Prolog

Sejak kecil—tidak, maksudku sejak aku pertama kali melihatnya, dia terlihat seperti kebanyakan anak laki-laki yang berada di sekitarnya. Intinya, dia terlihat biasa saja.

Tidak jauh dari anak-anak lelaki sedang bermain bola di lapangan, aku menyibukkan diriku menanam bunga-bunga kecil yang indah. Aku menemukan mereka tak jauh dari sini. Menurutku, akan lebih strategis mendapatkan sinar matahari jika mereka tumbuh di sini.

Selesai aku menanam mereka, aku meninggalkan mereka untuk mencari air. Aku ingin sekali menyirami mereka agar mereka bisa cepat besar. Seperti yang ada di televisi dan buku bergambarku.

Aku menggunakan gelas plastik yang kutemukan di sekitarku untuk menampung air. Menghampiri keran air sekolah, membuka keran air, dan mengisi gelas plastik ini dengan air secukupnya. Selesai itu, aku kembali ke tempat bunga-bungaku berasal.

Sampainya di lokasi bunga-bungaku, aku mematung dan terpaku melihat mereka semua sudah hancur berantakkan. Kelopak mereka terlepas dari puncuk akar. Tanahnya menyebar ke mana-mana. Tidak tahu siapa yang telah berbuat ini semua, aku hanya memilih menangis keras. Menjatuhkan gelas plastik berisi air yang tadi aku pegang. Air itu tumpah dan menyebar ke mana-mana, seperti air mataku yang berlinang.

Aku tahu, tidak ada yang mau mendengarkan tangisanku, karena di sekolah, tak ada satu pun anak yang ingin berteman denganku. Tak ada yang mengajakku bermain apalagi sapaan saja itu mustahil bagiku untuk mendapatkannya.

Tidak apa, aku bisa tenang dengan sendirinya dengan hanya ada satu cara, yaitu menangis sekencang-kencangnya. Agar dunia ini tahu, bahwa di tempat yang banyak kehidupan ini, aku merasakan seperti tak ada orang lain selain diriku.

Ini memang jalan ceritaku. Semua sudah dirancang. Tinggal aku yang bisa melewati semua ini ataukah tidak.

Tapi, yang ingin aku tahu, apa aku akan terus seperti ini? Tidak ada satu pun orang kah yang peduli denganku di sekolah ini? Apa hanya Ibu dan Ayah yang mampu mendukungku? Tidak ada kah anak-anak seumuranku mau mendekatiku?

"Elly!"

Aku tidak percaya. Mana mungkin ada yang mau memanggil namaku. Satu anak-anak pun, tak akan ada yang mau.

"Elly!!" suara itu menyebut namaku lagi.

Aku membuka mata hijauku. Diriku sangat terkejut, bahwa seorang anak laki-laki seumuranku sudah ada di depan mataku. Jaraknya terlalu dekat, aku sampai bisa menghirup napasnya tanpa sengaja.

"Siapa kau? Kenapa kau mengetahui namaku? Tidak ada yang mau mengingat namaku, bahkan memanggil namaku saja tidak mungkin," kataku sambil mengusap air mataku agar aku bisa melihat dirinya dengan jelas.

"Kau tidak mengetahui namaku? Yah, padahal aku sangat ingat namamu. Kalau begitu, perkenalkan!" Anak laki-laki itu menarik kedua tanganku dengan lincah mengajakku untuk berdiri. "Namaku Blue Sentadiya. Namamu Elly, kan? Ellysia Serton? Senang bisa berkenalan denganmu, Elly! Semoga kita bisa menjadi teman yang akrab sampai kita besar!"

Blue menjabat tanganku tanpa aku ulurkan tanganku. Dia mengambil tanganku seenaknya dan menjabat tangan perkenalan.

"B-biasanya, aku dipanggil Lysia," kataku merasa canggung dengannya, karena baru saling mengenal.

"Tapi, aku lebih suka dengan nama Elly," balas Blue merengutkan bibir.

Aku langsung dibuatnya tertawa mendengar itu. "Baiklah, kau bisa memanggilku Elly. Senang sekali bisa berkenalan denganmu! Apa... kita bisa berteman?"

"Tentu saja! Kita berteman!!" Blue setengah berteriak mengatakan itu, membuatku terkejut. Blue melihat ke bawah. "Apa ini bunga-bungamu? Mereka tampak sudah diporak-porandakan."

Aku berjongkok memunguti kelopak-kelopak bungaku. "Mungkin di sini tidak aman untuk mereka. Jadi, mereka hancur."

Blue melihatku dengan raut muka yang sedih. Dia ikut berjongkok melihatku memunguti semua kelopak bunga yang telah hancur. "Kenapa kau memunguti mereka?"

"Karena mereka membutuhkan pertolonganku," jawabku masih memunguti semua kelopak bunga.

