Tujuh : Problem
"Oh, tidak!" Gumam Heyra, yang dapat kudengar.
Wanita paruh baya berpakaian serba hijau dengan jubah berwarna hijau tua berjalan ke arah kami, topi kerucutnya yang sama seperti warna jubahnya, menjuntai ke belakang. Ia menatap tajam ke arah kami, dan tentu saja! Saat berada di depan kami, ia menatap tajam ke arah kami berdua, seolah-olah kami adalah buruan yang membuatnya kesal karena tak kunjung mendapatkan buruannya.
"Saya ... sudah izin dengan Anda, Cicrvel." Ucap Heyra.
Cicrvel itu mengangguk, lalu menatap diriku. "Aku tau! Tapi, dia tidak meminta izin padaku!"
"Dia pendatang baru." Jelas Heyra, yang terus terang aku menghargai usahanya yang terus berbicara pada singa yang tengah kelaparan.
"Tidak ada pendatang baru dalam kamus kehidupanku. Ayo, pergi ke kelasku sekarang!"
Aku dan Heyra mengangguk, lalu kami berjalan terburu-buru menuju kelas Petir Guine. Aku menyusul Heyra yang berjalan cepat, membuatku kewalahan untuk mengejarnya, mungkin ini karena kakiku yang pendek sedangkan Heyra memiliki kaki yang panjang, tentu saja setiap kami melangkah akan selalu berbeda. Aku dengan napas yang ngos-ngosan berjalan di samping Heyra.
"Hei, Heyra! Apa yang terjadi? Apa yang harus kaulakukan?"
Heyra berhenti berjalan, lalu berbalik menghadapku. "Kau? Tentu saja kita! Kita yang harus menanggungnya bersama, aku lagi memikirkan suatu rencana!"
Mendengar ucapannya membuatku terbelalak, "Apa maksudmu? Kau ... kau bilang bahwa kita yang harus menanggungnya? Aku dan kau?"
Heyra mengangguk, "Tentu saja!"
"Tidak, aku meno---"
Wush!
Aku hampir saja membawa jiwaku pada kematian, jika tidak memiliki refleks yang cepat untuk menghindari dari aliran listrik yang memanjang dan entah berapa volt, tapi ... tentu saja dapat membuat tubuhku seperti roti bakar.
Aku menoleh ke tempat berasalnya aliran listrik besar tersebut, di atas pintu terdapat tulisan Kelas Petir Zecavolen. Di sana, terlihat siswa-siswi tengah bermain-main dengan kekuatan mereka, tanpa seorang guru? Entahlah, tetapi aku tidak melihat adanya guru di dalam ruangan mewah tersebut, dan aku menoleh, tidak ada sosok Heyra membuatku kesal, dan segera berlari menyusulnya yang sudah berjalan jauh di depanku.
"Hei, Heyra! Tunggu!" Aku berhenti ketika Heyra masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang tak kalah mewahnya dengan ruangan yang kulihat barusan, aku memandang kagum, karena sekitar lima belas siswa-siswi berada di dalam ruangan itu sambil bercakap-cakap dengan riang. Aku tertegun, sampai suara yang sangat kukenali mengagetkanku. Dan tentu saja itu adalah Cicrvel Gelios. Aku buru-buru melangkah masuk, dan segera mengambil meja dan kursi yang paling akhir karena kulihat kosong, tidak ada buku yang terletak di atas meja itu.
Semua siswa-siswi langsung duduk, dan ruangan yang awalnya terdengar bising menjadi sepi. Aku berusaha untuk fokus menatap ke depan, tetapi terus saja tidak bisa, karena aku di sekolah sering sekali menunduk, dan kurang memerhatikan guru. Dan terpaksa, aku menopang daguku dengan kedua tangan yang terangkat di atas meja.
Cicrvel Gelios menuliskan sesuatu di papan tulis. Yaitu;
"Pelajaran Dasar seorang Guine untuk mengendalikan sihir"
Aku memandang papan tulis putih itu dengan saksama, dan sesekali aku melirik ke arah Cicrvel yang tengah berdiri di samping tulisan tersebut.
"Pelajaran dasar! Sangat banyak yang harus kalian pelajari, pahami, dan ingat sebelum ujian tiba. Tapi, sebelum itu aku akan berusaha agar membuat kalian dapat mengendalikan kekuatan kalian sebelum ujian praktek tiba. Nah, bagaimana kalau dalam lima menit aku perintahkan kalian untuk mengeluarkan meja dan kursi dari ruangan? Atau, kalau ada yang tertinggal satu, semua yang ada di ruangan ini akan mendapatkan hukuman berupa menangkap Belcitus."
Semua siswa-siswi langsung bergerak dengan cepat, aku yang mendengar pembicaraan Cicrvel hanya diam karena tidak mengerti apa maksudnya.
