⿻⃕⸵Chapter XVIII៚݈݇

Meskipun tegas sebagai panglima perang sekaligus ajudan Pangeran Kerajaan Luce, hal tersebut tidak menjadi alasan bagi anak-anak panti untuk takut bermain dengan Alwen, mereka justru kagum dan ingin tumbuh hebat seperti Alwen.

"ALWEN!" Tiba-tiba Xander datang, berteriak dengan panik. "Zen tidak ada di mana pun!" sambungnya yang membuat semua orang terkejut.

"Apa maksud Anda, Pangeran? Bukankah Anda selalu di sisi Pangeran Zen?" tanya Alwen.

"Seharusnya begitu," Xander melirik Agie, lalu menunjuknya, "sampai teman anak itu datang dan bilang ingin bicara empat mata dengan Zen. Aku tau! Pasti dia yang menculik Zen!"

"Anda jangan sembarangan bicara! Kami itu berteman baik dengan Zen, mana mungkin Reno melakukan itu!" ucap Agie tidak terima temannya dituduh sebagai penculik.

"Kalian juga seenaknya memanggil nama kakakku! Kami itu Keluarga Kerajaan, lebih hormatlah jika bicara!" gertak Xander tidak kalah keras dengan suara Agie.

"Cukup!" Alwen menengahi. "Tenangkan diri Anda, Pangeran Xan. Berpikirlah dengan kepala dingin. Dan bersikaplah lebih dewasa. Bertengkar seperti anak kecil bukanlah sikap hormat seorang Keluarga Raja." Keduanya bungkam, kini suasana jadi hening sesaat.

"Sekarang kita berpencar, cari ke seluruh penjuru panti. Mungkin mereka memang sedang menghabiskan waktu berdua sebagai sahabat, tapi bersiaplah untuk kemungkinan lain jika mereka membutuhkan bantuan." Semuanya berpencar mencari Zen dan Reno. Menyusuri seluruh tempat yang ada panti.

⿻⃕⸙͎

Sudah tidak ada kantong sampah di tangannya, tapi Reno masih belum beranjak dari tempatnya, melamun di depan tempat pembuangan sampah. Ia belum bisa menerima kematian Ai.

"Kemari ...."

Tiba-tiba telinganya menangkap suara, bisikan dari hutan yang tak jauh dari halaman belakang panti.

"Datanglah padaku ...." Tanpa sadar kakinya melangkah menuju suara itu, seolah dirinya dipanggil untuk masuk ke hutan.

Kini Reno berada di dalam hutan. Ekor matanya menangkap sosok bayangan yang melesat di sebelah kirinya, ia pun menengok ke kiri, tapi tidak ada siapa pun. Kemudian ia merasakan energi sihir muncul di belakangnya, ia pun berbalik dan seketika bola matanya melotot karena terkejut.

Sosok yang selama ini selalu ia rindukan, sosok yang paling ia sayangi, kini muncul di hadapannya dan terlihat begitu nyata. "Ai?" gumamnya pelan.

Apa ia sudah gila? Apa ini delusi? Tanpa pikir panjang, kakinya langsung berlari menghampiri gadis itu, tapi ketika ia hendak memeluknya, tubuh Ai lenyap menjadi asap. Kemudian terlihat siluet lain dibalik kepulan asap. Perlahan semakin terlihat jelas saat asap itu mulai menghilang. Seseorang berjubah coklat yang entah siapa, berjalan mendekati Reno.

Reno ingin lari. Namun, kakinya seolah membeku dan tidak bisa bergerak. Tekanan yang diakibatkan aura sihir orang itu terlalu kuat dan mengerikan. Sambil terus berjalan mendekati Reno, orang berjubah itu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya. Sesuatu yang dibungkus kain coklat lusuh dan kotor.

Orang itu melepas kain yang menutupi sebuah belati, meraih tangan Reno, kemudian meletakan belati itu dan mengepalkannya ke tangan Reno. "Bunuh dia atau semua temanmu akan seperti gadis itu." Orang itu berbisik di telinga Reno. Setelahnya ia pergi meninggalkan Reno yang masih mematung di tempat dengan napas yang tersengal-sengal.

⿻⃕⸙͎

Sudah hampir 10 menit kedua pemuda itu saling diam, tidak ada yang bicara. Padahal Reno bilang ingin mengatakan sesuatu, tapi sampai sekarang ia masih bungkam. Membuat Zen heran dan menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan temannya itu.

"Apa kau baik-baik saja? Sebaiknya kita kembali ke dalam, sepertinya kau sedang kurang sehat," bujuk Zen sambil memperhatikan Reno yah masih berdiri mematung di hadapannya dengan kepala menunduk.

"Hei, Zen." Akhirnya Reno bersuara. "Jika kau dihadapkan pada suatu pilihan antara selamat namun hidup seorang diri atau mati demi menyelamatkan teman-temanmu, mana yang kau pilih?" Reno menatap Zen dengan tatapan bimbanh, sedih, marah, takut, perasaannya kacau.

