⿻⃕⸵Chapter XI៚݈݇

Matahari mulai naik dan udara mulai terasa panas, tidak sesejuk tadi pagi. Setelah berehat, sarapan, dan sedikit pemanasan di Kediaman Earl, sekarang waktunya mereka melanjutkan perjalanan menuju Istana Kerajaan Luce.

Zen melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang agak cemberut. Kesal dengan oleh-oleh yang ia bawa, sebuah luka kecil akibaat goresan pedang saat melawan Earl Vienette.

Flashback

"Semoga beruntung." Roen meminjamkan pedangnya, membuat Zen langsung mengepal pedang itu di tangannya.

"Staminaku sudah sedikit berkurang, seharusnya itu dapat menguntungkanmu, Nak. Nah, ayo maju!" seru Vienette yang sudah siap dengan pertandingan kedua.

Zen meneguk ludah hingga terdengar bunyi 'gluk' sambil menatap pedang di tangannya, lalu beralih menatap lawannya. Beberapa saat kemudian dia menghela napas dan mulai memfokuskan pandangannya ke depan.

Tenang saja, Zen! Anggap kau sedang bermain perang-perangan seperti waktu kecil! ucapnya salam hati. Zen pun melangkah.

"HIAAAAA!!!" Zen berlari kecil dengan seruan kerasnya menuju Vienette, ia menghunuskan pedangnya ke depan.

Trang!

Brugh!

Vienette menangkis serangannya hingga pedangnya terlempar beberapa meter ke belakang, ia segera menjatuhkan Zen dan menyudutkannya. Ujung pedang Vienette berada tepat di depan hidung Zen, membuat jantung pemuda itu berdetak tidak karuan.

Perih. Ternyata pipi Zen tergores saat Vienette mengayunkan pedangnya. Setetes darah mulai mengalir membasshi pipi.

Vienette bangkit lebih dulu, kembali memasukan pedangnya ke tempatnya yang berada di pinggang kirinya, kemudian mengulurkan tangan dan membagi Zen berdiri.

"Permainan hebat, Zie," ucapnya menyindir sembari tertawa.

Zen menyeka darah di pipinya. "Terima kasih," kata Zen walau ia tau ucapan Vienette bukanlah pujian, melainkan hinaan.

Flashback End

Setelah kejadian itu Vienette tak henti-hentinya mengindir bahwa Zen sangat payah dan tidak pantas menjadi seorang Knight.

"Pfftt!" Roen tertawa kecil.

Zen meliriknya. "Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu?" tanyanya.

"Kau yang lucu, pfftt! Sudahlah jangan kebanyakan cemberut, gerbang istana ada di depan, setelah ini mandi dan bersiaplah, kau akan bertemu dengan orang spesial."

Zen hanya menurut. Jika katanya itu adalah istana, berarti seharusnya setelah ini ia akan hidup enak, bukan?

Tak sampai tengah hari mereka sudah sampai di Istana Luce. Halaman depannya sangat luas dengan bunga Aster yang menghiasi sisi kirinya dan bunga Dandelion di sisi kanannya. Terdapat sebuah kolam dengan patung Dewi Levera yang serang menuang air untuk mengisi kolam di tengah halaman, tepat beberapa meter di depan pintu utama.

Roen menepuk pelan bahu Zen yang tengah terkagum dengan pemandangan istana. "Kita sudah sampai, ayo turun," ucapnya.

Zen sedikit terkejut dengan tepukan di bahunya. Ia menoleh dan mendapati Roen yang tersenyum kepadanya, kemudian mengajaknya turun sekali lagi.

Salah satu Knight membukakan pintu kereta kuda yang mereka naiki, lalu Roen duluan dan Zen mengekor di belakang. Ia kembali terkagum melihat berapa indahnya Istana Luce. Tiang-tiang besar berlapis emas berdiri kokoh sebagai penyangga bangunan. Berlian-berlian kecil menempel di pintu.

Roen terkekeh melihat tingkah Zen. "Kau kenapa, Zen?"

"I-ini benar-benar istana? Aku akan tinggal di sini?" tanyanya masih terkejut dan tidak percaya dengan penjelasan Roen sepanjang perjalanan kemari. Roen sudah menjelaskan bahwa dirinya adalah Pangeran Kerajaan Luce yang hilang 6 tahun lalu.

Pernyataan itu membuat Zen girang. Akhirnya aku akan menjalani kehidupan seperti tokoh-tokoh dalam buku yang sering aku baca! Ini baru keren! ucapnya dalam hati. Mungkin ia lupa bahwa selain menikmati hidup, para tokoh utama juga biasanya harus menghadapi tantangan tertentu untuk mencapai happy end, bahkan beberapa cerita berakhir dengan bad ending.

"Tentu saja. Kau masih belum ingat? Ah, tapi tidak apa, aku yakin setelah beberapa hari, ingatanmu akan kembali. Sekarang bersiaplah."

