Part 23

Seperti pada tebakan Teresa semalam, kedatangan para orang tua ke apartemen membahas soal pernikahan yang telah direncanakan. Erika, Monica, dan Adira, begitu semangat membicarakannya, benar-benar menghalu setinggi langit sampai lupa daratan untuk pulang. Sedangkan Teresa dan Harden sangat abai masuk dalam lingkup kehaluan para orang tua. Keduanya lebih banyak diam, sungkan untuk menimpali.

Teresa lebih suka bermanja dengan sang papa, duduk di samping kirinya sambil merengkuh lengan dan merebahkan kepala di bahu lelaki itu, ada Cimoy rebahan dalam pangkuan dirinya. Sedangkan Edward sibuk mengobrol dengan Dareen yang duduk di sebelah kanannya sambil membahas soal pekerjaan. Harden duduk di sofa tunggal, diam. Sementara, Adam duduk di kursi santai samping dinding kaca, sibuk dengan ponselnya.

"Bagaimana kalau acara pernikahan kalian mengundang penyanyi papan atas untuk mengisi hiburannya? Terserah Resa, mau artis lokal atau international. Nanti akan kami turuti." Adira mengajukan pertanyaan, sekaligus membujuk sang calon mantu agar cepat luluh hatinya.

Teresa yang mendengar langsung mengangkat kepala, menggeleng cepat. Ia menatap kesal kepada tiga perempuan yang duduk dalam satu sofa. "Tapi, Resa enggak mau nikah sama Harden. Kalian ini, kenapa masih maksa banget, sih?" Ia mencebikkan bibir.

Tatapan Harden langsung tertuju kepada Teresa. Ia memerhatikan reaksi perempuan itu yang sedang marah, bibirnya dimanyunkan, tapi justru terlihat menggemaskan, lucu, dan juga cantik secara bersamaan.

Sial! Cantik dari mananya, hah?! Perempuan petakilan seperti itu.

Harden mengumpati diri sendiri saat tersadar dari pikirannya yang memuji kecantikan Teresa. Akan tetapi, ia dibuat tak tenang oleh deguban jantung yang berdebar cepat, serta hati yang terasa nyes-nyesan tak keruan. Rasanya dibuat salah tingkah bukan main.

Untuk menetralisir perasaannya yang terombang-ambing, Harden berdeham lirih seraya membenarkan posisi duduknya yang bersandar menjadi lebih tegap, lalu bersedekap. Ia juga semakin mendinginkan sorot matanya.

"Resa, orang tua mencarikan jodoh untukmu karena untuk kebaikanmu, Sayang. Keluarga kita sudah saling kenal dan dekat dengan keluarga Harden. Jadi, tidak ada keraguan lagi untuk kami mendekatkan kalian," timpal Erika.

Teresa berdecak. "Nenek, belum tahu sifat asli Harden seperti apa, 'kan? Sedangkan Resa yang sudah tinggal sebulan dengan dia di sini, sudah sangat paham bagaimana sifatnya. Orangnya pelit, suka bikin naik darah, udah gitu orangnya kaku, enggak bisa ngemong, enggak bisa diajak ngobrol asyik. Yang ada, Resa mati lebih cepat daripada, Nenek." Ia tidak peduli sedikit pun menjelekkan Harden di hadapan orang tua lelaki itu secara langsung. Niatnya memang untuk membuat mereka ilfil agar dirinya dicoret dari daftar mantu idaman.

"Kalau sudah menikah pasti akan beda perlakuan, Sayang. Itu sebabnya kami memutuskan untuk menikahkan kalian lebih cepat." Kali ini Monica bersuara.

"Enggak bisa. Enggak bisa. Kami punya pilihan pasangan sendiri-sendiri." Teresa masih tetap menolak keras.

"Saya sudah memiliki kekasih, Nek."

"Dengan karyawan di kantormu itu, Harden? No way! Mama tidak setuju. Mama tidak suka dia. Apalagi dia sering mengganggu Teresa kalau di kantor. Mama sering dapat laporan dari Papa tahu. Sudah minta untuk memecatnya, tapi Resa masih melarang." Adira sempat naik darah ketika Dareen cerita soal perselisihan antara Teresa dan Indira. Dengan perasaan emosi yang menggebu, ia meminta suaminya untuk memecat si karyawan itu. Tapi, kata Dareen, Teresa melarangnya karena itu masalah personal, bukan masalah pekerjaan.

