Part 4
"Berpikirlah dulu sebelum mengambil keputusan, karena bisa saja keputusan yang kau ambil itu akan membawamu ke dalam malapetaka!"
Lery meletakkan ponsel Jhon di atas nakas. Kemudian duduk di depan kedua orangtuanya sambil meminta penjelasan.
"Sekarang bisa Ayah jelaskan tentang Rindy?" tanya Lery sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Jhon sempat berpikir sebentar lalu mengangguk.
"Rindy memang bukan anak kandung kami, Sayang," jeda sesaat, "Rindy anak sahabat Ayah dan Ibu," sambung Jhon.
Jhon berdeham sebentar lalu menceritakan rahasia itu kepada Lery.
"Dulu, ketika usiamu masih 6 bulan, kedua orangtua Rindy mengalami kecelakaan. Pada saat itu usia Rindy baru menginjak 6 tahun. Hanya Rindy yang selamat dalam kecelakaan itu. Tubuhnya penuh dengan luka dan dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Jadi kami memutuskan untuk mengangkat dia sebagai anak," jelas Jhon pada Lery yang mendengarnya dengan serius.
"Apa Rindy tahu soal ini, Ayah?" tanya Lery lagi dengan penasaran.
"Tidak, Sayang." Clara menjawab sambil mengelus kepala Lery dengan lembut.
"Rindy mengalami amnesia, bahkan dia tidak tahu siapa nama aslinya. Kami yang memberi nama padanya. Ketika dia sadar dari koma, dia mengira kami adalah orangtuanya, kami tidak tega mengatakan bahwa orangtua kandungnya sudah tewas saat itu juga," sambung Clara.
"Pantas saja sifat Rindy sedikit berbeda dari kita, dan tidak ada kemiripan sama sekali denganku," ucap Lery tiba-tiba menghela napas beratnya.
"Iya, Nak, kalian memang tidak ada kemiripan dari segi wajah maupun sifat," desah Clara dengan pelan.
Jhon menyentuh bahu Lery, lalu meremasnya dengan pelan.
"Seharusnya kau tidak menerima tawaran itu, Lery!" ucap Jhon sambil menggeram pelan. Wajah lelaki paruh baya itu mengeras menahan amarahnya.
"Kau tidak tahu orang yang akan menjadi suamimu nanti seperti apa, aku sangat khawatir padamu," sambungnya.
"Aku tidak ada pilihan, Ayah. Dia mengancam aku dan membawa-bawa ibu yang sedang sakit," desis Lery membuat Jhon terdiam sejenak.
"Dia mengancam kalau kita akan menjadi gelandangan, Ayah. Kau pikir aku bisa apa? Kalau kita menjadi gelandangan, kita tidak akan mempunyai uang untuk membeli obat untuk ibu!" pekik Lery membuat Jhon tidak bisa berkutik.
"Tapi tidak harus menerima tawaran itu, Nak," ucap Clara dengan lembut, "aku tidak perlu berobat lagi, aku sudah merasa lebih baik sekarang," sambung Clara.
"Dia itu playboy, Sayang. Aku khawatir kalau nanti kau akan dipermainkan olehnya." Clara tampak sedih dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak tahu lagi, Bu. Aku tidak ingin kau kenapa-napa, jadi aku terima saja," ucap Lery sembari menyelipkan rambutnya ke balik telinga.
"Kau bahkan belum mengenalnya," desis Jhon membuat Lery terdiam. Dia mendekat pada sang ibu, lalu memeluk ibunya.
"Tapi aku sudah terlanjur menerimanya, apa bisa aku menolak lagi? Kita bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, Bu, Ayah." Lery menghela napasnya pelan.
"Apa kau yakin menikah dengan lelaki seperti dia? Kau bahkan belum mengenalnt, Nak. Kenapa kau mengambil keputusan secepat itu?" tanya Jhon membuat Lery terdiam.
"Kenapa kau bisa seyakin itu? Dia itu pria yang kejam dan tidak mempunyai belas kasihan, Nak! Kenapa?" tanya Jhon lagi.
"Aku tidak tahu, Ayah. Aku berharap nanti semuanya akan baik-baik saja." Lery menggigit bibirnya dengan pelan, tidak tahu apa yang telah dia lakukan.
Jhon dan Clara hanya mengangguk meski mereka tidak yakin dan tidak bisa percaya pada lelaki arogan itu.