Roen memanggil beberapa dayang istana untuk mendandani Zen, sedangkan Alwen pergi menggiring kudanya kembali ke kandang bersama dengan pak kusir yang mengendalikan kereta kuda tadi.

Dayang-dayang itu masih terlihat muda dan cantik, semuanya mengenakan pakaian yang seragam, yakni gaun panjang berwana coklat dengan renda emas di pinggirnya dan sepatu pantopel sebagai alas kaki.

"Mari lewat sini, Tuan," ucap salah satu dayang itu ramah. Mereka belum diberitahu bahwa Zen adalah pangeran, mereka mehira Zen adalah tamu istimewa yang dibawa Roen untuk menemui sang raja.

Zen melirik Roen, matanya seolah bertanya apa dirinya harus ikut para wanita itu? Roen tersenyum simpul memberi jawaban, "Ikutlah dengan mereka. Aku akan menemuimu lagi nanti, ada sesuatu yang harus kuurus."

Lagi-lagi Zen hanya menurut. Mungkin setelah ini ia akan diberikan harta kerajaan karena ia adalah anak raja, kan?

Tidak, bukan itu. Beberapa dayang mengantar Zen ke kamar mandi, beberapanya lagi menyiapkan pakaian ganti. Lagi-lagi Zen dibuat kagum dengan kemegahan Istana Luce, padahal ini hanya kamar mandi. Kamar mandi yang begitu luas dengan kolam air hangat, sabun serta sampo yang wangi, yang terbuat dari bunga.

"Mari, Tuan, saya lepaskan," ucap salah satu dayang menghampiri Zen dan hendak melepas pakaiannya.

"H-AH?!" Zen berteriak kaget. "T-tidak usah! Aku bisa membukanya sendiri." Ayolah, ia sudah besar dan bisa mandi sendiri.

"Baiklah jika itu yang Anda inginkan," sahut pelayan itu ramah.

Mereka sama-sama terdiam beberapa saat. Dayang itu menunggu Zen membuka baju, sedangkan Zen menunggu para dayang itu pergi meninggalkannya. Mana mungkin ia melepas pakaiannya di depan perempuan?!

"Ada apa, Tuan? Apa Anda butuh bantuan?"

"Anu, maaf ... apa kalian tidak akan keluar? Kalian tidak mungkin melihatku mandi, kan?" ucap Zen.

"Eh? Apa Anda tidak ingin saya menggosok punggung Anda? Itu pasti akan sangat nyaman," sahut dayang.

"T-tidak usah, aku biasa mandi sendiri."

"Ah, baiklah. Kalau begitu kami permisi. Jika Anda butuh sesuatu, panggil saja, kami akan menunggu diluar."

"Terima kasih."

Dayang itu tersenyum ramah, kemudian mengajak yang lainnya keluar dari kamar mandi dan membiarkan Zen menikmati mandi yang menyegarkan. Ditemani kelopak bunga nawar yang mengambng di kolam.

⿻⃕⸙͎

Alwen baru saja menggiring kudanya ke kandang. Saat ini ia berjalan di lorong, hendak menemui raja dan memberi laporan atas pekerjaan selama di Kota Ardville. Ia ditugaskan untuk menyelidiki para Alchemist yang menjual potion palsu dengan harga tinggi yang telah banyak merugikan banyak orang. Urusan itu sudah selesai, para pengedar dan bandar potion palsu itu sudah ditangkap dan sedang menjalani hukuman.

Alwen menghentikan langkahnya begitu melihat seseorang berhenti di hadapannya. Itu Roen, ia bersandar di tembok sembari melipat tangan di dada. Kemudian melirik Alwen. "Kepulangannya akan menjadi berita besar bagi lima Kerajaan Cahaya," ucapnya.

"Ada apa Anda menemui saya? Apa ada yang ingin dibicarakan?" tanya Alwen to the point.

Roen tertawa kecil, kemudian berjalan pelan menghampiri Alwen-tidak bersandar pada tembok lagi-ia berhenti tepat di hadapan Alwen, kira-kira hidung mereka hanya berjarak 30 cm. Kedua belah pihak saling menatap satu sama lain.

Roen masih menyunggingkan senyum. "Anda ini memang tidak suka basa-basi, ya."

Keduanya masih diam di tempat. "Zen bilang, Anda sangat terkejut saat melihatnya, bahkan sebelum dia menyebutkan namanya." Roen menjeda sejenak ucapannya. "Anda sudah tahu, kan, kalau Zen itu pangeran yang asli. Dan Anda juga memiliki sesuatu yang Anda sembunyikan dari raja. Penciuman anjingku bisa mengendus itu semua, Tuan Alwen. Aku harap tidak ada pengkhianat di sini."

"Kesetiaan saya akan selalu pada Kerajaan Luce. Tapi maaf, untuk hal tertentu saya tidak bisa memberitahukannya sekarang. Mungkin ... jika waktunya sudah tiba, kaliaan akan tahu sendiri." Wajahnya masih santai seperti biasa.