Zen terdiam sejenak. Kenapa tiba-tiba Reno bertanya begitu? ucapnya dalam hati. Kemudian Zen balas menatap Reno.

"Aku belum mau mati, aku juga tidak mau teman-temanku mati, jadi aku tidak akan memilih apa pun. Aku akan tetap hidup dan menyelamatkan teman-temanku, lalu bersenang-senang bersama mereka."

Biasanya begitu kan yang akan dikatakan seorang protagonis? Zen berucap lagi dalam kepalanya.

Reno tersenyum tipis, terkekeh. "Sudah kuduga aku tidak bisa melakukan ini." Ia mengeluarkan belati yang dibalut kain lusih berwarna coklat, membuangnya asal ke tanah. "Pergilah, Zen," ucap Reno dengan seulas senyum di bibirnya.

"AAAAGH!" Zen baru mau membuka suara, tiba-tiba Reno berteriak sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya karena kesakitan.

"Dasar tidak berguna! Tugas begitu saja tidak becus!" Suara misterius yang hanya didengar Reno seakan menghipnotisnya. Tubuhnya bergerak sendiri mengambil belati yang tadi dibuangnya. Tentu saja Reno tahu siapa pemilik suara tersebut, yakni orang yang menugaskannya membunuh Zen.

"PERGI, ZEN!" pekik Reno sembari menahan sakit di kepalanya dan berusaha menahan pergerakan dirinya sendiri yang sedang dikendalikan orang lain. Sihir orang itu sangat tinggi sampai bisa mengendalikan orang lain dari jarak jauh.

"CEPAT PERGI!" Reno berteriak lagi, tapi Zen masih belum beranjak dari tempatnya. Dia tidak mungkin pergi meninggalkan temannya dalam keadaan begitu.

"Aku ... tidak bisa mengendalikan tubuhku ...tubuhku bergerak sendiri." Reno terus berusaha menahan tangan dan kakinya agar tidak berlari ke arah Zen.

Baru selangkah Zen bergerak, Reno datang dengan kecepatan tinggi, tangan kirinya mencengkram bahunya agar tidak bisa melarikan diri, sedangkan tangan kanannya menusukkan belati itu ke perut Zen.

"Uhk! Uhk!" Zen memuntahkan darah dari mulutnya. Reno menusuk belati itu lebih dalam ke perut Zen, menatapnya getir, melihat Zen yang kesakitan.

Brukh!

Perlahan kendali tubuh Reno kembali, ia menarik belati itu perut Zen dengan gemetar. Bibirnya turut gemetar, menahan isak melihat Zen yang jatuh terkapar di tanah. Belati itu bukan sekedar senjata, benda itu dilumuri racun yang terbilang berbahaya.

Seluruh tubuh Zen terasa sakit, rasanya seperti tertusuk sampai ke tulang, ngilu, napasnya tersengal-sengal, sesekali ia terbatuk dan kembali memuntahkan darah. Luka di perutnya yang terbuka mewarnai rerumputan hijau menjadi merah.

"Maaf .... maaf ... maafkan aku ...."

Reno membuang belati di tangannya. Berlari lebih dalam ke hutan. Tidak sanggup untuk menemui teman-temannya lagi. Zen menggerakkan tangannya meski berat, berusaha memanggil Reno yang kian menjauh. Namun, ia terlalu lemah. Racun itu telah melumpuhkan tubuhnya.

Reno terus berlari, entah ke mana kakinya melangkah. Dirinya tidak mungkin kembali ke panti asuhan setelah apa yang ia lakukan.

Brukh!

Ia tersandung. Air matanya tumpah, tapi bukaan karenaa sakit kakinya yanng tersandung batu, melainkan karena ia merasa tidak bisa kembali pada teman-teman.

"Apa yang kulakukan .... kenapa aku melakukan itu?" ucapnya sambil terisak. Ia merasa begitu bodoh bisa terpengaruh kegelapan semudah itu hanya karena pikiran dan perasaannya sedang kacau. Itu salahnya. Salahnya karena tidak bisa merelakan kepergian Ai.

Wushh!

Tiba-tiba muncul asap yang melingkar membentuk lubang hitam di hadapan Reno. Matanya membola melihat sosok yang keluar dari lubang teleportasi itu. Orang yang sama dengan yang memberinya belati tadi pagi.

Orang itu mendekat, menghampiri Reno yang berusaha mundur, tidak ingin lagi berurusan dengan orang itu ia tau orang itu berbahaya. Sihir teleportasi sendiri hanya bisa digunakan oleh beberapa orang saja, bahkan yang tingkat kemampuan sihirnya tinggi pun belum tentu bisa menggunakannya. Teleportasi adalah sihir istimewa pemberian Dewa.

"Sekarang kau sudah dibuang, mereka tidak akan mau menerimamu lagi. Mulai sekarang, kegelapan adalah rumahmu," ucapan orang itu sembari mengulurkan tangan, dengan seringaian yang mengalun di bibirnya. "Dan lain kali tolong jangan tinggalkan senjatamu di tempat kejadian," lanjutnya sembari membalut belati kecil itu dengan kain lusuh seperti sedia kala, entah kapan orang itu mengambilnya.