"Hei! Apa yang kaulakukan? Cepat, keluarkan meja dan kursimu."
"Eh, apa? Kenapa harus di keluarkan? Apa maksudnya dengan Belcitus?"
Gadis berkepang dua, berambut coklat, serta kacamata bulat, kini memutar bola matanya. "Itu adalah hewan paling kecil yang menangkapnya sangatlah sulit. Tidak ada waktu menjelaskan, ayo bergerak!
Aku hanya bisa mengangguk lalu, mengangkat meja, sedangkan gadis itu mengangkat kursiku, dan dalam satu kali tendangan, gadis itu mengeluarkan meja dan kursiku dari ruangan, dan terhempas dengan meja dan kursi yang lainnya yang sudah patah, entah apa yang mereka perbuat sampai meja dan kursi dari besi itu dapat patah.
Semua siswa-siswi langsung berdiri di tengah-tengah ruangan, membuatku ikut juga berdiri di kerumunan.
"Lumayan, empat menit kalian membereskan semuanya. Baiklah, aku akan mengajarkan dasar dari mengendalikan sihir kalian. Kalian harus berkonsentrasi penuh, lalu bayangkan bahwa kalian percaya pada sihir kalian, jangan ada keraguan, jangan ada ketakutan, dan jangan ada kegelisahan yang dapat menyebabkan sihir kalian tidak dapat keluar."
Aku mengangguk paham, lalu memikirkan apa yang aku pikirkan saat pertama kali mengeluarkan sihir petirku, ya! Aku kala itu memberanikan diriku untuk mengetahui apa yang terjadi, baiklah, mungkin aku akan mencobanya setelah kelas berakhir.
Lalu, Cicrvel Gelios menyuruh kami berbaris. Aku berada diurutan terakhir, dan yang paling awal adalah Heyra yang kulihat dari wajahnya ia tampak takut.
"Mari kita coba!"
"Baik!"
Heyra mencoba untuk mengeluarkan sihirnya dari tangannya yang terangkat, tetapi tidak bisa, hal itu membuat Cicrvel Gelios geram dan menyuruh giliran berikutnya. Ada seorang gadis kriting yang juga bernasib sama seperti Heyra, lalu ada gadis berkacamata bulat---yang mengingatkanku akan kacamata palsu Heyra, semoga ia benar-benar minus---ia juga tidak berhasil. Dan seterusnya, sampai giliranku untuk mengeluarkan sihirpun gagal.
Cicrvel Gelios menatap kesal ke arah kami, sampai bunyi bel mengalun ke seluruh sekolah membuatku tersenyum karena terbebas dari kelas. Semua siswa pamit, dan keluar dari kelas. Aku yang tidak memiliki teman langsung mendekati Heyra, tetapi Heyra tidak mengacuhkanku membuatku kesal karena ia berlari meninggalkanku. Aku berdiri bingung karena tidak hapal tempat-tempat yang ada di Afragis.
Seorang gadis berkepang dua, berkacamata bulat mendekatiku. "Hei! Apa yang kaulakukan?"
"Aku tidak tau tempat-tempat yang ada di Afragis, bel berbunyi, tandanya berhenti pelajaran atau istirahat?"
Gadis itu memangguk, "Tentu saja istirahat!"
"Oh, baguslah, kalau begitu bisakah kau mengantarkanku ke kelas Air?"
"Astaga! Kau mau cari mati? Kau sudah bagian dari kelas Petir, ada peraturan yang mengatakan seorang bagian dari suatu kelas tidak dapat pergi ke kelas yang lainnya, kecuali waktu istirahat, semuanya bebas berteman dan mungkin kau bisa bertemu temanmu!"
Mataku terbelalak sempurna, "Kau yakin? Syukurlah, oh ya! Bisakah kau mengantarkanku ke kantin?"
Gadis itu mengangguk, lalu menyuruhku untuk mengikutinya.
Aku melihat Fione yang tengah makan sembari berbincang dengan seorang perempuan berambut biru yang sangatlah manis, aku berlari dan duduk di samping Fione. Fione yang melihat itu langsung tersentak kaget, lalu buru-buru mengatur napasnya.
"Ada apa, Loxel?"
"Apakah kau sudah mendapatkan teman?" tanyaku, sembari mengambil roti milik Fione.
Fione mengangguk, "Loxel, perkenalkan, ini Lulu! Lulu perkenalkan, ini Loxel!"
Perempuan berambut biru lurus bermanik merah muda itu mengangguk, "Salam kenal!"
Aku mengangguk juga, lalu baru teringat akan suatu hal. "Oh ya, aku mendapatkan suatu masalah di hari pertamaku!"
"Masalah? Masalah apa?" tanya Fione heran.