"Mereka tak bisa ditanam lagi, Elly," ucap Blue, membuatku kembali bersedih dan ingin menangis. "Kita bisa tanam yang baru untuk menghormati mereka."

Aku menengadahkan wajahku ke arahnya. "Menghormati mereka? Apa maksudmu?"

Blue tersenyum. "Ya. Dengan menanam bunga yang baru, itu artinya kita menghormati kematian mereka. Mereka pasti akan merasa senang!"

"Benarkah itu? Mereka akan senang? Tidak marah padaku?"

"Mereka akan senang padamu. Aku janji."

"Baiklah, akan aku tanam bunga yang baru!"

"Ahaha! Nah, begitu. Jangan putus asa. Sesulit apapun cobaannya, pasti ada jalan keluarnya."

Aku tersenyum lebar. "Terima kasih, Blue!"

Blue juga ikut tersenyum lebar. "Sama-sama!"

Namanya Blue. Blue Sentadiya. Mungkin, dia diberikan nama 'Blue' karena matanya yang terlalu berwarna biru. Nama yang cocok untuknya.

Dia berbeda dari anak laki-laki yang lain. Dia peduli terhadap sekitar dan ramah kepada orang lain. Itulah yang membuatnya mempunyai banyak teman. Setiap jam pulang sekolah, aku selalu menghabiskan waktu bersamanya. Membicarakan banyak hal dan menyirami bunga-bunga yang kami tanam.

"Elly, aku ingin memberikanmu ini." Blue mengeluarkan sebuah kalung berbuah batu kristal bening. Buah kalung itu terlihat berkilau dan aku melihat sekilas cahaya aneh di sana. Mungkin hanya perasaanku saja. "Kalung ini senang jika berada di dekatmu. Aku mau kau memiliki ini."

"Tapi, Blue, kau yakin? Kalung ini terlihat mahal. Apa Ibumu tidak marah?" tanyaku tak yakin dengan pemberian Blue.

Blue terkekeh. "Ibuku? Ah, iya, aku selalu menceritakan dirimu kepada orang tuaku. Mereka senang sekali dengan ceritaku tentangmu. Mereka juga ingin kalung ini menjadi milikmu. Kalau kau tetap bersikeras tidak menginginkan ini, anggap saja kau menjaga kalung ini untuk kami."

"Baiklah, aku akan menjaga kalung ini."

Blue sekilas memelukku dari belakang. "Terima kasih, Elly!"

Satu tahun sejak kami berteman dan menjadi sahabat, tiba-tiba saja dia menghilang seperti ditelan bumi.

Kenapa dia pergi meninggalkanku sendiri? Tanpa berpamitan padaku? Apa dia membenciku?

Aku ingin bermain dengannya lagi. Belajar bersama tentang tumbuhan. Menceritakan tentang semua keluhanku padanya. Aku ingin melihatnya tersenyum dan mendengar tawa khasnya. Kalung cantik pemberiannya selalu mengingatkanku padanya.

Blue, aku ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu. Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?

💎

7 tahun kemudian ...

"Lysia! Bangun! Kau tidak akan mau terlambat dihari pertamamu menjadi siswi SMA, kan?"

Astaga, suara Ibu kencang sekali dari atas sini. Bahkan, jam alarmku tak bisa mengalahkan suara dahsyat milik Ibu. Oke, oke, aku akan bangun sekarang.

SMA? Tentu saja aku tidak akan membiarkan diriku terlambat ke sekolah, karena hari ini adalah hari pertamaku menjadi seorang pelajar SMA yang berprestasi.

Ayah dan Ibu boleh memanggilku Lysia. Tapi, di sekolah nanti, mereka akan memanggilku dengan nama Elly. Aku harus mendapat banyak teman. Mereka akan mengingat diriku dengan nama Elly.

Tanpa Blue, aku bisa menghadapi semua yang menghalangiku. Lihat ini, Blue. Aku telah sedikit mengubah sikapku. Mereka pasti mau mendekat padaku untuk berteman denganku. Selain itu-

-kedua ikat rambut baruku lebih mempercantik rambut hitam panjangku dibandingkan dibiarkan terurai.

"LYSIA!!"

"AKU SUDAH BANGUN, BU!!"

💎

My Blue
|
Terbit : 15 Mei 2017
Akun lain: MelindaAdelia

💎

Catatan : Ada banyak perubahan pada prolognya. Termasuk pada chapter selanjutnya(yang pernah membaca cerita ini sebelumnya). Terima kasih sudah membaca dan mendukung MY BLUE. Terimalah perubahannya, wkwk! Yang jadi pembaca baru MY BLUE, semoga nyaman dan suka dengan prolog dan seterusnya. Sekali lagi terima kasih banyak^^

To be continue...

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top