⿻⃕⸙͎

Suasana riang nan hangat di panti kini berubah menjadi kecemasan dan kegelisahan karena hilangnya dua orang di sana.

"Jika terjadi sesuatu pada kakakku, aku akan menutup tempt ini!" kata Xander mengancam.

"Energi Pangeran Zen berada di sekitar sini, mereka pasti tidak jauh," ujar Alwen. Kegaduhan yang dibuat Xander membuat kepalanya semakin pening. "Sepertinya mereka masuk ke hutan," sambungnya.

"Kalian di sini saja," titah Alwen. Hutan liar akan berbahaya bagi anak-anak, apa lagi bagi yang belum menguasai sihir.

"Aku ikut!" Agie berseru.

"Aku juga!" Lusy juga mengajukan diri.

"Jangan! Kau di sini saja, Lu. Temani anak-anak." Agie menolak, ia tidak mau membahayakan Lusy.

Alwen, Xander, dan Agie mulai masuk ke hutan. Tiba-tiba suasana hutan menjadi semakin mencekam. "Hati-hati! Ada musuh! Jangan berpencar, orang ini sangat kuat," kata Alwen memperingatkan.

Di hadapan mereka hanya ada pepohonan, tidak ada orang lain. Akan tetapi, Alwen bisa merasakan ada seseorang yang datang ke hutan itu. Orang luar yang tingkat sihirnya sangat kuat dan hebat.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan Zen, si pangeran yang hobi menghilang.

"Zen!" pekik Agie berlari menghampiri Zen dengan wajah khawatir. Xander terbelalak melihat kakaknya terkapar tidak sadarkan diri. Ia takut. Takut akan kehilangan kakaknya lagi untuk yang kedua kalinya.

"Zen! Zen! Bangun!" Agie menepuk-nepuk pipi Zen yang pucat. Ia gemetar saat melihat tangannya yang berdarah setelah memegang perut Zen.

"Jauhkan tangan kotormu dari kakakku!" Xander menghempaskan tangan Agie dan merebut Zen ke pangkuannya, menatap Agie dengan tajam dan geram.

Alwen sangat waspada, tekanan energi di sekitar mereka sangat mencekam. Namun, energi ini terasa familier baginya, hanya saja terasa lebih jauh kuat dan mengerikan dari yang ia kenal sebelumnya.

"Hentikan pertengkaran kalian!" Alwen mendekat, menyentuh pundak Agie dan Xander, menekan hawa kedua pemuda itu agar tidak terdeteksi musuh.

"Di sini berbahaya, sepertinya ada yang tidak beres. Apa kalian tidak merasa-!!!" Alwen tidak menyelesaikan ucapannya saat energi gelap itu tiba-tiba menghilang. Bukan hilang menjauh karena melarikan diri, tapi lenyap dalam sekejap bagai teleportasi ke tempat lain.

Tidak ada waktu untuk memedulikan itu. Ia segera mengeluarkan gulungan perban dari tas kecil di pinggangnya, melilitkan perban itu ke perut Zen yang terluka. Kemudian kembali mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah botol kecil transparan berisi cairan berwarna oranye sekitar 20 ml, menuangkannya secara perlahan ke mulut Zen. Itu adalah ramuaan pereda nyeri yang ia dapat dari Alchemist kenalannya. Persiapan persediaan perban dan obat-obatan adalah hal mendadar dalam pelatihan Knight.

"Ayo pergi! Pangeran Zen membutuhkan perawatan secepatnya," kata Alwen seraya berdiri sambil menggendong Zen.

"Aku tetap di sini! Aku harus mencari Reno," bantah Agie.

"Jangan! Kemungkinan dia sudah dibawa orang itu," hardik Alwen.

"Orang itu? Siapa?" tanya Agie khawatir.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera kembali. Saya akan meminta bantuan Keluarga Adelphie untuk mengaktifkan sihir pelindung di sekitar panti," tutur Alwen. Keluarga Adelphie memiliki tingkat sihir perlindungan yang tinggi. Berjaga-jaga jikalau orang misterius itu kembali.

"Cepat! Ini perintah dari Kerajaan!" titah Alwen tegas yang mulai berjalan meninggalkan hutan. Xander dan Agie menyusul.

Kegelisahan tak bisa lepas dari benaknya. Namun, Agie juga tidak mungkin tetap di sini dan mencari Reno jika apa yang diucapkan Alwen adalah benar.

Tunggu aku, Reno! Aku pasti akan menyelematkanmu! ucapnya dalam hati.

⿻⃕⸙͎

#Chapter XVIII

Yo! Akhirnya update lagi:)
Btw tau ga, masa tiba-tiba ku kepikiran buat NEROLUCE 2 padahal yang ini aja baru sesetengah jalan
╥﹏╥

SELAMAT TAHUN BARU!!!

See you next chapter!
Jangan lupa voment nya kawan:3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top