Setelah itu, Lery meninggalkan mereka berdua, kembali ke kamarnya dengan banyak pikiran-pikiran yang membuat kepalanya sakit.
Dia memikirkan pasti banyak kejadian yang terjadi hari esok atau seterusnya.
Apa pun itu, Lery pasti bisa melewati semua itu. Pasti!
Lelah berpikir, akhirnya Lery memutuskan untuk tidur.
***
Lery bangun dengan matanya yang membengkak. Diliriknya jam yang ternyata sudah menunjukan pukul 09.12 am.
Berapa jam aku tidur? Ya ampun, aku bahkan belum mengganti pakaianku. Aku masih memakai baju yang kemarin.
Lery bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Dia berdiri di depan cermin dan menatap orang yang ada di dalam sana. Seorang gadis dengan wajah kusut, mata sembab, dan ada lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya.
Dia melepas semua pakaiannya dan langsung membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Lery tidak ingin berlama-lama di kamar mandi.
Selesai mandi, Lery mengenakan baju t-shirt yang kebesaran, menenggelamkan tubuhnya yang mungil sampai ke paha dan hanya menggunakan celana pendek saja.
Dia tak berniat keluar kamar hari ini.
Lery berjalan menuju balkon kamarnya. Dilihatnya ke bawah ada beberapa mobil diparkir di halaman rumahnya. Mobil yang tidak dia kenal milik siapa.
Ada apa? Siapa yang bertamu sepagi ini?
Lery masih terus melihat ke arah mobil itu sampai seseorang menyentuh bahunya.
Lery langsung membalikkan badannya.
"Bu?" suaranya lirih.
"Kau tidak ingin ke bawah? Di bawah—orang yang ingin menikah denganmu—ingin bertemu denganmu. Dia ingin melamarmu, dia ingin kalian menikah seminggu lagi," ucap Clara, "apa kau menerima lamaran itu?" sambung Clara, Lery tampak bimbang lalu dia mengangguk.
"Bu, bisa tidak aku meminta satu permintaan?"
"Apa itu, Sayang? Katakan saja." Clara meraih tangan Lery, lalu menggenggam tangan putrinya itu.
"Aku belum ingin bertemu dengannya, Bu, aku ingin bertemu saat di pernikahan kami nanti...." ucap Lery memohon. Kedengaran lucu memang, calon istri tidak ingin bertemu calon suaminya sendiri.
"Baiklah, aku akan memberi tahu dia." Clara meninggalkan Lery sendiri.
Lery kembali termenung.
Seminggu lagi? Kenapa begitu terburu-buru? Apa ini tidak terlalu cepat?
Seminggu lagi statusku akan berubah?
"Bagaimana?" tanya Jhon kepada istrinya yang baru keluar dari kamar Lery.
Clara hanya menggeleng lemah.
Mereka menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Di sana lelaki itu masih setia menunggu.
"Bagaimana?" tanya lelaki itu dengan tidak sabaran.
"Lery hanya mengangguk, tapi sebaiknya, kamu melamar dia secara langsung, meski dia tidak ingin bertemu denganmu," ucap Clara membuat lelaki itu mendengus kesal.
"Baiklah. Kamarnya yang mana?" tanya Mr. Clinton dengar ketus.
"Kamar yang di depan tangga," jawab Clara, sementara Jhon, lelaki itu menatap Mr. Clinton dengan tatapan tidak sukanya.
Lalu lelaki itu bangkit berdiri dan melangkah menaiki tangga. Setelah sampai di lantai dua, dia mengetuk pintu itu dengan kuat.
Tok, tok, tok....
Lery yang mendengar ketukan pintu itu langsung berlari menuju pintu. Saat dia hendak membuka pintu, Lery berpikir sejenak. Tidak mungkin orangtuanya.
"Siapa?" tanya Lery sedikit meninggikan suaranya.
"Ini aku, calon suamimu, Lery." Kontan saja Lery mengunci pintu kamarnya dan matanya terbelalak.
"Ada apa, Tuan?" tanya Lery daridalam kamarnya.
"Aku dengar, kau tak ingin bertemu denganku, heh?"
"Benar sekali, Tuan. Aku belum siap," ucap Lery melemah, "aku belum siap bertemu dengan pria tua sepertimu!" sambung Lery membuat lelaki itu mengerang pelan.
