⿻⃕⸵Chapter XLIII ៚݈݇

Kapal itu berguncang hebat, bukan karena ombak melainkan karena tentakel raksasa yang mengamuk. Air laut berlompatan, ada yang naik ke kapal, ada juga yang jatuh lagi ke laut.

"ZENNN!" pekik Roen. Pemuda oranye itu terpukul mundur, tetapi tombaknya dengan sigap menangkis serangan si tentakel raksasa, kemudian melompat dan siap menyerang lagi.

Zen menarik busurnya. Jika ia ingin mempertahankan kapal, maka ia harus bertarung atau mereka akan mati tenggelam, atau ... yang lebih buruk lagi, ditelan hidup-hidup oleh Kraken.

Anak panah Zen melesat, tetapi tentakel gurita raksasa itu terlalu keras sehingga anak panah Zen malah mental dan jatuh ke laut.

"Awas!" Vyria menarik tangan Zen dan membawanya menjauh. Tak sampai satu detik setelah itu, salah satu tentakel Kraken menghantam tempat Zen berdiri hingga papan kayu yang menjadi pijakan itu hancur dan meninggalkan lubang yang cukup besar.

"HEI! Jauhkan tanganmu dari kakakku!" Xander ikut berteriak, tidak terima melihat Vyria yang menggenggam tangan Zen. Tentunya juga khawatir karena yang ia tahu, gadis rubah itu berpihak pada Azrael, musuhnya.

"Ya ampun! Yang Maha Dewi, tolong lindungi kami!" ucap Gain dengan wajah pucat. Lelaki itu berpegang erat pada pagar pembatas kapal, saking eratnya sampai buku-buku jarinya memutih. Bahkan urat tangannya terlihat menonjol.

Kapal miring lagi ke kiri, lalu ke kanan, tapi kemudian kapal mereka terangkat. Kraken itu melilitkan tentakelnya ke badan kapal dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Astaga! Mati aku! Mati aku!" Wajah Gain semakin pucat, kini ia bergelantungan di pagar pembatas, tubuhnya berayun mengikuti ke mana kapal dimiringkan.

"HUWAAAA!" Zen nyaris jatuh, untung Vyria langsung menahan tangannya, sedangkan tangan yang satunya berpegangan pada pagar pembatas di sisi lain Gain.

Roen menancapkan tombaknya ke geladak, menjadikannya pegangan agar tidak jatuh. "Kenapa dia menyerang kita? Bukankah Kraken adalah penjaga Kerajaan Marea?" tanyanya dengan alis mengernyit. "Seharusnya mereka mengenali lambang kapal kita."

Alwen terus menganalisis si raksasa, mulai dari pergerakan, bentuk tubuh, warna kulit, hingga raungan sang Kraken. Kraken bukan hanya monster laut, mahkluk itu merupakan penjaga Kerajaan Marea. Di sini mereka bukan hewan liar, mahkluk-makhluk itu telah dilatih agar mengenali mana musuh, mana kawan.

"Sepertinya kegelapan sudah mencemari laut, menyebabkan beberapa biota laut kehilangan kendali dan menjadi lebih agresif, salah satunya makhluk ini," ucap Alwen yakin dengan analisisnya.

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Xander, anak itu berpegangan pada salah satu tiang kapal.

"Kita harus melawannya, tapi jangan sampai membunuh. Biar bagaimanapun, sebenarnya makhluk ini bukan musuh," ucap Roen.

Dalam sekejap, Alwen langsung mendapat ide "Pangeran Zen, tolong arahkan anak panahmu ke mulutnya, saya akan mengalihkan perhatian untuk memudahkanmu."

"Hah? Panahku saja mental!"

"Bodoh! Panahmu mental karena mengenai tentakelnya yang keras! Sekarang kan langsung ke mulutnya!" umpat Nell yang berdiri tak jauh dari Vyria, alisnya mengerut kala ia juga mengepal erat pada pagar pembatas.

