[2]
Suara bising perlahan merayap masuk ke dalam kesadaranku. Aku merasa berat, seolah tubuhku ditarik kembali ke dasar jurang setiap kali aku mencoba membuka mata. Namun akhirnya, setelah beberapa kali mencoba, aku berhasil walau nyeri di dadaku masih sangat terasa.
Ruangan itu terang, terlalu terang, hingga mataku perih karenanya. Di sekelilingku, ada beberapa orang berdiri—dokter dengan jas putih, perawat dengan seragam rapi, dan dua orang lain yang wajahnya tak aku kenal.
"Apa ... di mana aku?" gumamku, suaraku serak dan lemah.
Seorang pria dengan stetoskop di lehernya mendekat. "Tenang, Nona Vanesa. Anda baik-baik saja sekarang."
Nama itu membuatku mengernyit. "Vanesa?" tanyaku lirih mencoba duduk meski kepalaku terasa berat. Salah satu yang berdiri tak jauh dariku, menahan agar aku tak banyak bergerak.
"Kau masih belum pulih, Vanesa. Bersabarlah," katanya dengan senyum lembut.
Ugh! Siapa dia? Kenapa memanggilku Vanesa?
Dokter itu tersenyum lembut, lalu berbicara dengan suara penuh pengertian. "Kami sempat kehilangan Anda, Nona Vanesa. Ketika Anda dibawa ke sini, tubuh Anda dalam kondisi kritis setelah kecelakaan hebat. Jantung Anda berhenti selama beberapa menit dan kami telah mempersiapkan pernyataan kematian Anda."
Aku tertegun, tak sepenuhnya memahami apa yang baru saja ia katakan. "Tunggu. Apa maksud Anda ... kehilangan? Dan pernyataan kematianku?"
Dokter itu menatapku dengan serius. "Anda sempat dinyatakan meninggal secara klinis. Secara medis, kondisi ini dikenal sebagai death by cardiac arrest—jantung berhenti berdetak, sehingga suplai darah ke otak dan organ vital terhenti. Kami telah melakukan tindakan resusitasi selama lima belas menit tanpa hasil. Luka-luka di sekujur tubuh Anda juga cukup mengkhawatirkan walau sekarang bisa dikatakan, Anda berhasil melewati masa kritis. Tepat saat kami akan menghentikan usaha, tiba-tiba jantung Anda kembali berdetak."
"Jantungku ... kembali berdetak? Apa itu artinya sempat terhenti?" ulangku, seperti tak percaya.
Dokter itu mengangguk. "Ini adalah kejadian yang sangat langka, sering disebut sebagai fenomena Lazarus dalam dunia medis. Biasanya, pasien yang mengalami ini akan memiliki kerusakan otak karena kurangnya oksigen. Namun Anda pulih dengan cepat, meskipun tampaknya ada beberapa efek samping, seperti kehilangan ingatan sementara. Itu hal yang normal."
Aku menelan ludah, mencoba memahami situasinya. "Kehilangan ingatan?"
"Benar," sahut dokter sembari membenahi kacamatanya. "Pelan-pelan, saya yakin Anda akan mengingatnya kembali. Kehilangan ingatan ini bukan dalam kasus permanen."
"Tapi aku tahu siapa aku," bantahku segera. Aku tak mungkin lupa siapa diriku. Bahkan kenangan menyakitkan sebelum aku berakhir di sini masih kuat di ingatanku. Suami yang kucintai berselingkuh dengan seorang wanita, memiliki seorang anak yang tampan, aku dihadiahi surat perceraian di mana ibu mertuaku mendukung apa yang putranya lakukan. Meski tak ingin mengingat hal ini, tapi itu adalah satu dari sekian banyak ingatan yang melekat padaku dengan kuat. "Aku Paula Whitney. Apa yang Anda bicarakan?"
Dokter mengerutkan alisnya, lalu bertukar pandang dengan seorang wanita berambut pendek yang berdiri di dekatku. Wanita itu menghela panjang tapi sembari mengangguk seolah paham apa yang dokter katakan. Lalu ia mendekat padaku, wajahnya penuh kekhawatiran saat kami saling bertatapan.
"Vanesa, kau tidak ingat aku?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
Aku menggeleng pelan, merasa semakin bingung. "Aku tidak tahu siapa kau. Dan ... kenapa kalian terus memanggilku Vanesa? Siapa itu Vanesa?"
Wanita itu menarik napas panjang sebelum menjawab. "Aku Jihan, asisten pribadimu. Aku sudah bekerja denganmu selama tiga tahun terakhir. Kau adalah Vanesa Khiel, penyanyi terkenal."
Mataku membesar. Penyanyi? Vanesa Khiel? Itu tidak masuk akal. Aku bahkan tidak bisa menyanyikan satu nada pun tanpa terdengar seperti kaleng berkarat. Dan ... apa mereka semua berhalusinasi?