"Terserah kau saja, Nona. Jadi, apa kau menerima lamaranku?" tanya lelaki itu.
Lery berpikir sejenak, "memangnya aku bisa menolak?" tanya Lery dan dia bisa mendengar lelaki itu tertawa mengejek padanya.
"Tentu saja tidak. Kalau pun kau menolak, aku akan memaksamu," ucap lelaki itu lalu pergi dari depan kamar Lery.
"Terserah kau saja!" jerit Lery tapi tidak mendapat jawaban.
"Mungkin dia sudah pergi. Baguslah..." desah Lery lalu dia kembali berdiri di depan jendela kamarnya.
***
Mr. Clinton kembali duduk di ruang tamu, dia menyesap minumannya yang disediakan oleh tuan rumah.
"Aku sudah melamarnya secara langsung meski tak bertatap muka dengannya," ucapnya tanpa basa-basi.
"Apa seminggu tidak terlalu cepat? Bukankah seharusnya kalian melakukan pendekatan dulu?" tanya Jhon membuat lelaki itu menatap Jhon dengan tajam.
"Kami bisa saling mengenal saat sudah menikah. Aku akan menyiapkan semua, kalian tidak perlu memikirkan apa pun. Kalian hanya perlu menyiapkan dan menjaga calon istriku baik-baik," ucap Mr. Clinton dengan pelan dan mulai jengah.
"Tidak bisa seperti itu!" bantah Jhon menambah kejengahan lelaki yang duduk dihadapannya itu.
"Lalu bagaimana, hah? Apa kau berniat menyiapkan semuanya?" Jhon diam sejenak.
"Aku tidak ingin kalian menikah secepat itu! Kau kan lelaki tidak bertanggung jawab. Lelaki sepertimu tiba-tiba menikah? Apa sebenarnya alasanmu ingin menikahi putriku, hah?" tanya Jhon masih bersikeras dengan penolakannya.
"Karena aku menyukainya! Aku menyukainya sejak saat pertama aku bertemu dengannya," jawab lelaki itu tak terbantahkan.
"Apa?!" tanya Jhon sambil memekik tertahan, dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan lelaki itu.
"Jangan memperpanjang lagi. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berdebat denganmu." Helaan napas terdengar begitu nyaring, "aku yang akan menyiapkan semuanya. Kalian tidak perlu khawatir dengan putri kalian, setelah menikahinya, aku akan menjaganya dengan baik."
"Iya, aku mengerti!" ucap Jhon kesal. Jhon juga akan kalah jika terus berdebat dengan Mr. Clinton.
"Dan soal baju, aku sudah menghubungi satu butik ternama. Crew mereka akan menuju kemari agar Lery bisa mencoba gaun pengantinnya nanti." Ucapan lelaki itu membuat Clara dan John tercengang.
Lelaki ini benar-benar tidak main-main soal lamarannya!
"Aku juga sudah menyuruh orangku untuk membereskan perusahaanmu, dan setelah menikah, aku ingin Lery tinggal bersamaku!" ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
Clara dan John hanya bisa menghela napas. Apakah ini jalan terbaik? Apakah Lery akan bahagia nantinya? John berjanji dalam hati, jika nanti terjadi sesuatu pada putrinya, dia tidak akan tinggal diam. Meski nantinya Lery dan lelaki di hadapannya ini telah menikah, Lery tetap akan menjadi tanggungjawab John.
"Baiklah, semua sudah selesai, aku harus pergi karena masih banyak yang harus aku urus." Mr. Clinton berdiri dan berpamitan pada calon mertuanya itu. Dia keluar dari rumah Lery dengan buru-buru.
Dia memasuki mobilnya dan diikuti beberapa pengawalnya.
Lery melihat kepergian lelaki itu. Lambat laun Lery tergoda oleh rasa penasarannya. Tidak besar, namun sudah bisa membuat gadis itu mengintip dari celah tirai jendela kamarnya. Dia melihat calon suaminya itu memasuki mobil dan yang tampak jelas hanya warna rambut perunggunya yang mengingatkan Lery pada seseorang. Seseorang yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya.
Apa lelaki itu yang akan menjadi suamiku nanti? Apa aku bisa mencintainya? Sementara aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya.
Entahlah, hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
***
Hari demi hari Lery lalui dengan kesendiriannya, duduk termenung sendiri di kamarnya. Lery memikirkan banyak hal, pikirannya begitu berkecamuk. Hari penting itu sudah tinggal beberapa hari lagi. Bahkan dia lebih senang mengurung dirinya di kamar.