Alwen melompat ke salah satu tentakel, kemudian berlari di atasnya menuju kepala si Kraken. Mahkluk itu meraung ketika Alwen berlari di atas tubuhnya sambil menyeret pedang, berusaha menggores sedikit demi sedikit meski kulit raksasa itu sangat tebal dan keras.

Roen merosot sesaat setelah ia mencabut tombaknya, kemudian melompat dengan gesit ke depan, meraih apa saja yang sekiranya bisa dijadikan pegangan dan pijakan, ia menyusul Alwen dan ikut mengalihkan perhatian.

"Aku ikut!" Xander tersentak ketika Agie mengajukan diri. Berani sekali bocah satu ini maju dan menghadapi gurita raksasa seperti itu.

Lagi-lagi kapal bergerak tak beraturan, raksasa itu mengamuk ketika Alwen, Roen, dan Agie mengecohnya secara bersamaan.

"HUWAAAAA!!!" Xander bergegas ke sisi Gain ketika genggaman pria itu nyaris lepas saat kapal kembali berguncang.

"Terima kasih, Pangeran," ucap Gain, merasa lega sesaat karena tidak jatuh, yahh ... tapi masalah mereka dengan Kraken belum selesai.

"Pangeran Zen!" panggil Alwen. Namun, Pangeran satu ini tengah kebingungan, bagaimana caranya ia bisa memanah jika sebelah tangannya digenggam? Tapi jika genggaman Vyria dilepas, maka ia akan jatuh.

"Jangan gunakan anak panah biasa! Letakan permata Dewi Levera ke tengah busurmu dan gunakan sihir ilusi untuk membuat anak panahnya!" lanjut Alwen. Mulutnya berucap, tetapi kakinya terus melangkah dengan sempurna, melompat ke sana kemari tanpa terpeleset, tangannya mengayunkan pedang, menangkis dan menyerang balik setiap tentakel itu mendekatiknya.

Zen tampak gelagapan, ia masih kesusahan mengambil busur, tentunya ia tidak bisa memanah dengan sebelah tangan.

"Bersandar padaku!" Nell menghadapkan punggungnya ke Zen, sementara kedua tangannya masih berpegang erat.

Kini Zen bimbang, ia memang percaya pada Vyria meski gadis itu berada di pihak musuh, tapi Nell? Ia cukup ragu akan hal itu, tapi ia tak punya pilihan. Kakinya tak bisa menjaga keseimbangan sendirian saat memanah di kondisi seperti ini, Zen belum seprofesional itu.

Zen menoleh ke Vyria, menatap dengan alis berkerut, raut wajahnya menampakkan dengan jelas bahwa ia ragu. Meski begitu, ia memberanikan diri melepas genggaman Vyria.

"Jangan khawatir, aku akan memegangmu." Ucapan Vyria membuat Zen terpaku sejenak, kini jemari gadis itu melingkar di pinggangnya.

Zen menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuyarkan lamunan sesaatnya. Fokus, Zen! Fokus! Ini bukan waktunya main-main! Ia memantapkan diri, membiarkan Vyria menahan pinggangnya dan menerima punggung Nell sebagai sandaran agar tubuhnya tidak merosot.

Zen mengambil busurnya sebelum bersandar pada Nell, dilihatnya memang ada lubang kecil di tengah. Kemudian ia menarik permata yang menggantung di lehernya, lalu diletakan ke lubang tersebut dan ... ya, itu pas, ukurannya sesuai. Ia kira lubang di busur itu hanya model. Ternyata Alwen benar-benar mempersiapkannya, pria itu tahu bahwa suatu saat—tepatnya hari ini—lubang kecil itu akan berguna.

BUGH!

Zen baru hendak memfokuskan diri membuat anak panah dengan sihir ilusinya, tetapi fokusnya buyar ketika Agie terpental hingga terkapar di geladak. "Agie!" seru Zen dengan wajah khawatir.

Anak itu terengah-engah, berusaha bangkit dengan tubuh yang gemetar, baik tangan maupun kaki. Sekujur tubuhnya perih, lecet, akibat bergesekan dengan papan kayu di geladak. Tulang-tulangnya terasa linu setelah terhempas dari tempat yang lumayan tinggi. Bercak merah perlahan mengalir di pelipis, namun, ia tetap mengacungkan jempol, memberi tanda bahwa dirinya baik-baik saja.