"Aku tidak tahu siapa kau. Dan aku bukan Vanesa!" seruku dengan napas sedikit tersengal.
Pria lain yang berdiri di sudut ruangan, seorang dengan tubuh tinggi dan kacamata tipis, mendekat. "Vanesa, tenang. Ini aku, Rio. Kau tahu aku, kan? Aku managermu. Aku sangat khawatir ketika mendengar tentang kecelakaanmu. Tapi lihat, kau di sini sekarang. Itu yang paling penting."
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, rasa bingung bercampur marah. "Berhenti memanggilku Vanesa! Aku bukan dia! Aku Paula Whitney! Suamiku—" Aku berhenti, menggigit bibirku. "Suamiku... Orlando ... di mana dia?"
Semua orang di ruangan itu bertukar pandang, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Dokter menepuk bahuku dengan lembut. "Nona Vanesa, kehilangan ingatan dapat menyebabkan kebingungan seperti ini. Kami akan terus memantau kondisi Anda, tetapi untuk sekarang, sebaiknya Anda beristirahat dan tidak terlalu memaksakan diri."
Aku ingin berteriak. Aku tahu siapa aku, aku juga tahu apa yang terjadi padaku. Orlando membuat hatiku patah dan hancur berkeping-keping, Jeany datang merebut kebahagiaan yang aku miliki. Namun sekarang, mereka ingin aku percaya bahwa aku adalah orang lain? Itu tidak masuk akal.
Wanita bernama Jihan mendekat lagi, menyentuh tanganku. "Vanesa, kami ada di sini untukmu. Jangan khawatir. Kami akan membantumu mengingat semuanya."
Aku menatap mereka satu per satu. Dokter, perawat, Jihan, dan Rio. Semuanya tampak tulus, tetapi aku tidak bisa menerima apa yang mereka katakan. Siapa yang sebenarnya salah di sini? Aku atau dunia ini?
Karena ucapan mereka, entah dari mana pemikiran ini berasal, aku ingin sekali melihat diriku di cermin. Hanya untuk memastikan ketakutanku tak terjadi.
"Aku ingin ke toilet," satu-satunya benda yang aku inginkan ada di sana. "Bisakah Anda membantuku?" pintaku dengan sopan pada gadis bernama Jihan. Gadis itu dengan senang hati mendekat dan membantuku turun dari ranjang. Sesekali ia mengingatkan agar aku memperhatikan langkahku. Hingga kami tiba di toilet dan aku dihadapkan dengan sebuah cermin. cermin yang tak mungkin membohongi penglihatan seseorang yang memiliki ingatan tak rusak sepertiku.
Cermin yang ...
"Sialan, kau!" Aku menyentuh berkali-kali wajahku, rambutku, serta sekujur tubuhku yang terasa hangat. Sama persis seperti apa yang terlihat di cermin. Kupastikan mata ini tak salah melihat siapa bayangan di cermin. rambutku tampak lurus dengan warna keperakan. Wajahku terlihat sangat berbeda walau terlihat agak pucat.
Aku mengenal wajah ini. Wajah yang aku temui sebelum aku menemukan kegelapan yang sangat pekat. Wajah yang memohon sembari menangis tapi kecantikannya aku puji di dalam hati. "Kau hanya meminta aku menjaga dan melindungi adikmu. Bukan seperti ini akhirnya, kan?"
Aku ... Paula Whitney, di tubuh Vanesa Khiel. Lantas tubuhku ada di mana?
"Apa yang kau katakan, Vanesa?" tanya gadis yang sejak tadi ada di sampingku. Dia memberiku tatapan heran serta bingung. "Kau baik-baik saja?"
Jantungku berdebar keras. Ingatanku tumpang tindih terutama sekelebatan mengenai pembicaraan yang pernah terjadi antara aku dan Vanesa.
"Jihan," Aku memanggilnya dengan susah payah.
"Ada apa, Vanesa? Kau terlihat tak baik-baik saja. kita harus kembali ke ranjangmu. Kau jangan terlalu banyak bergerak," katanya sembari memapahku. Jika bukan karena tindakannya, mungkin aku sudah jatuh pingsan.
"Apa ... aku memiliki seorang adik?"
Jihan menatapku dengan binar senang. "Ya! Kau memilikinya. Namanya Adam. Kau ingin bertemu dengannya?"
Ugh! Sialan, Vanesa! Kenapa dia melakukan ini padaku?
"Gunakan aku sebaik mungkin. Aku yakin, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan. Dan tolong, jangan ingkari janjimu. Jaga adikku."
****
gimana? seru tidak?
kalau seru tinggalkan komentarnya yaaa
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top