agie apa lagi. Kondisinya yang serba kekurangan membuat pengetahuan yang bisa diaksesnya terbatas.
Helene terkekeh pelan, kembali menjelaskan, "Bukan begitu. Maksudnya, hanya orang yang telah mampu mengendalikan seluruh perasaan dan keinginannya yang tidak akan terpengaruh mesikpun menyentuh kristal dengan waktu yang lama. Jika cinta terlalu berlebihan, maka akan menimbulkan obsesi. Benci yang berlebihan juga bisa menuju pembunuhan. Jika terlalu senang, sedih atau gembira juga jadi seperti orang gila, bukan? Begitu juga dengan enam keinginan, harus bisa dikendalikan, jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain. Kalian paham?"
Xan dan Agie menggelengkan kepala. Mata Zen menyipit, ibu jari dan jri telunjuknya menopang dagu seperti orang sedang berpikir dalam serial detektif, berusaha mencerna apa yang dijelaskan Helene.
"Oh, aku tahu!" Zen berseru keras, mengacungkan telunjuknya seperti orang yang baru mendapat ide. "Mereka adalah orang-orang yang telah melepaskan diri dari keinginan dan hasrat duniawi, betul tidak?"
"Hmmm ...," Helene berpikir sejenak, "bisa dikatakan begitu." Ia mengangguk, setuju dengan perkataan Zen.
Xan dan Agie masih saling bertukar pandanh, masih tidak mengerti. "Kau mengerti?" tanya Xan yang padahal biasanya dia tidak mau berbicara dengan Agie. Yang ditanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Jika tidak punya hasrat dan keinginan tapi bukan disebut orang yang tidak berperasaan, lalu apa?" Rasa ingin tahu Xan masih tinggi, ia menatap Helen dan Zen yang tampaknya sudah mengerti. Juga menatap Alwen dan Roen yang sejak tadi hanya memperhatikan. Ia pun tahu diam-diam Roen menertawai mereka yang kebingungan.
"Bukan begitu, Xan. Maksudnya mereka adalah orang-orang yang terbebas dari ikatan, tidak lagi terbelenggu dalam dunia yang penuh peperangan, persaingan kecil antar teman atau kekasih. Tetapi bukan berarti mereka tidak punya perasaan, mereka tetap berwelas asih kepada sesama makhluk hidup lainnya." Zen menerangkan sambil menggerak-gerakkan tangannya di udara seperti seorang ahli.
"Wah, wah, sepertinya Pangeran kita semakin pintar," ucap Roen bertepuk tangan. Menambah suasana ria di antara kebingungan Xan dan Agie. Helene ikut tertawa kecil melihatnya.
"Sekarang kita istirahat dulu di sini, berjalan di luar saat malam hari itu berbahaya, Teufelsvogel bisa menyantap kita kapan saja. Besok pagi baru lanjutkan perjalanan, lagi pula Desa Ventuarbor sudah di depan mata. Kita hanya perlu menemukan pintu masuknya." Helene menjelaskan lagi.
"Menemukan pintu masuk? Memang pintunya ke mana?" Lagi-lagi ketiga anak muda itu keheranan. Bukankah Helene adalah penduduk Desa Ventuarbor? Seharusnya Helene sudah tahu di mana pintu masuknya, kenapa masih harus dicari?
"Sudah tidur saja, anak kecil tidak boleh begadang." Roen menggiring ketiga pemuda itu menuju tempat yang nyaman untuk tidur. Yah, walau di sini semuanya tanah dan batu sih.
⿻⃕⸙͎
Matahari menyingsing. Gerombolan burung pemangsa Teufelsvogel telah kembali ke sarangnya, takut kulit mereka terbakar cahaya mentari. Embun pagi membasahi tanaman sekitar. Zen dan rombongan juga telah menyebrangi air terjun Wasserfall.
"Di mana desanya? Kukira kita akan langsung sampai begitu keluar dari air terjun," ujar Xan. Pagi-pagi sudah mengeluh.