Cepat Zen! Bukan hanya Agie yang harus dikhawatirkan, kita semua dalam bahaya! ucap Zen membantin. Ia kembali bersiap, membuang semua rasa ragu dan takutnya dalam embusan napas panjang. Ia memejamkan mata, lalu menarik tali busur sembari membayangkan anak panah dalam pikirannya. Zen menyalurkan sihir ke ujung jari tempatnya menarik tali busur, yang kemudian muncul seberkas cahaya di jemarinya, perlahan memanjang membentuk anak panah.

BUGH!

Kali ini Roen yang terhempas, tapi tidak sampai tersungkur. Ia menancapkan tombak ke geladak sebelum kakinya menapak, kemudian dipegang erat. Jemarinya kebas menahan tombak yang justru memukul mundur tuannya sendiri, karena saking kencangnya hembasan si tentakel. Dorongan tentakel Kraken itu terlalu kuat. Tubuhnya terdesak mundur, kakinya terasa panas ketika sepatunya bergesekan dengan geladak kapal. Geladak yang terbuat dari kayu itu terbelah ketika tombak Roen yang menancap juga ikut ke terseret.

Roen berhenti beberapa meter dari tempatnya mendarat, menyisakan goresan panjang bekas tombaknya. Ia tak mampu berdiri tegak, tubuhnya sedikit membungkuk, betis dan lengannya terasa nyeri setelah menahan pukulan si Gurita. Kemudian mendongak dengan bahu yang naik turun karena terengah-engah, melihat Alwen yang masih mampu bertarung.

Zen membuka mata, situasi semakin kacau, hanya tinggal Alwen yang bertahan. Zen terperangah melihat gaya bertarung Alwen yang begitu gesit dalam menghindari setiap tentakel yang hendak melilit atau memukulnya, wajah pria itu tetap tenang, hanya tangan dan kakinya yang bergerak cepat. Yang bertarung dari jarak dekat itu Alwen, tapi yang jantungnya berdebar-debar itu Zen. Apa lagi ketika Alwen malah sengaja berseluncur di tentakel besar itu menuju mulut si raksasa.

Kraken itu mengaum keras, mulutnya terbuka lebar menyambut Alwen yang mengajukan diri menjadi santapan. "TEMBAK SEKARANG!" teriak Alwen memberi aba-aba.

Zen memeriksa busur dan anak panahnya, masih sempurna, anak panah itu bersinar terang. Kemudian ia mengarahkan busur itu ke mulut si Gurita, jaraknya lumayan jauh karena gurita sangat besar dan tinggi, tapi tak ada waktu lagi, lagi pula Alwen telah membukakan jalan untuknya. Zen pun melepas anak panah dengan penuh harap tembakannya tidak meleset.

Anak panah Zen melesat membelah udara. Seolah bisa berpikir sendiri, anak panah itu membelokkan jalurnya, menghindari tentakel-tentakel yang menghalangi jalan. Sesaat sebelum anak panah itu tiba di mulut Kraken, Alwen melompat turun dan mendarat dengan gagah. Sementara anak panah Zen terus meluncur, masuk ke mulut Kraken.

Mulut gurita itu menutup ketika ada benda asing memasukinya, bukan santapan, itu anak panah Zen. Gurita itu terdiam sesaat sebelum kembali mengamuk, panah dari permata suci Dewi Levera memurnikan kegelapan yang memengaruhinya.

Makhluk itu meraung kesakitan selama proses pemurnian berlangsung. Kapal yang dililitnya terlepas dan jatuh ke laut, bersama dengan penumpangnya. Semua berteriak—kecuali Alwen, pria itu tetap dengan tampangnya yang biasa, tenang namun juga serius—Vyria tersentak sesaat, tapi kemudian gadis itu langsung memposisikan diri, seperti orang yang siap menceburkan diri ke kolam.