"Resa enggak mau jadi penghalang rezeki orang, Tante. Lagian, Indira sudah kerja di sana lebih dulu daripada Resa. Dan enggak elit masalah personal disangkut-pautkan ke pekerjaan. Biarkan mulut dia sampai berbusa nuduh Resa yang enggak-enggak. Yang penting Resa enggak pernah melacur."

"Kamu dikatain pelacur, Sayang? Kenapa enggak pernah cerita sama Mama?" Monica tercengang tak percaya mendengarnya. "Kalau kamu tidak maju, biarkan Mama yang maju untuk membungkam mulutnya. Kurang ajar sekali mengatai anak Mama yang cantik ini pelacur," lanjutnya dengan napas menggebu-gebu saking emosinya.

"Iiish! Kalian ini." Teresa menatap Cimoy yang mengeong. Kucing itu loncat dari pangkuannya, berjalan dengan gemoynya menghampiri Harden, lalu meloncat lagi duduk di pangkuan lelaki itu. Semua pasang mata langsung tertuju kepada Harden yang bereaksi geli-geli geram.

Kedua tangan lelaki itu mengibas berusaha mengusir, wajahnya yang kaku terlihat lucu dengan bibir terus berucap hush-hush. Tapi, Cimoy justru mendusel, mencari posisi nyaman. Pemandangan itu berhasil membuat Teresa tertawa puas, dan semua pasang mata beralih menatap perempuan berdress hitam polos tak berlengan sepanjang lutut itu.

"Kucing pintar!" seru Teresa di sela tawanya. "Jangan pindah ya, Cimoy."

"Sepertinya bisa diperpanjang, Monic. Mereka saling benci, tapi kelihatan menggemaskan. Kamu percaya, 'kan, kalau benci bisa menjadi cinta? Sepertinya itu yang akan terjadi ke anak kita. Feelingku sangat kuat," bisik Adira sambil memandang bergantian antara Teresa dan Harden. Dan mendapat anggukan dari Monica.

"Kita harus sabar dengan keunikan perilaku yang dimiliki anak-anak kita, Dira. Minyak dan air saja bisa bersatu kalau dicampur dengan sabun. Benci dan cinta pasti bisa bersatu kalau tercampur perasaan sayang."

"Hehem." Adira mengangguk menyetujui.

"Kembali ke topik." Teresa kembali menatap tiga perempuan itu, setelah puas melihat Harden tersiksa oleh Cimoy. Sekarang kucingnya berpindah tempat, baru diambil Adam dan dibopong lelaki itu. "Resa masih bisa mengatasi Indira sendirian, kalian tidak perlu khawatir. Resa memang minta Om Dareen untuk tidak mempermasalahkan masalah personal kami ke urusan pekerjaan," katanya meyakinkan.

"Tapi, kalau Indira sudah sangat keterlaluan kepadamu, Tante tidak akan tinggal diam, Resa," sahut Adira semangat. "Harden, tugasmu menjaga Teresa dari kekasih palsumu itu."

"Terserah, Tante, deh." Teresa mengedikkan bahu. Tapi, ia melanjutkan ucapannya lagi, "Harden enggak boleh ikut campur. Resa enggak mau orang kantor tahu kalau kami bertunangan. Nanti tidak ada cowok berani deketin Resa. Sedangkan Resa masih belum bisa nerima Harden."

"Belum, itu berarti masih ada kesempatan menerima." Adira dan Monica berkata kompak.

Dareen dan Edward saling pandang melihat kekompakan istrinya. Teresa sendiri mendesah karena salah ngomong. Saking gemasnya, ia menggigit bahu sang papa.

"Papa yang jadi korban," kata Edward sambil menatap anak perempuannya.

"Istri Papa nyebelin."

"Dia Mamamu juga, Sayang."

"Pokoknya nyebelin."

"Kalau tidak dijodohkan dengan Harden yang sudah jelas asal-usul keluarganya, Nenek takut, kamu jatuh ke pasangan yang tidak tepat, Resa. Nenek tidak ingin kamu mengalami KDRT karena salah memilih pasangan. Atau kasus lainnya yang akan membuatmu sakit luar-dalam." Erika bersuara lagi. Teresa enggan membalas, tapi tergelitik mendengar Harden membalas ucapannya.

"Ngomong-ngomong KDRT, saya sudah menjadi samsak Tesa dari pertama dia datang kemari, Nek. Saya sudah menerima kekerasan darinya, jambakan, tonjokan, tendangan, gendang telinga juga lama-lama pecah karenanya. Jadi, perjodohan ini memang tidak patut untuk diteruskan atau dilanjutkan. Kami tidak memiliki kecocokan. Dan sebelum terjadi hal yang tak diinginkan, lebih baik dibatalkan dari sekarang."