Sedangkan raut wajah Roen tampak kesal. Ia tahu Alwen memang sangat setia pada kerajaan ini, tapi tetap saja rahasia yang disembunyikannya patut dicurigai kalau-kalau suatu saat Alwen berkhianat.

"Baiklah. Kalau begitu sampai bertemu di aula." Roen berbalik dan pergi, tapi ia menghentikan kakinya setelah beberapa langkah. "Aku akan mengawasimu," ucapnya tanpa berbalik menatap Alwen, kemudian melanjutkan langkahnya.

⿻⃕⸙͎

Zen sudah selesai mandi, sekarang ia mengenakan pakaian kerajaan ala Eropa abadi pertengahan dengan gaya rambut Classic Slick Back. Keren! Itu yang dipikirkannya.

"Apa begini rasanya cosplay?" ucapnya sembari menatap diri di cermin besar di hadapannya.

"Apa maksud Anda, Tuan?" Dayang yang sedang merapikan rambutnya terkekeh, agak tidak mengerti dengan yang dikatakan Zen barusan.

"Ah, tidak, bukan apa-apa." Zen ikut terkekeh, merasa dirinya menjadi semakin tampan walaupun sebenarnya ia merasa kurang nyaman dengan pakaian ini, mungkin karena ia tidak terbiasa dan lebih sering mengenakan kaos atau kemeja dengan setelan celana jeans atau kolor.

Kriet

"Zen, apa kau sudah siap?" Roen membuka pintu.

"Sebentar lagi, Tuan," sahut Dayang yang sedang mengikatkan tali sepatu yang dikenakan Zen.

Seusai berdandan, Roen mengajak Zen ke aula utama untuk menemui raja dan ratu. Roen masuk lebih dulu, sementara Zen menunggu aba-aba Roen di depan pintu.

"Kehormatan terbesar saya haturkan kepada Yang Mulia Surya Kerajaan Lucee. Semoga keberkahan selalu menyertai Anda." Roen membungkuk hormat kepada raja dan ratu yang tengah duduk di singgasananya.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Raja Alverd to the point.

"Sayang sekali, Yang Mulia ...." Roen memasang ekspresi sedih nan kecewa. Melihat reaksi Roen, Raja dan Ratu pun turut sedih mendengarnya. "Sayang sekali Anda tidak akan menyesali ini, Yang Mulia!" sambung Roen berseri.

"Apa maksudmu, Roen?" Kali ini Ratu yang bertanya.

Roen tersenyum, kemudian menyerukan, "Zen, ayo masuk!"

Raja dan Ratu sama-sama terkejut mendengar Roen baru saja memanggil putranya, putranya yang selama ini hilang entah ke mana

Tap ... tap ...

Zen membuka pintu perlahan dan mulai melangkahkan kaki memasuki aula.

"Zen ...," lirih sang bunda-Ratu Emilly.

Zen, Raja Alverd, dan Ratu Emilly, ketiganya sama-sama membelalakan mata, saling terkejut melihat satu sama lain.

"Zen! Oh, Zen ... ke mana saja kau selama ini? Apa kau tidak merindukanku" Ratu Emilly bangkit dari singgasananya dan berlari kecil menghampiri putranya.

"Ibu ... Ayah ...." Zen berucap pelan. Air matanya perlahan menetes membasahi pipi.

"Roen, apa ini ... benarkah yang kulihat ini?" Raja hampir tak percaya, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba, yakni hari kepulangan putra pertamanya yang sudah lama hilang.

Roen masih melebarkan senyum. "Kejutan untuk Anda, Yang Mulia."

Raja menyusul istrinya, ia meninggalkan singgasananya dan turut memeluk Zen. Suasana harus mengisi Kerajaan Luce hari ini. Malam ini juga Raja akan mengadakan pesta kepulangan sang pangeran.

"Ayah ... Ibu ...," lirih Zen. Ia sangat merindukan orang tuanya. Di dunianya, ayah dan ibunya bercerai, dan ia tinggal bersama bibinya. Sudah lama mereka tidak bertemu. "Aku ... merindukan kalian ...."

"Kami juga merindukanmu, Sayang," balas sang ibunda sembari mengelus lembut rambut putranya.

"Syukurlah kau kembali, kukira kami akan kehilanganmu selamanya ...," ucap Raja Alverd.

Namun, tiba-tiba kepala Zen terasa sakit, seperti ada sesuatu yang sedang mencoba memasuki pikirannya, pandangannya berkunang-kunang dan kakinya melemas. Ia pun jatuh pingsan di pelukan orang tuanya.

⿻⃕⸙͎

#Chapter XI

Note
Hai! Halo! Gimana kabarnya?
Typo? Pasti:)
Ayo! Ayo! Sebentar lagi sampai ke pertengahan cerita!

Semoga ceritanya menghibur
Jangan lupa voment nya:)

See you!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top