[Prolog]


"Tolong aku," rintihnya. Wajahnya kacau, penuh air mata dan ujung hidungnya memerah. Belum lagi sorot matanya begitu memohon agar diselamatkan dari hal-hal yang tak aku mengerti. Dan lagi kenapa aku menatapnya tanpa enggan mengalihkan pandangan ke mana pun? Apa karena wajah gadis di depanku yang sangat mengganggu?

"Kumohon," lanjutnya sembari memaksa agar kami saling menggenggam. Herannya aku tak bisa menepis hal itu dengan mudah. Bahkan dia tak sungkan untuk bersimpuh di depanku. Sorot mata sehijau zamrud itu terus menatapku dengan mata berkaca-kaca. Air matanya terus menetes tanpa ada keinginan untuk dihentikan.

"Adikku... " Ia mengusap ujung matanya. "Tolong jaga adikku dan lindungi dia."

"Urusannya denganku apa?" Sungguh aku tak memahami arah bicaranya. Aku ingin menenangkan tangisnya tapi entah kenapa aku merasa kami hanya memiliki waktu perjumpaan yang teramat singkat. Dan hanya di momen ini perjumpaan kami berlangsung serta akan berlangsung singkat.

"Hanya kau yang bisa membantuku, Nyonya Paula. Tolong, hanya itu pintaku."

"Dari mana dia tahu namaku?" Kerutan di keningku bertambah banyak. "Dari mana kau tahu namaku?" Aku memintanya untuk bangun meski dia sedikit menolak, tapi akhirnya dia berdiri di depanku. Sesekali ia mengusap sudut matanya yang masih basah karena air mata. Tangan yang lainnya dipergunakan untuk menggenggam tanganku. Sebelumnya tak ada yang menggenggam tanganku seerat ini seolah akulah pegangan satu-satunya yang bisa diharapkan.

"Apa yang akan kamu lakukan jika diberi kesempatan kedua—bukan hanya untuk hidup, tapi untuk balas dendam?"

"Aku sungguh tak mengerti apa maksud ucapanmu. Dan siapa kau?" tanyaku dengan nada mendesak. Genggaman tangan yang semula ingin aku tepis justru dipererat olehnya.

"Aku sudah tak ingin hidup. Tapi keinginanmu untuk meninggalkan dunia, tak sebesar aku, Nyonya Paula. Masih ada hal-hal yang perlu kau tuntaskan termasuk rasa sakit hatimu, kan?"

Ucapan itu mengingatkanku pada satu ingatan yang sangat menyesakkan, yang belum lama terjadi dalam hidupku. Dan karena itu juga, aku merasa nyeri di dada.

"Aku yakin Anda tak akan menyesali pilihan kali ini, Nyonya Paula."

Aku diam saja. Mataku terus menatap gadis yang kecantikannya bisa membuat orang sekitar merasa rendah diri. Sungguh, jika Aphrodite turun ke dunia, dialah jelmaannya. Namun dia kembali tenggelam dalam tangisnya.

"Tolonglah aku." Ia terisak lagi. "Aku hanya meminta hal itu padamu. Bisa, kan?"

Aku menghela panjang. "Baiklah," Aku menyerah. "Hanya menjaga dan melindungi adikmu saja, kan?"

"Terima kasih!" Dia langsung memelukku erat. "Kau adalah orang yang lembut dan baik hati. Kuharap kesempatan kedua di kehidupan ini, kau temukan arti ketulusan yang sebenarnya. Dan kau bisa melenyapkan dendam yang ada di hatiku. Sekali lagi, terima kasih." Gadis berambut perak itu melepaskan pelukannya. "Gunakan aku sebaik mungkin. Aku yakin, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan. Dan tolong, jangan ingkari janjimu."

Aku tak tahu harus merespons apa.

"Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Paula Whitney."

Dia belum menjawab pertanyaanku, dari mana dia mengenalku? Apa kami pernah bertemu? Sepanjang ingatanku mengenai seluruh hidupku selama 32th belakangan, aku belum pernah bertemu dengan ... tunggu, bukankah wajah gadis itu sedikit familier?

Dia yang selalu dibicarakan Ruby—keponakanku, seorang penyanyi yang tengah viral karena lagu serta visualnya yang cantik. "Tunggu dulu." Aku berusaha mengejarnya. Setelah dia melepas pelukannya, gadis itu meninggalkanku begitu saja. "Hei! Tunggu sebentar!"

Gadis itu hanya menoleh sembari tersenyum lebar. Tak ada lagi tangis di wajah cantiknya itu. Serta ia melambai dengan penuh semangat. "Selamat tinggal, Nyonya Paula."

Lalu... Semua gelap.

Satu-satunya yang aku rasakan saat perlahan membuka mata, kesakitan yang luar biasa menyerang kaki. Pening di kepalaku benar-benar tak tertahankan. Seperti aku baru saja terbentur sebuah benda yang besar. Hal yang kemudian terlintas dalam sekelebatan adalah bunyi benturan yang sangat keras. Ah, mungkin saja karena itulah aku pusing sekali. Tapi ... apa yang sebenarnya terjadi?

Begitu aku membuka mata dengan sempurna, seseorang memelukku sangat erat. Serta terisak hebat dengan berkali-kali mengucapkan nama yang asing bagiku. Belum lagi aroma yang menusuk hidungku dengan kuat—aroma antiseptic khas rumah sakit. Seingatku, aku berada di ... mobil.

Benar. Aku ada di dalam mobilku yang ... lepas kendali.

"Vanesa ... Kau sudah sadar? Vanesa ... Bisa dengar aku?"

"Vanesa!!! Kau sadar juga? Apa yang sakit? Apa kau merasa sangat pusing? Aku panggilkan dokter, Vanesa. Kumohon ... Jangan pergi lagi."

"Panggil dokter. Cepat! Vanesa sudah sadar."

Siapa Vanesa? Kenapa mereka semua heboh sekali? Sejak kapan aku memiliki saudari yang mengkhawatirkanku? Dan kenapa aku berada di ranjang rumah sakit? Apa yang sebenarnya aku alami?

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top