Meski begitu, ombak-ombak kecil yang seharusnya mudah dilewati terasa seperti ombak besar dan berat, ayunan tentakel yang tak beraturan membuat arah arus tak menentu dan sulit direnangi.

Zen menahan napas, pipinya menggembung menjaga sedikit oksigen yang berhasil diraup sebelum masuk ke air. Zen enggan membuka mata, tapi tidak mungkin ia terus memejam di situasi seperti ini. Mau tidak mau, ia membuka mata perlahan, melihat teman-temannya dalam kondisi yang sama, kesulitan bernapas. Berenang ke atas pun sulit, tentakel super besar itu masih mengamuk.

Takut, cemas, khawatir, semua perasaan itu memenuhi hati dan pikirannya, mengalahkan rasa perih di mata karena terkena air laut. Ayo pikir, Zen! Pikir! Jangan sampai kita mati konyol karena tenggelam! ucapnya dalam hati.

Oh! Mungkin itu bisa! Tiba-tiba ia terpikir sesuatu. Matanya kembali memejam dan tangannya meregang ke depan. Ia memenangkan diri, memfokuskan sihirnya di sekitar kepala, dan ... Plup! Sebuah gelembung mengelilingi kepalanya seperti helm. Hal yang serupa juga terjadi pada teman-temannya, Zen membuatkan gelembung untuk masing-masing orang, sekarang mereka bisa bernapas dalam air.

Zen memang tidak jago berenang, tapi nilainya saat praktik renang juga tidak terlalu buruk. Pelan-pelan Zen berenang menghampiri teman-temannya sebelum arus laut memisahkan mereka lebih jauh, tapi ....

WUSHHH!!!

Kraken itu tidak hanya mengamuk di permukaan, tubuhnya besar, sebagiannya mengamuk di dalam air. Tentakel besar itu menghantam tubuh Zen, membuatnya semakin jauh dari yang lain. Helm gelembungnya pecah, membuat Zen kembali kesulitan bernapas. Asin. Zen tidak mampu menahan napas lebih lama, air laut pun masuk ke mulut dan hidungnya. Pukulan tentakel barusan membuatnya kesulitan menjaga keseimbangan untuk berenang.

Tubuhnya reflek panik, semakin banyak air laut yang tertelan membuat dadanya sesak. Pandangannya kabur, tak bisa melihat jelas dalam air. Namun, samar-samar ia melihat sosok mendekat ke arahnya. Ia tak tahu apakah orang itu musuh atau hendak menolongnya. Di sisa kesadarannya yang semakin memudar, Zen tangannya mengulur meminta bantuan.

⿻⃕

#Chapter XLII

Haiiii!!! Berapa lama kita ga update? Maaf:))
Pukul aja pukul
Galau dikit males ngetik, galau dikit males lagi, emang pada dasarnya aja males

Makasih banyak untuk yang masih setia nunggu kelanjutan cerita ini! Love you! Untuk next nya aku ... a-aku.. usahain update lebih cepet

Ini sebenernya target tamat tu akhir tahun 2025, tapi ga kesampean
Mau nargetin akhir 2026 tamat tapi yakin ga yakin, ini baru setengah jalan ... ngga deng, udah ¾ jalan deh

Spoiler dikit❗
Tinggal 4 babak lagi, sampe ke Kerajaan Maret, lanjut ke Kerajaan Renever, lawan deh hiat ciat jiat, uda deh nyampe epilog

M-m-maw yang happy end, sad end, atau yang ngegantung?

Liat aja nanti yaw:3

Spoiler lagi ini tanganku gatel pengen revisi hubungannya Zen sama Xander

Oh iya, sebenernya aku udah buat peta dan logo kerajaannya, tapi belum sempet buat detail keterangannya, berikut petanya

Untuk logo kerajaannya bisa dilihat di akun tiktok (akiraaa.haru) ya, ada versi AU nya juga, tapi ya.. gitu deh, agak mandek:>

Oke cukup sekian! Dadah!
Panjang ey note nya:3

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top