"Dan Resa sudah menerima perlakuan buruk dari Harden, Nenek. Minum kopi punya dia saja tidak boleh. Ngelakuin apa pun di apartemen, tidak boleh. Sah saja 'kan, kalau Resa melakukan kekerasan untuk membela diri? Ini masih tunangan. Bagaimana kalau sudah menikah? Pasti Resa tidak akan mendapat jatah nafkah darinya, dan perlakuan buruk Harden akan semakin menjadi karena merasa Resa sudah jadi miliknya. Benar kata Harden, hubungan kami tidak patut diteruskan dan harus dibatalkan. Tidak ada acara nikah-nikah segala." Teresa tidak ingin kalah. Dihitung-hitung, lebih berat Harden tingkat menyebalkannya dibanding dirinya.

Erika menatap lekat Harden dan Teresa bergantian. Lalu, menggeleng. "Tidak bisa. Nenek tahu itu hanya perlawanan dari kalian saja."

Teresa mendesah. Ia merengkuh erat lengan Edward, lalu mendongak menatap wajahnya. "Paaa," panggilnya mencoba mencari pembelaan.

Edward menatapnya sambil mengangkat sebelah alis. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.

"Pleeease, bantu bilang ke Nenek, Resa tetap enggak mau nikah dengan Harden." Teresa menampilkan wajah memelas, berharap hati papanya luluh. "Pleaaase. Resa enggak mau." Ia menggeleng.

Edward justru menggeleng. "Nenek sangat mengharapkan ini kepadamu, Nak. Papa dan Mama mendukung kemauannya. Selain akan mengeratkan tali persaudaraan, Papa sangat yakin Harden bisa membahagiakanmu. Tidak sekarang, tapi lain waktu."

"Tapi, Resa enggak mau. Resa udah sebulanan ini tinggal sama Harden, tetap enggak ada kecocokan di antara kita." Teresa agak mencondongkan kepala, agar bisa menatap Dareen. "Om, juga pasti tahu banget bagaimana hubungan Resa dan Harden kalau di kantor, kan? Kami enggak pernah akur. Kalau dilanjut nikah, yang ada, setiap hari Resa makin makan hati terus."

"Om tidak bisa memberi keputusan, Sayang. Tiga perempuan itu sangat menginginkan kalian berdua. Terutama Nenekmu. Dan ... benar kata Papamu, Om juga sangat berharap kalian berdua menikah."

Teresa mendesah. Pasrah. Lalu, menyandarkan punggung sambil menyembunyikan kepala di lengan Edward. Ia ingin keluar dari lingkaran orang-orang yang tak berpihak kepada dirinya. Meskipun ruang tamu telah berpendingin, tapi terasa gerah dan membuat dadanya sesak. Ia terpejam, pikiran pun berlarian ke mana-mana membayangkan hal-hal yang tak penting. Dan tak lama ia tersenyum penuh arti ketika ide berlian datang menghampiri.

Teresa mengangkat kepala, menatap papanya dan berkata lirih, "Resa ingin quality time sama Papa. Hanya berdua. Mama dan yang lain enggak boleh ikut."

"Sekarang?" sahut Edward.

Teresa mengangguk. "Iya." Ada jeda sebentar. "Tapi, Resa yang pegang kartu debit, Papa."

"Oke. Tidak masalah." Edward mengecek Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Baru jam tiga. Mau berangkat jam berapa?"

"Sekarang. Pokoknya Resa ingin bersenang-senang sama Papa. Pusing tahu kepala Resa."

"Oke. Siap-siap, gih."

"Oke, Mr. Kinnear." Teresa berucap senang, lantas beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar untuk mengambil tas.

"Mau ke mana?" tanya Monica penasaran. Ia menatap kepergian Teresa, lalu beralih menatap suaminya.

"Minta quality time denganku. Katanya, tidak boleh ada yang ikut."

Monica mengangguk paham. Teresa sering melakukan quality time dengan Edward, terkadang dengan dirinya, atau jalan-jalan bertiga untuk menikmati waktu kebersamaan. Tapi, itu dulu sebelum Teresa pindah ke New York.

***

Anak dan bapak itu berada di salah satu mall terbesar di kotanya. Hampir satu jam keduanya berjalan ke sana-kemari mengelilingi setiap lantai mall dan masuk ke setiap toko barang branded.

Sesuai janjinya tadi, Edward pun menyerahkan black card kepada anak perempuannya. Ia membebaskan Teresa menggunakan kartu itu untuk membeli barang-barang yang diinginkan. Ia pikir, Teresa akan memborong tas, perhiasan, sepatu, pakaian, atau sejenis aksesoris lainnya. Namun, sampai sekarang, kedua tangan anaknya masih kosong belum ada satu pun paper bag yang ditenteng.