"Masalah karena telah menghancurkan pelind---ump---"
Aku menatap siapa orang yang meletakkan tangannya di mulutku. Gadis berambut merah, dengan manik mata emerald yang kini tersenyum penuh kelicikan ke arahku. Heyra kemudian tersenyum ke arah Fione.
"Aku pinjam Loxel sebentar!" Lalu Heyra berjalan menarikku dari kursi yang sebenarnya aku ingin makan.
Aku berusaha meronta, tetapi Heyra malah menginjak kakiku, membuatku kesakitan, dan terpaksa untuk diseret oleh Heyra, terakhir yang kulihat sebelum meninggalkan kantin mewah ini adalah, tatapan tajam dari Callisto.
Heyra menarikku ke suatu tempat, keluar dari Afragis, berjalan di sekitar halaman yang terdapat banyak siswa-siswi yang kini bercakap-cakap. Aku dan Heyra berbelok, dan berjalan dengan terpaksa. Heyra sekarang menggumamkan sesuatu, kacamatanya masih melekat untuk bertengger di hidungnya. Lalu, kami berdua tiba di ruangan yang sangat besar, dan di sekitarnya terdapat hutan.
"Tempat apa ini, Heyra?" tanyaku, bingung.
"Ini adalah tempat di mana aku mencuri pelindung sekolah ini. Tapi, semua pelindung keamanan sudah aku non-aktifkan. Ayo!"
Heyra berjalan terlebih dahulu menuju bangunan yang terlihat menyeramkan dari luar, aku menyusul Heyra, dan betapa terkejutnya diriku saat melihat berbagai macam botal berwarna-warni berada dalam rak yang besar, dan mengelilingi ruangan ini.
"Jangan bilang ini ..."
"Jangan terpana, ayo!" Heyra berhenti di meja yang berada di tengah-tengah bangunan tersebut. Ia meletakkan kacamatanya di atas meja, lalu mengambil botol dengan cairan berwarna hijau, dan meletakkannya ke atas meja.
"Aku membaca sebentar di perpustakaan, semoga ini berhasil. Oh ya, tolong ambilkan botol putih itu!"
Aku menatap arah tunjukkan tangannya, lalu mengambil botol ramuan itu, dan meletakkannya ke atas meja. Heyra menuangkan cairan kehijauan itu ke atas kacamatanya. Dan, tidak terjadi apa-apa, membuatku sedikit bingung.
"Mm ... bolehkah aku bertanya?"
Heyra menggelengkan kepalanya, "Tidak! Diam saja! Seharusnya ini berhasil, kenapa malah tidak mengeluarkan reaksi untuk menyatukan kembali pecahan kaca dan menjadi kaca yang utuh!"
"Omong-omong, aku sedikit bingung, kaca yang mana?"
Heyra menatap tajam ke arahku lalu menghembuskan napasnya, ia mengambil sesuatu di kacamatanya, lalu aku baru menyadari apa maksud Heyra, sebuah kaca yang sangat kecil, namun lonjong, kini menjadi pecahan-pecahan yang kecil berwarna biru. Bahkan kalau disatukan mungkin akan menjadi kaca yang lonjong seperti kristal dengan bentuk yang sangat kecil.
"Itu, pelindung Afragis?"
"Diamlah!" Bentak Heyra membuatku tersinggung.
"Kenapa kau tidak memberitahukan ini pada Kepala Sekolah, atau Cicrvel?"
Heyra lagi-lagi menatap tajam ke arahku, "Ayolah, Loxel! Aku tidak ingin mendapatkan hukuman, aku akan memperbaiki benda ini sebelum para monster berdatangan."
"Mo-monster? Kau serius? Kau pasti sedang bergurau, kan?" tanyaku yang sekarang ini sangatlah sulit untuk meneguk salivaku sendiri.
Heyra menatap datar ke arahku lalu mengangguk. Ia mulai mengambil beberapa botol dengan warna yang berbeda, dicampurkannya cairan itu ke atas pecahan kaca yang sangat kecil, tetapi tidak ada reaksi yang keluar membuatku kesal.
"He---APA INI!"
Aku tersentak kaget, ketika sebuah benda tajam dan runcing yang sangatlah besar menembus atap bangunan ini, cahaya matahari menyinari ruangan di dalamnya yang terdapat diriku dan Heyra, lalu terdengar gemuruh yang sangatlah aneh, membuatku segera menatap Heyra.
"Ini tidak nyatakan?"
"Tentu saja nyata! Oh, tidak! Aku harus menyelesaikan ini sebelum para monster berdatangan!"
Heyra kembali mencampurkan berbagai macam ramuan itu ke atas pecahan kaca yang sama sekali tidak mengeluarkan reaksi.
"Ridak ada gunanya, Heyra! Lebih baik kita pergi sebelum monster itu semakin banyak berdatangan!"