"Kita memang sudah sampai. Sesuatu yang tidak terlihat, belum tentu tidak ada, boleh jadi sebenarnya sesuatu itu ada di depan kita," ucap Helene yang baru saja menginjakkan kakinya ke tepian, ia yang terakhir menyeberang.
"Hanya mereka yang diundang penghuni asli Ventuarbor yang bisa melihat dan masuk ke desa. Berjalanlah sebanyak 20 langkah, maka pintunya akan terbuka," kata Helene lagi. Helene meremas ujung gaunnya yang basah terkena air. Kemudian memimpin jalan dengan berhitung 20 langkah ke depan.
"Satu ... dua ...." Zen ikut berhitung dengan suara pelan. Satu per satu kakinya melangkah, hingga sampai di langkah ke dua puluh. Ia terkesiap. Pusaran angin kecil berputar-putar di depan kakinya, membentuk lingkaran. Kelopak bunga-entah kelopak bunga apa-berbentuk menyerupai daun sihir tetapi dengan ukuran yang lebih mungil, perpaduan biru dan putih menjadi warna yang mengisi kelopak.
"Masuklah, itu pintunya." Helene tersenyum lebar. Akhirnya ia pulang. Helene yang pertama masuk ke lingkaran. Lingkaran miliknya adalah sekumpulan bunga-bunga kecil berwarna kuning. Tepat setelah kedua kakinya berpijak, tubuh Helene lenyap bersamaa dengan lenyapnya lingkaran. Tanpa suara sedikit pun.
"Keren." Roen memang sudah mempelajari Lingkaran Elf, tapi ini pertama kali dirinya melihat langsung lingkaran itu. Daun berwarna hijau kekuningan menyerupai daun bambu menjadi Lingkaran Elf untuk Roen.
"Lingkaran Zen kelopak bunga, kenapa lingkaranku malah jamur? Aku, kan, sama-sama Pangeran," kata Xan, menggaruk belakang kepalanya. Ia masih mematung melihat lingkaran jamur berwarna merah di depannya.
"Punyaku juga jamur." Agie menunjukkan lingkaran jamur putih dengan ria. Ini adalah petualangan keduanya setelah insiden yang menimpa keluarga Adrshy. Agie senang menjelajah. Tentu saja ia tidak lupa tujuan utamanya mengikuti rombongan Zen, yakni untuk membawa Reno pulang.
"Saya ranting kayu." Gain berceletuk.
"Bunga, jamur, daun, atau apa pun itu bukan masalah. Mau itu Pangeran, Raja, atau bahkan Dewa sekalipun, tidak bisa memilih ingin terbuat dari apa lingkaran sihirnya. Semua itu pilihan alam." Buah pohon ek adalah lingkaran pintu Alwen.
"Dalam hitungan ketiga, ayo masuk bersama-sama!" seru Zen bersemangat. "Satu."
"Dua." Xan yang melanjutkan.
"Tiga!" Tepat setelah Agie berkata 'tiga' mereka bertiga melompat masuk ke lingkaran masing-masing, lalu tubuh mereka menghilang. Lilo dan Lila juga masuk ke lingkaran masing-masing. Alwen menyusul sebagai peserta paling akhir.

⿻⃕⸙͎
#Chapter XXVI
Halooo!
Akira selesai hiatusss! Al+akq#akq-os$ww(ih
Niat hiatus seminggu malah kebablasan ╥﹏╥
Sebenernya seminggu pertama setelah hiat itu emang udah oke, yah ... ada hal lain juga memang, tapi tentunya aku menyadari apa pun itu tidak bisa terus-terusan menjadi alasan untuk berlama-lama hiatus
Mmmm ... seharusnya aku lebih bisa memanajemen waktu antara wattpad, pekerjaan rumah, kantor, dan kampus
Tere Liye aja bisa bikin bumser!!!
Yoshh! Terima kasih untuk yang masih menanti kelanjutan Neroluce! Jangan lupa voment nya:3
See you!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top