"Tidak ingin membeli sesuatu?" tanya Edward sambil berjalan menyusuri selasar lantai tiga.

"Ada. Resa ingin beli sesuatu."

"Mau beli apa? Dari tadi kamu hanya lihat-lihat barang saja. Sampai mendapat tatapan sinis karyawan tokonya."

"Pasti mereka ngira, Papa adalah Sugar Daddy Resa. Eh, tapi emang bener, sih. You're my Sugar Daddy." Teresa tergelak. Wajah papanya lebih condong wajah barat, meskipun blasteran.

"Ada-ada saja." Edward geleng-geleng melihat tingkah anaknya. Ia mengacak puncak kepala Teresa dengan gemas.

Teresa membawa Edward masuk ke tempat pakaian anak-anak. Pandangannya mulai berkeliaran untuk memutuskan langkah ke arah mana lebih dulu.

"Kenapa ke sini?" Edward mengernyit. Tidak ada pakaian dewasa di store anak-anak. Lagipula, bukan type Teresa yang suka pakaian anak-anak.

"Dengan card ini, Resa mau beli banyak barang di sini. Kemarin Resa lihat anak-anak jualan di jalanan, ada yang jualan kue, krupuk, polpen, mainan, tapi di beda tempat dan mereka kasihan sekali, Pa. Terus Resa tanyain satu-satu kenapa mereka jualan, padahal masih kecil. Jawabannya bikin hati Resa terenyuh," jawab Teresa sambil memilih pakaian.

"Resa jadi berpikir, Resa masih sangat beruntung dibanding mereka. Resa memiliki orang tua seperti kalian. Walaupun bikin kesal karena ngejodohin Resa sama Manekin, tapi Resa masih sayang sama kalian." Teresa menghadap Edward, lantas memeluknya. "Terima kasih sudah merawat Resa penuh dengan rasa sayang dan tidak membiarkan Resa merasakan buruknya kehidupan, Pa." Ia menarik napas panjang, diembuskan perlahan. "Tapi, pleaaase, cabut perjodohannya, ya," pintanya sambil memasang wajah memelas.

"Perjodohan kalian sudah tidak bisa dicabut, Sayang. Itu sudah kesepakatan sejak dulu."

Teresa berdecak sambil mengurai pelukan. "Enggak bisa diajak kompromi, ih." Lalu, ia melanjutkan langkah mencari pakaian yang cocok untuk anak-anak yang kemarin ditemuinya.

"Resa mau beli sepatu sekolah, tas, pakaian, alat tulis, sama apalagi, Pa? Biar mereka semangat untuk belajar dan menggapai cita-citanya."

"Kita datang langsung ke keluarganya saja. Lihat kondisi perekonomoiannya seperti apa. Kalau memang sangat dibawah, nanti Papa akan membantu untuk biaya sekolahnya sampai kuliah."

"Serius?" Teresa langsung menghadap papanya dengan mata terbelalak. Ia tersenyum penuh haru, binar kebahagiaan terpancar jelas.

"Iya."

"Aaaa, Mr. Kinnear, I love you sampai kapan pun pokoknya." Teresa kembali memeluk papanya, tidak lama. Kemudian, ia melanjutkan belanjanya lagi mengambil sembarang pakaian yang menurutnya cocok, dibantu dua karyawan toko yang membawakan barang-barangnya.

"Yes! Sudah dapat momen yang pas. Bakal jadi tranding topik besok. Dan sekarang sudah jelas kalau dia simpanan Om-om. Makanya barangnya branded semua."

"Kayaknya sudah punya anak juga. Tapi, ngakunya single dan jebolan New York."

"Ck! Wanita murahan gitu emang, suka cari simpati dan bermuka dua. Pak Dareen saja jadi incaran."

"Memang pemain handal sepertinya. Pantas sih, bisa ngurus tubuh sampai sesempurna itu."

"Iya kali enggak diurus. Enggak bakal laku lah nanti, kalau dipromoin di grup BO walaupun cuma lima ratus ribu perjam-nya."

Ketiga perempuan itu menahan tawa yang hampir meledak. Lantas berlalu dari store pakaian anak-anak, setelah puas mengikuti Teresa dan Edward dari awal melihatnya sejak setengah jam lalu. Ketiganya tampak puas mendapat bidikan foto yang bisa dijadikan bukti jika ucapannya benar, bukan bualan semata.

***



Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top