Benda tajam dan runcing itu terangkat, lalu digantikan sebelah bola mata yang menatap tajam ke arah kami. Aku tersentak kaget, sedangkan Heyra masih asyik untuk menuangkan ramuan itu ke atas pecahan kaca.
"He-Heyra! Heyra! Heyra! Lebih baik kita segera pe-pergi! Heyra!" Aku menggoyangkan tangannya dengan tatapan menatap mata monster aneh yang tidak kuketahui.
Aku merasakan tanganku sakit, dan Heyra baru saja menepis tanganku.
"Dasar bodoh! Lihatlah, aku jadi berlebihan menuangkan ramuan i---OH TIDAKK!"
Aku hanya bisa menatap ngeri saat mengetahui pecahan kaca itu hancur menjadi sebuah serpihan, Heyra panik, apalagi diriku yang sekarang atap bangunan ini diangkat, dan terlihatlah lima kepala yang besar muncul mengelilingi bangunan ini.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Heyra?"
Heyra mengambil serpihan itu dan memasukkannya ke dalam kantong seragamnya, setelah itu ia menatapku. "Kau bisa mengeluarkan sihirmu?"
Aku menatapnya, "Kau gila atau bodoh? Aku baru saja berada di dunia aneh ini, mendapatkan masalah, dan bertemu monster saat keadaanku tidak dapat mengeluarkan sihirku sendiri."
"Terserah, yang penting kita harus ka---MENJAUH!"
Heyra langsung menarik tanganku saat sebuah tangan yang besar ingin menangkapku. Aku dan Heyra berlari menghindari serangan demi serangan dari lima monster tersebut, kami tiba di pintu dan saat membuka pintu, kami dikejutkan akan kedatangan seekor kalajengking yang sangat besar, dan kalajengking itu sekarang menatap kami, berlari ke arah kami. Bersiap untuk memakan kami.
Aku hanya bisa terdiam, lalu teringat ucapan Cicrvel Gelios. Aku berusaha untuk memikirkan bahwa aku dapat mengalahkan kalajengking itu, dan saat aku sudah yakin bahwa aku benar-benar berani, sebuah percikan listrik keluar dari tanganku, dan mengenai kalajengking itu yang sekarang menggeliat aneh di tanah, dan berakhir tewas dengan mengeluarkan asap hitam.
Aku menatap Heyra yang sekarang terdiam, lalu ia langsung menarikku, karena jika saja kami telat untuk berlari, mungkin salah satu di antara kami bisa dilahap oleh monster yang tinggal beberapa detik lagi dapat menangkap kami. Kami berjalan berbelok, lalu terlihat siswa-siswi yang berlarian karena bukan hanya di tempat bangunan itu saja yang dikelilingi oleh monster, ternyata di halaman depan pun juga. Aku menatap Heyra yang sekarang panik.
"Lebih baik kau mengatakan pada Cicrvel bahwa kau telah merusak pelindung tersebut, dan mungkin mereka bisa memperbaikinya."
"TIDAK! KUBILANG TIDAK YA TIDAK! Aku tidak ingin mendapatkan hukuman, akan aku buat serpihan ini menjadi kaca seperti semula. Dan, kaca ini berubah menjadi serpihan karenamu, Loxel!"
Aku menatap terbelalak, dan tidak percaya akan ucapan Heyra. Aku sekarang benar-benar marah, tetapi kutahan amarahku dengan mengatur napasku yang sekarang berpacu cepat. "Ini semua salahku? Aku tidak pernah ingin terlibat dengan masalah ini, kau yang menyebabkan semuanya terjadi. Jika saja kau tidak mencurinya, maka kejadian ini tidak terjadi. Jika kau tidak berhenti mendadak, maka kaca itu tidak bakalan pecah, dan jika saja kau mendengarku, mungkin saja kaca itu tidak akan menjadi serpihan. Sudah kubilang, kita harus melaporkan hal ini kepada Cicrvel, Heyra!"
"TIDAK! KALAU KAU TIDAK MAU, CUKUP BILANG SAJA, JANGAN MEMBERIKU NASEHAT. AKU TIDAK PERLU NASEHATMU, LOXEL!" Lalu Heyra pergi menjauh meninggalkanku.
Aku membuang napas dengan kasarnya, tidak percaya bahwa Heyra menyalahkanku atas kejadian ini? Dan sekarang dia meninggalkanku, sendirian di tengah-tengah monster yang sekarang berkeliaran. Aku memegang rambutku, dan aku tersadar bahwa jepitan boneka kelinci yang diberikan Callisto menghilang. Aku pasti menjatuhkannya di suatu tempat, tapi itu di mana? Ayo pikir-pikir Loxel, oh ... apa mungkin ... aku menjatuhkannya saat ditabrak oleh siswa dan terjatuh di lantai?
Oh, sial.
___
my magic update setiap empat hari sekali. maaf telah membuat kalian menunggu.
╰⛄peach⛄╮
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top