Helaan napas itu terdengar lagi dari Lery. Dia mengalihkan pandangannya menuju pintu kamarnya saat pintu itu di ketuk. Lery sempat mengernyit karena ini sudah malam.
"Masuk saja, tidak di kunci!" jerit Lery, lalu pintu itu terbuka dan muncullah Elenora dengan kotak di tangannya.
"Ada apa?" tanya Lery menatap Elenora sengit.
"Ini ada kiriman untuk Anda, Nona," ucap Elenora sembari menyerahkan kotak berupa bingkisan itu pada Lery. Lery menerimanya, lalu Elenora membungkukkan tubuhnya pada Lery dan keluar dari kamar Lery. Dia juga tidak lupa menutup pintu kamar Lery kembali.
"Kiriman dari siapa?" tanya Lery dengan kening yang berkerut.
Lery meletakkan kotak tersebut di tempat tidurnya lalu membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Setelah itu, Lery membuka penutup kotaknya.
"Astaga...!" pekik Lery kaget bukan main. Mulutnya ternganga dan tangannya meraih isi kotak tersebut.
"Ini gaun pengantin? Untukku?" tanya Lery antara senang dan masih ada rasa terkejut di hatinya.
Lery turun dari tempat tidurnya lalu dia bangkit berdiri. Lery meraih gaun itu lalu berlari menuju walk in closet di kamarnya. Lery berdiri di depan cermin besar di ruangan itu, dia menatap gaun pengantin berwarna putih itu dari cermin sambil tersenyum lebar.
"Ini indah sekali ... pasti ini sangat mahal sekali," ucap Lery sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Lery meletakkan gaun itu lalu dia melepaskan pakaiannya. Dengan cepat Lery memakai gaun itu, wajahnya begitu cerah dan berseri-seri. Lery memang sedikit kesulitan memakainya, dan juga dia sangat berhati-hati. Takut kalau nanti gaun itu rusak.
Setelah sudah berhasil memakainya, Lery memutar-mutar tubuhnya dengan semangat. Senyum itu seakan tidak mau hilang dari wajah cantiknya.
"Meski bagian belakangnya terbuka, tapi ini sangat pas untukku, astaga ... aku cantik sekali," ucap Lery memuji dirinya sendiri.
Lery menatap ke bawah, gaun itu menjuntai dengan anggunnya menambah kecantikan Lery yang sangat kontraks.
"Rasanya aku tidak ingin melepasnya, aku suka sekali dengan gaun pengantin ini. Pasti ini dari lelaki itu, dia tahu sekali seleraku. Kalau Rindy melihatnya, dia pasti akan iri. Oh, ya, ampun ... aku senang sekali...." ucap Lery menloncat-loncat seperti anak kecil yang mendapat hadiah.
Lery melangkah dengan anggun sambil melihat ke belakang, dia terpana melihat ekor gaunnya yang panjang dan juga indah, memberi kesan yang elegant.
"Meski gaunnya berat, tapi aku sangat suka. Aku seperti putri kerajaan yang anggun," desah Lery. Dia kembali berdiri di depan cermin, lalu mematut dirinya. Lery juga menatap takjub pada berlian-berlian asli yang melekat di bagian tertentu di gaun itu.
"Ini sangat berlebihan. Tapi sepertinya tidak masalah karena ini sekali seumur hidup," Lery tertawa pelan, seakan melupakan beban pikirannya.
Seakan tersadar sesuatu, Lery segera melepaskan gaun tersebut dengan berat hati.
"Aku terpaksa melepasmu, karena aku tidak mau kau kotor dan rusak," katanya, ia terkekeh pelan.
Setelah selesai melepas dan memakai pakaiannya kembali, Lery memeluk gaun itu lalu menciuminya. Setelah itu, ia melangkah menuju lemari dan menggantungkan gaun itu dengan sangat hati-hati.
"Sampai bertemu besok lusa, gaun cantikku," kata Lery tertawa pelan. Lery menutup lemari dengan hati-hati juga.
"Hah, wajahku rasanya panas sekali," ringisnya meletakkan kedua tanggannya di pipinya. "Aku harus tidur, aku harus banyak istirahat," kata Lery, dia segera kembali ke kamarnya, kemudian berbaring dan memejamkan matanya.
***
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top